All for Glory of Jesus Christ

Minum Teh, Yuk?

Sejumput teh melati. Air mineral. Dispenser. Gelas. Semua bahan sudah tersedia? Yuk, kita buat tehnya. Panaskan air di dispenser. Sudah panas? Seduh teh melatinya. Sudah? Pegang gelas dengan dua tangan.

Rasakan hangatnya air teh yang menjalar dari jari ke tangan. Lho, tunggu! Kenapa kog gelasnya tidak panas ya? Ya ampunnnn! Ternyata salah tekan tombol dispenser! Tombol yang ditekan… tombol air dingin!

Jadi? Bagaimana nih? Mau buang tehnya? Minum saja? Ah sudahlah minum saja. Rasanya jadi aneh. Dingin… Aroma teh melatinya juga tidak sekuat biasa. Tapi mau bagaimana lagi? Minum!

Sudah habis? Sekarang apa? Seduh lagi atau stop sampai di situ?

Teman-teman, kejadian di atas adalah kejadian yang saya alami beberapa waktu lalu. Jadi bukan fiktif, lho. Waktu itu malam hari. Saya punya kebiasaan minum teh malam dan pagi. Kenapa? Karena saya memang penggemar berat teh melati.

Beberapa waktu lalu, ritual itu terganggu. Karena mengantuk, juga pikiran melayang-layang, tidak sadar jari menekan tombol air dingin pada dispenser. Akhirnya seperti yang teman-teman baca, itulah yang terjadi.

Saya memiliki beberapa pilihan. Pertama: saya bisa memilih membuang teh tersebut.  Tidak jadi deh minum teh! Kedua: saya bisa memilih membuang teh tersebut. Ambil teh baru. Menyeduhnya. Tetap bisa minum teh! Ketiga: saya bisa memilih minum teh tersebut. Seduh lagi. Tetap bisa minum teh! Apa sih tujuan saya? Minum teh panas yang nikmat.

Jadi kalau begitu supaya saya bisa memenuhi tujuan, saya tidak bisa pilih yang pertama. Pilihan saya hanya kedua dan ketiga. Sebaiknya pilih yang mana? Di kejadian tadi saya pilih yang ketiga. Teman-teman bebas mau pilih yang manapun. Ini kan masalah minum teh saja toh?

Sesudah kejadian itu, tiba-tiba ada satu pemikiran yang terbersit. Bukankah hidup itu seperti minum secangkir teh melati? Saat semua proses berjalan baik, kita bisa menikmati secangkir teh melati. Hangat. Harum. Nikmat. Saat hidup berjalan dengan baik, kita bisa menikmatinya. Berkemenangan. Damai. Sukacita.

Bagaimana saat prosesnya ada gangguan? Bisakah kita tetap menikmati secangkir teh melati yang kita inginkan? Bagaimana saat hidup kita ada gangguan? Bisakah kita tetap menikmati hidup kita? Tetap berkemenangan? Damai? Sukacita?

Dengan teh melati, kita bisa membuangnya kalau memang kita tidak mau. Dengan teh melati kita bisa stop tidak meminumnya. Itu kan cuma teh saja. Bagaimana dengan hidup kita? Hidup kita harus terus berjalan. Kita tidak bisa stop begitu saja. Bunuh diri jelas bukan jawaban. Pilihan pertama, dicoret!

Bagaimana dengan pilihan kedua? Dengan teh melati kita bisa buang teh dingin, ambil teh baru, menyeduhnya. Bagaimana dengan hidup kita? Dalam hidup, kita selalu punya pilihan. Di situasi-situasi tertentu, bisa saja kita mengambil pilihan ini. Berhenti dari karir lama. Berhenti dari usaha lama. Berhenti berteman dengan teman lama. Putus dengan kekasih. Masih banyak lagi contoh yang bisa ditulis di sini. Itu pilihan kedua.

Apakah itu keputusan yang salah atau benar? Tergantung kasusnya. Tapi pilihan kedua memiliki konsekuensi yang harus dipikul. Membuang teh dingin untuk ambil teh baru, berarti ada harga yang harus dibayar. Kita tidak pernah bisa keluar dari konsekuensi ini.

Benar bahwa setelah teh dibuang dan diseduh, kita bisa mengambil teh baru dan menyeduhnya. Kasih dan kuasa Tuhan dapat memberikan kita hidup baru.

“Lihat, Aku hendak membuat sesuatu yang baru, yang sekarang sudah tumbuh, belumkah kamu mengetahuinya? Ya, Aku hendak membuat jalan di padang gurundan sungai-sungai di padang belantara.” (Yesaya 43:19)

Tapi tetap selalu ada harga yang harus dibayar untuk itu. Kalau memang ini yang kita hadapi, bergumul sungguh-sungguh dengan Tuhan. Benarkah pilihan kedua ini pilihan yang paling pantas dipilih?

Bagaimana pilihan ketiga? Dalam kasus di atas pilihannya pilihan ketiga: minum teh dingin, seduh lagi, baru bisa minum teh panas. Kalau ini pilihan kita, dalam hidup, pilihan kita adalah: menghadapi kehidupan ini, refresh lagi, baru bisa menjalani hidup yang kita nikmati, berkemenangan. Tetap dengan segala yang kita hadapi, refresh lagi, baru bisa menjalani hidup yang berkemenangan.

Tuhan menginginkan kita hidup dalam kemenangan itu. Di tengah segala masalah, Ia berikan kekuatan bagi kita untuk memikulnya.

“Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.” (Matius 11:28)

Bagaimana caranya bisa refresh lagi? Datang pada Tuhan. Terkoneksi dengan-Nya. Saat kita terkoneksi dengan Dia, Ia akan membuat kita segar kembali.

“Barangsiapa tidak tinggal di dalam Aku, ia dibuang ke luar seperti ranting dan menjadi kering” (Yohanes 15:6)

Sebaliknya kalau kita tinggal dalam Dia, kita akan tetap segar dan tidak kering. Refresh. Bisa menjalani hidup lagi. Berkemenangan.

Bagaimana bisa terkoneksi dengan dia?

“Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu” (Yohanes 15:4)

Bagaimana caranya bisa tinggal dalam Dia dan Dia dalam kita?

“Sebab jika kamu mengaku  dengan mulutmu, bahwa Yesus adalah Tuhan ,  dan percaya  dalam hatimu, bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka kamu akan diselamatkan.(Roma 10:9)

“Eh, saya sudah melakukan itu kog, tapi kog hidup saya tetap sama saja?”

Kalau itu yang terjadi:

“Jadi, iman timbul dari pendengaran,  dan pendengaran oleh firman Kristus.” (Roma 10:17)

Refresh dengan firman Tuhan. Saat teduh. Komunikasi dengan Dia. Lakukan firman-Nya. Terkoneksi.

Jadi apa pilihan teman-teman? Apapun pilihannya, minum teh, yuk?

Amin

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: