All for Glory of Jesus Christ

Jauh sebelum saya menulis ini, saya sudah punya rencana untuk menuliskan tema yang sama. Rencana saya adalah membuat suatu latar belakang (ilustrasi) yang berbeda.

Masalahnya, kemarin terjadi sesuatu yang membuat saya harus membuang rencana ilustrasi saya. Mengapa begitu? Karena Tuhan ternyata memberikan ide yang lebih luar biasa yang tidak terpikirkan sebelumnya. Penasaran? Memang itu maksud saya :D.

Saya akan ceritakan kronologis ceritanya. (Peringatan dulu: ceritanya akan cukup/sangat panjang.)  Hari Minggu sore menjelang malam, saya mendapatkan satu proyek dari seorang klien baru. Proyek ini memiliki tengat waktu (deadline) ketat 24 jam. Jadi saya harus selesaikan pada Senin sore. Minggu malam saya hanya tidur selama kurang lebih 3 jam (dari jam 12 malam sampai jam 3 pagi). Saya bangun pukul 3 pagi, saat teduh dan lain-lain, langsung kerjakan lagi proyek tersebut.

Cerita mengenai proyek ini juga bisa menjadi satu cerita tersendiri. Karena akan terlalu panjang dan tidak fokus, saya batasi sampai di sini saja cerita tentang proyek tersebut. Singkat kata akhirnya dengan pertolongan Tuhan saya berhasil menyelesaikannya tepat waktu pada Senin sore menjelang malam.

Senin malam, badan saya terasa capek luar biasa. Sendi-sendi di tangan terasa agak sakit karena kurang tidur. Seharian saya terus berkutat dengan pekerjaan. Jadi Minggu malam sampai Senin malam, benar-benar rasanya semua tenaga terkuras habis.

Jadi setelah selesai mengirimkan hasil proyek kepada klien, saya bermaksud bersantai. Setelah selesai mandi dan makan malam, saya menghubungi beberapa orang teman untuk melepas lelah dan juga ketegangan sepanjang hari.

Seingat saya, saya mengirimkan pesan kepada setidaknya 4 orang teman. Lalu saya menunggu supaya pesan saya tertandai telah dibaca. Tunggu punya tunggu, pesan saya tidak tertandai juga. Saya lalu mengecek sinyal alat komunikasi yang saya gunakan.

Sinyalnya ada. Tandanya EDGE. Akan tetapi saya tunggu-tunggu terus pun, tanda “D” yang saya harapkan tidak muncul-muncul. Saya jadi sangat heran!

Kejadian gangguan komunikasi karena sinyal ini memang bukan barang baru. Kejadian lag (tertundanya penyampaian pesan) karena lemah sinyal sudah bukan hal aneh. Tapi malam kemarin, itu benar-benar suatu hal yang di luar dugaan sama sekali. Mengapa begitu? Karena belum pernah terjadi demikian!

Karena tidak kunjung terkirimnya pesan saya itu, saya lalu membuka salah satu jejaring sosial yang saya ikuti. Tiba-tiba saya terdorong untuk mengetikkan satu lirik lagu. Sambil menuliskan lirik lagu, saya juga menyanyikannya.

Sekejap rasa lelah, capai, pegal, dan sakit di sendi dan badan semua hilang! Hal yang terasa hanya sukacita, damai, dan benar-benar indah! Setelah mengetikkan satu lirik lagu, saya tidak bisa berhenti. Jari saya terus dan terus mengetik.

Sambil mengetik, saya terus menyanyi. Sekali saya dengar ada bunyi alat komunikasi saya berbunyi. Saya pun berenti untuk membacanya dan membalas. Aneh! Ketika saya balas, tetap tidak terkirim. Padahal sinyal ada, EDGE!

Jadi saya kembali mengetik dan menyanyi. Setelah selesai satu lagu, saya bertanya dalam hati, “Tuhan, kira-kira Kau mau lagu apa?” Lalu tiba-tiba ada satu lagu yang terbersit di pikiran. Jadi begitu seterusnya saya lakukan.

Ada sejumlah lagu yang saya tidak hafal liriknya. Jadi saya cari saja di google dan melakukan copy-paste untuk lagu-lagu tersebut. Setelah berhasil copy-paste, saya nyanyikan. Baru saya beralih ke lagu berikutnya.

Begitu terus saya lakukan. Selama saya mengetik dan menyanyikan lagu-lagu tersebut ada sejumlah teman di jejaring sosial tersebut yang memberi komentar atau mengklik “like” di salah satu lagu yang saya ketik. Tetapi, rasa-rasanya saya tidak ingin menghiraukan itu semua, saya sungguh tenggelam dalam sukacita, damai, dan keindahan-Nya.

Air mata mengalir. Hati sukacita. Beban ketegangan yang masih tersisa dari proyek yang sudah diselesaikan semua lenyap. Saya tenggelam! Sungguh tenggelam.

Lalu saya berkata dalam hati, “Kalau Tuhan ingin saya berhenti, tolong beri tanda.” Cukup lama saya mengetik dan menyanyi. Sampai akhirnya pintu kamar saya diketuk mami saya. Mami saya menyuruh saya tidur.

Ketika saya hendak mematikan laptop saya, saya tiba-tiba menyadari sesuatu. Tuhanlah yang mematikan sinyal alat komunikasi saya! Saya baru sadar bahwa Ia menginginkan waktu berdua saja dengan saya, tanpa perhatian yang terbagi untuk siapapun dan apapun!

Ya, kencan di malam hari kasih sayang dengan Tuhan Yesus! Kencan semalam sungguh luar biasa tak terlupakan. Inilah kado Valentine’s day yang sangat berharga bagi saya!
Itu sebabnya, ketika saya menyadari hal itu lalu menuliskan hal berikut ini dalam jejaring sosial yang saya ikuti:

“Thank You, Lord, for asking me to go out for dating today. What an unforgettable Valentine’s day night! You even halted all my black berry signal, just to go out dating with me. It’s such a very great joy, peace, and love in this Valentine’s day night. Thank You, Jesus, for choosing me as Your valentine’s date. Amen!”

(Terjemahan: “Terima kasih, Tuhan, untuk mengajak saya keluar untuk berkencan hari ini. Sungguh malam hari kasih sayang yang tidak akan terlupakan! Kau bahkan menghalangi semua sinyal black berry saya, hanya untuk pergi keluar berkencan dengan saya. Itu adalah suatu suka cita, damai, dan kasih yang sangat besar pada malam hari kasih sayang ini. Terima kasih, Yesus, untuk memilih saya sebagai pasangan kencan-Mu di Valentine ini. Amin!”)

Ternyata Tuhan menginginkan waktu dan perhatian penuh dari saya. Ia menginginkan cinta pertama, kasih yang mula-mula dari saya.

Apa sih cinta pertama itu? Apa sih kasih mula-mula itu? Saya akan mencoba menjelaskannya dengan contoh. Pernahkah teman-teman mengalami jatuh cinta? Bagaimana rasanya jatuh cinta pertama kali kepada saat fase awal?

Apakah rasanya begitu bergairah? Bersemangat? Ingat terus kepada si dia? Rasanya ingin terus membicarakan dirinya? Ingin sekali ngobrol dengan dia? Rasanya mau melakukan apapun demi dirinya?

Nah seperti kepada manusia, kepada Tuhan juga begitu. Ingatkah teman-teman ketika pertama kali teman-teman mengenal Tuhan Yesus? Ketika hati terasa begitu berkobar-kobar? Bersemangat? Ingin terus membicarakan diri-Nya? Ingin terus berada di hadirat-Nya? Ingin terus bersama-Nya? Rasanya ingin melakukan apapun demi diri-Nya? Ya! Itulah cinta pertama! Kasih mula-mula itu!

Dalam hidup saya sampai saat ini, saya mengalami pasang surut kehidupan. Saya mencatat setidaknya ada 2 kali saya mengalami masa tergelap dalam hidup saya. Saya berdoa bahwa saya tidak akan memasuki lagi masa itu.

Pada saat tergelap itu, saya bahkan tidak bisa merasakan diri-Nya! Sedikitpun tidak! Ketika itu, doa-doa saya terasa tidak didengar. Saya merasa sendiri. Merasa lelah. Kalah. Tidak berdaya. Hancur.

Saya bertanya,

“Di manakah, Engkau, Tuhan? Mengapa Engkau meninggalkan aku?”

Tapi sebenarnya yang saya rasakan itu tidak benar. Ia tidak pernah tinggalkan saya. Ia tetap dengar doa saya. Saya tidak sendiri. Ia selalu bersama saya.

Dalam kondisi itu, perlahan-lahan Ia membantu saya untuk bangkit. Begitu panjang ceritanya dan saya sudah menceritakan salah satunya dalam artikel yang lampau. Jika ada teman-teman yang tertarik silakan saja mencarinya.

Bukan hanya pada 2 titik tergelap di hidup saya, saya juga mengalami 1 kali saat saya berada katakanlah di titik tengah di hidup saya. Jadi, tidak dalam keadaan terpuruk, tapi tidak juga sangat bersemangat. Yah, biasa saja. Baik-baik saja. Tidak merasa ada yang kurang.

Persamaan dari 3 titik waktu tersebut adalah saya meminta Tuhan supaya saya bisa lebih dekat dengan-Nya. Di 1 titik tengah itu, saya secara spesifik meminta kepada Tuhan untuk bisa kembali ke kasih mula-mula itu, cinta pertama itu. Tetapi sesungguhnya inisiatif awal bukan datang dari saya, Ia sendiri yang datang dengan kasih-Nya!

Teman-teman, Tuhan itu baik! Ia sangat baik! Dia bukan hanya tidak tinggalkan saya. Dia juga dengarkan doa saya. Lebih dari itu, Dia jawab doa saya.

Melalui berbagai proses yang berbeda namun 1 kesamaan. Ketika saya merenungkan kesemuanya itu, saya menemukan 1 kesimpulan:

“Ternyata saya kembali ke cinta pertama, kasih mula-mula saya pada Tuhan, ketika saya kembali pada Firman-Nya, terhubung dengan kasih-Nya.”

Ya! Sesederhana itu! Tidak perlu rumus macam-macam. Tidak perlu pemahaman yang sulit. Cukup kembali ke Ia yang mengasihi kita! Bukan karena perbuatan baik saya, bukan karena keinginan saya untuk kembali ke kasih mula-mula juga. Tetapi semua diawali dari Firman, Kristus sendiri yang mau mengulurkan tangan-Nya bagi saya. Jadi bukan saya, tapi Dia!

Kali pertama saya berada dalam titik terendah di hidup saya, kakak saya membantu saya bangkit dengan membagikan kaset-kaset kotbah dan menyuruh saya membaca Alkitab setiap hari. Setiap hari saya dengarkan, baca, renungkan.

Ya! Setiap hari saya dengarkan, baca, renungkan. Firman-Nya mengubah hidup saya! Sungguh-sungguh mengubah diri saya! Inisatif dari siapa? Yesus, melalui kakak saya!

Saya menyadari benar, itu bukan sepenuhnya usaha saya! Saya bisa kembali ke kasih mula-mula itu bukan karena saya hebat! Bukan karena saya gigih! Bukan karena saya pintar! Bukan karena saya disiplin! Bukan! Usaha saya hanya sebagian kecil saja dari satu bagian besar yang penuh misteri. Misteri itu bernama kebaikan Tuhan! Sang Firman yang Hidup!

Ya, kalau bukan Tuhan yang begitu baik mengubah saya, walaupun saya mendengarkan Firman-Nya setiap hari, membaca dan merenungkan Firman-Nya, tetap saja tidak akan ada perubahan! Tidak percaya? Lanjutkan membaca di bawah ini.

Di titik tengah di hidup saya, saya tetap saat teduh, tetap berdoa, dan tetap melayani. Saya tetap membaca Firman Tuhan, merenungkan Firman Tuhan, melakukan Firman-Nya, berdoa, membagikan Firman, melayani. Saya merasa baik-baik saja. Semua baik. Tapi gelora dan semangat itu tidak sehebat ketika saya berada pada cinta pertama itu.

Dalam kondisi itu, saya tiba-tiba merasa rindu. Kangen. Ingin sekali untuk kembali ke kasih mula-mula itu! Saya meminta Tuhan saat itu untuk cinta pertama itu! Teman-teman tahu? Ia luar biasa baik! Ia menjawab doa saya.

Saat itu saya dipertemukan dengan dua orang teman. Satu menganjurkan saya banyak membaca Alkitab dalam Bahasa Inggris. Satu lagi menganjurkan saya untuk mempelajari Alkitab dalam Bahasa Inggris. Saya lalu membeli Alkitab NIV. Ketika saya mulai membacanya, perlahan-lahan Tuhan membawa saya kembali ke cinta pertama itu. Ya! Ke kasih mula-mula itu!

Apakah Alkitab dalam Bahasa Inggris lebih baik dari Alkitab dalam Bahasa Indonesia? Tentu tidak! Bukan itu maksud saya. Tetapi ketika saya mulai membaca Firman-Nya dengan keingintahuan dan antusiasme baru, Ia membuka hati saya terhadap hal-hal baru yang belum saya temukan sebelumnya. Terhubung dengan-Nya!

Jadi selalu ada 2 sisi. Ada bagian dari diri saya dalam skala kecil yang memiliki keinginan untuk mengalami kasih mula-mula dan ada bagian Tuhan yang begitu besar untuk menjawab keinginan saya itu! Dan bagian Tuhan itulah yang mengawali semuanya! Tidak mungkin saya memiliki keinginan untuk mengalami kasih mula-mula tanpa Dia lebih dahulu memiliki inisiatif untuk menanamkannya dalam diri saya. Puji nama Tuhan!

Di titik terendah kedua di hidup saya, saya tetap saat teduh, tetap berdoa, dan tetap berusaha melayani dengan susah payah. Tapi Ia sungguh baik! Bukan karena kuat dan hebat saya, kalau saya bisa bertahan sampai hari ini!
Itu semua adalah karena anugerah-Nya! Sungguh! Saya masih ingat ketika saya melewati hari dengan tertatih-tatih. Setiap kali saya menjerit dalam hati. Tidak ada tanggapan yang terdengar! Saya membaca Firman-Nya, merenungkannya, menyimpannya dalam hati, berdoa, melayani, tapi tetap semua itu sia-sia.

Lalu apakah yang membuat saya kembali ke cinta pertama dalam titik terendah kedua di hidup saya? Firman-Nya yang hidup! Ya! Yesus, sang Firman yang hidup, yang membantu saya mengambil keputusan untuk melangkah. Dari situ, Firman-Nya di Alkitab yang berangsur-angsur menyembuhkan saya dan membawa saya perlahan-lahan kembali ke kasih mula-mula itu. Cinta pertama itu!

Jadi kesimpulan saya, cinta pertama, kasih mula-mula itu dimulai dari 2 hal: peranan Tuhan Yesus dan juga respon hati kita. Ia berfirman bahwa:

Carilah dahulu Kerajaan Allah serta kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.” (Matius 6:33)

Saat kita sungguh-sungguh rindu ingin mengenal Dia, ingin dekat dengan-Nya, ingin masuk ke hadirat-Nya lebih lagi, ingin kembali ke cinta pertama, ke kasih mula-mula itu, Ia menjawab keinginan hati kita! Itulah yang dimaksud dengan Kerajaan Allah.

Bagaimana bisa haus dan rindu ingin mengenal Dia? Itu Dia yang pertama-tama menanamkan dalam hati kita. Inisiatif mulai dari Dia! Jadi kalau timbul keinginan untuk lebih dekat dengan-Nya, bersyukurlah! Dialah yang menumbuhkan itu dalam hati kita!

Bagaimana bisa mengenal kebenarannya? Lewat Firman-Nya! ALKITAB! Lewat penyingkapan yang diberikan oleh Roh Kudus! Ya! Terkoneksi dengan-Nya!

Bagaimana kita bisa memperoleh itu? Carilah! Carilah berarti berusaha. Ada upaya. Ada tindakan. Bukan hanya duduk diam. Bukan duduk manis saja. CARI!

Ketika semua itu sudah dipenuhi, Tuhan memberikan keinginan hati kita untuk kembali ke cinta pertama, ke kasih mula-mula itu, karena memang itu kehendak-Nya dari awal! Lebih dari itu, semua hal yang kita butuhkan ditambahkan kepada kita. Puji nama Tuhan!

Terlalu banyak kalau saya harus menyaksikan kebesaran Tuhan. Tapi kalau saya harus membagikan satu hal pada teman-teman saat ini, saya hanya akan mengatakan bahwa Ia sungguh baik! Firman-Nya itu ya dan Amin! Tidak pernah ada Firman-Nya yang tidak ditepatinya! Ia sungguh setia! Haleluya!

Seperti saya pada malam kemarin diminta memberikan sepenuh waktu dan perhatian saya bagi Dia, Sang Raja di atas segala raja, untuk menikmati waktu bersama-Nya, itu juga yang Ia minta dari teman-teman semua. Yuk kita semua berikan waktu dan perhatian penuh kita setiap hari pada Firman-Nya, pada Yesus sang Firman yang hidup! Terkoneksi dengan-Nya!

Saat itu kita lakukan, pastilah cinta pertama itu akan kembali! Kasih mula-mula itu akan datang. Jadi, rindu akan cinta pertama? Terhubunglah dengan Dia! Cari Dia setiap hari dan lakukan Firman-Nya. Ia akan menjawab kerinduan kita semua!

Selamat hari kasih sayang! Selamat terhubung dengan Yesus! Selamat menemukan cinta Pertama, kasih mula-mula itu!

Amin.

Iklan

Comments on: "Cinta Pertama: Kasih Mula-mula" (2)

  1. Luarbiasa, tulisan sederhana ini sungguh sangat memberkati, terimakasih karena sudah berbagi,

    Salam,

    Çhris

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: