All for Glory of Jesus Christ

Cinta Kedua: Yerusalem

Hari ini lagi-lagi terjadi sesuatu yang di luar dugaan saya. Tuhan sungguh luar biasa. Ia mengubah rencana saya, mempersiapkan yang lebih baik dari yang saya sudah rencanakan. Haleluya! Puji nama Tuhan!

Jadi saya memang sudah merencanakan topik ini, tapi dengan ilustrasi yang berbeda. Seperti artikel kemarin, lagi-lagi Ia membelokkan rencana saya dan memberikan ilustrasi yang lebih baik. Terima kasih, Tuhan Yesus.

Jadi ceritanya begini. Hari ini saya mengirimkan satu brain teaser yang saya dapatkan dari teman saya. Brain teaser itu adalah sejenis permainan untuk mengasah otak. Ini dia brain teaser yang saya kirimkan:

“Ada test IQ kecil-kecilan nih :

5+3+2=151022

9+2+4=183652

8+6+3=482466

5+4+5=202541

jika logika anda jalan..,.

Jawablh pertnyaan ini….

(7+7+7=…………)

jika benar IQ anda d atas 120”

Saya mengirimkannya karena memang menurut saya menarik. Ternyata di luar dugaan saya, banyak respon yang masuk. Membuat saya tidak menyangka dan terkejut juga😀. Terima kasih banyak bagi teman-teman yang sudah berpartisipasi dalam membuat saya terkejut karena senang hari ini😀.

Setelah beberapa orang menjawab, umumnya saya memberikan respon sama untuk setiap jawaban benar:

“Pinterrrr.”

Satu kata saja, tapi ternyata respon yang saya dapatkan berbeda-beda. Setelah beberapa respon berbeda saya dapatkan, sadarlah saya! Tuhan memberikan saya suatu bahan bagi suatu penelitian informal mengenai perilaku manusia!

Wow, luar biasa Tuhan kita! Ia memang pemikir yang sangat brilian! Sungguh segala yang tak terpikirkan dan tak direncanakan, itulah yang Dia berikan! Saya terpana dan berdecak kagum dengan sendirinya.

Cukup banyak hal menarik yang saya dapatkan dari suatu permainan Brain Teaser ini. Dari sana saya akan mengaitkannya dengan tema artikel hari ini. Satu hal yang saya angkat adalah respon setiap orang yang berbeda-beda ketika mereka berhasil menjawab atapun gagal menjawab. Juga respon ketika saya mengatakan:

“Pinterrrr.”

Bagi saya, respon setiap orang menunjukkan keunikan setiap orang. Itulah yang membuat satu Brain Teaser ini menjadi sangat menarik. Mengapa? Karena ia menjadi satu jembatan untuk mengungkap sisi yang tidak mudah untuk dimengerti: keunikan manusia.

Tidak ada yang salah dengan respon setiap orang yang ikut serta berpartisipasi dalam hal yang saya kirimkan tersebut. Semua respon adalah baik adanya dan itu sungguh memberikan saya pembelajaran mendasar mengenai manusia.

Hal yang saya baru sadari adalah dalam Brain Teaser ini ada unsur pembentukan citra diri. Bahwa jika berhasil maka “logika Anda jalan”, “memiliki IQ di atas 120”. Dengan kata lain, “Pinterrr” tadi.

Sebaliknya jika tidak berhasil, tentu ada yang langsung mengartikan sebaliknya. Secara tidak langsung juga ada yang mengartikan bahwa kalau tidak berhasil maka “logika Anda tidak jalan”, “memiliki IQ di bawah 120”.

Padahal sebenarnya kalau mau dibedah, Brain Teaser ini adalah satu alat bantu untuk mengukur suatu hasil pembelajaran terhadap pemahaman pola hitung dan operasi matematika yang sudah pernah (sering) dilakukan seseorang. Semakin sering seseorang berlatih memahami dan mencari pola tersebut, akan semakin mudah.

Jadi yang disebut “Pinterrrr” atau “logika jalan” atau “IQ di atas 120” itu sebenarnya merupakan perwakilan dari sudah berhasilnya orang yang menjawab tersebut untuk melatih dirinya memahami dan mencari pola tersebut.

Kecerdasan itu sendiri tidak dapat diukur hanya dari segi matematis semata. Karena bukan hanya pemahaman mengenai pola matematis saja yang menjadikan seorang itu “Pinterr” tapi seluruh aspek dari diri seseorang lah yang menjadikan ia “Pinterrr”.

Jadi sesungguhnya “Pinterrrr” itu luas sekali. Bagi yang berhasil menjawab, berarti sekurang-kurangnya mereka memiliki kecerdasan matematis. Sementara bagi yang tidak berhasil menjawab, saya yakin sekurang-kurangnya mereka memiliki kecerdasan interpersonal. Mengapa? Karena mereka mau meresponi pada hal yang masuk.

Bagaimana dengan yang sama sekali tidak menjawab? Saya juga yakin mereka juga “Pinterrr”. Saya juga yakin, ada sesuatu hal yang menghalangi mereka untuk bisa berpartisipasi dalam Brain Teaser ini.

Jadi semua orang itu pintar sesungguhnya. Hanya saja mereka kuat di bidang-bidang tertentu. Itulah salah satu hal yang membentuk keunikan manusia.

Saya tidak cermat memperhatikan Brain Teaser ini. Tapi ternyata ketidakcermatan saya ini pun bisa dipakai Tuhan untuk mengungkapkan keunikan manusia ciptaan-Nya. Puji Tuhan!

Setiap orang diciptakan unik, indah, berharga, mulia, dan segambar dengan Tuhan. Sayangnya, dalam perjalanan hidup manusia, sejak dosa asal lalu seterusnya, manusia kehilangan (melupakan?) citra dirinya itu.

Proses pembentukan citra yang awalnya indah itu perlahan-lahan bisa menjadi berubah, mengalami pengeroposan sedikit demi sedikit. Di mana berlangsungnya? Pertama kali adalah di Yerusalem.

Yerusalem? Mungkin Anda bertanya-tanya. Apa hubungan Yerusalem dengan pengeroposan citra manusia?  Kata “Yerusalem” yang saya gunakan ini terilhami dari ayat:

“Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan KAMU AKAN MENJADI SAKSIKU di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi.” (Kisah Para Rasul 1: 8)

“Yerusalem” berbicara mengenai lingkungan sekitar, lingkungan terdekat, keluarga. Ah, keluarga! Ada apa dengan keluarga?

Inilah tempat pertama kali seorang anak bertumbuh, belajar, dan… membentuk CITRA DIRI. Perkataan orang tua terutama menjadi suatu yang sangat mempengaruhi perkembangan citra diri anak.

Kalau orang tua memberikan perkataan yang membangun, anak akan tumbuh menjadi seorang yang percaya diri. Sebaliknya jika orang tua memberikan perkataan yang melemahkan, anak akan tumbuh menjadi seorang yang rendah diri. Pendeknya, pemberian LABEL bagi anak.

Contoh label membangun: ketika anak melakukan sesuatu yang baik, orang tua memuji “Hebat”, “Bagus”, “Pintar”, dst. Anak akan belajar dari proses berulang-ulang bahwa itulah jati dirinya.

Contoh label melemahkan: ketika anak melakukan sesuatu yang kurang baik, orang tua mengatakan “Nakal”, “Bodoh”, “Bandel”, dst. Anak juga akan belajar dari proses berulang-ulang bahwa itulah jati dirinya.

Pemberian LABEL yang melemahkan inilah yang berperan besar dalam membentuk citra diri anak. Mungkin orang tua tidak sadar bahwa ini yang mereka lakukan. Sebenarnya saya merasa juga tidak pada tempatnya untuk menjelaskan ini karena saya belum menjadi orang tua tapi inilah yang saya rasakan Tuhan taruh dalam hati saya hari ini.

Seringkali bahkan orang tua berniat baik, namun dengan cara yang kurang pas. Pembanding-bandingan anak yang satu dengan anak yang lain dengan tujuan memacu sang anak, bukanlah suatu cara yang pas untuk membentuk citra diri positif seorang anak.

Saya akan menceritakan pengalaman seorang teman saya. Karena sudah mendapat izinnya untuk membagikan hal ini, akan saya bagikan. Saya berharap ini akan memberkati teman-teman yang membaca. Teman saya juga mengizinkan saya membagikan ini karena ia berharap hal ini dapat memberkati teman-teman semua.

Teman saya ini bisa dibilang sangat beruntung. Ia memiliki orang tua yang luar biasa mencintai dirinya. Teman saya bercerita bahwa ia memiliki 3 orang kakak. Jadi keluarga mereka adalah 4 bersaudara.

Menurut dirinya, kakak pertamanya adalah seorang yang Sanguin. Ceria, aktif, penuh energi, dan perhatian pada orang lain. Kakak keduanya adalah seorang Kolerik dan Melankolik. Berkemauan keras untuk maju, mandiri, dan penuh pemikiran bagi orang lain. Kakak ketiganya adalah seorang Sanguin dan Kolerik. Menarik, pandai meyakinkan orang lain, dan seorang dengan Visi yang besar. Sementara teman saya berkata, ia sendiri bisa jadi merupakan perpaduan Plegmatis Melankolik. Tenang, pembawa damai, penuh pemikiran bagi orang lain.

Ia bercerita bahwa ia tahu kalau orang tuanya sangat menyayangi dirinya dan ketiga kakaknya. Namun saat yang sama, ia juga mengatakan bahwa menurutnya orang tuanya tidak pernah memuji dirinya. Selalu ketiga kakaknya yang dipuji. Hatinya merasa luka.

Ia berpikir bahwa ia tidak istimewa. Sering ia berpikir seandainya ia bisa menjadi seperti kakak pertamanya yang populer dan disukai banyak teman. Kali lain ia berpikir seandainya ia bisa menjadi seperti kakak keduanya yang cerdas dan penuh kemauan keras untuk maju. Di lain pihak ia juga brepikir seandainya ia bisa seperti kakak ketiganya yang penuh visi dan pandai meyakinkan orang lain.

Mengapa hal ini terjadi? Teman saya bercerita kepada saya bahwa sedari kecil memang orang tuanya selalu membandingkan dirinya dengan kakak-kakaknya. Karena orang tuanya sering sekali membandingkannya dengan kakak keduanya, teman saya ini lalu berpikiran bahwa kalau ia bisa menjadi seperti kakak keduanya maka orang tuanya akan menerima dirinya.

Jadi teman saya ini berusaha mati-matian di sekolah. Ia selalu berpikir harus menjadi nomor 1. Harus menjadi yang paling hebat. Ia berpikir dengan begitu, ia bisa mendapatkan penerimaan orang tuanya.

Apa yang terjadi? Dia berhasil menjadi nomor 1. Dengan usaha keras, dia menjadi nomor 1. Orang tuanya memujinya dan ia merasa senang. Sayangnya itu tidak berlangsung lama.

Ada saja hal yang membuat dirinya akhirnya berpikir bahwa ia tidak akan pernah bisa memuaskan orang tuanya. Orang tuanya tidak pernah puas!

Ia merasa sendiri. Terkucil. Terkekang. Lelah. Segala hal sudah ia lakukan, tapi itu pun tak pernah cukup. Ia merasa marah. Juga tak berdaya. Pasrah.

Teman saya merasa telah menjadi anak yang baik. Ia tidak pernah macam-macam. Bintang sekolah. Tidak pernah main ke sembarang tempat. Rajin belajar dan belajar. Tidak pernah meminta macam-macam pada orang tua.

Teman saya bercerita lagi pada saya. Ia sampai pada satu titik mempertanyakan:

“Mengapa saya harus dilahirkan? Kalau memang orang tua saya sendiri pun tidak bisa menerima diri saya apa adanya? Apa yang SALAH dengan diri saya? APA? APA?”

Ia lalu berpikir kalau saja ia bisa mengubah diri menjadi seperti kakak pertamanya yang ceria, setidaknya ia akan bahagia. Tapi ia sudah terbentuk sedemikian rupa mengikuti harapan orang tuanya: menjadi juara, nomor 1, pintar!

Teman-teman masih banyak yang teman saya ceritakan, tapi saya potong saja sampai di situ. Saya mengenal juga seorang kakak dari teman saya tadi. Dari kakaknya itu saya mendapatkan gambaran yang lain lagi tentang keluarga mereka.

Ternyata, gambaran yang saya dapatkan mengenai teman saya ini dari kakaknya sungguh berbeda daripada hal yang saya dapatkan dari teman saya. Saya jadi bingung sendiri. Kog bisa ya, dua orang dalam satu keluarga yang sama, orang tua yang sama, ternyata menceritakan 2 hal yang berbeda?

Ternyata yang terjadi adalah orang tua dari teman saya memang masih menganut pemikiran lama. Bahwa memacu anak itu penting tapi memuji tidak terlalu penting. Itu sebabnya teman saya itu bisa berpikir bahwa ia tidak istimewa.

Padahal kalau saya menilai diri teman saya ini, saya lihat dia memiliki keunggulannya tersendiri. Memang ia juga memiliki kelemahannya, tapi saya melihat banyak hal yang sungguh indah di dalam dirinya.

Hal yang sangat menarik diungkapkan oleh kakak teman saya ini. Ia berkata bahwa ketika ia belum menjadi orang tua, ia berpikir juga bahwa orang tuanya tidak menyayangi dirinya. Tetapi ketika ia menjadi orang tua, barulah ia mengerti.

Apa yang ia mengerti? Bahwa orang tuanya sebenarnya sangat menyayangi semua anak-anaknya hanya saja cara mereka yang tidak menunjukkannya membuat anak-anaknya tidak bisa menangkap dengan jelas hal itu.

Saya belajar dari sharing teman saya itu bahwa menjadi orang tua bukanlah hal yang mudah. Menjadi orang tua adalah tugas dan tanggung jawab berat dan mulia yang Tuhan beri.

Seorang anak adalah seperti kertas putih. Ketika orang tua mulai membentuk anak, ketika itulah citra anak terbentuk. Saya merasa sangat terberkati dengan sharing dari teman saya dan kakaknya teman saya ini.

Saya pun belajar dari orang tua saya sendiri. Bahwa orang tua saya mencintai saya dengan cara mereka masing-masing. Terkadang saya juga seperti teman saya, merasa tidak memahami orang tua saya.

Ketika mendapati mami saya mengingatkan saya untuk makan pada waktunya dan tidur tidak terlalu malam, cukup sering saya merasa mami saya terlalu cerewet. Ketika mendapati papi saya bertanya tentang teman-teman saya, cukup sering saya merasa papi saya terlalu ingin ikut campur urusan saya.

Padahal mami saya lah yang setiap hari rajin membuatkan saya makanan dan minuman ini dan itu supaya saya tetap sehat. Papi saya lah yang selalu memperhatikan saya dalam diam dan berharap yang terbaik untuk saya.

Mereka selalu mendoakan saya. Mereka juga mengingatkan saya untuk selalu menjaga kesehatan saya. Tidak tidur terlalu larut. Mengistirahatkan mata kalau sudah lelah. Mendengarkan saya. Perhatian dengan cerita saya. Bahkan walaupun saya sering kali malas, cuek, dan terlalu asyik dengan dunia saya sendiri, mereka bisa menerima hal itu.

Hum… mengingat itu, rasanya saya menjadi anak yang sangat tidak tau berterima kasih. Bisa dibilang orang tua seperti mereka itu langka. Dari mereka saya banyak sekali mempelajari prinsip-prinsip kehidupan.

Kalau saya ditawarkan Tuhan untuk bisa memilih orang tua saya sendiri, saya tidak akan menukar mereka dengan orang tua manapun. Di tengah segala kekurangan mereka, merekalah orang tua terbaik di mata saya.

Teman-teman, mungkin ada di antara teman-teman yang mengalami seperti pengalaman teman saya atau pengalaman saya. Saya sungguh percaya bahwa teman-teman bisa membaca artikel ini adalah bukan kebetulan. Ada suatu rencana Tuhan yang indah bagi teman-teman semua.

Saya percaya bahwa semua orang tua memiliki niat terbaik dalam hatinya bagi anak-anaknya. Hanya saja cara mereka dalam mengungkapkannya tidak terlalu dapat ditangkap dengan baik oleh anak-anaknya. Tetapi, bukankah tidak ada seorangpun yang sempurna? Termasuk orang tua kita?

Kalau ada teman-teman yang memiliki orang tua yang tidak memiliki niat terbaik dalam hatinya bagi teman-teman, saya yakin bahwa ada rencana Tuhan yang indah bagi teman-teman semua.

“Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada padaKu mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.“ (Yeremia 29:11).

Inilah isi hati Tuhan. Bahwa ia hanya merancangkan:

–         Hal yang penuh damai sejahtera.

–         Bukan rancangan kecelakaan.

–         Untuk hari depan penuh harapan.

Mungkin teman-teman ada yang berpikir:

“Rancangan damai sejahtera? Setiap hari orang tua saya tidak saling menyapa.”

“Bukan rancangan kecelakaan? Setiap hari orang tua saya ribut terus.”

“Hari depan penuh harapan? Mana mungkin? Kondisinya begitu buruk! Mungkinkah masih ada harapan?”

Selalu ada harapan di dalam Tuhan! Selalu ada HARAPAN di dalam TUHAN! Jangan menyerah, Ia punya rencana yang luar biasa bagi setiap kita.

Bagaimana mengatasi pemikiran bahwa orang tua tidak mencintai dan seterusnya? Seorang teman saya berbagi pengalaman serupa dan ia memberikan suatu masukan yang luar biasa:

“Ketika saya masih kecil, saya berbicara seperti anak kecil, saya berpikir seperti anak kecil, saya beralasan seperti anak kecil. Ketika aku menjadi dewasa, saya menempatkan cara kekanak-kanakan di belakang saya.” (1 Korintus 13:11)

Dari contoh kasus teman saya tadi: Sebagai seorang anak, ia akan berpikir orang tuanya tidak mencintai dirinya karena membanding-bandingkannya dengan orang lain. Tetapi sebagai seorang dewasa, ia akan berpikir dengan cara lain, yaitu bahwa orang tuanya ingin memacu dirinya menjadi lebih baik.

Ayat ini sangat memberkati saya karena saya juga sedang dalam tahap belajar untuk bisa menjadi dewasa. Pemikiran saya masih banyak yang kekanak-kanakan. Saya masih banyak beralasan seperti anak kecil.

Untungnya Tuhan itu memang luar biasa baik. Saya dianugerahi banyak orang yang sangat istimewa di hidup saya. Mereka siap menolong saya. Memberikan saya masukan. Dengan resiko saya akan dapat membenci mereka.

Untuk itu, kepada orang-orang yang sangat istimewa di hidup saya ini, khususnya untuk satu orang secara spesifik (kalau kamu membacanya, ya ini untuk kamu. Saya yakin kalau kamu membaca ini, kamu akan mengerti bahwa saya berbicara kepada kamu.). Saya mengucapkan banyak terima kasih karena kamu telah berani mengambil resiko untuk menjadikan saya seorang yang lebih baik, seorang yang dewasa, dan seorang yang jadi berkenan di mata Tuhan dan manusia.

Maafkan saya yang tidak menangkap ketulusan hatimu. Maafkan saya yang malah menjadi marah dan tidak terima dengan niat baikmu. Maafkan saya yang berharap kamu memberi saya masukan dengan cara yang saya inginkan.

Selain itu, saya juga mau berterima kasih untuk setiap orang yang sudah memberikan kontribusi untuk artikel ini bisa dibuat, baik yang menyadarinya ataupun tidak. Terutama untuk 2 orang istimewa, yaitu yang telah membagikan Brain Teaser itu kepada saya dan yang telah memberikan share berkaitan dengan pengalamannya. Kalau kalian membaca artikel ini, saya yakin kalian tahu ini untuk kalian. Terima kasih banyak!

Teman-teman artikel ini menjadi begitu panjang tanpa saya sadari. Saya hanya bisa berdoa dan berharap bahwa artikel ini sungguh bisa memberkati teman-teman yang membacanya.

Doa saya hari ini:

Tuhan,

Saya berdoa bagi semua teman yang sudah membaca artikel ini. Biar Roh-Mu yang akan bekerja lebih lagi untuk mengubah, memperbaharui, dan menyempurnakan penulisan ini supaya sungguh menjadi rhema di hidup setiap teman yang membacanya.

Saya bersyukur untuk setiap hal dan setiap orang yang Tuhan izinkan di hidup saya. Setiap hal yang Tuhan berikan, itu sungguh amat baik. Bantu saya untuk bisa mengerti dan menghargai hal itu, Tuhan.

Pimpinlah kami semua, Tuhan. Supaya kami bisa selalu belajar dan belajar terus, untuk mengerti bahwa keunikan dan perbedaan karakter dan kepribadian adalah suatu hal yang indah, bukan suatu hal yang salah. Bantu kami, Tuhan, supaya kami semakin memahami bahwa justru di dalam keunikan dan perbedaan karakter dan kepribadian itulah, kami akan bertumbuh semakin menyerupai Engkau.

Terima kasih, Tuhan. Segala hormat, pujian, dan kemuliaan hanyalah bagi nama-Mu.

Amin.

Comments on: "Cinta Kedua: Yerusalem" (2)

  1. Jawaban teka teki 7+7+7=494942

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: