All for Glory of Jesus Christ

Halo teman-teman, masih ingat cerita sendal jepit saya? Kalau lupa atau belum baca, coba baca lagi ya :D. Kali ini saya mau cerita tentang jepit rambut.

Ada satu jepit rambut yang biasa sehari-hari saya pakai. Jepitnya sederhana. Hiasannya bentuk daun warna coklat 2 buah. Jepit ini enak dipakai karena agak longgar. Jadi gampang menjepit poni (rambut depan) saya yang mulai panjang.

Satu hari, waktu saya mau pakai jepit itu, saya kaget. Lho, kog jepit saya daunnya hilang 1! Kog bisa? Padahal saya pakai di rumah saja. Saya juga tidak menemukan daun yang hilang itu.

Akhirnya jepit itu hiasannya tinggal satu daun saja. Untuk di rumah, saya bisa pakai. Kalau ke luar rumah jelas sudah tidak bisa dipakai. Sayang sekali. Padahal itu jepit kesayangan saya.

Tiba-tiba saat saya sedang memakai jepit itu, ada satu ayat terlintas:

“Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang.” (Matius 5:13)

Ya, jepit saya itu sebenarnya kalau mau, bisa dianalogikan seperti garam itu. Saya bisa saja membuang jepit tersebut karena saya tidak bisa pakai lagi ke luar rumah. Tapi saya tidak buang, sebab masih bisa saya pakai di rumah.

Saya merenung saat saya dalam kondisi seperti jepit itu. Saat saya seperti garam tawar itu. Saat kondisi saya kalah, saya persis seperti jepit itu, seperti garam tawar itu. Ketika saya tidak bisa berfungsi sebagaimana mestinya, saya tidak berguna lagi.

Lalu bagaimana supaya garam bisa asin lagi? Bagaimana jepit bisa bagus kembali? Bagaimana saya bisa kembali berfungsi?

Garam bisa asin kalau dia dikembalikan ke sumbernya atau kalau ia dicampur dengan garam lain. Jepit bisa bagus kembali kalau daun yang hilang ditempel lagi. Lalu bagaimana saya bisa kembali berfungsi?

Seperti garam yang bisa asin kalau dikembalikan ke sumbernya, saya butuh sumber itu. Seperti jepit yang bisa bagus kembali kalau ditempel daunnya, saya butuh menemukan kembali hal yang membuat saya utuh kembali.

Tuhan Yesuslah sumber yang saya butuhkan. Tanpa dia, saya seperti garam yang tawar. Tuhan Yesuslah hal yang saya perlu temukan kembali untuk membuat saya utuh kembali. Tanpa dia, saya seperti jepit yang kehilangan daunnya.

Selain dikembalikan ke sumbernya, garam tawar juga perlu dicampur dengan garam lain. Saya menemukan saat saya mendapatkan dukungan dari teman-teman seiman, saat itu saya dikuatkan.

Seperti daun yang lepas dari jepitnya, saya perlu menemukan hal yang membuat saya tidak berfungsi. Kalau itu sudah ditemukan, saya perlu menyelesaikan masalah itu.

Teman-teman, apakah ada di antara teman-teman yang mengalami seperti jepit saya yang kehilangan daunnya? Apakah ada di antara teman-teman yang mengalami seperti garam yang menjadi tawar?

Yuk datang pada Tuhan Yesus. Ia sendiri yang telah membuka diri-Nya, mengundang kita untuk datang pada-Nya:

“Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.” (Matius 11:28)

Biasanya kita menjadi tidak berfungsi karena merasa begitu beratnya beban yang dipikul. Itulah sebabnya kita butuh Tuhan untuk menguatkan kita. Itulah sebabnya kita butuh saudara seiman untuk menguatkan kita.

Kita diciptakan-Nya untuk hidup bersama orang lain, bukan hidup sendiri. Itu sebabnya kita butuh orang lain. Tuhan menempatkan banyak orang di sekitar kita yang dapat menjadi tempat kita berbagi. Mintalah hikmat pada Tuhan supaya kita bisa mendapatkan orang yang tepat untuk berbagi, saling mendoakan, dan saling menguatkan.

Saya beruntung memiliki sejumlah saudara seiman yang bisa saya hubungi. Saya bisa bercerita tanpa takut, tanpa segan. Saya yakin mereka mendengarkan dan mendukung saya. Itu adalah suatu anugerah dari Tuhan bagi saya.

Bahkan kalaupun mereka semua sedang sibuk, tetap ada Roh Kudus yang selalu mendampingi saya. Ia menuntun saya. Membuat hati saya lega kembali. Membuat saya dapat bertahan dan tetap melangkah.

“Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong  yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya, yaitu Roh Kebenaran.Dunia tidak dapat menerima Dia,sebab dunia tidak melihat Dia dan tidak mengenal Dia. Tetapi kamu mengenal Dia, sebab Ia menyertai kamu dan akan diam di dalam kamu” (Yohanes 14:16-17)

Hal yang sama juga saya yakin dimiliki teman-teman. Roh Kudus ada dalam diri teman-teman. Dengarkan Ia. Ikuti tuntunan-Nya. Bagaimana kalau ternyata ada yang tidak punya saudara seiman di dekat teman-teman?

Berdoa. Minta Tuhan untuk dapat mengirimkan saudara seiman yang dapat menguatkan teman-teman. Ia terlalu hebat untuk dapat dibatasi oleh jarak dan waktu. Ia adalah Elshadai, Allah yang Maha Kuasa. Jadi tidak ada yang dapat menghalangi-Nya untuk menolong kita semua.

“Sesungguhnya, tangan TUHAN tidak kurang panjang untuk menyelamatkan, dan pendengaran-Nya tidak kurang tajam untuk mendengar” (Yesaya 59:1)

Ia mendengar doa kita. Ia menolong kita. Pertolongan-Nya tidak pernah terlambat. Panggil nama-Nya. YESUS. Dialah sahabat kita. Dia tak pernah tinggalkan kita. Dia tersedia 24 jam bagi kita.

Yuk kita semua tetap bersemangat! Jadilah garam yang baru! Jadilah jepit yang baru! Jadilah diri kita yang baru yang telah dipulihkan! Itu semua karena Tuhan beserta kita.

Doa saya hari ini:

Tuhan,

Saya berdoa untuk semua yang membaca artikel ini. Apapun keadaan mereka, Kau yang paling mengetahui. Kalau ada yang merasa menjadi seperti jepit yang kehilangan daunnya, seperti garam yang tawar, bantulah mereka, Tuhan.

Kami percaya bahwa pertolongan-Mu tidak terbatas. Hal yang mustahil itu biasa saja bagi-Mu. Kami yakin bahwa tidak ada yang terlalu sulit bagi-Mu.

Itu sebabnya kami masih bisa berpengharapan, karena pengharapan dalam-Mu tidak pernah mengecewakan oleh karena Roh Kudus-Mu yang dicurahkan ke dalam hati kami.

Segala hormat, pujian, dan kemuliaan hanya bagi nama-Mu, Yesus.

Amin.

Iklan

Comments on: "Cerita: Jepitku Sayang, Jepitku Malang" (2)

  1. Denny Thomas said:

    sama bagusnya dgn artikel Sendal jepit 🙂

    • Waaah thanks, Den :). Saya soalnya liat komentar dan like sebagai barometer hasil tulisan saya juga, Den. Jadi kalau semua di-like saya ga bisa nilai jadinya mana yang bagus en engga 😀 Thanks ya. Kalau misal ga bagus, bilang aja. Jadi saya bisa koreksi dan lebih baik :). Gbu, Den!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: