All for Glory of Jesus Christ

Cerita: Segelas Teh Melati

Selamat pagi, teman-teman! Bagaimana kabarnya? Hari ini saya mau bercerita tentang segelas teh.

Mengapa teh? Karena saya suka sekali minum teh :D, terutama teh melati. Saya pernah menyeduh teh melati saat teh melatinya dalam bentuk kemasan teh celup. Biasanya saya menyeduh teh melati dalam bentuk daun tehnya yang langsung dicelup. Jadi tidak pakai kemasan celup.

Setiap kali menyeduh teh melati, saya pasti sempatkan untuk mendekatkan gelas berisi teh melati itu ke hidup saya. Saya hirup. Aroma teh melati yang harum masuk ke dalam rongga hidung saya. Pelan-pelan hirup. Ah, nikmattt!

Teman-teman, ternyata saat saya mencelup teh melati dalam bentuk kemasan teh celup dan dalam bentuk daun teh begitu saja, hasil aroma melatinya berbeda jauh!

Dari yang sudah saya lakukan, pada saat saya menggunakan teh melati dalam bentuk kemasan teh celup, aromanya tidak terlalu keluar. Padahal, pada saat saya menghirup aroma dari teh melati itu sebelum diseduh, aromanya kuat sekali.

Berbeda saat menghirup aroma dari teh melati yang bukan dalam bentuk kemasan. Memang saat pertama sebelum diseduh, aromanya juga kuat tapi saat diseduh aroma kuatnya itu lebih terlepas lagi.

Ketika saya meminum secangkir teh melati nikmat, hangat, dan lezat, tiba-tiba saya teringat akan sebuah film: “Forrest Gump” yang dibintangi oleh Tom Hanks. Di sana ada 1 adegan yang mengatakan

“Life is like a box of of chocolate”

Nah saya akan mengganti coklat itu dengan teh melati.

“Life is like a cup of warm jasmine tea”.

(“Hidup itu seperti segelas teh melati hangat)

Ketika saya renungkan, saat saya ingin mendapatkan segelas teh melati yang nikmat, hangat, dan lezat, saya memiliki dua pilihan. Pilihan pertama: saya bisa menggunakan kemasan teh melati dalam kemasan celup. Pilihan kedua: saya bisa menggunakan teh melati dalam bentuk daun tehnya.

Pilihan pertama (gunakan teh melati kemasan celup) tentu saja sangat praktis. Saya tidak perlu lagi menyaring daun tehnya. Tinggal seduh. Celup. Tunggu sebentar. Jadi. Instan. Cepat. Praktis. Mudah.

Pilihan kedua (gunakan teh melati dalam bentuk daun tehnya) tentu saja sangat tidak praktis. Saya harus menyaring daun tehnya atau kalaupun tidak, saat meminumnya saya harus hirup perlahan-lahan. Maksudnya supaya teh melati itu tidak termakan tentunya :D. Tidak instan. Repot. Perlu usaha lebih.

Kalau hanya melihat dari usahanya, untuk mendapatkan segelas teh melati hangat tentu saja saya bisa memilih pilihan pertama atau kedua. Toh akhirnya saya sama-sama dapat teh melati hangat juga.

Hanya saja, kalau saya ingin teh melati yang hangat, nikmat, dan lezat seperti yang saya inginkan, pilihan saya tidak lain dan tidak bukan adalah pilihan kedua.

Karena hidup ini seperti segelas teh melati yang hangat, saya juga memiliki pilihan dalam hidup. Apakah saya ingin memilih jalan yang instan? Mudah? Cepat? Praktis? Ataukah saya ingin memilih jalan kedua: tidak instan, repot, perlu usaha lebih.

Kalau hanya segelas teh melati hangat saja, saya ingin teh melati yang hangat, nikmat, dan lezat; apalagi dengan hidup saya.

Saya berpikir bahwa ketika saya ingin sebuah hidup yang memang sungguh diperkenan oleh Tuhan, saya harus mengalami proses peningkatan (improvement) dan pengembangan (development). Dalam prosesnya juga ada 2 jalan: Jalan pertama adalah jalan yang mudah, cepat, praktis. Jalan kedua adalah jalan yang tidak instan, repot, perlu usaha lebih.

Dalam menghadapi kedua pilihan ini, mana yang harus saya pilih? Pada saat dihadapkan pada pilihan mudah, instan, dan cepat tapi hasilnya tidak optimal dengan pilihan tidak instan, repot, dan perlu usaha lebih tapi hasilnya optimal, mana pilihan yang harus saya ambil? Kalau saya ingin teh hangat, nikmat, dan lezat saya harus ambil pilihan kedua. Begitu juga dalam hidup, saya harus ambil pilihan kedua.

Saya yakin hal ini adalah hal yang bisa jadi dialami oleh teman-teman semua. Jadi bukan hanya saya saja. Saya percaya bahwa dalam hidup kita mendapatkan kedua pilihan ini.

Kalau ada dari teman-teman yang sedang mengalami seperti yang sedang saya alami, kira-kira apa pilihan teman-teman semuanya? Saya yakin teman-teman bisa memilih sendiri pilihan yang terbaik bagi teman-teman.

Doa saya hari ini:

Terima kasih, Tuhan, untuk segelas teh melati hangat, lezat, dan nikmat yang Tuhan berikan. Seperti saya suka teh semacam itu, saya juga suka hidup yang semacam itu. Biarlah saya bertekun dalam pilihan kedua ya, Tuhan, karena saya tau ini yang Tuhan mau saya kerjakan.

Bagi teman-temanku yang membaca artikel ini, Tuhan Engkau juga yang tau hal yang terbaik bagi mereka. Kiranya kalau ada dari mereka yang saat ini juga mengalami hal yang sama seperti yang saya alami, biarlah Tuhan yang tuntun mereka sendiri untuk memilih hal yang paling tepat.

Terima kasih, Yesus, buat kasih-Mu yang tak berkesudahan, selalu baru setiap hari. Kasih-Mu yang tak pernah gagal. Kasih-Mu itu memampukan kami untuk terus berjalan hari lepas hari dan tidak menjadi letih. Tidak menjadi kendor. Tidak menjadi lesu. Tetap kuat! Tetap segar! Tetap semangat!

“Tetapi orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN mendapat kekuatan baru: mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya; mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah.” (Yesaya 40:31)

Apapun yang terjadi dalam hidup kami, biar kami tetap teguh berjalan sesuai kehendak-Mu. Karena kami tau, kehendak-Mu itu adalah yang terbaik bagi kami.

Terima kasih, Tuhan Yesus. Ya, Roh Kudus, berbicaralah terus bagi kami, ubahkan hati kami, dan buat kami menjadi baru. Biarlah lewat hidup kami, nama-Mu akan dipermuliaan.

Segala hormat, pujian, kemuliaan, hanyalah bagi nama Tuhan. Sebab Engkau yang layak, sangat layak, untuk dapatkan semuanya itu.

Amin.

Iklan

Comments on: "Cerita: Segelas Teh Melati" (2)

  1. Santi,aku senang baca tulisannya lu..
    Selalu banyak ide n bahasanya juga bagus..
    Anyway,thanks..

    • Thanks Ci Listya :). Puji Tuhan! Kalau ide biasa saya sih pas ada kejadian tau2 seperti ada dibukakan gitu ci pikirannya. Jadi kalau masalah ide, itu keliatannya creditnya bukan buat saya :). Thank you ci, sangat mendorong saya buat terus nulis. God bless you, ci 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: