All for Glory of Jesus Christ

Cerita: Seleting

Halo teman-teman. Pagi yang indah! Hari ini saya bangun dengan antusias dan senyum lebar! Saya doakan teman-teman juga demikian, ya?😀

Hari ini saya ingin bercerita tentang seleting. Kejadiannya sudah agak lama tapi baru sempat saya tuliskan sekarang.

Jadi ceritanya begini. Suatu hari saya ingin memakai suatu celana pendek di rumah. Karena berat badan saya meningkat sebelumnya dan saya sedang dalam proses menurunkannya lagi, saya pun berpikir:

“Masih muat ga ya?”

Setelah dipakai, ternyata cukup. Tapi ketika saya menarik seletingnya, oh oh oh. Kepala seleting itu meluncur keluar dari relnya. Terlepas dari rel seletingnya dan dari celana pendek itu.

Ermmm, yah kog lepas seletingnya? Jadi tidak bisa dipakai lagi dong. Saya lalu akhirnya menyimpan celana pendek itu dan kepala seletingnya di ranjang atas. Tujuannya supaya nanti bisa diperbaiki atau diganti.

Jadi sebagai gambaran saja, ranjang saya itu ranjang susun. Di bawah itu tempat saya tidur. Di ranjang atas itu tempat menyimpan barang2.

Ok, kembali ke seleting itu. Saya sudah melupakan masalah celana pendek dan seletingnya. Sampai suatu hari, ketika saya berjalan di kamar, tiba-tiba jempol kaki saya menginjak sesuatu.

Saya lihat ke bawah. Ternyata kepala seleting itu ada di lantai. Tepat mengenai jempol kaki saya. Seleting ini kecil tapi kalau terinjak ternyata sedikit sakit juga.

Tepat saat saya kepala memungut seleting itu, selintas satu hal terbersit di pikiran saya:

“Bukankah sebenarnya seleting itu mewakili hal-hal yang kelihatannya kecil tapi kalau diabaikan berpotensi menjadi besar dan merusak/menyakiti?”

Ketika pikiran itu muncul di pikiran saya, saya jadi teringat cukup banyak hal yang mewakili seleting itu di hidup saya. Bisa jadi daftar seleting ini jadi daftar teman-teman juga, saya juga tidak tau. Tapi ya siapa tau kita punya kesamaan, jadi kita bisa belajar bersama untuk memecahkannya.

Saya berpikir, daftar seleting saya adalah cepat tersinggung tapi menyimpannya di dalam hati, tidak cepat memaafkan, suka membicarakan orang lain, membuat asumsi sendiri tentang orang lain, egois, keras kepala, menganggap diri sendiri paling benar, cuek. Errrmm, kog banyak sekali ya jadinya setelah didaftar😛.

Daftar seleting (baca: daftar dosa) ini kelihatannya hal yang normal dan sehari-hari. Tapi sebenarnya seleting adalah seleting. Dosa adalah dosa. Tidak ada dosa besar atau dosa kecil. Di Alkitab tidak disebut dosa besar dan dosa kecil.

Ketika menginjak seleting, jempol kaki saya sedikit terasa sakit. Ketika saya melakukan dosa “kecil”, awalnya mungkin tidak terasa tapi perlahan-lahan mulai terasa sakit dan akhirnya menjadi besar.

Kapan saya menyadari saya menginjak seleting? Ketika saya menunduk ke bawah dan akhirnya melihat seleting itu. Kapan saya menyadari saya melakukan dosa “kecil”? Ketika saya menunduk ke bawah merendahkan diri, dan akhirnya melihat dosa itu.

Dari pertama kali saya menulis di blog, saya sudah berdoa bahwa apapun yang saya tulis saya berdoa itu adalah untuk kemuliaan Tuhan. Itu sebabnya akhir-akhir ini saya terdorong untuk menulis lebih dari segi kelemahan saya dan bukan dari segi kelebihan saya, seperti yang dulu saya lakukan.
Mengapa? Dasarnya ada di ayat ini:

Tetapi jawab Tuhan kepadaku: “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.” Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku. (2 Korintus 12:9)

Saya bisa bermegah atas kelebihan saya tentu saja. Kalau teman-teman tanya, saya bisa menyebutkan daftarnya juga. Tapi dari sekian banyak hal yang saya alami, saya belajar bahwa saat saya bermegah atas kelebihan saya, maka pujian yang diberikan itu porsi untuk saya lebih banyak.

Sementara saat saya bermegah atas kekurangan saya, porsi pujian yang diberikan itu sepenuhnya untuk Tuhan. Mengapa? Karena memang Dialah yang pantas untuk menerima pujian tersebut.

Saya sungguh bersyukur bahwa saya dikelilingi oleh begitu banyak malaikat tanpa sayap di sekeliling saya juga malaikat dengan sayap (cerita tentang ini silakan cari di cerita “Cinta Ketiga: Malaikat”. Silakan teman-teman cari di “Daftar Isi”). Sekali lagi, terima kasih para malaikatku!

Merekalah yang entah dengan cara manis atau pahit, cara lembut atau cara keras, cara yang tidak saya sadari atau saya sadari, membuat saya menunduk ke bawah, merendahkan diri, dan akhirnya melihat dosa itu.

Seringkali saya tidak sadar bahwa yang saya lakukan itu adalah dosa. Saya sungguh bersyukur bahwa Tuhan begitu mencintai saya, sehingga ia memberikan orang-orang yang mau mengoreksi saya.

Saya sedang dalam proses untuk mengalahkan dosa-dosa ini. Saya berdoa prosesnya cepat. Hanya saja ketika saya mencoba realistis, kebiasaan buruk tertanam lama untuk mengubahnya butuh waktu. Tapi ketika saya menyerahkan semuanya kepada Tuhan, saya percaya bahwa Ia akan membantu saya untuk mengalahkan semua dosa itu dengan kuasa kebangkitan-Nya atas maut dan dosa. Haleluya! Puji nama Tuhan Yesus!

Teman-teman, apakah ada di antara teman-teman yang juga memiliki daftar seleting yang sama seperti yang saya miliki? Saya yakin kalau jawaban teman-teman itu “ya” itu sungguh bukan kebetulan teman-teman hari ini bisa membaca artikel ini. Kalaupun daftar seleting kita berbeda, tapi prinsip yang sama tetap dapat diterapkan.

Yuk kita sama-sama berdoa dan berusaha untuk semakin dekat dengan Tuhan. Hanya saat kita makin dekat Tuhan, kita dapat kekuatan untuk mengatasi dosa-dosa kita. Karena kalau kita ingin menggunakan pendekatan dari sisi manusia saja, yaitu kemauan, tekad, dan usaha keras; itu tidak cukup.

Kita perlu memliki kemauan, tekad, dan usaha keras. Tapi kalau hanya itu saja tanpa Tuhan, tetap saja tidak akan bisa diperoleh hasil terbaik. Kita butuh Tuhan! Itu sebabnya Tuhan Yesus mati bagi kita. Demi menebus dosa kita. Demi kita bisa hidup. Demi kita bisa menang atas dosa. Puji Tuhan!

Kita memiliki Tuhan yang luar biasa. Ia tidak terbatas! Ia Maha Dahsyat! Itu sebabnya kita bisa dengan yakin meminta pertolongan-Nya untuk membantu kita benar-benar menang atas daftar seleting kita masing-masing.

Sebelum saya menutup artikel hari ini dengan doa, saya ingin membagi sesuatu dengan teman-teman. Subuh hari ini, seorang teman yang tidak terlalu akrab dengan saya tiba-tiba mengirimkan satu ayat kepada saya lewat satu jejaring sosial yang saya ikuti.

Saya heran juga. Lalu saya cari ayat yang teman saya ini kirimkan. Ketika saya buka dan baca, saya pun menyadari. Ternyata memang akibat dosa-dosa yang ada, saya menjadi tidak layak. Itu sebabnya Tuhan lalu dengan kemurahan-Nya membantu saya untuk mengatasi dosa itu.

Ah, segala pujian hanya bagi nama-Nya. Sungguh Dia sangat ajaib! Ia hebat! Ia besar! Ia mulia! Ia menakjubkan!

Saya ingin menutup artikel ini, tapi sekali lagi Dia membuat saya terpana! Heran! Takjub!

Baru saja saya membaca satu renungan singkat yang masuk melalui perangkat komunikasi saya. Dari situ saya menemukan dua ayat yang bagus sekali untuk melengkapi artikel ini.

Ayat pertama:

“Anak-anakku, hal-hal ini kutuliskan kepada kamu, supaya kamu jangan berbuat dosa, namun jika seorang berbuat dosa, kita mempunyai seorang pengantara pada Bapa, yaitu Yesus Kristus, yang adil.” (1 Yohanes 2:1)

Ayat pertama ini adalah untuk melengkapi keterangan saya di atas mengenai kita butuh Tuhan.

Ayat kedua:

“Aku pun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan mulai sekarang, jangan berbuat dosa lagi” (Yoh 8:1-11).”

Ayat ini untuk melengkapi keterangan saya mengenai untuk menang atas dosa. Selain itu juga membuka untuk penjelasan lebih lanjut. Saya jadi diingatkan akan kecenderungan saya yang lain untuk menghukum diri sendiri ketika menyadari telah berbuat dosa.

Apa ada teman-teman yang juga memiliki kecenderungan yang sama? Seperti saya diingatkan Tuhan untuk tidak menghukum diri sendiri karena Ia juga tidak menghukum saya, yuk teman-teman juga tidak menghukum diri sendiri. Kita perlu bangkit dan menjadi terang.

Haleluya, Puji Tuhan! Kedua ayat itu saya percaya merupakan senjata yang Tuhan beri bagi kita semua untuk mengalahkan dosa.

“Sebab itu marilah kita menanggalkan perbuatan-perbuatan kegelapan dan mengenakan perlengkapan senjata terang!” (Roma 13:12)

Puji Tuhan! Ketika saya ingin menyelesaikan artikel ini, kembali saya diberikan satu sumber lain untuk melengkapi artikel ini:

http://www.grahacmc.org/the-shepherds-voice/road-to-revival-part-3-lembah-kekelaman

Silakan teman-teman baca sendiri dan bersyukur buat kebaikan Tuhan yang tak pernah habis-habisnya. Selalu baru setiap hari. Tidak pernah kebetulan. Ia sangat sempurna. Pertolongan-Nya tepat waktu! Haleluya.

Nah saya sudah sampai pada akhir artikel ini. Yuk kita sama-sama berdoa:

Bapa,

Terima kasih buat setiap hal yang sudah Bapa berikan bagiku. Setiap kelebihan dan setiap kelemahanku, segenap tubuh, jiwa, dan rohku, semua aku berikan kepada-Mu. Biarlah Tuhan, Engkau pakai itu semua demi kemuliaan nama-Mu. Saya juga berdoa hal yang sama untuk semua teman yang membaca artikel ini. Supaya bisa mempersembahkan semua yang ada dalam diri mereka bagi kemuliaan nama-Mu.

Tuhan, saya mau berdoa buat kami semua. Saya dan juga teman-teman yang membaca artikel ini. Kiranya Tuhan sendiri yang terus bekerja untuk membongkar habis semua seleting-seleting dalam diri kami dan membuat kami bangkit untuk tidak berbuat dosa lagi.

Terima kasih, Tuhan. Kuasa darah-Mu memampukan kami untuk menang atas dosa. Itu sebab-Nya kami dapat bersuka cita karena memang Engkaulah landasan suka cita kami. Kemenangan kami. Sumber pengharapan. Sumber pujian kami.

Terpujilah Engkau, Tuhan, sampai selama-lamanya.

Amin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: