All for Glory of Jesus Christ

Cerita: Jatuh

Teman-teman, ini saya kembali lagi. Bagaimana kabar teman-teman semua? Luar biasa baik pastinya kan? Kalau tidak baik, tidak apa-apa. Saya akan temani teman-teman malam ini dengan cerita saya.

Malam ini di sini hujan deras. Sepertinya memang latar belakang (background) yang pas sekali untuk saya menuliskan cerita hari ini. Sebenarnya saya sudah punya rencana untuk menulis cerita lain untuk artikel hari ini.

Tetapi hari ini terjadi sesuatu hal yang membuat saya berpikir bahwa saya hari ini harus menulis hal yang lain. Sebelum saya masuk ke cerita hari ini, saya mau tanya dulu.

Teman-teman sudah baca artikel “Cerita: Sendalku Sayang, Sendalku Malang”? Kalau belum, baca dulu ya. Mengapa? Sebab artikel itu yang menjadi latar belakang dari artikel hari ini.

Kalau teman-teman sudah baca, saya akan lanjutkan cerita saya. Sesudah kejadian di artikel “Cerita: Sendalku Sayang, Sendalku Malang” mami saya memberikan saya sendalnya. Saya senang sekali karena sendalnya ringan, empuk, tipis, dan enak sekali dipakai di rumah. Warnanya putih.
Mami saya memberi tahu saya:

“Sendal ini boleh dipakai, tapi jangan dipakai kalau ke kamar mandi. Licin soalnya.”

Karena sendal ini milik mami saya aslinya, memang sedikit terlalu besar dibandingkan kaki saya. Tapi saya senang memakai sendal ini, alasannya yang tadi itu: ringan, empuk, enak dipakai. Sebut saja sendal ini si putih.

Saya kadang-kadang masih pakai sendal lama saya yang hitam itu (sebut saja si hitam). Yah, di rumah saja tidak masalah lah pakai si hitam :D. Tapi setelah saya coba si putih, saya jadi terbiasa dengan si putih daripada si hitam. Si hitam pun saya letakkan begitu saja di lantai kamar saya.

Hari ini seperti biasa saya melakukan aktivitas saya. Pada siang hari, karena tidak hati-hati, saat turun tangga saya jatuh. Saat itu saya kira-kira ada di tangga ketiga dari bawah. Ketika jatuh, saya kaget dan juga sakit sekali.

Mami saya melihat dengan jelas kejadian itu. Beliau datang ke saya dengan kepanikan yang sangat jelas di mata dan di suaranya. Saya saat itu tidak bisa bangun karena sakit di bagian (maaf) pantat saya.

Pelan-pelan mami saya memegang tangan saya dan saya pun setelah rasa kaget dan sakit itu mereda, dengan berpegangan pada mami saya, saya pun bangun dari posisi jatuh itu. Puji Tuhan, saya tidak apa-apa!

Setelah itu, mami saya datang ke kamar saya membawa arak gosok. Saya berkata padanya kalau saya tidak apa-apa. Tapi mami saya ingin memastikan saya tidak apa-apa, jadi mami saya membalurkan arak gosok itu.

Uhm.. saya merasa sangat disayang. Pada saat papi saya pulang, mami saya cerita pada papi saya. Papi saya pun kaget. Saya baru tahu bahwa ternyata mereka sangat sayang pada saya :D.

Papi saya langsung berkata untuk membuang saja si putih. Padahal saya masih suka dengan si putih. Lalu mami saya memberikan sendal lain lagi buat saya. Sendalnya warna pink dengan dasar coklat. Cantik sekali. Jauh lebih tebal dari si hitam, apalagi si putih. Bentuknya juga jauh lebih manis.

Saya sih tidak terlalu memikirkan masalah bentuknya. Buat saya, yang penting fungsinya. Kalau bentuknya cantik tapi dipakainya tidak enak, saya juga malas memakainya. Hanya untuk situasi-situasi tertentu saja yang memang membutuhkan penampilan baru saya pakai. Selebihnya ya sendal nyaman saja hahahaha.

Kejadian tadi siang membuat saya bertanya-tanya. Apa maksud Tuhan di balik kejadian itu? Saya tau Dia luar biasa berkuasa. Ia Elshadai, Allah Maha Kuasa. Dia mencintai saya. Dia juga menjaga saya. Dia juga menuntun langkah saya. Itu saya tau dengan jelas.

Peristiwa saya jatuh itu membuat saya merenung. Bukankah kalau Dia Elshadai, seharusnya Dia sanggup mencegah saya untuk jatuh? Bukankah ada tertulis:

Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan. (Yeremia 29:11)

Saya jatuh itu bukankah itu kecelakaan? Tidak disengaja? Lalu bukankah Firman Tuhan itu berkata bahwa Ia membuat “rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepada saya hari depan yang penuh pengharapan”?

Lalu mengapa Tuhan biarkan saya mengalami jatuh? Mengapa Tuhan biarkan saya mengalami kecelakaan? Mengapa Tuhan biarkan saya begitu sakit? Mengapa Tuhan biarkan saat saya merasa begitu kaget? Mengapa Tuhan biarkan saat saya bahkan beberapa saat tidak sanggup berdiri karena begitu sakit?

Lalu saya diingatkan-Nya:

Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN. Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu. (Yesaya 55:8-9)

Saya berpikir, apakah ayat di Yeremia 29:11 dengan di Yesaya 55:8-11 itu bertolak belakang? Jawabannya: Tidak!

Saya berpikir menurut hal yang saya pikirkan, Tuhan berpikir menurut yang Dia pikirkan. Analoginya: seorang anak kecil kalau ditanya tentang balon gas menurut dirinya, mungkin ia hanya bisa mengatakan balon gas itu warnanya merah. Balon gas ada talinya. Balon gas bisa terbang. Balon gas bisa pecah. Mungkin seperti itu.

Tetapi kalau pertanyaan yang sama tentang balon gas ditanyakan pada seorang ilmuwan fisika, jawabannya jelas akan berbeda jauh. Bisa jadi ilmuwan fisika ini malah akan memberikan suatu penemuan mutakhir mengenai balon gas.

Kembali ke masalah saya jatuh dan pertanyaan saya tadi. Ketika saya dengan pikiran saya yang terbatas (walaupun Tuhan menciptakan saya sangat amat baik, tetap saja ada batasnya) mencoba untuk mengetahui pemikiran Tuhan yang luar biasa tak terbatas, jelas itu tidak terlalu mudah.

Tetapi:

“Maka rahasia itu disingkapkan kepada Daniel dalam suatu penglihatan malam. Lalu Daniel memuji Allah semesta langit” (Daniel 10:14)

Saya yakin teman-teman semua sudah tau tentang Daniel. Sekedar melengkapi cerita saja, Daniel adalah seorang yang memiliki roh yang luar biasa (Spirit of Excellence), seorang yang sangat mengasihi Tuhan dan berani mengambil resiko apapun demi tetap mengasihi Tuhan.

Daniel-daniel di zaman sekarang ini adalah kita semua. Karena Roh Kudus-Nya yang dicurahkan kepada kita, kita bisa memiliki roh yang luar biasa, mengasihi Tuhan, dan berani mengambil resiko apapun demi tetap mengasihi Tuhan. Haleluya!

Dan pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita (Roma 5:5)

Itu sebabnya, saya tidak perlu kecil hati kalau saya belum seperti Daniel karena Ia sendiri yang memberikan kasih-Nya ke dalam hati kita oleh karena Roh Kudus. Begitu juga kalau teman-teman seperti saya, tidak perlu kecil hati. Kita bisa memiliki roh yang luar biasa itu, kita bisa sangat mengasihi Tuhan, dan berani mengambil resiko apapun demi mengasihi Tuhan.

Apakah karena diri kita? Karena kehebatan kita? Kebaikan kita? Kejujuran kita? Ketulusan kita? Kesetiaan kita? Ketaatan kita? Kesucian kita? Bukan! Itu semua karena Dia yang memberikan kita kasih-Nya oleh Roh Kudus yang dikaruniakan kepada kita! Pendek kata: karena kasih karunia-Nya. Anugerah-Nya. Hadiah cuma-cuma. Gratis. Tidak pakai bayar. Haleluya!!

Nah, kalau begitu, bukankah saya bisa mendapatkan penyingkapan rahasia rencana Tuhan? Bukankah teman-teman bisa mendapatkan penyingkapan rahasia rencana Tuhan? Bukankah kita semua bisa mendapatkan penyingkapan rahasia rencana Tuhan?

Ya! Bisa! Karena kasih karunia-Nya. Puji nama Tuhan!

Kalau begitu, lantas apa alasan Bapa Surgawi membiarkan saya jatuh? Teman-teman, pada saat saya jatuh dari tangga, berbagai peristiwa di masa lalu saya terbersit dalam pikiran saya.

Saat itulah saya mengerti, alasan Tuhan membiarkan saya jatuh dari tangga. Bukan karena Ia tidak mencintai saya. Bukan! Bukan karena Ia tidak menjaga saya. Bukan! Bukan karena Ia tidak menuntun saya. Bukan!
Lalu, karena apa? Ketika saya merenungkan masa lalu saya, saya mendapati bahwa terdapat beberapa pilihan yang saya ambil secara keliru. Entah itu dalam pemilihan pasangan, dalam pemilihan proyek, dan bidang lainnya. Saya menyadari bahwa Tuhan sudah memberikan petunjuknya dengan begitu jelas di Alkitab tentang cara-cara seseorang untuk hidup sesuai kehendak-Nya. Ya, di Alkitab semua sudah tertulis jelas.

Kalau saya dengan nekatnya (katakanlah begitu) mengambil sendiri pilihan itu dengan mengabaikan petunjuk yang Tuhan berikan, apakah Tuhan yang salah? Saya jadi ingat bahwa Mami saya sudah mengingatkan saya:

“Sendal ini boleh dipakai, tapi jangan dipakai kalau ke kamar mandi. Licin soalnya.”

Mami adalah seorang wanita. Wanita memiliki fungsi sebagai penolong. Penolong adalah representasi dari Roh Kudus. Nah, Roh Kudus sudah memperingatkan saya. Sebagai contoh masalah pasangan hidup:

“Hey, di Alkitab ada tertulis begini lho. Jangan berpasangan dengan yang tidak sepadan.”

(Siapa tau teman-teman berminat untuk membaca masalah kesepadanan ini, bisa dibaca di “Cinta, Jatuh Cinta, dan Pasangan Hidup”)

Tapi saya langgar saja. Nah ketika hubungan berakhir, eh saya menyalahkan pasangan saya. Saya bertanya kepada Tuhan,

“Lho kog begini sih Tuhan?”

Ini saya bukan menyalahkan atau menghukum diri sendiri. Bukan juga karena saya mengingat-ingat masa lalu atau belum lepas dari masa lalu. Bukan, teman-teman. Tenang, jangan salah paham :D. Saya hanya bercerita supaya memberikan ilustrasi yang jelas :D.

Dulu saya sering berpikir:

“Saya sudah mengasihi dirinya semampu saya bisa mengasihi. Lalu apa salah saya?”

Dalam hubungan karena melibatkan 2 orang, jelas 2 orang ini punya andil untuk membuat hubungan itu berhasil atau gagal. Saya terlalu senang menyalahkan orang lain untuk memikul tanggung jawab bahwa ya memang saya punya andil untuk kegagalan itu.

Mengapa? Karena saya tidak mengikuti peringatan Roh Kudus dari awal… Ah, kebenaran memang seringkali tidak mengenakan bukan? Siapa sih yang suka dikatakan, “Hey kamu salah!”?

Hanya saja, itulah kebenaran! Peristiwa saya jatuh dari tangga itu membukakan pikiran saya untuk mengerti. Untungnya, Tuhan itu baik! Ia terlalu baik!

Dia tidak pernah membiarkan saya sendiri ketika sedang bersedih, ketika saya tak sanggup lagi. Seperti mami saya memegang tangan saya, mengangkat saya ketika saya jatuh, mengoleskan arak gosok kepada saya; itu juga yang Tuhan lakukan kepada saya!

Wow, bukankah Dia sungguh baik? Anak-Nya yang tidak mengindahkan kata-kata-Nya dan malah ngotot sendiri dengan kemauannya, setelah gagal menyalahkan Bapanya, tetapi Bapanya tetap tidak tinggalkan Dia sendiri.

Ketika dulu saya masih larut dalam perasaan marah, benci, sakit hati, kecewa; saya masih ingat dengan jelas papi saya dengan bijaknya berkata:

“Pasti Tuhan beri yang lebih baik.”

Papi saya bukan tipe orang yang banyak bicara. Ia lebih banyak memperhatikan saya dalam diam. Pada saat saya meminta nasihat, baru ia memberi nasihat. Tetapi papi saya suka bertanya juga, mengenai kehidupan saya, teman-teman saya, orang-orang yang dekat dengan saya. Papi saya adalah teladan bagi saya.

Papi adalah seorang pria. Pria memiliki fungsi sebagai seorang pemimpin. Pemimpin adalah representasi dari Bapa sendiri. Ya, saya bersyukur sekali bahwa Tuhan memberikan saya papi yang luar biasa hebat! Dari papi saya, saya bisa mengerti dengan mudah mengenai kasih Bapa Surgawi. Haleluya! Segala kemuliaan hanya bagi nama Tuhan!

Ketika si putih membuat saya terjatuh, papi saya dengan tegasnya mengatakan:

“Buang saja sendal itu.”

Tegas. Pendek, Tepat. Saya ingat pada saat peperangan dalam pikiran saya berkecamuk, berbagai emosi negatif muncul juga muncul pemikiran:

“Sudah, maafkan dan lupakan. Sudah berlalu.”

Tetapi, rasa ego saya memang terlalu besar. Rasa disakiti, merasa tidak layak diperlakukan tidak adil setelah mencintai, mendukung, melakukan yang terbaik untuk seseorang; itu terlalu mendominasi pikiran saya.

Ah, bukan salah Bapa Surgawi yang sudah menyatakan dengan jelas maksud hati-Nya di Alkitab kalau memang saya tetap ngotot dengan perasaan ego saya itu. Ya kan?

Tapi seperti papi saya yang tidak pernah memaksa saya, begitu juga Bapa Surgawi. Bapa Surgawi tidak pernah memaksa saya untuk mengambil suatu keputusan. Ia sabar. Perlahan-lahan, Ia membuat saya mengerti.

Bukankah begitu indah kasih Bapa Surgawi kepada saya? Saya sungguh bersyukur karena Ia membukakan hal-hal indah dari peristiwa kecil sehari-hari dalam hidup saya. Kasih-Nya terlalu besar.

Setelah saya jatuh, saya harus bangkit tentu saja. Seperti saat jatuh dari tangga, pada saat saya mengalami kegagalan dalam bidang apapun saya harus bangkit.

“Sebab tujuh kali orang benar jatuh, namun ia bangun kembali, tetapi orang fasik akan roboh dalam bencana.” (Amsal 24:16)

Ya, sebagai orang yang dibenarkan karena pengorbanan Kristus di kayu salib, saya menjadi orang benar. Teman-teman juga demikian. Jadi, kalau saya jatuh, saya harus bangun kembali. Kalau teman-teman jatuh, teman-teman harus bangun kembali. Kalau kita jatuh, kita harus bangun kembali.

Mengapa?

Tetapi dalam semuanya itu kita lebih dari pada orang-orang yang menang,oleh Dia yang telah mengasihikita. (Roma 8:37)

Kita adalah lebih daripada orang-orang yang menang! Karena siapa? Karena kita berkemauan keras? Karena kita bertekad kuat? Karena kita tegar? Karena kita tidak cengeng? Bukan! Tetapi karena Tuhan yang telah mengasihi kita! Wow! Puji Tuhan!

Sesudah kejadian itu, mami saya datang ke kamar saya. Kami ngobrol-ngobrol tentang kejadian saya jatuh dari tangga. Lalu mami saya mengeluarkan satu pernyataan yang membuat saya tertawa terpingkal-pingkal:

“Untung, (maaf) pantat kamu besar.”

Sampai sekarang saya masih tersenyum-senyum saat mengingat itu. Tempat saat saya jatuh, di situlah tempat saya bangkit. Di situlah Tuhan beri satu kekuatan.

Apakah cerita saya suatu hal yang familiar bagi teman-teman? 😀 Kalau ya berarti saya pikir kita punya banyak kesamaan. Itu juga yang membuat Tuhan mendorong dan menggerakkan teman-teman untuk bisa membaca artikel ini sampai selesai :D.

Teman-teman, Tuhan terlalu mencintai kita semua. Kasih-Nya terlampau besar! Begitu dalam cinta-Nya Ia pada kita! Sampai-sampai kalaupun kita nakal, bandel, dan tidak mengikuti kehendak-Nya, Ia tetap mencintai kita. Ia tidak tinggalkan kita!

Pada saat kita jatuh, Ia tidak memandang kita dengan kesal. Ia memandang kita dengan penuh kasih. Kasih-Nya tidak berubah.

Kalau ada di antara kita yang saat membaca ini merasa bahwa kita sudah bangkit dan menjadi lebih dari menang, saya bersyukur! Puji Tuhan! Haleluya! Yuk kita sebarkan berita kebaikan Kristus, bagi teman-teman lain yang belum bangkit, yang masih jatuh, yang masih kalah.

Kalau ada di antara kita yang saat membaca ini merasa ada sesuatu yang memang membuat kita tidak bisa maju ke masa depan, terikat kegagalan dan kejatuhan di masa lalu, yuk kita terima kebenaran bahwa kita adalah orang-orang yang benar, dibenarkan karena Kristus yang membenarkan kita, dan kita lebih dari pemenang. Yuk kita semua bangkit!

Nah, akhirnya saya sudah sampai di ujung artikel hari ini. Maaf teman-teman, saking bersemangatnya saya jadi lupa kalau sudah cukup panjang artikel ini :D. Yuk kita berdoa.

Doa saya hari ini:
Bapa yang Maha Baik yang kami kenal dalam nama Tuhan Yesus,
Terima kasih buat kebaikan-Mu dalam hidup kami. Terima kasih buat kasih-Mu yang terlalu besar. Terima kasih karena Engkau selalu beserta kami. Terima kasih karena Engkau menerima kami apa adanya. Terima kasih karena Engkau begitu mencintai kami.

Bapa, bagi kami yang telah menang, biarlah roh kami terus bernyala-nyala sehingga kami dapat melayani-Mu dengan lebih lagi. Lebih setia. Lebih sungguh. Lebih baik. Lebih dan lebih lagi. Bukan demi kami, tapi demi-Mu. Bukan demi kemuliaan kami, tapi demi kemuliaan-Mu.

Ya Roh Kudus, bangkitkanlah dan sebarkanlah Spirit of Excellent di tengah-tengah kami. Dengan demikian, kami bisa terus melakukan yang terbaik, mengasihi-Mu lebih lagi, dan rela membayar harga untuk bisa mengasihi-Mu. Ini semua bukan karena kami hebat, baik, jujur, setia, penuh dedikasi, dan penuh ketulusan, tetapi karena Engkau yang terlebih dahulu mengasihi kami. Semua yang kami miliki itu adalah kasih karunia-Mu. Kami bersyukur, Tuhan. Haleluya.

Bapa, bagi kami yang masih jatuh, yang masih terpuruk, biarlah kami menyadari posisi kami. Biarlah kami mengerti kebenaran. Dengan demikian kami bisa bangkit dan menjadi terang. Berilah kami hati yang MAU, HAUS, dan LAPAR akan kebenaran-Mu.

Ya Roh Kudus, gantikanlah hati kami dengan hati yang baru. Hati yang lembut. Hati yang mau senantiasa diajar kebenaran-Mu. Hati yang taat. Hati seorang hamba. Dengan demikian, kami bisa terus melakukan yang terbaik, mengasihi-Mu lebih lagi, dan rela membayar harga untuk bisa mengasihi-Mu.

Roh Kudus, ini doaku. Biarlah Engkau bekerja lebih lagi dan lagi, untuk menyentuh hidup dan hati setiap teman yang membaca artikel ini. Teruslah bekerja dengan sebebas-bebasnya untuk mengubahkan hati dan hidup setiap teman yang membaca artikel ini. Biarlah kasih, kuasa, dan karunia-Mu tercurah bagi kami semua.

Segala pujian, hormat, dan kemuliaan, hanyalah bagi nama-Mu, Yesus. Sebab Kau layak terima segala pujian, penyembahan, dan kemuliaan dari dulu, sekarang, sampai selama-lamanya.

Amin

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: