All for Glory of Jesus Christ

Cerita: Perjalanan

Teman-teman, saya punya cerita lagi. Jadi kemarin saya dan orang tua saya menempuh perjalanan ke suatu kota untuk mengunjungi seorang keluarga di sana. Oh ya, sebelum saya lupa, saya ingat dulu saya pernah menulis cerita yang sejenis.

Kalau tidak salah judulnya “Menikmati Perjalanan”. Siapa tau teman-teman ada yang mau baca, silakan :D. Saya akhir-akhir ini sedang terheran-heran dan terkagum-kagum sendiri. Karena ada begitu banyak hal tak diduga yang terjadi, setelah disadari hal itu seperti potongan puzzle yang tepat!

Tadi pagi ketika saya ke belakang, saya membaca sebuah buku. Buku ini saya sudah miliki sekian lama. Judulnya “7 Rahasia Menuju Kematangan Rohani” yang ditulis oleh Paul Estabrooks. Temen-temen tau tidak, waktu saya buka ternyata yang saya buka itu judulnya “Menikmati Perjalanan”. Padahal saya tidak atur! Bukankah Tuhan Yesus itu luar biasa dahsyat?

Ok kembali ke cerita hari ini. Jadi pada malam sebelumnya, mata saya sangat mengantuk. Lelah sekali karena saya baru tidur sekitar pukul 2 dini hari. Sehari-hari memang segala yang saya lakukan banyak sekali berkutat dengan menggunakan mata: mulai dari menulis di laptop, posting di dua jenis jejaring sosial, bekerja online di salah satu website, mengurusi usaha baru saya juga, sampai ke komunikasi pun menggunakan laptop dan satu perangkat komunikasi yang memang banyak menggunakan mata dalam pengoperasiannya.

Jadi pada saat kemarin saya dan orang tua saya berangkat ke kota lain, mata saya dalam keadaan mengantuk dan sangat lelah. Tapi Tuhan memang sangat baik! Di sepanjang perjalanan saya dapat lihat hamparan pohon yang begitu hijau. Ya! Di sepanjang jalan.

Dalam salah satu mata kuliah yang dulu saya pelajari, mata lelah memang paling baik disegarkan dengan melihat yang hijau-hijau, yaitu pepohonan, dedaunan, rerumputan. Jadi saya sangat bersyukur, mata saya cukup mendapatkan kesegaran dengan melihat hamparan hijau itu.

Tapi tak urung, setelah beberapa saat menikmatinya, mata saya mengantuk juga. Jadi saya pun memejamkan mata beberapa saat. Ah nikmatnya! Saya percaya itulah surga dunia (paradise) itu :D. Yah, ini hanya mendramatisasi saja :D. Maksud saya adalah saat sudah begitu lelah dan bisa istirahat, itu sungguh suatu karunia yang luar biasa.

Jadi kalau teman-teman juga masih bisa tidur nyenyak setelah lelah beraktivitas seharian, itu karunia. Yuk kita bersyukur untuk karunia bisa tidur nyenyak. Karena ternyata ada juga orang yang sulit tidur nyenyak.

Kembali lagi ke cerita tadi, singkat cerita saya dan kedua orang tua saya sampai ke tempat keluarga yang akan kami kunjungi. Lalu kami bersama-sama pergi ke satu pusat perbelanjaan yang ada di kota itu.

Di sini yang akan menjadi pusat cerita saya. Di pusat perbelanjaan itu, kami melihat-lihat ada begitu banyak barang yang dijual. Barang-barang dengan kategori sejenis pun variannya begitu banyak.

Ada satu kejadian menarik terjadi di sana. Salah satu teman dari keluarga yang kami kunjungi membawa troli belanja. Pada saat sedang melihat-lihat barang, tiba-tiba saja seorang anak membawa troli itu! Teman dari keluarga itu lalu mengejar anak itu dan membawa kembali troli tersebut.

Setelah itu, ketika sedang mendorong troli, tiba-tiba ada satu orang yang membawa troli dengan kecepatan yang cukup tinggi. Untung saja tidak menabrak troli teman keluarga kami.

Lalu saya melihat-lihat barang yang ada di sana. Kami membeli beberapa barang yang memang dibutuhkan. Saya melihat ada satu barang yang menarik di sana: botol air minum. Botol air minum itu warnanya emas, bentuknya menarik. Saya pegang dan perhatikan botol tersebut.
Tetapi karena memang saya tidak membutuhkannya, saya kembalikan ke rak dan tidak membelinya. Ya jelas, untuk apa beli kalau tidak butuh kan?

Orang tua saya juga membeli sejumlah barang yang memang dibutuhkan. Lalu setelah selesai dari pusat perbelanjaan dan setelah berbincang-bincang dengan keluarga yang kami kunjungi, kami pun akhirnya pulang kembali ke kota asal kami. Perjalanan yang sangat menyenangkan.

Ketika sampai di rumah, saya merenung:

“Bukankah hidup ini seperti suatu perjalanan?”

Peristiwa di pusat perbelanjaan itu merupakan analogi dari hidup ini sendiri. Misalnya dalam masalah pasangan hidup. Begitu banyaknya barang yang ada di pusat perbelanjaan itu menggambarkan begitu banyaknya pilihan yang dapat dipilih menjadi pasangan hidup.

Hanya saja, dari sekian banyak itu tentu tidak semua bijak untuk dipilih. Kalau saya membeli barang yang butuh saja itu berarti saya bicara tentang saya hanya akan memilih pria yang memang sesuai dengan kebutuhan saya, bukan keinginan saya.

Sekian banyak barang yang dapat dipilih, itu juga bicara tentang memilih pasangan yang layak dipilih. Kalau memang sudah menikah jelas-jelas tidak perlu dipikirkan lagi, apalagi dipilih. Kalau memang sudah punya tunangan atau pacar, itu juga jelas-jelas tidak usah dipikirkan lagi.

Jadi, saya hanya perlu berkonsentrasi pada pria yang memang saya butuhkan. Seperti ketika saya melihat botol minuman yang menarik warna dan tampilannya tapi tidak saya butuhkan, berarti saya juga tidak perlu terlalu mengindahkan penampilan luar karena bukan itu kebutuhan saya.

Kalau buat saya, barang yang luar biasa itu adalah barang yang warnanya menarik, bentuknya juga indah, fungsinya mutakhir, tapi harganya juga bagus :D. Kalau saya analogikan dengan pria (bukan maksud saya pria = barang lho, ini hanya bentuk penganalogian saja), pria yang luar biasa itu adalah pria yang penampilan luarnya menarik, bentuk komunikasinya indah (mampu memahami), mampu berfungsi sebagai pria secara mutakhir (sebagai penyedia kebutuhan/provider, sebagai pelindung/protector, sebagai teman diskusi dan bertukar pikiran/best friend, dan sebagai kekasih/lover), tapi karakternya juga bagus (sabar, jujur, setia, bertanggung jawab, pekerja keras, sopan, tulus, dan lain-lain).

Mengenai hal ini sudah sering dibahas di artikel-artikel terdahulu. Silakan teman-teman cari saja kalau memang berminat. Maaf, saya tidak ingat letak persisnya. Jadi silakan cari di kategori relationship dan romance.

Ok, kembali lagi ke cerita tadi. Barang yang luar biasa belum tentu barang yang saya butuhkan. Pria yang luar biasa belum tentu pria yang saya butuhkan. Mengapa? Kalau barang itu hanya saya inginkan tapi tidak saya butuhkan, untuk apa saya beli? Kalau pria itu hanya saya inginkan tapi tidak saya butuhkan, untuk apa saya pilih?

Barang yang tepat adalah barang yang luar biasa dan dibutuhkan. Pria yang tepat adalah pria yang luar biasa dan dibutuhkan. Apakah kategori dibutuhkan itu? Kalau bagi saya, tidak lain dan tak bukan: pria itu memiliki hubungan yang sangat erat dengan Tuhan Yesus dan memiliki hati bagi sesama. Di luar itu, berarti pria itu bukan pria yang saya butuhkan.

Kog bisa begitu? Karena itulah yang menjadi kerinduan hati saya untuk ada dalam hidup saya. Jadi saya jelas butuh pria yang memiliki kerinduan yang sama. Saya sungguh percaya bahwa pasangan hidup itu memang memiliki jiwa yang sama, gairah (passion) yang sama.

Nah, lalu ada apa dengan kejadian dengan 2 troli itu? Troli itu menggambarkan persaingan dalam pencarian pasangan hidup. Saya pikir tidak perlu untuk berebut troli orang lain. Toh masih banyak troli yang ada di pusat perbelanjaan itu. Hanya diperlukan usaha untuk bisa kembali ke tempat troli itu diletakkan dan mengambil troli yang tersedia.

Saya juga pikir tidak perlu mengemudikan troli dengan kecepatan cukup tinggi sampai hampir menabrak troli lain. Itu namanya tidak mengendarai troli dengan cantik.

Pemilihan pasangan hidup bukanlah suatu kompetisi. Bukan juga suatu permainan. Pemilihan pasangan hidup adalah masalah iman. Dibutuhkan pergumulan dengan Tuhan untuk bisa memilih yang tepat.

Sebagaimana saya memilih barang yang saya butuhkan, begitu pula saya memilih pasangan yang saya butuhkan. Nah seperti orang tua saya yang membeli sejumlah barang yang dibutuhkan, begitulah Bapa Surgawi juga bisa memilihkan pria yang tepat untuk saya.

Saya hanya perlu untuk bertanya kepada-Nya:

”Siapakah pria yang memang tepat untuk saya?”

Kalau teman-teman ada yang menghadapi hal yang sama dengan saya, nah teman-teman bisa mulai tanya pada Tuhan:

“Siapakah pasangan yang memang tepat untuk saya?”

Pasangan yang tepat itu pasti tidak akan pernah menyalahi isi Firman-Nya. Jadi kalau si dia sudah bersuami/beristri, jelas tidak tepat. Kalau si dia itu sesama gender, jelas tidak tepat karena Tuhan memang menciptakan Hawa untuk Adam, bukan Adam untuk Adam atau Hawa untuk Hawa.

Selebihnya mengenai ciri-ciri pasangan hidup yang tepat bisa teman-teman baca di artikel “Cinta, Jatuh Cinta, dan Pasangan Hidup”. Silakan cari sendiri ya? Anggap saja rumah sendiri :D.

Pemilihan pasangan hidup ini adalah persoalan serius yang harus didoakan dan digumulkan dengan baik. Mengapa? Karena efeknya sangat panjang sampai maut memisahkan.

Jadi kalau ini yang menjadi permasalahan teman-teman dan juga saya, jelas kita perlu doakan dan pikirkan secara sungguh-sungguh, bukan? Lah kalau beli barang juga kita pikir-pikir dulu, timbang-timbang dulu, lihat-lihat dulu barang ini bagus atau tidak; masa kalau pilih pasangan hidup tidak begitu? Jelas harus lebih serius lagi bukan?

Cerita hari ini cukup sampai di sini. Yuk kita berdoa,teman-teman:

Bapa yang Maha Baik,

Terima kasih untuk perjalanan yang sangat menyenangkan yang saya sudah lewati. Terima kasih lewat perjalanan itu, Tuhan membukakan sesuatu kepada saya yang bisa saya bagikan kepada teman-teman yang membaca artikel ini.

Tuhan untuk setiap kami yang sedang menantikan pasangan hidup, yang sedang mencari pasangan hidup, biarlah kami menaruh pilihan kami pada pilihan yang bijak, yaitu dengan mengandalkan Engkau sebagai pemilihnya. Karena pengetahuan kami terbatas, kami tidak bisa melihat dan mengerti seseorang sampai ke kedalaman hatinya. Tetapi Engkau bisa, Engkau sanggup.

Tuhan untuk setiap kami yang sedang menantikan jawaban doa dari-Mu mengenai kehidupan kami mengenai studi, pekerjaan, usaha, dan lain-lain, biarlah kami menaruh harapan kami kepada Engkau. Karena Engkau adalah dasar yang teguh dan tak tergoyahkan. Kami bisa dengan yakin untuk menaruh pengharapan kami kepada Engkau dan tidak dikecewakan, karena Engkau adalah Allah yang setia. Haleluya!

Itu sebabnya biarlah kami juga memiliki hikmat dan kepekaan dari-Mu sehingga kami dapat mengerti kehendak-Mu yang baik, berkenan, dan terutama yang sempurna. Pimpinlah kami senantiasa, Tuhan, supaya dalam setiap langkah hidup kami, dalam setiap pemikiran, perkataan, perbuatan, dan kehendak kami; semuanya itu bisa menyukakan hati-Mu.

Terima kasih, Tuhan Yesus untuk semuanya. Segala hormat, pujian, dan kemuliaan hanyalah bagi nama Tuhan.

Amin.

Iklan

Comments on: "Cerita: Perjalanan" (4)

  1. cerita “botol emas” itu mengingatkan suatu tulisan dalam bukunya guy kawasaki yang judulnya enchantment, disana tertulis, agar tak tergoda oleh “botol emas” tersebut, kita sebaiknya menghindari tempat-tempat tersebut or tidak terlalu sering kesana 🙂

    siapa yang tepat? IMHO selain doa tentunya kita harus memperluas pertemanan

    saya pribadi jika sudah tak tahu lagi harus berbuat apa, saya teringat kata-kata seseorang yang sangat saya kagumi “terjadilah kepadaku menurut kehendakMu” – Mommy Mary

    • Amin! Thanks, Chandra. Betul banget, ora et labora (berdoa dan berusaha). Mantap, Bro!

      Betul banget, saat kita berserah sama kehendak Tuhan tapi ga menyerah, saat itulah mujizat terjadi.

      Wah, jadi kepingin baca “Enchantment” *ngiler*. Thanks, Chan! Gbu.

  2. Enchantment? harus dibaca, sangat direkomendasikan 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: