All for Glory of Jesus Christ

Cerita: Pisau

Halo teman-teman! Selamat pagi! Lama ya kita tidak bertemu. Kangen sama saya? Terima kasih! Saya juga kangen sama teman-teman!

Teman-teman, saya cerita dulu ya. Beberapa hari kemarin saya kurang enak badan. Jadi selama 3 hari kemarin saya banyak tidur. Ya, badan saya belum terlalu terbiasa dengan irama kerja saya yang baru. Jadi begitu deh :D. Padahal saya sudah minum vitamin C dosis tinggi, makan banyak juga.

Untungnya Tuhan kirimkan malaikatnya menjaga saya: mami saya. Mami saya memijat badan saya dan ada satu dua otot yang sakit sekali. Kalau teman-teman tau Mami saya, Mami saya itu jenius dalam hal memasak dan pengobatan. Jadi saya sangat beruntung Tuhan lahirkan saya dan beri saya ibu dalam bentuk Mami saya.

Sesudah Mami pijat saya, mami masakkan saya yahun dengan baso urat besar kesukaan saya. Yahun itu bihun yang dimasak lalu dihidangkan dengan kecap manis tanpa kuah. Wahhh senangnya! Saya langsung makan dan sekejap habis! Lalu Mami suruh saya pakai heater (pemanas) di badan. Badan saya langsung enak.

Saya lalu tidur. Ehmm teman-teman, mau tau sesuatu? Nih saya bisikkan ya. Waktu sakit saya kirim email pada seseorang nun jauh di sana. Saya minta dia doakan saya. Lalu dia jawab “be better soon”. Huaaaahh, hati saya langsung berbunga-bunga. ๐Ÿ˜€

Maaf ya teman-teman. ๐Ÿ˜€ Seperti yang saya sudah bilang di artikel-artikel yang lalu. Saya kalau cerita hal yang saya sukai, memang sulit berhenti. :D.

Ah, lalu apa kaitannya dengan cerita hari ini? Sabar, teman-teman. Nanti teman-teman di tengah cerita bisa menyambungkan cerita saya di awal dengan inti cerita saya hari ini ๐Ÿ˜€

Tuhan itu baik! Selama-lamanya kasih setia-Nya! Ada Amin? Yes! Amin! Puji Tuhan!

Eh, bukan panggil yang namanya “Amin” lho ya :D. Bercanda, teman-teman! ๐Ÿ˜€

Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya!! Haleluya!!

Sewaktu saya mau menulis artikel ini saya berpikir apa kira-kira ilustrasi yang pas untuk artikel hari ini? Ternyata Roh Kudus ingatkan saya akan peristiwa yang begitu lama sudah berlalu. Ya, peristiwa ketika saya masih kecil.

Saya dibesarkan oleh dua orangtua yang luar biasa. Papi dan Mami adalah anugerah yang Tuhan beri bagi saya. Mereka mengajarkan saya banyak hal tentang kehidupan ini.

Suatu hari, ketika saya masih berumur entahlah saya tidak ingat, tapi masih kecil, saya membawa sebilah pisau dapur. Saya ingat saya membawa pisau dapur itu ke dapur karena Mami mau pakai pisau itu. Papi melihat cara saya membawa pisau dapur. Posisi saya waktu itu memegang gagang pisau di tangan dan badan pisau terarah ke depan (persis seperti foto di atas). Papi lalu menegur saya.

“Bawa pisaunya jangan seperti itu. Nanti kalau ada orang, bisa kena.”

Pada kesempatan lain, juga saya masih kecil waktu itu, saya belajar mengupas mangga. Cara saya mengupas mangga kurang tepat. Jadi yang saya pegang badan pisaunya sementara jari saya bergerak mengiris kulit mangga. Mami berkata:

“Kupas mangganya pegangnya begini ya (pegang bagian gagang pisau – keterangan ditambahkan). Jadi jari kamu ga teriris.”

Nah dari dua kejadian yang saya tiba-tiba ingat, saya merenung. Dalam hidup ini, bukankah saya itu adalah pisau?

Pada saat saya menggunakan kata-kata dengan tepat, entah untuk memuji, menguatkan, mendukung, membenarkan hal yang benar; saat itu saya memegang pisau dengan tepat, dengan lembut, dengan aman. Orang yang saya hadapi biasanya akan senang. Orang yang saya hadapi biasanya akan dikuatkan dan merasa didukung.

Hanya saja, saya juga ingat: pisau yang dipegang dengan lembut dan aman, tidak selamanya bisa mengupas dengan efektif. Pada saat mengupas dan membelah, katakan saja kedondong yang keras dan liat, seringkali saya perlu kekuatan dan teknik khusus untuk melakukannya. Pada saat berhadapan dengan hati yang keras dan liat, seringkali saya perlu kekuatan dan teknik khusus untuk melakukannya.

Karena tidak selamanya saat saya memegang pisau dengan lembut dan aman, saya jadi bisa menyelesaikan pengupasan itu dengan baik. Ada kalanya memang perlu saya beri tekanan tertentu pada pisau dan menggunakan teknik khusus untuk membelah kedondong itu.

Ada kalanya saya perlu menekan, menegur, menantang, mempertanyakan, atau melakukan konfrontasi. Ada kalanya saya perlu membiarkan, meluruskan, atau menyadarkan.

Namun saat yang sama, saya juga ingat. Saat mengupas dan membelah kedondong, saya perlu menjaga jari saya tidak teriris. Saat berhadapan dengan orang-orang yang menantang saya, saya perlu menjaga hati saya tidak teriris.

“Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan.” (Amsal 4:23)

Teriris oleh apa? Rasa tidak tega. Rasa bersalah yang tidak perlu (kalau memang benar, tidak perlu merasa bersalah. Kalau salah, perlu memperbaiki kesalahan). Rasa ingin diterima semua orang. Rasa takut kehilangan. Lebih lagi, pemikiran:

“Bagaimana jika? Dia nanti pikir apa?”

Wah, saya sudah mengalami lama sekali teriris begitu. Akibatnya hidup saya jadi penuh luka. Sakit. Capek. Letih.

Hidup saya jadi tidak bebas lagi. Bebas dalam arti saya dikendalikan oleh respon dan pemikiran-pemikiran yang ada dalam benak saya sendiri. Itu bukan lagi hal yang Tuhan mau.

“Di dalam kasih tidak ada ketakutan: kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan;sebab ketakutan mengandung hukuman dan barangsiapa takut, ia tidak sempurna di dalam kasih. ” (1 Yohanes 4:18)

Puji Tuhan, lewat begitu banyak orang di sekitar saya, secara langsung maupun tidak langsung saya diajar untuk memegang pisau juga dengan kekuatan dan teknik khusus, tapi pada saat yang lain juga dengan memegang pisau dengan lembut, dengan aman.

Karena bukankah seperti Papi saya katakan: membawa pisau harus pikirkan keselamatan orang lain.

Ya, KESELAMATAN! Itu sebabnya saya diingatkan untuk belajar terus dalam membawa pisau saya sehari-hari. ADA KUASA DALAM PERKATAAN.

Jadi saya perlu seksama dalam BERPIKIR dan BERKATA-KATA.

BERPIKIR? Ya, dalam berpikir bukankah saya juga BERKATA-KATA DALAM BENAK saya? Dalam pemikiran saya?

Pemikiran akan mempengaruhi perasaan.

Perasaan akan mempengaruhi tindakan.

Tindakan akan mempengaruhi kebiasaan.

Kebiasaan akan mempengaruhi hidup.

Jadi pemikiran mempengaruhi hidup.

Kata-kata mempengaruhi hidup.

Lebih lagi saya perlu menjaga hati saya sehingga apapun yang keluar dari pikiran dan mulut saya, itulah yang sesuai dengan kehendak-Nya: entah dengan cara lembut atau dengan cara kuat.

Bahkan Firman Tuhan digambarkan sebagai lebih dari pedang bermata dua. Pedang mirip dengan pisau, hanya daya potongnya lebih kuat. Firman Tuhan digambarkan sebagai lebih dari pedang bermata dua artinya daya potongnya luar biasa kuat.

“Sebab firman Allah hidup dan kuatdan lebih tajam dari pada pedangbermata dua manapun; ia menusuk amat dalam sampai memisahkan jiwa dan roh, sendi-sendi dan sumsum; ia sanggup membedakan pertimbangan dan pikiran hati kita.” (Ibrani 4:12)

Saya diingatkan bahwa bersekutu dengan Tuhan, membaca Firman Tuhan, doa, dan bersaksi itu penting sekali.

Kenapa? Karena saya yang Tuhan ciptakan begitu luar biasa ini dengan segambar dengan citra-Nya, tetap saja ada batasnya. Itu sebabnya, saya perlu terus terhubung dengan-Nya.

“Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa.” (Yohanes 15:4)

Tuhan mau terhubung dengan saya. Masalahnya, saya mau terhubung dengannya tidak? Ah, saya mau! Lalu saya tanya, caranya bagaimana? Dengan melakukan empat hal tadi: bersekutu dengan Tuhan (tinggal dalam Tuhan), baca firman Tuhan, doa,ย  dan bersaksi.

Bersekutu dengan Tuhan: “Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya.” (Yohanes 15:7)

Baca Firman: “Kamu memang sudah bersih karena firman yang telah Kukatakan kepadamu.” (Yohanes 15:3)

Doa: “Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya.” (Yohanes 15:7)

Bersaksi: “Tetapi kamu juga harus bersaksi, karena kamu dari semula bersama-sama dengan Aku.” (Yohanes 15:27)

Omong-omong tentang 4 hal, saya tiba-tiba diingatkan tentang 4 cinta. (Cinta Pertama: Kasih Mula-mula. Cinta Kedua: Yerusalem. Cinta Ketiga: Malaikat). Teman-teman sudah baca? Kalau belum, baca ya :D. Silakan cari di daftar isi. Anggap saja dapur sendiri, jadi cari sendiri ya.

Saya diingatkan bahwa 4 cinta inilah yang juga membuat saya akan terhubung dengan Tuhan. Maaf dulu ya teman-teman, untuk cinta keempat saya belum sempat tuliskan. Pasti menyusul secepatnya! Ingin sekali menuliskan itu, tapi banyak hal yang saya harus kerjakan jadi tertunda.

Saya jadi ingat ada dua lagi yang tertinggal. Untuk terus terhubung dengan Tuhan, kita perlu tetap tinggal dan bersekutu dengan saudara seiman dan mendengar serta menyanyikan lagu pujian dan penyembahan kepada Tuhan.

Saya mengalami sendiri bahwa dengan tinggal dan bersekutu dengan saudara seiman, saya mengalami banyak sekali penguatan. Semua doa saya terjawab. Semua karena kasih karunia Tuhan, tapi juga karena saudara seiman saya di WorldPrayr, sahabat-sahabat saya, dan keluarga saya juga mendoakan saya setiap saya meminta mereka mendukung saya dalam doa. Saat saya lelah dan butuh penguatan, ada yang menguatkan saya. Menopang saya. Membuat saya bisa terus berjalan. Maju terus. Menjadi lebih efisien. Menjadi lebih produktif. Menjadi efektif. Puji Tuhan! Segala kemuliaan bagi nama-Nya!

Selain itu jugaย  saya mengalami juga saat saya dengar/nyanyi lagu pujian dan penyembahan, saya menjadi sukacita, damai, dan kuat. Ada banyak peristiwa yang membuat pikiran saya mengalami 3 ET: ruwET, jelimET dan mumET ๐Ÿ˜€ Di saat saya mengalami 3 ET itu, saya diingatkan untuk dengar/nyanyi lagu pujian dan penyembahan. Perlahan-lahan 3 ET itu hilang, digantikan dengan 9 AT (semangAT, kuAT, hebAT, dahsyAT, niAT, berkAT, rahmAT, sehAT, dan mujizAT), bahkan ditambah 1 AT lagi menjadi 10 AT (Allah Tau! Ya, Dia tau bahwa sayalah ciptaan-Nya yang sungguh amat baik. ). Haleluya! Segala kemuliaan bagi-Nya yang mengubahkan dan membangun saya.

Ah, Tuhan sungguh baik! Teramat baik! Hal yang saya alami, saya percaya itu juga yang mungkin teman-teman sudah, sedang, atau akan alami. Yuk kita semua, terutama saya untuk selalu terus mau belajar untuk menjadi pisau-Nya untuk membawa jiwa-jiwa dapat diselamatkan. Diselamatkan bukan hanya untuk Surga di akhir hayat, tetapi juga diselamatkan untuk Surga di Bumi. Mengalami pembaharuan budi.

“Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.” (Roma 12:2)

Untuk mengalami pembaharuan budi, saya perlu mempersembahkan tubuh saya kepada Tuhan sebagai suatu bentuk penyerahan diri kepada-Nya:

“Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.” (Roma 12:1)

Mumpung ingat, siapa tau teman-teman ada yang tanya, apa kaitan cerita di awal artikel? Nah itulah salah satu contoh menjadi pisau yang baik: menegur , mengajar, dan mengasihi, baik dengan perkataan maupun dengan perbuatan. Amin!

Yuk kita berdoa, teman-teman:
Bapa yang baik, sungguh baik, dan teramat baik,

Terima kasih buat kasih, anugerah, kebaikan-Mu yang limpah dalam hidupku. Hari lepas hari kurasakan sungguh begitu dahsyat Allah yang kusembah, tak terukur dan tak terselami jalan pikiran-Mu. Aku terkagum, terheran, takjub dibuat-Mu. Kamu mempesonaku dan aku ikut larut di dalam segala kesempurnaan rancangan-Mu. Haleluya!

Tuhan, aku mau berdoa buat kami semua yang membaca artikel ini. Kami mau jadi anak-anak-Mu yang sungguh menjadi pisau-Mu yang efektif. Kami mau jadi pisau-Mu yang sungguh bisa mengubah hati dan hidup orang lain, seturut kebenaran Firman-Mu. Biarlah kami menjadi pisau-pisau-Mu yang hidup, sebagai alat yang Kau gunakan untuk mengiris, mengupas, membelah, dan memotong semua yang memang Kau pandang perlu.

Dengan demikian, kami sungguh bisa jadi saksi-Mu yang efektif: membawa jiwa untuk diselamatkan. Membawa kemuliaan bagi nama-Mu. Mewujudkan Surga di bumi dan di Surga. Semua demi kemuliaan nama-Mu. Semua demi terwujudnya Amanat Agung-Mu: agar “semua lidah mengaku dan semua lutut bertelut, bahwa Engkau, Yesus, adalah Tuhan!”

Terima kasih, Guru Agung, kami mau terus belajar menjadi murid-murid-Mu yang SIAP.ย SIAP mendengarkan ajaran-Mu dengan pikiran dan hati yang terbuka. SIAP melakukan ajaran-Mu dengan antusias dan rajin. SIAP mengerjakan tugas-tugas yang Guru Agung berikan dengan semangat. SIAP mengerjakan ujian-ujian yang Kau berikan dengan penuh keyakinan dan kesanggupan. Pada akhirnya, kami juga SIAP untuk menerima dengan penuh rasa syukur nilai yang Guru Agung berikan: nilai 10, mahkota kehidupan.

Haleluya! Segala hormat, pujian, dan kemuliaan hanya bagi nama Tuhan Yesus Kristus!

Dalam nama Bapa, dan Putera, dan Roh Kudus.

Amin!

Iklan

Comments on: "Cerita: Pisau" (2)

  1. eliana candra setia dewi said:

    great…..sippp….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: