All for Glory of Jesus Christ

Archive for the ‘Business and Working’ Category

Cerita: Pisau

Halo teman-teman! Selamat pagi! Lama ya kita tidak bertemu. Kangen sama saya? Terima kasih! Saya juga kangen sama teman-teman!

Teman-teman, saya cerita dulu ya. Beberapa hari kemarin saya kurang enak badan. Jadi selama 3 hari kemarin saya banyak tidur. Ya, badan saya belum terlalu terbiasa dengan irama kerja saya yang baru. Jadi begitu deh :D. Padahal saya sudah minum vitamin C dosis tinggi, makan banyak juga.

Untungnya Tuhan kirimkan malaikatnya menjaga saya: mami saya. Mami saya memijat badan saya dan ada satu dua otot yang sakit sekali. Kalau teman-teman tau Mami saya, Mami saya itu jenius dalam hal memasak dan pengobatan. Jadi saya sangat beruntung Tuhan lahirkan saya dan beri saya ibu dalam bentuk Mami saya.

Sesudah Mami pijat saya, mami masakkan saya yahun dengan baso urat besar kesukaan saya. Yahun itu bihun yang dimasak lalu dihidangkan dengan kecap manis tanpa kuah. Wahhh senangnya! Saya langsung makan dan sekejap habis! Lalu Mami suruh saya pakai heater (pemanas) di badan. Badan saya langsung enak.

Saya lalu tidur. Ehmm teman-teman, mau tau sesuatu? Nih saya bisikkan ya. Waktu sakit saya kirim email pada seseorang nun jauh di sana. Saya minta dia doakan saya. Lalu dia jawab “be better soon”. Huaaaahh, hati saya langsung berbunga-bunga. 😀

Maaf ya teman-teman. 😀 Seperti yang saya sudah bilang di artikel-artikel yang lalu. Saya kalau cerita hal yang saya sukai, memang sulit berhenti. :D.

Ah, lalu apa kaitannya dengan cerita hari ini? Sabar, teman-teman. Nanti teman-teman di tengah cerita bisa menyambungkan cerita saya di awal dengan inti cerita saya hari ini 😀

Tuhan itu baik! Selama-lamanya kasih setia-Nya! Ada Amin? Yes! Amin! Puji Tuhan!

Eh, bukan panggil yang namanya “Amin” lho ya :D. Bercanda, teman-teman! 😀

Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya!! Haleluya!!

Sewaktu saya mau menulis artikel ini saya berpikir apa kira-kira ilustrasi yang pas untuk artikel hari ini? Ternyata Roh Kudus ingatkan saya akan peristiwa yang begitu lama sudah berlalu. Ya, peristiwa ketika saya masih kecil.

Saya dibesarkan oleh dua orangtua yang luar biasa. Papi dan Mami adalah anugerah yang Tuhan beri bagi saya. Mereka mengajarkan saya banyak hal tentang kehidupan ini.

Suatu hari, ketika saya masih berumur entahlah saya tidak ingat, tapi masih kecil, saya membawa sebilah pisau dapur. Saya ingat saya membawa pisau dapur itu ke dapur karena Mami mau pakai pisau itu. Papi melihat cara saya membawa pisau dapur. Posisi saya waktu itu memegang gagang pisau di tangan dan badan pisau terarah ke depan (persis seperti foto di atas). Papi lalu menegur saya.

“Bawa pisaunya jangan seperti itu. Nanti kalau ada orang, bisa kena.”

Pada kesempatan lain, juga saya masih kecil waktu itu, saya belajar mengupas mangga. Cara saya mengupas mangga kurang tepat. Jadi yang saya pegang badan pisaunya sementara jari saya bergerak mengiris kulit mangga. Mami berkata:

“Kupas mangganya pegangnya begini ya (pegang bagian gagang pisau – keterangan ditambahkan). Jadi jari kamu ga teriris.”

Nah dari dua kejadian yang saya tiba-tiba ingat, saya merenung. Dalam hidup ini, bukankah saya itu adalah pisau?

Pada saat saya menggunakan kata-kata dengan tepat, entah untuk memuji, menguatkan, mendukung, membenarkan hal yang benar; saat itu saya memegang pisau dengan tepat, dengan lembut, dengan aman. Orang yang saya hadapi biasanya akan senang. Orang yang saya hadapi biasanya akan dikuatkan dan merasa didukung.

Hanya saja, saya juga ingat: pisau yang dipegang dengan lembut dan aman, tidak selamanya bisa mengupas dengan efektif. Pada saat mengupas dan membelah, katakan saja kedondong yang keras dan liat, seringkali saya perlu kekuatan dan teknik khusus untuk melakukannya. Pada saat berhadapan dengan hati yang keras dan liat, seringkali saya perlu kekuatan dan teknik khusus untuk melakukannya.

Karena tidak selamanya saat saya memegang pisau dengan lembut dan aman, saya jadi bisa menyelesaikan pengupasan itu dengan baik. Ada kalanya memang perlu saya beri tekanan tertentu pada pisau dan menggunakan teknik khusus untuk membelah kedondong itu.

Ada kalanya saya perlu menekan, menegur, menantang, mempertanyakan, atau melakukan konfrontasi. Ada kalanya saya perlu membiarkan, meluruskan, atau menyadarkan.

Namun saat yang sama, saya juga ingat. Saat mengupas dan membelah kedondong, saya perlu menjaga jari saya tidak teriris. Saat berhadapan dengan orang-orang yang menantang saya, saya perlu menjaga hati saya tidak teriris.

“Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan.” (Amsal 4:23)

Teriris oleh apa? Rasa tidak tega. Rasa bersalah yang tidak perlu (kalau memang benar, tidak perlu merasa bersalah. Kalau salah, perlu memperbaiki kesalahan). Rasa ingin diterima semua orang. Rasa takut kehilangan. Lebih lagi, pemikiran:

“Bagaimana jika? Dia nanti pikir apa?”

Wah, saya sudah mengalami lama sekali teriris begitu. Akibatnya hidup saya jadi penuh luka. Sakit. Capek. Letih.

Hidup saya jadi tidak bebas lagi. Bebas dalam arti saya dikendalikan oleh respon dan pemikiran-pemikiran yang ada dalam benak saya sendiri. Itu bukan lagi hal yang Tuhan mau.

“Di dalam kasih tidak ada ketakutan: kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan;sebab ketakutan mengandung hukuman dan barangsiapa takut, ia tidak sempurna di dalam kasih. ” (1 Yohanes 4:18)

Puji Tuhan, lewat begitu banyak orang di sekitar saya, secara langsung maupun tidak langsung saya diajar untuk memegang pisau juga dengan kekuatan dan teknik khusus, tapi pada saat yang lain juga dengan memegang pisau dengan lembut, dengan aman.

Karena bukankah seperti Papi saya katakan: membawa pisau harus pikirkan keselamatan orang lain.

Ya, KESELAMATAN! Itu sebabnya saya diingatkan untuk belajar terus dalam membawa pisau saya sehari-hari. ADA KUASA DALAM PERKATAAN.

Jadi saya perlu seksama dalam BERPIKIR dan BERKATA-KATA.

BERPIKIR? Ya, dalam berpikir bukankah saya juga BERKATA-KATA DALAM BENAK saya? Dalam pemikiran saya?

Pemikiran akan mempengaruhi perasaan.

Perasaan akan mempengaruhi tindakan.

Tindakan akan mempengaruhi kebiasaan.

Kebiasaan akan mempengaruhi hidup.

Jadi pemikiran mempengaruhi hidup.

Kata-kata mempengaruhi hidup.

Lebih lagi saya perlu menjaga hati saya sehingga apapun yang keluar dari pikiran dan mulut saya, itulah yang sesuai dengan kehendak-Nya: entah dengan cara lembut atau dengan cara kuat.

Bahkan Firman Tuhan digambarkan sebagai lebih dari pedang bermata dua. Pedang mirip dengan pisau, hanya daya potongnya lebih kuat. Firman Tuhan digambarkan sebagai lebih dari pedang bermata dua artinya daya potongnya luar biasa kuat.

“Sebab firman Allah hidup dan kuatdan lebih tajam dari pada pedangbermata dua manapun; ia menusuk amat dalam sampai memisahkan jiwa dan roh, sendi-sendi dan sumsum; ia sanggup membedakan pertimbangan dan pikiran hati kita.” (Ibrani 4:12)

Saya diingatkan bahwa bersekutu dengan Tuhan, membaca Firman Tuhan, doa, dan bersaksi itu penting sekali.

Kenapa? Karena saya yang Tuhan ciptakan begitu luar biasa ini dengan segambar dengan citra-Nya, tetap saja ada batasnya. Itu sebabnya, saya perlu terus terhubung dengan-Nya.

“Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa.” (Yohanes 15:4)

Tuhan mau terhubung dengan saya. Masalahnya, saya mau terhubung dengannya tidak? Ah, saya mau! Lalu saya tanya, caranya bagaimana? Dengan melakukan empat hal tadi: bersekutu dengan Tuhan (tinggal dalam Tuhan), baca firman Tuhan, doa,  dan bersaksi.

Bersekutu dengan Tuhan: “Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya.” (Yohanes 15:7)

Baca Firman: “Kamu memang sudah bersih karena firman yang telah Kukatakan kepadamu.” (Yohanes 15:3)

Doa: “Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya.” (Yohanes 15:7)

Bersaksi: “Tetapi kamu juga harus bersaksi, karena kamu dari semula bersama-sama dengan Aku.” (Yohanes 15:27)

Omong-omong tentang 4 hal, saya tiba-tiba diingatkan tentang 4 cinta. (Cinta Pertama: Kasih Mula-mula. Cinta Kedua: Yerusalem. Cinta Ketiga: Malaikat). Teman-teman sudah baca? Kalau belum, baca ya :D. Silakan cari di daftar isi. Anggap saja dapur sendiri, jadi cari sendiri ya.

Saya diingatkan bahwa 4 cinta inilah yang juga membuat saya akan terhubung dengan Tuhan. Maaf dulu ya teman-teman, untuk cinta keempat saya belum sempat tuliskan. Pasti menyusul secepatnya! Ingin sekali menuliskan itu, tapi banyak hal yang saya harus kerjakan jadi tertunda.

Saya jadi ingat ada dua lagi yang tertinggal. Untuk terus terhubung dengan Tuhan, kita perlu tetap tinggal dan bersekutu dengan saudara seiman dan mendengar serta menyanyikan lagu pujian dan penyembahan kepada Tuhan.

Saya mengalami sendiri bahwa dengan tinggal dan bersekutu dengan saudara seiman, saya mengalami banyak sekali penguatan. Semua doa saya terjawab. Semua karena kasih karunia Tuhan, tapi juga karena saudara seiman saya di WorldPrayr, sahabat-sahabat saya, dan keluarga saya juga mendoakan saya setiap saya meminta mereka mendukung saya dalam doa. Saat saya lelah dan butuh penguatan, ada yang menguatkan saya. Menopang saya. Membuat saya bisa terus berjalan. Maju terus. Menjadi lebih efisien. Menjadi lebih produktif. Menjadi efektif. Puji Tuhan! Segala kemuliaan bagi nama-Nya!

Selain itu juga  saya mengalami juga saat saya dengar/nyanyi lagu pujian dan penyembahan, saya menjadi sukacita, damai, dan kuat. Ada banyak peristiwa yang membuat pikiran saya mengalami 3 ET: ruwET, jelimET dan mumET 😀 Di saat saya mengalami 3 ET itu, saya diingatkan untuk dengar/nyanyi lagu pujian dan penyembahan. Perlahan-lahan 3 ET itu hilang, digantikan dengan 9 AT (semangAT, kuAT, hebAT, dahsyAT, niAT, berkAT, rahmAT, sehAT, dan mujizAT), bahkan ditambah 1 AT lagi menjadi 10 AT (Allah Tau! Ya, Dia tau bahwa sayalah ciptaan-Nya yang sungguh amat baik. ). Haleluya! Segala kemuliaan bagi-Nya yang mengubahkan dan membangun saya.

Ah, Tuhan sungguh baik! Teramat baik! Hal yang saya alami, saya percaya itu juga yang mungkin teman-teman sudah, sedang, atau akan alami. Yuk kita semua, terutama saya untuk selalu terus mau belajar untuk menjadi pisau-Nya untuk membawa jiwa-jiwa dapat diselamatkan. Diselamatkan bukan hanya untuk Surga di akhir hayat, tetapi juga diselamatkan untuk Surga di Bumi. Mengalami pembaharuan budi.

“Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.” (Roma 12:2)

Untuk mengalami pembaharuan budi, saya perlu mempersembahkan tubuh saya kepada Tuhan sebagai suatu bentuk penyerahan diri kepada-Nya:

“Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.” (Roma 12:1)

Mumpung ingat, siapa tau teman-teman ada yang tanya, apa kaitan cerita di awal artikel? Nah itulah salah satu contoh menjadi pisau yang baik: menegur , mengajar, dan mengasihi, baik dengan perkataan maupun dengan perbuatan. Amin!

Yuk kita berdoa, teman-teman:
Bapa yang baik, sungguh baik, dan teramat baik,

Terima kasih buat kasih, anugerah, kebaikan-Mu yang limpah dalam hidupku. Hari lepas hari kurasakan sungguh begitu dahsyat Allah yang kusembah, tak terukur dan tak terselami jalan pikiran-Mu. Aku terkagum, terheran, takjub dibuat-Mu. Kamu mempesonaku dan aku ikut larut di dalam segala kesempurnaan rancangan-Mu. Haleluya!

Tuhan, aku mau berdoa buat kami semua yang membaca artikel ini. Kami mau jadi anak-anak-Mu yang sungguh menjadi pisau-Mu yang efektif. Kami mau jadi pisau-Mu yang sungguh bisa mengubah hati dan hidup orang lain, seturut kebenaran Firman-Mu. Biarlah kami menjadi pisau-pisau-Mu yang hidup, sebagai alat yang Kau gunakan untuk mengiris, mengupas, membelah, dan memotong semua yang memang Kau pandang perlu.

Dengan demikian, kami sungguh bisa jadi saksi-Mu yang efektif: membawa jiwa untuk diselamatkan. Membawa kemuliaan bagi nama-Mu. Mewujudkan Surga di bumi dan di Surga. Semua demi kemuliaan nama-Mu. Semua demi terwujudnya Amanat Agung-Mu: agar “semua lidah mengaku dan semua lutut bertelut, bahwa Engkau, Yesus, adalah Tuhan!”

Terima kasih, Guru Agung, kami mau terus belajar menjadi murid-murid-Mu yang SIAP. SIAP mendengarkan ajaran-Mu dengan pikiran dan hati yang terbuka. SIAP melakukan ajaran-Mu dengan antusias dan rajin. SIAP mengerjakan tugas-tugas yang Guru Agung berikan dengan semangat. SIAP mengerjakan ujian-ujian yang Kau berikan dengan penuh keyakinan dan kesanggupan. Pada akhirnya, kami juga SIAP untuk menerima dengan penuh rasa syukur nilai yang Guru Agung berikan: nilai 10, mahkota kehidupan.

Haleluya! Segala hormat, pujian, dan kemuliaan hanya bagi nama Tuhan Yesus Kristus!

Dalam nama Bapa, dan Putera, dan Roh Kudus.

Amin!

Iklan

Cerita: Jatuh

Teman-teman, ini saya kembali lagi. Bagaimana kabar teman-teman semua? Luar biasa baik pastinya kan? Kalau tidak baik, tidak apa-apa. Saya akan temani teman-teman malam ini dengan cerita saya.

Malam ini di sini hujan deras. Sepertinya memang latar belakang (background) yang pas sekali untuk saya menuliskan cerita hari ini. Sebenarnya saya sudah punya rencana untuk menulis cerita lain untuk artikel hari ini.

Tetapi hari ini terjadi sesuatu hal yang membuat saya berpikir bahwa saya hari ini harus menulis hal yang lain. Sebelum saya masuk ke cerita hari ini, saya mau tanya dulu.

Teman-teman sudah baca artikel “Cerita: Sendalku Sayang, Sendalku Malang”? Kalau belum, baca dulu ya. Mengapa? Sebab artikel itu yang menjadi latar belakang dari artikel hari ini.

Kalau teman-teman sudah baca, saya akan lanjutkan cerita saya. Sesudah kejadian di artikel “Cerita: Sendalku Sayang, Sendalku Malang” mami saya memberikan saya sendalnya. Saya senang sekali karena sendalnya ringan, empuk, tipis, dan enak sekali dipakai di rumah. Warnanya putih.
Mami saya memberi tahu saya:

“Sendal ini boleh dipakai, tapi jangan dipakai kalau ke kamar mandi. Licin soalnya.”

Karena sendal ini milik mami saya aslinya, memang sedikit terlalu besar dibandingkan kaki saya. Tapi saya senang memakai sendal ini, alasannya yang tadi itu: ringan, empuk, enak dipakai. Sebut saja sendal ini si putih.

Saya kadang-kadang masih pakai sendal lama saya yang hitam itu (sebut saja si hitam). Yah, di rumah saja tidak masalah lah pakai si hitam :D. Tapi setelah saya coba si putih, saya jadi terbiasa dengan si putih daripada si hitam. Si hitam pun saya letakkan begitu saja di lantai kamar saya.

Hari ini seperti biasa saya melakukan aktivitas saya. Pada siang hari, karena tidak hati-hati, saat turun tangga saya jatuh. Saat itu saya kira-kira ada di tangga ketiga dari bawah. Ketika jatuh, saya kaget dan juga sakit sekali.

Mami saya melihat dengan jelas kejadian itu. Beliau datang ke saya dengan kepanikan yang sangat jelas di mata dan di suaranya. Saya saat itu tidak bisa bangun karena sakit di bagian (maaf) pantat saya.

Pelan-pelan mami saya memegang tangan saya dan saya pun setelah rasa kaget dan sakit itu mereda, dengan berpegangan pada mami saya, saya pun bangun dari posisi jatuh itu. Puji Tuhan, saya tidak apa-apa!

Setelah itu, mami saya datang ke kamar saya membawa arak gosok. Saya berkata padanya kalau saya tidak apa-apa. Tapi mami saya ingin memastikan saya tidak apa-apa, jadi mami saya membalurkan arak gosok itu.

Uhm.. saya merasa sangat disayang. Pada saat papi saya pulang, mami saya cerita pada papi saya. Papi saya pun kaget. Saya baru tahu bahwa ternyata mereka sangat sayang pada saya :D.

Papi saya langsung berkata untuk membuang saja si putih. Padahal saya masih suka dengan si putih. Lalu mami saya memberikan sendal lain lagi buat saya. Sendalnya warna pink dengan dasar coklat. Cantik sekali. Jauh lebih tebal dari si hitam, apalagi si putih. Bentuknya juga jauh lebih manis.

Saya sih tidak terlalu memikirkan masalah bentuknya. Buat saya, yang penting fungsinya. Kalau bentuknya cantik tapi dipakainya tidak enak, saya juga malas memakainya. Hanya untuk situasi-situasi tertentu saja yang memang membutuhkan penampilan baru saya pakai. Selebihnya ya sendal nyaman saja hahahaha.

Kejadian tadi siang membuat saya bertanya-tanya. Apa maksud Tuhan di balik kejadian itu? Saya tau Dia luar biasa berkuasa. Ia Elshadai, Allah Maha Kuasa. Dia mencintai saya. Dia juga menjaga saya. Dia juga menuntun langkah saya. Itu saya tau dengan jelas.

Peristiwa saya jatuh itu membuat saya merenung. Bukankah kalau Dia Elshadai, seharusnya Dia sanggup mencegah saya untuk jatuh? Bukankah ada tertulis:

Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan. (Yeremia 29:11)

Saya jatuh itu bukankah itu kecelakaan? Tidak disengaja? Lalu bukankah Firman Tuhan itu berkata bahwa Ia membuat “rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepada saya hari depan yang penuh pengharapan”?

Lalu mengapa Tuhan biarkan saya mengalami jatuh? Mengapa Tuhan biarkan saya mengalami kecelakaan? Mengapa Tuhan biarkan saya begitu sakit? Mengapa Tuhan biarkan saat saya merasa begitu kaget? Mengapa Tuhan biarkan saat saya bahkan beberapa saat tidak sanggup berdiri karena begitu sakit?

Lalu saya diingatkan-Nya:

Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN. Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu. (Yesaya 55:8-9)

Saya berpikir, apakah ayat di Yeremia 29:11 dengan di Yesaya 55:8-11 itu bertolak belakang? Jawabannya: Tidak!

Saya berpikir menurut hal yang saya pikirkan, Tuhan berpikir menurut yang Dia pikirkan. Analoginya: seorang anak kecil kalau ditanya tentang balon gas menurut dirinya, mungkin ia hanya bisa mengatakan balon gas itu warnanya merah. Balon gas ada talinya. Balon gas bisa terbang. Balon gas bisa pecah. Mungkin seperti itu.

Tetapi kalau pertanyaan yang sama tentang balon gas ditanyakan pada seorang ilmuwan fisika, jawabannya jelas akan berbeda jauh. Bisa jadi ilmuwan fisika ini malah akan memberikan suatu penemuan mutakhir mengenai balon gas.

Kembali ke masalah saya jatuh dan pertanyaan saya tadi. Ketika saya dengan pikiran saya yang terbatas (walaupun Tuhan menciptakan saya sangat amat baik, tetap saja ada batasnya) mencoba untuk mengetahui pemikiran Tuhan yang luar biasa tak terbatas, jelas itu tidak terlalu mudah.

Tetapi:

“Maka rahasia itu disingkapkan kepada Daniel dalam suatu penglihatan malam. Lalu Daniel memuji Allah semesta langit” (Daniel 10:14)

Saya yakin teman-teman semua sudah tau tentang Daniel. Sekedar melengkapi cerita saja, Daniel adalah seorang yang memiliki roh yang luar biasa (Spirit of Excellence), seorang yang sangat mengasihi Tuhan dan berani mengambil resiko apapun demi tetap mengasihi Tuhan.

Daniel-daniel di zaman sekarang ini adalah kita semua. Karena Roh Kudus-Nya yang dicurahkan kepada kita, kita bisa memiliki roh yang luar biasa, mengasihi Tuhan, dan berani mengambil resiko apapun demi tetap mengasihi Tuhan. Haleluya!

Dan pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita (Roma 5:5)

Itu sebabnya, saya tidak perlu kecil hati kalau saya belum seperti Daniel karena Ia sendiri yang memberikan kasih-Nya ke dalam hati kita oleh karena Roh Kudus. Begitu juga kalau teman-teman seperti saya, tidak perlu kecil hati. Kita bisa memiliki roh yang luar biasa itu, kita bisa sangat mengasihi Tuhan, dan berani mengambil resiko apapun demi mengasihi Tuhan.

Apakah karena diri kita? Karena kehebatan kita? Kebaikan kita? Kejujuran kita? Ketulusan kita? Kesetiaan kita? Ketaatan kita? Kesucian kita? Bukan! Itu semua karena Dia yang memberikan kita kasih-Nya oleh Roh Kudus yang dikaruniakan kepada kita! Pendek kata: karena kasih karunia-Nya. Anugerah-Nya. Hadiah cuma-cuma. Gratis. Tidak pakai bayar. Haleluya!!

Nah, kalau begitu, bukankah saya bisa mendapatkan penyingkapan rahasia rencana Tuhan? Bukankah teman-teman bisa mendapatkan penyingkapan rahasia rencana Tuhan? Bukankah kita semua bisa mendapatkan penyingkapan rahasia rencana Tuhan?

Ya! Bisa! Karena kasih karunia-Nya. Puji nama Tuhan!

Kalau begitu, lantas apa alasan Bapa Surgawi membiarkan saya jatuh? Teman-teman, pada saat saya jatuh dari tangga, berbagai peristiwa di masa lalu saya terbersit dalam pikiran saya.

Saat itulah saya mengerti, alasan Tuhan membiarkan saya jatuh dari tangga. Bukan karena Ia tidak mencintai saya. Bukan! Bukan karena Ia tidak menjaga saya. Bukan! Bukan karena Ia tidak menuntun saya. Bukan!
Lalu, karena apa? Ketika saya merenungkan masa lalu saya, saya mendapati bahwa terdapat beberapa pilihan yang saya ambil secara keliru. Entah itu dalam pemilihan pasangan, dalam pemilihan proyek, dan bidang lainnya. Saya menyadari bahwa Tuhan sudah memberikan petunjuknya dengan begitu jelas di Alkitab tentang cara-cara seseorang untuk hidup sesuai kehendak-Nya. Ya, di Alkitab semua sudah tertulis jelas.

Kalau saya dengan nekatnya (katakanlah begitu) mengambil sendiri pilihan itu dengan mengabaikan petunjuk yang Tuhan berikan, apakah Tuhan yang salah? Saya jadi ingat bahwa Mami saya sudah mengingatkan saya:

“Sendal ini boleh dipakai, tapi jangan dipakai kalau ke kamar mandi. Licin soalnya.”

Mami adalah seorang wanita. Wanita memiliki fungsi sebagai penolong. Penolong adalah representasi dari Roh Kudus. Nah, Roh Kudus sudah memperingatkan saya. Sebagai contoh masalah pasangan hidup:

“Hey, di Alkitab ada tertulis begini lho. Jangan berpasangan dengan yang tidak sepadan.”

(Siapa tau teman-teman berminat untuk membaca masalah kesepadanan ini, bisa dibaca di “Cinta, Jatuh Cinta, dan Pasangan Hidup”)

Tapi saya langgar saja. Nah ketika hubungan berakhir, eh saya menyalahkan pasangan saya. Saya bertanya kepada Tuhan,

“Lho kog begini sih Tuhan?”

Ini saya bukan menyalahkan atau menghukum diri sendiri. Bukan juga karena saya mengingat-ingat masa lalu atau belum lepas dari masa lalu. Bukan, teman-teman. Tenang, jangan salah paham :D. Saya hanya bercerita supaya memberikan ilustrasi yang jelas :D.

Dulu saya sering berpikir:

“Saya sudah mengasihi dirinya semampu saya bisa mengasihi. Lalu apa salah saya?”

Dalam hubungan karena melibatkan 2 orang, jelas 2 orang ini punya andil untuk membuat hubungan itu berhasil atau gagal. Saya terlalu senang menyalahkan orang lain untuk memikul tanggung jawab bahwa ya memang saya punya andil untuk kegagalan itu.

Mengapa? Karena saya tidak mengikuti peringatan Roh Kudus dari awal… Ah, kebenaran memang seringkali tidak mengenakan bukan? Siapa sih yang suka dikatakan, “Hey kamu salah!”?

Hanya saja, itulah kebenaran! Peristiwa saya jatuh dari tangga itu membukakan pikiran saya untuk mengerti. Untungnya, Tuhan itu baik! Ia terlalu baik!

Dia tidak pernah membiarkan saya sendiri ketika sedang bersedih, ketika saya tak sanggup lagi. Seperti mami saya memegang tangan saya, mengangkat saya ketika saya jatuh, mengoleskan arak gosok kepada saya; itu juga yang Tuhan lakukan kepada saya!

Wow, bukankah Dia sungguh baik? Anak-Nya yang tidak mengindahkan kata-kata-Nya dan malah ngotot sendiri dengan kemauannya, setelah gagal menyalahkan Bapanya, tetapi Bapanya tetap tidak tinggalkan Dia sendiri.

Ketika dulu saya masih larut dalam perasaan marah, benci, sakit hati, kecewa; saya masih ingat dengan jelas papi saya dengan bijaknya berkata:

“Pasti Tuhan beri yang lebih baik.”

Papi saya bukan tipe orang yang banyak bicara. Ia lebih banyak memperhatikan saya dalam diam. Pada saat saya meminta nasihat, baru ia memberi nasihat. Tetapi papi saya suka bertanya juga, mengenai kehidupan saya, teman-teman saya, orang-orang yang dekat dengan saya. Papi saya adalah teladan bagi saya.

Papi adalah seorang pria. Pria memiliki fungsi sebagai seorang pemimpin. Pemimpin adalah representasi dari Bapa sendiri. Ya, saya bersyukur sekali bahwa Tuhan memberikan saya papi yang luar biasa hebat! Dari papi saya, saya bisa mengerti dengan mudah mengenai kasih Bapa Surgawi. Haleluya! Segala kemuliaan hanya bagi nama Tuhan!

Ketika si putih membuat saya terjatuh, papi saya dengan tegasnya mengatakan:

“Buang saja sendal itu.”

Tegas. Pendek, Tepat. Saya ingat pada saat peperangan dalam pikiran saya berkecamuk, berbagai emosi negatif muncul juga muncul pemikiran:

“Sudah, maafkan dan lupakan. Sudah berlalu.”

Tetapi, rasa ego saya memang terlalu besar. Rasa disakiti, merasa tidak layak diperlakukan tidak adil setelah mencintai, mendukung, melakukan yang terbaik untuk seseorang; itu terlalu mendominasi pikiran saya.

Ah, bukan salah Bapa Surgawi yang sudah menyatakan dengan jelas maksud hati-Nya di Alkitab kalau memang saya tetap ngotot dengan perasaan ego saya itu. Ya kan?

Tapi seperti papi saya yang tidak pernah memaksa saya, begitu juga Bapa Surgawi. Bapa Surgawi tidak pernah memaksa saya untuk mengambil suatu keputusan. Ia sabar. Perlahan-lahan, Ia membuat saya mengerti.

Bukankah begitu indah kasih Bapa Surgawi kepada saya? Saya sungguh bersyukur karena Ia membukakan hal-hal indah dari peristiwa kecil sehari-hari dalam hidup saya. Kasih-Nya terlalu besar.

Setelah saya jatuh, saya harus bangkit tentu saja. Seperti saat jatuh dari tangga, pada saat saya mengalami kegagalan dalam bidang apapun saya harus bangkit.

“Sebab tujuh kali orang benar jatuh, namun ia bangun kembali, tetapi orang fasik akan roboh dalam bencana.” (Amsal 24:16)

Ya, sebagai orang yang dibenarkan karena pengorbanan Kristus di kayu salib, saya menjadi orang benar. Teman-teman juga demikian. Jadi, kalau saya jatuh, saya harus bangun kembali. Kalau teman-teman jatuh, teman-teman harus bangun kembali. Kalau kita jatuh, kita harus bangun kembali.

Mengapa?

Tetapi dalam semuanya itu kita lebih dari pada orang-orang yang menang,oleh Dia yang telah mengasihikita. (Roma 8:37)

Kita adalah lebih daripada orang-orang yang menang! Karena siapa? Karena kita berkemauan keras? Karena kita bertekad kuat? Karena kita tegar? Karena kita tidak cengeng? Bukan! Tetapi karena Tuhan yang telah mengasihi kita! Wow! Puji Tuhan!

Sesudah kejadian itu, mami saya datang ke kamar saya. Kami ngobrol-ngobrol tentang kejadian saya jatuh dari tangga. Lalu mami saya mengeluarkan satu pernyataan yang membuat saya tertawa terpingkal-pingkal:

“Untung, (maaf) pantat kamu besar.”

Sampai sekarang saya masih tersenyum-senyum saat mengingat itu. Tempat saat saya jatuh, di situlah tempat saya bangkit. Di situlah Tuhan beri satu kekuatan.

Apakah cerita saya suatu hal yang familiar bagi teman-teman? 😀 Kalau ya berarti saya pikir kita punya banyak kesamaan. Itu juga yang membuat Tuhan mendorong dan menggerakkan teman-teman untuk bisa membaca artikel ini sampai selesai :D.

Teman-teman, Tuhan terlalu mencintai kita semua. Kasih-Nya terlampau besar! Begitu dalam cinta-Nya Ia pada kita! Sampai-sampai kalaupun kita nakal, bandel, dan tidak mengikuti kehendak-Nya, Ia tetap mencintai kita. Ia tidak tinggalkan kita!

Pada saat kita jatuh, Ia tidak memandang kita dengan kesal. Ia memandang kita dengan penuh kasih. Kasih-Nya tidak berubah.

Kalau ada di antara kita yang saat membaca ini merasa bahwa kita sudah bangkit dan menjadi lebih dari menang, saya bersyukur! Puji Tuhan! Haleluya! Yuk kita sebarkan berita kebaikan Kristus, bagi teman-teman lain yang belum bangkit, yang masih jatuh, yang masih kalah.

Kalau ada di antara kita yang saat membaca ini merasa ada sesuatu yang memang membuat kita tidak bisa maju ke masa depan, terikat kegagalan dan kejatuhan di masa lalu, yuk kita terima kebenaran bahwa kita adalah orang-orang yang benar, dibenarkan karena Kristus yang membenarkan kita, dan kita lebih dari pemenang. Yuk kita semua bangkit!

Nah, akhirnya saya sudah sampai di ujung artikel hari ini. Maaf teman-teman, saking bersemangatnya saya jadi lupa kalau sudah cukup panjang artikel ini :D. Yuk kita berdoa.

Doa saya hari ini:
Bapa yang Maha Baik yang kami kenal dalam nama Tuhan Yesus,
Terima kasih buat kebaikan-Mu dalam hidup kami. Terima kasih buat kasih-Mu yang terlalu besar. Terima kasih karena Engkau selalu beserta kami. Terima kasih karena Engkau menerima kami apa adanya. Terima kasih karena Engkau begitu mencintai kami.

Bapa, bagi kami yang telah menang, biarlah roh kami terus bernyala-nyala sehingga kami dapat melayani-Mu dengan lebih lagi. Lebih setia. Lebih sungguh. Lebih baik. Lebih dan lebih lagi. Bukan demi kami, tapi demi-Mu. Bukan demi kemuliaan kami, tapi demi kemuliaan-Mu.

Ya Roh Kudus, bangkitkanlah dan sebarkanlah Spirit of Excellent di tengah-tengah kami. Dengan demikian, kami bisa terus melakukan yang terbaik, mengasihi-Mu lebih lagi, dan rela membayar harga untuk bisa mengasihi-Mu. Ini semua bukan karena kami hebat, baik, jujur, setia, penuh dedikasi, dan penuh ketulusan, tetapi karena Engkau yang terlebih dahulu mengasihi kami. Semua yang kami miliki itu adalah kasih karunia-Mu. Kami bersyukur, Tuhan. Haleluya.

Bapa, bagi kami yang masih jatuh, yang masih terpuruk, biarlah kami menyadari posisi kami. Biarlah kami mengerti kebenaran. Dengan demikian kami bisa bangkit dan menjadi terang. Berilah kami hati yang MAU, HAUS, dan LAPAR akan kebenaran-Mu.

Ya Roh Kudus, gantikanlah hati kami dengan hati yang baru. Hati yang lembut. Hati yang mau senantiasa diajar kebenaran-Mu. Hati yang taat. Hati seorang hamba. Dengan demikian, kami bisa terus melakukan yang terbaik, mengasihi-Mu lebih lagi, dan rela membayar harga untuk bisa mengasihi-Mu.

Roh Kudus, ini doaku. Biarlah Engkau bekerja lebih lagi dan lagi, untuk menyentuh hidup dan hati setiap teman yang membaca artikel ini. Teruslah bekerja dengan sebebas-bebasnya untuk mengubahkan hati dan hidup setiap teman yang membaca artikel ini. Biarlah kasih, kuasa, dan karunia-Mu tercurah bagi kami semua.

Segala pujian, hormat, dan kemuliaan, hanyalah bagi nama-Mu, Yesus. Sebab Kau layak terima segala pujian, penyembahan, dan kemuliaan dari dulu, sekarang, sampai selama-lamanya.

Amin

Cerita: Segelas Teh Melati

Selamat pagi, teman-teman! Bagaimana kabarnya? Hari ini saya mau bercerita tentang segelas teh.

Mengapa teh? Karena saya suka sekali minum teh :D, terutama teh melati. Saya pernah menyeduh teh melati saat teh melatinya dalam bentuk kemasan teh celup. Biasanya saya menyeduh teh melati dalam bentuk daun tehnya yang langsung dicelup. Jadi tidak pakai kemasan celup.

Setiap kali menyeduh teh melati, saya pasti sempatkan untuk mendekatkan gelas berisi teh melati itu ke hidup saya. Saya hirup. Aroma teh melati yang harum masuk ke dalam rongga hidung saya. Pelan-pelan hirup. Ah, nikmattt!

Teman-teman, ternyata saat saya mencelup teh melati dalam bentuk kemasan teh celup dan dalam bentuk daun teh begitu saja, hasil aroma melatinya berbeda jauh!

Dari yang sudah saya lakukan, pada saat saya menggunakan teh melati dalam bentuk kemasan teh celup, aromanya tidak terlalu keluar. Padahal, pada saat saya menghirup aroma dari teh melati itu sebelum diseduh, aromanya kuat sekali.

Berbeda saat menghirup aroma dari teh melati yang bukan dalam bentuk kemasan. Memang saat pertama sebelum diseduh, aromanya juga kuat tapi saat diseduh aroma kuatnya itu lebih terlepas lagi.

Ketika saya meminum secangkir teh melati nikmat, hangat, dan lezat, tiba-tiba saya teringat akan sebuah film: “Forrest Gump” yang dibintangi oleh Tom Hanks. Di sana ada 1 adegan yang mengatakan

“Life is like a box of of chocolate”

Nah saya akan mengganti coklat itu dengan teh melati.

“Life is like a cup of warm jasmine tea”.

(“Hidup itu seperti segelas teh melati hangat)

Ketika saya renungkan, saat saya ingin mendapatkan segelas teh melati yang nikmat, hangat, dan lezat, saya memiliki dua pilihan. Pilihan pertama: saya bisa menggunakan kemasan teh melati dalam kemasan celup. Pilihan kedua: saya bisa menggunakan teh melati dalam bentuk daun tehnya.

Pilihan pertama (gunakan teh melati kemasan celup) tentu saja sangat praktis. Saya tidak perlu lagi menyaring daun tehnya. Tinggal seduh. Celup. Tunggu sebentar. Jadi. Instan. Cepat. Praktis. Mudah.

Pilihan kedua (gunakan teh melati dalam bentuk daun tehnya) tentu saja sangat tidak praktis. Saya harus menyaring daun tehnya atau kalaupun tidak, saat meminumnya saya harus hirup perlahan-lahan. Maksudnya supaya teh melati itu tidak termakan tentunya :D. Tidak instan. Repot. Perlu usaha lebih.

Kalau hanya melihat dari usahanya, untuk mendapatkan segelas teh melati hangat tentu saja saya bisa memilih pilihan pertama atau kedua. Toh akhirnya saya sama-sama dapat teh melati hangat juga.

Hanya saja, kalau saya ingin teh melati yang hangat, nikmat, dan lezat seperti yang saya inginkan, pilihan saya tidak lain dan tidak bukan adalah pilihan kedua.

Karena hidup ini seperti segelas teh melati yang hangat, saya juga memiliki pilihan dalam hidup. Apakah saya ingin memilih jalan yang instan? Mudah? Cepat? Praktis? Ataukah saya ingin memilih jalan kedua: tidak instan, repot, perlu usaha lebih.

Kalau hanya segelas teh melati hangat saja, saya ingin teh melati yang hangat, nikmat, dan lezat; apalagi dengan hidup saya.

Saya berpikir bahwa ketika saya ingin sebuah hidup yang memang sungguh diperkenan oleh Tuhan, saya harus mengalami proses peningkatan (improvement) dan pengembangan (development). Dalam prosesnya juga ada 2 jalan: Jalan pertama adalah jalan yang mudah, cepat, praktis. Jalan kedua adalah jalan yang tidak instan, repot, perlu usaha lebih.

Dalam menghadapi kedua pilihan ini, mana yang harus saya pilih? Pada saat dihadapkan pada pilihan mudah, instan, dan cepat tapi hasilnya tidak optimal dengan pilihan tidak instan, repot, dan perlu usaha lebih tapi hasilnya optimal, mana pilihan yang harus saya ambil? Kalau saya ingin teh hangat, nikmat, dan lezat saya harus ambil pilihan kedua. Begitu juga dalam hidup, saya harus ambil pilihan kedua.

Saya yakin hal ini adalah hal yang bisa jadi dialami oleh teman-teman semua. Jadi bukan hanya saya saja. Saya percaya bahwa dalam hidup kita mendapatkan kedua pilihan ini.

Kalau ada dari teman-teman yang sedang mengalami seperti yang sedang saya alami, kira-kira apa pilihan teman-teman semuanya? Saya yakin teman-teman bisa memilih sendiri pilihan yang terbaik bagi teman-teman.

Doa saya hari ini:

Terima kasih, Tuhan, untuk segelas teh melati hangat, lezat, dan nikmat yang Tuhan berikan. Seperti saya suka teh semacam itu, saya juga suka hidup yang semacam itu. Biarlah saya bertekun dalam pilihan kedua ya, Tuhan, karena saya tau ini yang Tuhan mau saya kerjakan.

Bagi teman-temanku yang membaca artikel ini, Tuhan Engkau juga yang tau hal yang terbaik bagi mereka. Kiranya kalau ada dari mereka yang saat ini juga mengalami hal yang sama seperti yang saya alami, biarlah Tuhan yang tuntun mereka sendiri untuk memilih hal yang paling tepat.

Terima kasih, Yesus, buat kasih-Mu yang tak berkesudahan, selalu baru setiap hari. Kasih-Mu yang tak pernah gagal. Kasih-Mu itu memampukan kami untuk terus berjalan hari lepas hari dan tidak menjadi letih. Tidak menjadi kendor. Tidak menjadi lesu. Tetap kuat! Tetap segar! Tetap semangat!

“Tetapi orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN mendapat kekuatan baru: mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya; mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah.” (Yesaya 40:31)

Apapun yang terjadi dalam hidup kami, biar kami tetap teguh berjalan sesuai kehendak-Mu. Karena kami tau, kehendak-Mu itu adalah yang terbaik bagi kami.

Terima kasih, Tuhan Yesus. Ya, Roh Kudus, berbicaralah terus bagi kami, ubahkan hati kami, dan buat kami menjadi baru. Biarlah lewat hidup kami, nama-Mu akan dipermuliaan.

Segala hormat, pujian, kemuliaan, hanyalah bagi nama Tuhan. Sebab Engkau yang layak, sangat layak, untuk dapatkan semuanya itu.

Amin.

Cinta Kedua: Yerusalem

Hari ini lagi-lagi terjadi sesuatu yang di luar dugaan saya. Tuhan sungguh luar biasa. Ia mengubah rencana saya, mempersiapkan yang lebih baik dari yang saya sudah rencanakan. Haleluya! Puji nama Tuhan!

Jadi saya memang sudah merencanakan topik ini, tapi dengan ilustrasi yang berbeda. Seperti artikel kemarin, lagi-lagi Ia membelokkan rencana saya dan memberikan ilustrasi yang lebih baik. Terima kasih, Tuhan Yesus.

Jadi ceritanya begini. Hari ini saya mengirimkan satu brain teaser yang saya dapatkan dari teman saya. Brain teaser itu adalah sejenis permainan untuk mengasah otak. Ini dia brain teaser yang saya kirimkan:

“Ada test IQ kecil-kecilan nih :

5+3+2=151022

9+2+4=183652

8+6+3=482466

5+4+5=202541

jika logika anda jalan..,.

Jawablh pertnyaan ini….

(7+7+7=…………)

jika benar IQ anda d atas 120”

Saya mengirimkannya karena memang menurut saya menarik. Ternyata di luar dugaan saya, banyak respon yang masuk. Membuat saya tidak menyangka dan terkejut juga :D. Terima kasih banyak bagi teman-teman yang sudah berpartisipasi dalam membuat saya terkejut karena senang hari ini :D.

Setelah beberapa orang menjawab, umumnya saya memberikan respon sama untuk setiap jawaban benar:

“Pinterrrr.”

Satu kata saja, tapi ternyata respon yang saya dapatkan berbeda-beda. Setelah beberapa respon berbeda saya dapatkan, sadarlah saya! Tuhan memberikan saya suatu bahan bagi suatu penelitian informal mengenai perilaku manusia!

Wow, luar biasa Tuhan kita! Ia memang pemikir yang sangat brilian! Sungguh segala yang tak terpikirkan dan tak direncanakan, itulah yang Dia berikan! Saya terpana dan berdecak kagum dengan sendirinya.

Cukup banyak hal menarik yang saya dapatkan dari suatu permainan Brain Teaser ini. Dari sana saya akan mengaitkannya dengan tema artikel hari ini. Satu hal yang saya angkat adalah respon setiap orang yang berbeda-beda ketika mereka berhasil menjawab atapun gagal menjawab. Juga respon ketika saya mengatakan:

“Pinterrrr.”

Bagi saya, respon setiap orang menunjukkan keunikan setiap orang. Itulah yang membuat satu Brain Teaser ini menjadi sangat menarik. Mengapa? Karena ia menjadi satu jembatan untuk mengungkap sisi yang tidak mudah untuk dimengerti: keunikan manusia.

Tidak ada yang salah dengan respon setiap orang yang ikut serta berpartisipasi dalam hal yang saya kirimkan tersebut. Semua respon adalah baik adanya dan itu sungguh memberikan saya pembelajaran mendasar mengenai manusia.

Hal yang saya baru sadari adalah dalam Brain Teaser ini ada unsur pembentukan citra diri. Bahwa jika berhasil maka “logika Anda jalan”, “memiliki IQ di atas 120”. Dengan kata lain, “Pinterrr” tadi.

Sebaliknya jika tidak berhasil, tentu ada yang langsung mengartikan sebaliknya. Secara tidak langsung juga ada yang mengartikan bahwa kalau tidak berhasil maka “logika Anda tidak jalan”, “memiliki IQ di bawah 120”.

Padahal sebenarnya kalau mau dibedah, Brain Teaser ini adalah satu alat bantu untuk mengukur suatu hasil pembelajaran terhadap pemahaman pola hitung dan operasi matematika yang sudah pernah (sering) dilakukan seseorang. Semakin sering seseorang berlatih memahami dan mencari pola tersebut, akan semakin mudah.

Jadi yang disebut “Pinterrrr” atau “logika jalan” atau “IQ di atas 120” itu sebenarnya merupakan perwakilan dari sudah berhasilnya orang yang menjawab tersebut untuk melatih dirinya memahami dan mencari pola tersebut.

Kecerdasan itu sendiri tidak dapat diukur hanya dari segi matematis semata. Karena bukan hanya pemahaman mengenai pola matematis saja yang menjadikan seorang itu “Pinterr” tapi seluruh aspek dari diri seseorang lah yang menjadikan ia “Pinterrr”.

Jadi sesungguhnya “Pinterrrr” itu luas sekali. Bagi yang berhasil menjawab, berarti sekurang-kurangnya mereka memiliki kecerdasan matematis. Sementara bagi yang tidak berhasil menjawab, saya yakin sekurang-kurangnya mereka memiliki kecerdasan interpersonal. Mengapa? Karena mereka mau meresponi pada hal yang masuk.

Bagaimana dengan yang sama sekali tidak menjawab? Saya juga yakin mereka juga “Pinterrr”. Saya juga yakin, ada sesuatu hal yang menghalangi mereka untuk bisa berpartisipasi dalam Brain Teaser ini.

Jadi semua orang itu pintar sesungguhnya. Hanya saja mereka kuat di bidang-bidang tertentu. Itulah salah satu hal yang membentuk keunikan manusia.

Saya tidak cermat memperhatikan Brain Teaser ini. Tapi ternyata ketidakcermatan saya ini pun bisa dipakai Tuhan untuk mengungkapkan keunikan manusia ciptaan-Nya. Puji Tuhan!

Setiap orang diciptakan unik, indah, berharga, mulia, dan segambar dengan Tuhan. Sayangnya, dalam perjalanan hidup manusia, sejak dosa asal lalu seterusnya, manusia kehilangan (melupakan?) citra dirinya itu.

Proses pembentukan citra yang awalnya indah itu perlahan-lahan bisa menjadi berubah, mengalami pengeroposan sedikit demi sedikit. Di mana berlangsungnya? Pertama kali adalah di Yerusalem.

Yerusalem? Mungkin Anda bertanya-tanya. Apa hubungan Yerusalem dengan pengeroposan citra manusia?  Kata “Yerusalem” yang saya gunakan ini terilhami dari ayat:

“Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan KAMU AKAN MENJADI SAKSIKU di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi.” (Kisah Para Rasul 1: 8)

“Yerusalem” berbicara mengenai lingkungan sekitar, lingkungan terdekat, keluarga. Ah, keluarga! Ada apa dengan keluarga?

Inilah tempat pertama kali seorang anak bertumbuh, belajar, dan… membentuk CITRA DIRI. Perkataan orang tua terutama menjadi suatu yang sangat mempengaruhi perkembangan citra diri anak.

Kalau orang tua memberikan perkataan yang membangun, anak akan tumbuh menjadi seorang yang percaya diri. Sebaliknya jika orang tua memberikan perkataan yang melemahkan, anak akan tumbuh menjadi seorang yang rendah diri. Pendeknya, pemberian LABEL bagi anak.

Contoh label membangun: ketika anak melakukan sesuatu yang baik, orang tua memuji “Hebat”, “Bagus”, “Pintar”, dst. Anak akan belajar dari proses berulang-ulang bahwa itulah jati dirinya.

Contoh label melemahkan: ketika anak melakukan sesuatu yang kurang baik, orang tua mengatakan “Nakal”, “Bodoh”, “Bandel”, dst. Anak juga akan belajar dari proses berulang-ulang bahwa itulah jati dirinya.

Pemberian LABEL yang melemahkan inilah yang berperan besar dalam membentuk citra diri anak. Mungkin orang tua tidak sadar bahwa ini yang mereka lakukan. Sebenarnya saya merasa juga tidak pada tempatnya untuk menjelaskan ini karena saya belum menjadi orang tua tapi inilah yang saya rasakan Tuhan taruh dalam hati saya hari ini.

Seringkali bahkan orang tua berniat baik, namun dengan cara yang kurang pas. Pembanding-bandingan anak yang satu dengan anak yang lain dengan tujuan memacu sang anak, bukanlah suatu cara yang pas untuk membentuk citra diri positif seorang anak.

Saya akan menceritakan pengalaman seorang teman saya. Karena sudah mendapat izinnya untuk membagikan hal ini, akan saya bagikan. Saya berharap ini akan memberkati teman-teman yang membaca. Teman saya juga mengizinkan saya membagikan ini karena ia berharap hal ini dapat memberkati teman-teman semua.

Teman saya ini bisa dibilang sangat beruntung. Ia memiliki orang tua yang luar biasa mencintai dirinya. Teman saya bercerita bahwa ia memiliki 3 orang kakak. Jadi keluarga mereka adalah 4 bersaudara.

Menurut dirinya, kakak pertamanya adalah seorang yang Sanguin. Ceria, aktif, penuh energi, dan perhatian pada orang lain. Kakak keduanya adalah seorang Kolerik dan Melankolik. Berkemauan keras untuk maju, mandiri, dan penuh pemikiran bagi orang lain. Kakak ketiganya adalah seorang Sanguin dan Kolerik. Menarik, pandai meyakinkan orang lain, dan seorang dengan Visi yang besar. Sementara teman saya berkata, ia sendiri bisa jadi merupakan perpaduan Plegmatis Melankolik. Tenang, pembawa damai, penuh pemikiran bagi orang lain.

Ia bercerita bahwa ia tahu kalau orang tuanya sangat menyayangi dirinya dan ketiga kakaknya. Namun saat yang sama, ia juga mengatakan bahwa menurutnya orang tuanya tidak pernah memuji dirinya. Selalu ketiga kakaknya yang dipuji. Hatinya merasa luka.

Ia berpikir bahwa ia tidak istimewa. Sering ia berpikir seandainya ia bisa menjadi seperti kakak pertamanya yang populer dan disukai banyak teman. Kali lain ia berpikir seandainya ia bisa menjadi seperti kakak keduanya yang cerdas dan penuh kemauan keras untuk maju. Di lain pihak ia juga brepikir seandainya ia bisa seperti kakak ketiganya yang penuh visi dan pandai meyakinkan orang lain.

Mengapa hal ini terjadi? Teman saya bercerita kepada saya bahwa sedari kecil memang orang tuanya selalu membandingkan dirinya dengan kakak-kakaknya. Karena orang tuanya sering sekali membandingkannya dengan kakak keduanya, teman saya ini lalu berpikiran bahwa kalau ia bisa menjadi seperti kakak keduanya maka orang tuanya akan menerima dirinya.

Jadi teman saya ini berusaha mati-matian di sekolah. Ia selalu berpikir harus menjadi nomor 1. Harus menjadi yang paling hebat. Ia berpikir dengan begitu, ia bisa mendapatkan penerimaan orang tuanya.

Apa yang terjadi? Dia berhasil menjadi nomor 1. Dengan usaha keras, dia menjadi nomor 1. Orang tuanya memujinya dan ia merasa senang. Sayangnya itu tidak berlangsung lama.

Ada saja hal yang membuat dirinya akhirnya berpikir bahwa ia tidak akan pernah bisa memuaskan orang tuanya. Orang tuanya tidak pernah puas!

Ia merasa sendiri. Terkucil. Terkekang. Lelah. Segala hal sudah ia lakukan, tapi itu pun tak pernah cukup. Ia merasa marah. Juga tak berdaya. Pasrah.

Teman saya merasa telah menjadi anak yang baik. Ia tidak pernah macam-macam. Bintang sekolah. Tidak pernah main ke sembarang tempat. Rajin belajar dan belajar. Tidak pernah meminta macam-macam pada orang tua.

Teman saya bercerita lagi pada saya. Ia sampai pada satu titik mempertanyakan:

“Mengapa saya harus dilahirkan? Kalau memang orang tua saya sendiri pun tidak bisa menerima diri saya apa adanya? Apa yang SALAH dengan diri saya? APA? APA?”

Ia lalu berpikir kalau saja ia bisa mengubah diri menjadi seperti kakak pertamanya yang ceria, setidaknya ia akan bahagia. Tapi ia sudah terbentuk sedemikian rupa mengikuti harapan orang tuanya: menjadi juara, nomor 1, pintar!

Teman-teman masih banyak yang teman saya ceritakan, tapi saya potong saja sampai di situ. Saya mengenal juga seorang kakak dari teman saya tadi. Dari kakaknya itu saya mendapatkan gambaran yang lain lagi tentang keluarga mereka.

Ternyata, gambaran yang saya dapatkan mengenai teman saya ini dari kakaknya sungguh berbeda daripada hal yang saya dapatkan dari teman saya. Saya jadi bingung sendiri. Kog bisa ya, dua orang dalam satu keluarga yang sama, orang tua yang sama, ternyata menceritakan 2 hal yang berbeda?

Ternyata yang terjadi adalah orang tua dari teman saya memang masih menganut pemikiran lama. Bahwa memacu anak itu penting tapi memuji tidak terlalu penting. Itu sebabnya teman saya itu bisa berpikir bahwa ia tidak istimewa.

Padahal kalau saya menilai diri teman saya ini, saya lihat dia memiliki keunggulannya tersendiri. Memang ia juga memiliki kelemahannya, tapi saya melihat banyak hal yang sungguh indah di dalam dirinya.

Hal yang sangat menarik diungkapkan oleh kakak teman saya ini. Ia berkata bahwa ketika ia belum menjadi orang tua, ia berpikir juga bahwa orang tuanya tidak menyayangi dirinya. Tetapi ketika ia menjadi orang tua, barulah ia mengerti.

Apa yang ia mengerti? Bahwa orang tuanya sebenarnya sangat menyayangi semua anak-anaknya hanya saja cara mereka yang tidak menunjukkannya membuat anak-anaknya tidak bisa menangkap dengan jelas hal itu.

Saya belajar dari sharing teman saya itu bahwa menjadi orang tua bukanlah hal yang mudah. Menjadi orang tua adalah tugas dan tanggung jawab berat dan mulia yang Tuhan beri.

Seorang anak adalah seperti kertas putih. Ketika orang tua mulai membentuk anak, ketika itulah citra anak terbentuk. Saya merasa sangat terberkati dengan sharing dari teman saya dan kakaknya teman saya ini.

Saya pun belajar dari orang tua saya sendiri. Bahwa orang tua saya mencintai saya dengan cara mereka masing-masing. Terkadang saya juga seperti teman saya, merasa tidak memahami orang tua saya.

Ketika mendapati mami saya mengingatkan saya untuk makan pada waktunya dan tidur tidak terlalu malam, cukup sering saya merasa mami saya terlalu cerewet. Ketika mendapati papi saya bertanya tentang teman-teman saya, cukup sering saya merasa papi saya terlalu ingin ikut campur urusan saya.

Padahal mami saya lah yang setiap hari rajin membuatkan saya makanan dan minuman ini dan itu supaya saya tetap sehat. Papi saya lah yang selalu memperhatikan saya dalam diam dan berharap yang terbaik untuk saya.

Mereka selalu mendoakan saya. Mereka juga mengingatkan saya untuk selalu menjaga kesehatan saya. Tidak tidur terlalu larut. Mengistirahatkan mata kalau sudah lelah. Mendengarkan saya. Perhatian dengan cerita saya. Bahkan walaupun saya sering kali malas, cuek, dan terlalu asyik dengan dunia saya sendiri, mereka bisa menerima hal itu.

Hum… mengingat itu, rasanya saya menjadi anak yang sangat tidak tau berterima kasih. Bisa dibilang orang tua seperti mereka itu langka. Dari mereka saya banyak sekali mempelajari prinsip-prinsip kehidupan.

Kalau saya ditawarkan Tuhan untuk bisa memilih orang tua saya sendiri, saya tidak akan menukar mereka dengan orang tua manapun. Di tengah segala kekurangan mereka, merekalah orang tua terbaik di mata saya.

Teman-teman, mungkin ada di antara teman-teman yang mengalami seperti pengalaman teman saya atau pengalaman saya. Saya sungguh percaya bahwa teman-teman bisa membaca artikel ini adalah bukan kebetulan. Ada suatu rencana Tuhan yang indah bagi teman-teman semua.

Saya percaya bahwa semua orang tua memiliki niat terbaik dalam hatinya bagi anak-anaknya. Hanya saja cara mereka dalam mengungkapkannya tidak terlalu dapat ditangkap dengan baik oleh anak-anaknya. Tetapi, bukankah tidak ada seorangpun yang sempurna? Termasuk orang tua kita?

Kalau ada teman-teman yang memiliki orang tua yang tidak memiliki niat terbaik dalam hatinya bagi teman-teman, saya yakin bahwa ada rencana Tuhan yang indah bagi teman-teman semua.

“Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada padaKu mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.“ (Yeremia 29:11).

Inilah isi hati Tuhan. Bahwa ia hanya merancangkan:

–         Hal yang penuh damai sejahtera.

–         Bukan rancangan kecelakaan.

–         Untuk hari depan penuh harapan.

Mungkin teman-teman ada yang berpikir:

“Rancangan damai sejahtera? Setiap hari orang tua saya tidak saling menyapa.”

“Bukan rancangan kecelakaan? Setiap hari orang tua saya ribut terus.”

“Hari depan penuh harapan? Mana mungkin? Kondisinya begitu buruk! Mungkinkah masih ada harapan?”

Selalu ada harapan di dalam Tuhan! Selalu ada HARAPAN di dalam TUHAN! Jangan menyerah, Ia punya rencana yang luar biasa bagi setiap kita.

Bagaimana mengatasi pemikiran bahwa orang tua tidak mencintai dan seterusnya? Seorang teman saya berbagi pengalaman serupa dan ia memberikan suatu masukan yang luar biasa:

“Ketika saya masih kecil, saya berbicara seperti anak kecil, saya berpikir seperti anak kecil, saya beralasan seperti anak kecil. Ketika aku menjadi dewasa, saya menempatkan cara kekanak-kanakan di belakang saya.” (1 Korintus 13:11)

Dari contoh kasus teman saya tadi: Sebagai seorang anak, ia akan berpikir orang tuanya tidak mencintai dirinya karena membanding-bandingkannya dengan orang lain. Tetapi sebagai seorang dewasa, ia akan berpikir dengan cara lain, yaitu bahwa orang tuanya ingin memacu dirinya menjadi lebih baik.

Ayat ini sangat memberkati saya karena saya juga sedang dalam tahap belajar untuk bisa menjadi dewasa. Pemikiran saya masih banyak yang kekanak-kanakan. Saya masih banyak beralasan seperti anak kecil.

Untungnya Tuhan itu memang luar biasa baik. Saya dianugerahi banyak orang yang sangat istimewa di hidup saya. Mereka siap menolong saya. Memberikan saya masukan. Dengan resiko saya akan dapat membenci mereka.

Untuk itu, kepada orang-orang yang sangat istimewa di hidup saya ini, khususnya untuk satu orang secara spesifik (kalau kamu membacanya, ya ini untuk kamu. Saya yakin kalau kamu membaca ini, kamu akan mengerti bahwa saya berbicara kepada kamu.). Saya mengucapkan banyak terima kasih karena kamu telah berani mengambil resiko untuk menjadikan saya seorang yang lebih baik, seorang yang dewasa, dan seorang yang jadi berkenan di mata Tuhan dan manusia.

Maafkan saya yang tidak menangkap ketulusan hatimu. Maafkan saya yang malah menjadi marah dan tidak terima dengan niat baikmu. Maafkan saya yang berharap kamu memberi saya masukan dengan cara yang saya inginkan.

Selain itu, saya juga mau berterima kasih untuk setiap orang yang sudah memberikan kontribusi untuk artikel ini bisa dibuat, baik yang menyadarinya ataupun tidak. Terutama untuk 2 orang istimewa, yaitu yang telah membagikan Brain Teaser itu kepada saya dan yang telah memberikan share berkaitan dengan pengalamannya. Kalau kalian membaca artikel ini, saya yakin kalian tahu ini untuk kalian. Terima kasih banyak!

Teman-teman artikel ini menjadi begitu panjang tanpa saya sadari. Saya hanya bisa berdoa dan berharap bahwa artikel ini sungguh bisa memberkati teman-teman yang membacanya.

Doa saya hari ini:

Tuhan,

Saya berdoa bagi semua teman yang sudah membaca artikel ini. Biar Roh-Mu yang akan bekerja lebih lagi untuk mengubah, memperbaharui, dan menyempurnakan penulisan ini supaya sungguh menjadi rhema di hidup setiap teman yang membacanya.

Saya bersyukur untuk setiap hal dan setiap orang yang Tuhan izinkan di hidup saya. Setiap hal yang Tuhan berikan, itu sungguh amat baik. Bantu saya untuk bisa mengerti dan menghargai hal itu, Tuhan.

Pimpinlah kami semua, Tuhan. Supaya kami bisa selalu belajar dan belajar terus, untuk mengerti bahwa keunikan dan perbedaan karakter dan kepribadian adalah suatu hal yang indah, bukan suatu hal yang salah. Bantu kami, Tuhan, supaya kami semakin memahami bahwa justru di dalam keunikan dan perbedaan karakter dan kepribadian itulah, kami akan bertumbuh semakin menyerupai Engkau.

Terima kasih, Tuhan. Segala hormat, pujian, dan kemuliaan hanyalah bagi nama-Mu.

Amin.

Minum Teh, Yuk?

Sejumput teh melati. Air mineral. Dispenser. Gelas. Semua bahan sudah tersedia? Yuk, kita buat tehnya. Panaskan air di dispenser. Sudah panas? Seduh teh melatinya. Sudah? Pegang gelas dengan dua tangan.

Rasakan hangatnya air teh yang menjalar dari jari ke tangan. Lho, tunggu! Kenapa kog gelasnya tidak panas ya? Ya ampunnnn! Ternyata salah tekan tombol dispenser! Tombol yang ditekan… tombol air dingin!

Jadi? Bagaimana nih? Mau buang tehnya? Minum saja? Ah sudahlah minum saja. Rasanya jadi aneh. Dingin… Aroma teh melatinya juga tidak sekuat biasa. Tapi mau bagaimana lagi? Minum!

Sudah habis? Sekarang apa? Seduh lagi atau stop sampai di situ?

Teman-teman, kejadian di atas adalah kejadian yang saya alami beberapa waktu lalu. Jadi bukan fiktif, lho. Waktu itu malam hari. Saya punya kebiasaan minum teh malam dan pagi. Kenapa? Karena saya memang penggemar berat teh melati.

Beberapa waktu lalu, ritual itu terganggu. Karena mengantuk, juga pikiran melayang-layang, tidak sadar jari menekan tombol air dingin pada dispenser. Akhirnya seperti yang teman-teman baca, itulah yang terjadi.

Saya memiliki beberapa pilihan. Pertama: saya bisa memilih membuang teh tersebut.  Tidak jadi deh minum teh! Kedua: saya bisa memilih membuang teh tersebut. Ambil teh baru. Menyeduhnya. Tetap bisa minum teh! Ketiga: saya bisa memilih minum teh tersebut. Seduh lagi. Tetap bisa minum teh! Apa sih tujuan saya? Minum teh panas yang nikmat.

Jadi kalau begitu supaya saya bisa memenuhi tujuan, saya tidak bisa pilih yang pertama. Pilihan saya hanya kedua dan ketiga. Sebaiknya pilih yang mana? Di kejadian tadi saya pilih yang ketiga. Teman-teman bebas mau pilih yang manapun. Ini kan masalah minum teh saja toh?

Sesudah kejadian itu, tiba-tiba ada satu pemikiran yang terbersit. Bukankah hidup itu seperti minum secangkir teh melati? Saat semua proses berjalan baik, kita bisa menikmati secangkir teh melati. Hangat. Harum. Nikmat. Saat hidup berjalan dengan baik, kita bisa menikmatinya. Berkemenangan. Damai. Sukacita.

Bagaimana saat prosesnya ada gangguan? Bisakah kita tetap menikmati secangkir teh melati yang kita inginkan? Bagaimana saat hidup kita ada gangguan? Bisakah kita tetap menikmati hidup kita? Tetap berkemenangan? Damai? Sukacita?

Dengan teh melati, kita bisa membuangnya kalau memang kita tidak mau. Dengan teh melati kita bisa stop tidak meminumnya. Itu kan cuma teh saja. Bagaimana dengan hidup kita? Hidup kita harus terus berjalan. Kita tidak bisa stop begitu saja. Bunuh diri jelas bukan jawaban. Pilihan pertama, dicoret!

Bagaimana dengan pilihan kedua? Dengan teh melati kita bisa buang teh dingin, ambil teh baru, menyeduhnya. Bagaimana dengan hidup kita? Dalam hidup, kita selalu punya pilihan. Di situasi-situasi tertentu, bisa saja kita mengambil pilihan ini. Berhenti dari karir lama. Berhenti dari usaha lama. Berhenti berteman dengan teman lama. Putus dengan kekasih. Masih banyak lagi contoh yang bisa ditulis di sini. Itu pilihan kedua.

Apakah itu keputusan yang salah atau benar? Tergantung kasusnya. Tapi pilihan kedua memiliki konsekuensi yang harus dipikul. Membuang teh dingin untuk ambil teh baru, berarti ada harga yang harus dibayar. Kita tidak pernah bisa keluar dari konsekuensi ini.

Benar bahwa setelah teh dibuang dan diseduh, kita bisa mengambil teh baru dan menyeduhnya. Kasih dan kuasa Tuhan dapat memberikan kita hidup baru.

“Lihat, Aku hendak membuat sesuatu yang baru, yang sekarang sudah tumbuh, belumkah kamu mengetahuinya? Ya, Aku hendak membuat jalan di padang gurundan sungai-sungai di padang belantara.” (Yesaya 43:19)

Tapi tetap selalu ada harga yang harus dibayar untuk itu. Kalau memang ini yang kita hadapi, bergumul sungguh-sungguh dengan Tuhan. Benarkah pilihan kedua ini pilihan yang paling pantas dipilih?

Bagaimana pilihan ketiga? Dalam kasus di atas pilihannya pilihan ketiga: minum teh dingin, seduh lagi, baru bisa minum teh panas. Kalau ini pilihan kita, dalam hidup, pilihan kita adalah: menghadapi kehidupan ini, refresh lagi, baru bisa menjalani hidup yang kita nikmati, berkemenangan. Tetap dengan segala yang kita hadapi, refresh lagi, baru bisa menjalani hidup yang berkemenangan.

Tuhan menginginkan kita hidup dalam kemenangan itu. Di tengah segala masalah, Ia berikan kekuatan bagi kita untuk memikulnya.

“Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.” (Matius 11:28)

Bagaimana caranya bisa refresh lagi? Datang pada Tuhan. Terkoneksi dengan-Nya. Saat kita terkoneksi dengan Dia, Ia akan membuat kita segar kembali.

“Barangsiapa tidak tinggal di dalam Aku, ia dibuang ke luar seperti ranting dan menjadi kering” (Yohanes 15:6)

Sebaliknya kalau kita tinggal dalam Dia, kita akan tetap segar dan tidak kering. Refresh. Bisa menjalani hidup lagi. Berkemenangan.

Bagaimana bisa terkoneksi dengan dia?

“Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu” (Yohanes 15:4)

Bagaimana caranya bisa tinggal dalam Dia dan Dia dalam kita?

“Sebab jika kamu mengaku  dengan mulutmu, bahwa Yesus adalah Tuhan ,  dan percaya  dalam hatimu, bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka kamu akan diselamatkan.(Roma 10:9)

“Eh, saya sudah melakukan itu kog, tapi kog hidup saya tetap sama saja?”

Kalau itu yang terjadi:

“Jadi, iman timbul dari pendengaran,  dan pendengaran oleh firman Kristus.” (Roma 10:17)

Refresh dengan firman Tuhan. Saat teduh. Komunikasi dengan Dia. Lakukan firman-Nya. Terkoneksi.

Jadi apa pilihan teman-teman? Apapun pilihannya, minum teh, yuk?

Amin

All the Time, God is Great (Part-9)

Proses memasukkan aplikasi sudah selesai. Datanglah proses menunggu hasil beasiswa. Ternyata hasil beasiswa itu keluar lebih cepat dari yang saya duga. Lebih-lebih lagi, yang membuat saya sangat terkejut hasilnya ternyata negatif alias gagal!

Ketika saya membaca hal itu, saya sangat shock. Karena saya sangat yakin bahwa hal ini bukanlah rencana saya, saya jadi mempertanyakan banyak hal. Ada sejumlah hal yang saya pertanyakan:
1. Benarkah suara yang saya dengar itu memang suara Tuhan?
2. Apakah saya gagal karena saya menunda proses pendaftaran aplikasi?
3. Apakah saya gagal karena memang ada rencana Tuhan lainnya bagi saya?

Ketika saya pikirkan berkaitan dengan pertanyaan 1, saya memang yakin sekali itu suara Tuhan. Karena memang dalam prosesnya saya mengalami banyak sekali tuntunan-Nya, lebih-lebih lagi dalam rencana saya memang tidak ada untuk mendaftar beasiswa untuk waktu dekat. Lalu mengapa saya gagal kalau memang suara yang saya dengar itu suara Tuhan?

Saya beralih ke pertanyaan 2. Saya sempat berpikir bahwa apakah memang penundaan yang saya lakukan itu yang membuat saya gagal? Tetapi kemudian saya berpikir, Tuhan sangat tahu diri saya dan pasti sudah sangat tahu hal yang akan terjadi, hal yang akan saya lakukan.

Kalau memang itu adalah rencana-Nya, saya yakin seharusnya tergenapi. Lalu mengapa saya gagal? Saya lalu berpikir apakah mungkin ini semacam pengujian? Ia ingin menguji sejauh manakah saya rela untuk melepaskan impian saya demi hal yang Ia mau saya lakukan? Ketika saya pikir-pikir, bisa jadi demikian.

Karena dalam prosesnya memang saya ditantang untuk melepaskan kenyamanan dan impian saya, itu sungguh sangat tidak mudah. Karena saya adalah tipe orang yang tidak banyak keinginan dan impian, tapi sekali saya sudah memiliki suatu keinginan dan impian, maka saya akan berusaha dan mengejar hal itu mati-matian.

Ketika saya sudah mendapatkannya dan harus melepaskannya, itu benar-benar suatu pergumulan batin yang sulit. Tetapi saya tahu kalau itu yang Tuhan minta, saya akan serahkan walaupun tidak mudah. Karena Tuhan sudah terlebih dahulu membayar harga yang mahal untuk saya, impian dan keinginan saya tidak ada artinya dibandingkan dengan hal yagn sudah Ia lakukan lebih dahulu bagi saya.

Lalu bersamaan dengan itu, saya juga berpikir mengenai pertanyaan 3. Apakah Tuhan memiliki rencana lain bagi saya? Setelah saya pikir-pikir memang bisa jadi Tuhan menginginkan saya melakukan sesuatu dulu di sini. Terbukti tidak lama dari setelah itu, ada beberapa kegiatan yang saya lakukan bersama dengan teman-teman saya.

Saat ini saya masih bertanya-tanya mengenai satu pertanyaan besar dalam benak saya, yaitu mengenai pasangan hidup saya. Kalau memang benar orang dalam mimpi saya itu adalah pasangan hidup saya, lalu bagaimana caranya saya bisa bertemu dengannya mengingat aplikasi beasiswa saya gagal?

Kelihatannya jalan seperti tertutup. Tapi setelah saya pikirkan lagi, saya percaya Tuhan yang saya sembah dan saya imani adalah Tuhan yang besar. Ia adalah Tuhan yang melampaui segala pemikiran dan keterbatasan manusia.

Kalau memang pasangan hidup saya adalah orang yang ada dalam mimpi saya, saya percaya Tuhan akan dapat mempertemukan kami. Tapi kalaupun tidak, saya percaya Tuhan akan mendatangkan orang lain yang memang sungguh-sungguh pasangan hidup saya.

Pengalaman panjang ini sungguh pengalaman yang berharga. Walaupun hasilnya tidak sukses dalam arti tidak mendapatkan beasiswa tersebut, saya mendapati bahwa dalam proses ini saya belajar banyak sekali. Untuk itu saya bersyukur bahwa Tuhan mendampingi dan mengizinkan saya melewati proses ini.

Biasanya orang menuliskan pengalaman suksesnya tetapi kali ini saya tuliskan pengalaman ‘gagal’ saya. Karena sesungguhnya ‘gagal’ itu adalah hanya satu kondisi pada satu waktu, pada saat lain kondisi tersebut bisa berubah.

Mengingat begitu banyak hal yang saya lalui dan pelajari, saya tidak menyesal. Karena memang proses yang berat itu saya yakin akan mempersiapkan saya dalam proses-proses saya berikutnya, apapun itu saya tidak tahu tapi itu yang saya yakini.

Kalau Anda mengalami proses yang berat dan gagal, jangan kecil hati. Bisa jadi bukan saatnya Anda memperolehh kesuksesan saat itu. Bisa jadi proses itu untuk memberikan pondasi bagi Anda di kemudian hari.

Apapun yang terjadi, tetap bersyukur kepada Tuhan karena segala sesuatu yang Ia izinkan itu mendatangkan kebaikan bagi orang yang mengasihi Dia (Roma 8:28). Biarlah dalam apapun yang kita lakukan, semuanya kembali kepada-Nya dan demi kemuliaan nama-Nya.

Amin.

All the Time, God is Great (Part-8)

Setelah sekian lama menunggu, ternyata saya mendapat kabar bahwa aplikasi saya ke universitas yang saya tuju ditolak. Alasannya karena proposal penelitian yang saya ajukan tidak dalam area penelitian calon supervisor yang ada di sana.

Hal itu membuat saya bingung karena jelas-jelas proposal tersebut saya ambil dari usulan topik penelitian yang diberikan oleh universitas. Hal tersebut membuat saya sangat terpukul.

Akan tetapi renungan harian yang saya baca hari itu dan 2 hari setelahnya menguatkan saya untuk terus melangkah maju, jadi saya mengubah rencana saya. Saya mencari universitas lain.

Beberapa lama dari saya mendaftar ternyata saya mendapatkan jawaban bahwa saya diterima dengan syarat tertentu. Saya cukup lega mendengar kabar tersebut. Berarti tinggal menunggu surat rekomendasi saja.

Setelah berbulan-bulan menunggu, akhirnya saya mendapatkan surat rekomendasi tersebut. Ada satu pemberi surat rekomendasi yang membuat saya sampai menangis. Ya, menangis karena terharu.

Dalam rancangan surat rekomendasi yang diperlihatkan kepada saya, beliau memang memuji saya dengan sangat tinggi. Saya sampai-sampai kehabisan kata-kata ketika membaca rancangan surat rekomendasi tersebut.

Penantian saya selama berbulan-bulan ternyata tidak sia-sia setelah membaca rancangan surat rekomendasi tersebut. Akhirnya hari yang ditunggu-tunggu pun tiba dan saya pun memasukkan aplikasi tersebut.

Proses panjang pun akhirnya berakhir sudah. Proses yang begitu melelahkan dan sangat menguras mental dan kesabaran, begitu pula biaya.

(Bersambung ke Bagian-9)

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: