All for Glory of Jesus Christ

Archive for the ‘Movie Plot and Review’ Category

Cerita: Segelas Teh Melati

Selamat pagi, teman-teman! Bagaimana kabarnya? Hari ini saya mau bercerita tentang segelas teh.

Mengapa teh? Karena saya suka sekali minum teh :D, terutama teh melati. Saya pernah menyeduh teh melati saat teh melatinya dalam bentuk kemasan teh celup. Biasanya saya menyeduh teh melati dalam bentuk daun tehnya yang langsung dicelup. Jadi tidak pakai kemasan celup.

Setiap kali menyeduh teh melati, saya pasti sempatkan untuk mendekatkan gelas berisi teh melati itu ke hidup saya. Saya hirup. Aroma teh melati yang harum masuk ke dalam rongga hidung saya. Pelan-pelan hirup. Ah, nikmattt!

Teman-teman, ternyata saat saya mencelup teh melati dalam bentuk kemasan teh celup dan dalam bentuk daun teh begitu saja, hasil aroma melatinya berbeda jauh!

Dari yang sudah saya lakukan, pada saat saya menggunakan teh melati dalam bentuk kemasan teh celup, aromanya tidak terlalu keluar. Padahal, pada saat saya menghirup aroma dari teh melati itu sebelum diseduh, aromanya kuat sekali.

Berbeda saat menghirup aroma dari teh melati yang bukan dalam bentuk kemasan. Memang saat pertama sebelum diseduh, aromanya juga kuat tapi saat diseduh aroma kuatnya itu lebih terlepas lagi.

Ketika saya meminum secangkir teh melati nikmat, hangat, dan lezat, tiba-tiba saya teringat akan sebuah film: “Forrest Gump” yang dibintangi oleh Tom Hanks. Di sana ada 1 adegan yang mengatakan

“Life is like a box of of chocolate”

Nah saya akan mengganti coklat itu dengan teh melati.

“Life is like a cup of warm jasmine tea”.

(“Hidup itu seperti segelas teh melati hangat)

Ketika saya renungkan, saat saya ingin mendapatkan segelas teh melati yang nikmat, hangat, dan lezat, saya memiliki dua pilihan. Pilihan pertama: saya bisa menggunakan kemasan teh melati dalam kemasan celup. Pilihan kedua: saya bisa menggunakan teh melati dalam bentuk daun tehnya.

Pilihan pertama (gunakan teh melati kemasan celup) tentu saja sangat praktis. Saya tidak perlu lagi menyaring daun tehnya. Tinggal seduh. Celup. Tunggu sebentar. Jadi. Instan. Cepat. Praktis. Mudah.

Pilihan kedua (gunakan teh melati dalam bentuk daun tehnya) tentu saja sangat tidak praktis. Saya harus menyaring daun tehnya atau kalaupun tidak, saat meminumnya saya harus hirup perlahan-lahan. Maksudnya supaya teh melati itu tidak termakan tentunya :D. Tidak instan. Repot. Perlu usaha lebih.

Kalau hanya melihat dari usahanya, untuk mendapatkan segelas teh melati hangat tentu saja saya bisa memilih pilihan pertama atau kedua. Toh akhirnya saya sama-sama dapat teh melati hangat juga.

Hanya saja, kalau saya ingin teh melati yang hangat, nikmat, dan lezat seperti yang saya inginkan, pilihan saya tidak lain dan tidak bukan adalah pilihan kedua.

Karena hidup ini seperti segelas teh melati yang hangat, saya juga memiliki pilihan dalam hidup. Apakah saya ingin memilih jalan yang instan? Mudah? Cepat? Praktis? Ataukah saya ingin memilih jalan kedua: tidak instan, repot, perlu usaha lebih.

Kalau hanya segelas teh melati hangat saja, saya ingin teh melati yang hangat, nikmat, dan lezat; apalagi dengan hidup saya.

Saya berpikir bahwa ketika saya ingin sebuah hidup yang memang sungguh diperkenan oleh Tuhan, saya harus mengalami proses peningkatan (improvement) dan pengembangan (development). Dalam prosesnya juga ada 2 jalan: Jalan pertama adalah jalan yang mudah, cepat, praktis. Jalan kedua adalah jalan yang tidak instan, repot, perlu usaha lebih.

Dalam menghadapi kedua pilihan ini, mana yang harus saya pilih? Pada saat dihadapkan pada pilihan mudah, instan, dan cepat tapi hasilnya tidak optimal dengan pilihan tidak instan, repot, dan perlu usaha lebih tapi hasilnya optimal, mana pilihan yang harus saya ambil? Kalau saya ingin teh hangat, nikmat, dan lezat saya harus ambil pilihan kedua. Begitu juga dalam hidup, saya harus ambil pilihan kedua.

Saya yakin hal ini adalah hal yang bisa jadi dialami oleh teman-teman semua. Jadi bukan hanya saya saja. Saya percaya bahwa dalam hidup kita mendapatkan kedua pilihan ini.

Kalau ada dari teman-teman yang sedang mengalami seperti yang sedang saya alami, kira-kira apa pilihan teman-teman semuanya? Saya yakin teman-teman bisa memilih sendiri pilihan yang terbaik bagi teman-teman.

Doa saya hari ini:

Terima kasih, Tuhan, untuk segelas teh melati hangat, lezat, dan nikmat yang Tuhan berikan. Seperti saya suka teh semacam itu, saya juga suka hidup yang semacam itu. Biarlah saya bertekun dalam pilihan kedua ya, Tuhan, karena saya tau ini yang Tuhan mau saya kerjakan.

Bagi teman-temanku yang membaca artikel ini, Tuhan Engkau juga yang tau hal yang terbaik bagi mereka. Kiranya kalau ada dari mereka yang saat ini juga mengalami hal yang sama seperti yang saya alami, biarlah Tuhan yang tuntun mereka sendiri untuk memilih hal yang paling tepat.

Terima kasih, Yesus, buat kasih-Mu yang tak berkesudahan, selalu baru setiap hari. Kasih-Mu yang tak pernah gagal. Kasih-Mu itu memampukan kami untuk terus berjalan hari lepas hari dan tidak menjadi letih. Tidak menjadi kendor. Tidak menjadi lesu. Tetap kuat! Tetap segar! Tetap semangat!

“Tetapi orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN mendapat kekuatan baru: mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya; mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah.” (Yesaya 40:31)

Apapun yang terjadi dalam hidup kami, biar kami tetap teguh berjalan sesuai kehendak-Mu. Karena kami tau, kehendak-Mu itu adalah yang terbaik bagi kami.

Terima kasih, Tuhan Yesus. Ya, Roh Kudus, berbicaralah terus bagi kami, ubahkan hati kami, dan buat kami menjadi baru. Biarlah lewat hidup kami, nama-Mu akan dipermuliaan.

Segala hormat, pujian, kemuliaan, hanyalah bagi nama Tuhan. Sebab Engkau yang layak, sangat layak, untuk dapatkan semuanya itu.

Amin.

Pembunuhan Setiap Hari

Tiga minggu yang lalu saya menonton film Solomon Kane. Dua minggu lalu saya menonton film Ghostwriter. Minggu lalu saya menonton film The Expendable. Minggu ini juga saya menonton film The Book of Eli. Tujuan saya menuliskan empat judul film ini bukan karena saya mau pamer bahwa saya menonton film tiap minggu hahahaha.

Jadi begini. Dari empat film yang saya tonton, unsur kekerasannya mulai dari cukup sampai sangat tinggi. Tingkat kekerasan yang cukup tinggi adalah film Ghostwriter, sementara tingkat kekerasan yang sangat tinggi (bahkan menurut saya ekstrim) adalah tiga film sisanya. Tiga film ini membuat saya bahkan nyaris menutup mata di banyak adegan. Seingat saya untuk film Solomon Kane mungkin sekitar sepanjang ½ film saya menutup mata. Sementara untuk The Expendable bahkan lebih mengerikan lagi. Mungkin 2/3 film saya menutup mata. The Book of Eli tidak separah itu, tapi mungkin 1/3 film saya menutup mata.

Saya sempat berpikir begini:

“Kenapa bisa-bisanya 4 kali menonton film semuanya berturut-turut kog kekerasan semua unsur yang dominannya?”

Saya sempat bingung dan frustasi menonton film-film tersebut. Yah, walau jelas saya menemukan pesan-pesan moral di sana sini, baik dalam kadar relatif sedikit maupun banyak. Setiap akan menonton film, saya pasti menyempatkan diri membaca resensinya terlebih dahulu. Jadi biasanya, saya menonton film yang relatif dapat diterima oleh selera saya.

Saya sempat heran juga. Saya sempat berpikir jangan-jangan kemampuan saya memprediksikan suatu film menarik atau tidak sudah menurun drastis. Namun ketika kemarin menonton The Book of Eli, saya tiba-tiba mendapat suatu pemikiran lain. Kekerasan dan pembunuhan yang ditampilkan di film-film mungkin merupakan suatu adegan semata. Bagaimana dengan di dunia nyata?

Saya tidak ingin membahas mengenai pembunuhan secara fisik, walau jelas hal itupun terjadi di dunia nyata. Saya sedang memikirkan pembunuhan secara mental. Berapa banyak orang yang terbunuh mentalnya setiap hari?

Ada pepatah atau komentar populer demikian,

“Fitnah lebih kejam dari pembunuhan.”

Kalau mau dipikir-pikir pembunuhan secara mental memang lebih kejam dibandingkan pembunuhan secara fisik. Pembunuh secara fisik hukuman penjaranya sangat berat, sementara pembunuh secara mental kelihatannya tidak mendapatkan hukuman penjara apapun.

Hari ini saya melihat di twitter saya ada yang mengirimkan ulang (re-tweet) kutipan yang saya re-tweet dari Ziglar Quote. Bunyi kutipannya adalah sebagai berikut:

“Far too many people have no idea of what they can do because all they have been told is what they can’t”.

Kutipan tersebut terjemahannya adalah sebagai berikut:

“Begitu banyak orang tidak memiliki gagasan mengenai hal yang mereka dapat lakukan karena mereka selalu diberitahu mengenai hal yang tidak dapat mereka lakukan”.

Inilah bentuk pembunuhan yang paling popular abad ini: pembunuhan mental, membuat orang menjadi kerdil secara jiwa. Sayangnya pembunuhan jenis ini tidak disadari oleh pelakunya, namun berakibat sangat dahsyat bagi korbannya.

Begitu banyak anak tertolak karena pembunuhan mental yang dilakukan oleh orang tuanya. Begitu banyak pekerja yang tidak bisa berkembang karena pembunuhan mental yang dilakukan oleh sejawat dan atasannya. Begitu banyak pemimpin yang stagnan bahkan mengalami kemunduran karena mengalami pembunuhan mental oleh orang-orang yang dipimpinnya.

Pembunuhan setiap hari. Hal tersebut mungkin luput dari pandangan kita, namun hal itu terjadi setiap hari, setiap jam, setiap menit, bahkan setiap detik. Pembunuh-pembunuh berkeliaran dengan bebas, bahkan mungkin pembunuh itu saya atau Anda. Lewat perbuatan atau perkataan yang tidak kita maksudkan untuk melukai, tetapi ternyata merusak dan menghancurkan orang lain. Lebih-lebih lagi kalau memang kita bermaksud secara sengaja untuk hal tersebut.

Pembunuhan setiap hari. Pembunuh secara mental merupakan hasil dari yang ada di dalam jiwanya. Seseorang yang mengalami luka akan melukai orang lain. Itu sudah merupakan suatu sebab akibat yang nyata. Pembunuh secara mental adalah orang-orang yang luka, orang-orang yang tanpa sadar menyimpan sakit dalam diri sehingga pada akhirnya melampiaskannya pada orang lain, baik sadar maupun tidak sadar.

Hanya kesadaran dalam diri orang tersebutlah bahwa ia mengalami luka dan perlu disembuhkanlah yang dapat membuat orang tersebut berhenti menjadi pembunuh. Kesembuhan sejati hanya dapat diperoleh lewat terang Tuhan, walaupun caranya bisa melalui manusia. Pada akhirnya, kasihlah yang akan dapat menyembuhkan para pembunuh mental ini: kasih dari sesama manusia dan terutama kasih Tuhan.

Semoga kita semua bukanlah menjadi sang pembunuh itu. Kalaupun kita merupakan pembunuh-pembunuh itu, biarlah kasih dari sesama kita dan terutama dari Sang Kasih itu sendiri yang akan menyapa dan menyembuhkan kita.

Amin.

Penuntut

Hari ini saya akan membahas mengenai penuntut. Penuntut adalah orang yang memiliki kebiasaan menuntut. Ketika saya mencari kata ini di Alkitab, ternyata pada umumnya berkaitan erat dengan menuntut balas dan menuntut darah. Mengerikan ya.

Mungkin dalam kehidupan sehari-hari kita tidak melakukan hal itu, tetapi masih banyak bentuk menuntut yang biasa kita lakukan. Contohnya adalah:

Matius 12:39: Tetapi jawab-Nya kepada mereka: “Angkatan yang jahat dan tidak setia ini menuntut suatu tanda. Tetapi kepada mereka tidak akan diberikan tanda selain tanda nabi Yunus.

Hal yang menarik di sana adalah sebelumnya Tuhan Yesus baru saja memberikan suatu tanda mujizat, yaitu menyembuhkan orang kusta. Tuhan Yesus bisa saja memberikan tanda lain ketika ahli Farisi dan orang Taurat meminta hal itu. Namun Tuhan Yesus tidak memberikannya, bukan karena tidak mampu tapi karena Ia mengerti hal yang ada dalam hati mereka.

Hal yang menarik lagi adalah ketika Tuhan Yesus akhirnya ditangkap dan diajukan ke sidang agama.

Lukas 23:23: Tetapi dengan berteriak mereka mendesak dan menuntut, supaya Ia disalibkan, dan akhirnya mereka menang dengan teriak mereka.

Orang-orang mendesak dan menuntut supaya Tuhan Yesus disalibkan. Permasalahannya adalah sesungguhnya mereka tidak tahu yang mereka tuntut itu adalah hal yang jahat. Karena rakyat terus-menerus menuntut, akhirnya Pilatus pun menyerah dan memberikan kepada rakyat yang mereka inginkan: penyaliban Yesus.

Menuntut dalam  hal ini adalah bentuk dari berkeras yang negatif. Hal ini sudah pernah kita bahas dalam “Putus Asa, Berkeras, dan Berserah (Trilogi-2)”. Bayangkan dalam suatu rumah tangga: sang suami menuntut sang istri menjadi seperti yang ia inginkan, sang istri menuntus suami menjadi seperti yang ia inginkan.

Belum cukup itu saja, juga anak-anak dituntut menjadi seperti yang orang tua inginkan. Orang tua juga dituntut untuk menjadi seperti yang anak-anak inginkan. Apa yang terjadi?

Jadilah sebuah lingkaran yang tak pernah berakhir. Bagaimana caranya memutus lingkaran tersebut?

Matius 7:12: Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka. Itulah isi seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.

Itulah kuncinya. Saya jadi teringat satu film yang beberapa waktu lalu baru saya tonton. Judul film tersebut adalah “Fireproof”. Mengisahkan tentang sepasang suami istri yang menikah sudah cukup lama. Sang suami (Caleb) adalah seorang petugas pemadam kebakaran. Sementara sang istri (Catherine) adalah seorang staff di rumah sakit.

Mengalami pernikahan yang buruk karena memiliki suami yang hanya memikirkan kesenangan diri sendiri dan terikat pornografi, Catherine merasa putus asa sampai akhirnya menuntut untuk bercerai. Ketika Caleb mendengar tuntutan Catherine, Caleb sudah ingin menyerah, tetapi untungnya kedua orang tua Caleb memberikan dorongan dan mendoakan Caleb.

Ayah Caleb lalu memberikan suatu tantangan kepada Caleb. Tantangan itu terdiri dari 40 hari yang mengharuskan Caleb melakukan sesuatu untuk Catherine. Hal yang menarik adalah ketika Catherine tidak tergerak sama sekali dan Caleb sudah putus asa ingin menyerah, ternyata ayah Caleb menuntunnya untuk menerima Kasih yang tak terbatas, kasih Kristus.
Sejak itu, Caleb walaupun tidak melihat suatu perubahan pun dalam diri Catherine tetap berusaha dan tidak putus asa. Catherine masih tetap ingin bercerai apalagi ada seorang dokter yang mendekatinya. Hal yang menarik adalah ketika Caleb akhirnya merelakan tabungannya untuk membeli kapal layar dan memberikan uang itu untuk membeli kursi roda untuk ibu Catherine.

Lebih menarik lagi hal ini dilakukannya dengan diam-diam. Catherine yang tidak mengetahui hal itu mengira bahwa yang memberikan uang adalah sang dokter yang sedang mendekatinya. Betapa terkejutnya ia ketika tahu bahwa Caleblah yang membayar itu semua.

Ini merupakan suatu bukti nyata perwujudan Matius 7:12. Saat kita memberikan kasih dan pengertian kita, saat itulah kita akan lepas dari menuntut orang lain untuk menjadi seperti yang kita inginkan.

Amin.

Violent Anger

Hari ini saya akan membahas satu tipe lain dari marah, yaitu violent angry atau marah yang meledak. Jadi ini tipe marah yang berkebalikan dari yang sudah kita bahas kemarin.

Sebelum membahas hal ini, saya ingin membagikan satu hal. Saya benar-benar tidak pernah habis terkagum-kagum akan kerja Tuhan yang tidak pernah kebetulan. Rencana dan rancangan-Nya itu sempurna sekali dan sangat tepat waktu. Mungkin Anda bingung mengapa tiba-tiba saya mengetengahkan hal itu?

Ini ada kaitannya dengan satu film yang saya tonton di bisokop pada hari ini. Saya yakin ini bukan kebetulan. Sebetulnya ketika saya melihat dari website 21cineplex.com, saya tertarik dengan film “The Proposal” karena melihat resensi ceritanya kelihatannya menarik. Tetapi saya melihat di website tersebut juga ada film berjudul “Burn after Reading”.

Ketika saya melihat mengenai resensi “Burn after Reading” saya lihat sekilas rasanya biasa saja, tapi saya lihat genre-nya adalah drama/komedi. Jadi ketika saya datang ke bioskop saya memutuskan ingin menonton “The Proposal” dulu. Ternyata sayangnya belum ada yang membeli tiket itu. Sigh. Saya yakin kalau saya sudah menonton “The Proposal” saya pasti tidak akan menonton “Burn after Reading”.

Jadi, daripada menunggu 2 jam dan tidak melakukan apa-apa, saya akhirnya memutuskan menonton “Burn After Reading” karena saya lihat di posternya pemainnya George Clooney dan Brad Pitt, lalu ada tulisan “Intellegence is Relative”.

Wah saya pikir ini pasti menarik. Apalagi di poster itu juga ada tulisan mengenai dinominasikannya film ini untuk dua kategori Golden Globe, yaitu untuk gambar terbaik dan aktris terbaik.

Ternyata oh ternyata, untuk pertama kalinya saya menguap beberapa kali selama menonton film tersebut. Saya tidak menemukan aspek lucu dalam film ini sama sekali. Sebaliknya film ini penuh dengan perselingkuhan, makian, dan amarah yang meledak.

Salah satu adegan mengerikan dari film ini adalah ketika Osborne Cox seorang mantan agen CIA menemukan bahwa istrinya mengambil seluruh uangnya dan kemudian menemukan seseorang sedang berada dalam rumahnya, Cox dalam amarah memuncak menembak orang tersebut. Astaga! Ketika orang itu berlari ke luar rumah, Cox mengejarnya dengan kapak….. dan …… menancapkan kapak itu berkali-kali kepada orang tersebut.

Saya serasa menonton film thriller saja. Sungguh-sungguh film dengan durasi 1,5 jam yang paling buruk yang pernah saya tonton. Jika ada nominasi untuk film terburuk, saya akan daftarkan film ini di nomor 1.

Bahkan George Clooney dan Brad Pitt yang saya sukai akting dan penampilannya di Ocean 11 dan Ocean 13 (untuk Ocean 12 tidak menarik), tidak sanggup membuat saya merasa tertarik sedikitpun di film ini. Benar-benar saya bingung sekali kog bisa-bisanya film ini meraih 2 nominasi Golden Globe Award.

Sungguh-sungguh film yang sangat mengecewakan. Untungnya hanya 1,5 jam dan itupun saya selalu menunggu-nunggu akan adanya sesuatu yang menarik. Tapi ternyata, nada! Tidak ada! Nihil!

Saya juga tidak mengerti mengapa orang yang ada di depan saya terus melirik ke arah belakang. Mungkin dia juga tidak menikmati film tersebut. Ketika film selesai, saya mendengus keras dan beranjak dan orang ini juga memperhatikan saya hahaha. Entahlah, saya juga tidak tahu mengapa orang ini memperhatikan saya. Hal yang pasti, saya “Burn after Watching” wakakakkaak. Benar-benar sebal sekali menonton film ini.

Setidaknya walaupun kecewa, tetapi saya jadi bisa menuliskan satu contoh yang sangat ekstrim tentang violent anger hahahaha. Mau contoh lain? Banyak di televisi kita. Cukup buka acara “Buser”, “Sergap”, “Patroli”, dan yang lain-lain itu.

Ada banyak contoh kemarahan yang meledak dan menjadi suatu bentuk kejahatan. Tepatlah ayat di Mazmur 37:8 berikut ini:

Mazmur 37:8: Berhentilah marah dan tinggalkanlah panas hati itu, jangan marah, itu hanya membawa kepada kejahatan.

Hal yang mengerikan mengenai meledaknya amarah di Alkitab adalah ketika Tuhan Yesus menyembuhkan orang lumpuh pada Hari Sabat (Lukas 6:6-11). Padahal dalam adat istiadat Yahudi, Hari Sabat adalah hari untuk Tuhan, jadi tidak boleh melakukan kegiatan apapun.

Mengapa Tuhan Yesus seolah-olah tidak menghiraukan mengenai aturan tersebut? Padahal Tuhan Yesus itu tahu dengan benar adanya aturan tersebut. Jawabannya adalah di Matius 12:7-8.

Matius 12:7-8: Jika memang kamu mengerti maksud firman ini: Yang Kuhendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, tentu kamu tidak menghukum orang yang tidak bersalah. Karena Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat.

Maksud dari ayat di Matius 12:7-8 bukan berarti Tuhan Yesus tidak menghormati peraturan agama, tetapi di atas itu Tuhan Yesus melihat esensi yang lebih penting, yaitu kasih. Akan tetapi hal ini dipandang ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi sebagai suatu kejahatan.
Lalu apa yang terjadi?

Lukas 6:11: Maka meluaplah amarah mereka, lalu mereka berunding, apakah yang akan mereka lakukan terhadap Yesus.

Inilah kemarahan yang meledak. Amarah yang meledak tidak selalu berbentuk memaki, mengutuk, melemparkan barang-barang, menghancurkan barang-barang, meninju dinding, tembok, atau apapun yang bisa ditinju, tetapi juga menyalurkannya dalam bentuk kejahatan.

Di kehidupan sehari-hari juga banyak sekali contoh yang bisa diangkat. Mungkin tidak seekstrim yang saya sudah sebutkan, tetapi kemarahan yang meledak sudah pasti akan menyebabkan satu hal, yaitu sakit hati bagi yang menerima kemarahan itu.

Dari sakit hati, bisa menimbulkan luka, hubungan yang retak, sampai ke kepahitan, bahkan lebih parah lagi sampai dendam dan ingin membalas dendam, ujungnya terjadi kejahatan. Sigh. Oleh karena itu, kita jangan pernah meremehkan sesuatu yang kecil, karena biasanya dari hal kecil itulah segala sesuatu bermula.

Lalu bagaimana untuk mengatasinya? Pengendalian diri: belajar untuk sabar.

Amsal 14:29: Orang yang sabar besar pengertiannya, tetapi siapa cepat marah membesarkan kebodohan.

Memang kalau ingin menjadi orang sabar itu tidak mudah ya. Kemarin salah seorang teman baru mengirimkan email untuk bercerita mengenai permasalahan yang dialaminya. Ternyata memang ia sedang dilatih untuk bersabar.

Hal yang menarik adalah ketika saya selesai mengomentari emailnya, dia kemudian menyetujui karena katanya ia pada pagi harinya berdoa meminta kesabaran. Lihat: dalam Tuhan memang tidak ada kebetulan! Hahahaha.

Hal yang lebih menarik lagi, mulai dari film, lalu email, semua itu berhubungan sekali dengan topik ini. Ah, how wonderful You are Lord. Benar-benar semakin hari saya semakin terkagum-kagum akan perbuatan tangan-Nya.

Mendiamkan ketika marah tidak baik. Marah yang meledak-ledak juga mengerikan. Jadi apakah kita boleh marah? Marah itu boleh asal terkendali, tidak asal mencari sasaran untuk korban kemarahan kita (baik mendiamkan atau meledak), dan yang diutamakan (paling penting) adalah bukan untuk mengeluarkan amarah tapi untuk membereskan persoalan.

Mengeluarkan amarah itu juga penting, tapi tetap perlu dalam batas-batas yang tidak merugikan orang lain maupun diri sendiri. Contoh mengeluarkan amarah yang aman: bercerita pada orang lain, menuliskan hal tersebut, atau menyalurkan energi amarah tersebut pada kegiatan-kegiatan yang membutuhkan banyak energi seperti misalnya olahraga.

Mari kita semua belajar untuk lebih sabar lagi dari hari ke hari.

Amin.

Bohong Putih

Saya akan memulai pembahasan hari ini dengan tidak bosan-bosannya mengatakan:

“Tidak ada kebetulan dalam Tuhan.”

Saya sudah merencanakan topik bulan ini pada saat liburan yang lalu (Bulan Juni – Juli lalu). Jadi pada awal Agustus topik bulan ini sudah siap beserta topik per harinya, walaupun pada 2 atau 3 hari awal saya masih sempat mengatur-atur sejumlah topik agar lebih representatif.

Sungguh bukan kebetulan topik hari ini adalah mengenai “Bohong Putih” atau yang biasa disebut sebagai “White Lies” atau istilahnya adalah “Berbohong demi Kebaikan”. Lalu apa kaitan topik hari ini dengan pernyataan saya di awal tadi? Karena hari ini kotbah di gereja saya adalah mengenai Roh Kudus sebagai Roh Kebenaran. Wow, God is so amazing! (Wow, Tuhan itu begitu luar biasa menakjubkan!)

Saya begitu Pak Pendeta, yang merupakan pendeta tamu namun sudah beberapa kali berkotbah juga pada kesempatan-kesempatan sebelumnya di gereja saya, menyampaikan tema kotbah hari ini, saya sungguh terperangah. Ya, topik yang sama dengan rencana topik saya saat ini. Walaupun “Bohong Putih” merupakan sub topik, ini masih dalam kerangka yang sama. Benar-benar luar biasa!

Saya akan membagikan sedikit dari yang saya peroleh tadi pagi. Tidak ada manusia yang benar. Semua manusia adalah berdosa. Satupun tak ada manusia yang benar.

1 Yohanes 1:8: Jika kita berkata, bahwa kita tidak berdosa, maka kita menipu diri kita sendiri dan kebenaran tidak ada di dalam kita.

Semua orang berdosa. Oleh karena itu semua orang butuh Yesus Kristus. Jika ada satu manusia yang tidak berdosa, maka ia tidak butuh Tuhan Yesus. Namun semua manusia berdosa, sehingga semua manusia butuh Tuhan Yesus.

Yohanes 14:6: Kata Yesus kepadanya: “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.

Ialah satu-satunya cara untuk bisa sampai kepada Allah Bapa. Tanpa melalui Kristus, tidak ada satupun yang bisa sampai kepada Bapa. Tuhan Yesus bukan hanya menebus dosa kita, tapi juga memberikan kita Penolong, yaitu Roh Kudus, Roh Allah sendiri, yaitu Roh Kebenaran itu.

Yohanes 16:8: Dan kalau Ia datang, Ia akan menginsafkan dunia akan dosa, kebenaran dan penghakiman;

Yohanes 16:9: akan dosa, karena mereka tetap tidak percaya kepada-Ku;

Yohanes 16:10: akan kebenaran, karena Aku pergi kepada Bapa dan kamu tidak melihat Aku lagi;

Yohanes 16:11: akan penghakiman, karena penguasa dunia ini telah dihukum.

Yohanes 16:12: Masih banyak hal yang harus Kukatakan kepadamu, tetapi sekarang kamu belum dapat menanggungnya.

Yohanes 16:13: Tetapi apabila Ia datang, yaitu Roh Kebenaran, Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran; sebab Ia tidak akan berkata-kata dari diri-Nya sendiri, tetapi segala sesuatu yang didengar-Nya itulah yang akan dikatakan-Nya dan Ia akan memberitakan kepadamu hal-hal yang akan datang.

Jika Kristus tidak mati untuk menebus dosa kita, betapa kita semua akan berjalan menuju kehancuran karena upah dosa adalah maut. Jika Kristus tidak bangkit pada hari ketiga, betapa malang kita yang percaya kepada-Nya, karena iman kita berarti iman yang mati. Syukur kepada Allah, Kristus mati bagi kita, bangkit pada hari ketiga mengalahkan maut.

Ya, sesuatu yang tidak ada seorangpun yang dapat melakukannya: bangkit dari maut dengan sendirinya. Ya, ada banyak mujizat saat orang mati didoakan ternyata bisa bangkit kembali, namun tidak ada orang mati yang bangkit dari maut dengan sendirinya kecuali Kristus.
Bahkan begitu cinta-Nya Kristus kepada kita manusia sampai-sampai Ia sebelum kembali ke Surga, Ia menjanjikan kepada kita Penolong: Roh Kudus, Roh-Nya sendiri, Roh Allah sendiri dan sesudah Ia kembali ke Surga, Roh Kudus itulah yang memimpin hidup kita dalam seluruh kebenaran.

Kita yang adalah orang berdosa ditebus dosanya sehingga tidak lagi mendapatkan upah maut akibat dosa kita. Tidak cukup hanya itu, Ia memberikan Roh Kebenaran dalam diri setiap kita untuk memimpin setiap kita hidup dalam kebenaran.

Dari sini saya akan mengaitkan pada topik hari ini. Apakah bohong putih itu dibenarkan? Bukankan segala sesuatu kembali dari hati?

Benar, segala sesuatu kembali pada motivasi kita, akan tetapi firman Tuhan bukan hanya mengenai masalah motivasi hati kita, tapi juga cara kita untuk tetap hidup dalam kebenaran.

Matius 5:37: Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat.

Dengan tegas di Matius 5:37 dibahas bahwa tidak ada kebohongan putih atau hitam atau abu-abu. Bohong adalah bohong. Ya adalah ya, tidak adalah tidak. Masih ingat cerita saya tentang Simon Cowell yang telah saya bahas dalam “Cerita Perjalanan Bagian-8 (29 – 30 Juni 2009)”?

Saat saya menonton Britain’s Got Talent, saya harus mengakui bahwa banyak orang tidak siap untuk mendengar kebenaran. Ya, banyak orang yang memang sama sekali tidak memiliki bakat menyanyi atau menari, namun yang bersangkutan tidak menyadarinya dan ketika dikatakan bahwa dirinya tidak berbakat dalam dua bidang tersebut malah menjadi marah dan tidak terima.

Kita tidak perlu menjadi berlidah tajam seperti Simon Cowell tentu saja. Kejujuran tidak identik dengan kekasaran. Ada satu kalimat yang diucapkan oleh seorang kawan saya sekian tahun yang lalu.

“Kejujuran terkadang memang pahit tapi buahnya manis.”

Berapa banyak orang yang lebih senang mendengar pujian dan sanjungan daripada kritik? Berapa banyak orang yang lebih senang di-‘jilat’ dan dipuja daripada diberikan masukan yang terus terang?

Amsal 28:23: Siapa menegur orang akan kemudian lebih disayangi dari pada orang yang menjilat.

Terbukti memang Simon Cowell memperoleh reputasi sebagai seseorang yang berintegritas. Bahkan saya perhatikan para kontestan dari sejumlah talent show yang saya tonton dengan Simon Cowell sebagai jurinya, tampak begitu menunggu komentar dari Simon Cowell dibandingkan komentar dari juri lain.

Lalu bagaimana jika kita telah terbiasa mengucap dusta? Entah itu bohong putih, bohong hitam, bohong abu-abu, bohong merah, bohong biru, dan sebagainya ahahhahaa, intinya segala macam bohong. Bagaimana kita mengatasinya?

1 Yohanes 1:9: Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan.

Jika kita mau bertobat, tidak ada kata tidak mungkin. Ya, saat kita bertobat sungguh-sungguh, maka Tuhan akan mengampuni kita. Memang tetap konsekuensi dosa itu tetap ada. Orang yang kita bohongi tidak serta-merta langsung menjadi percaya kepada kita. Butuh waktu untuk mempercayai kembali dan tidak langsung kita peroleh begitu kita bertobat.

Integritas perlu dibangun. Kejujuran yang menjadi faktor utama integritas itu perlu dibentuk. Untuk membentuk suatu kebiasaan jelas tidak instan. Dibutuhkan proses yang cukup lama untuk menghasilkan emas murni. Begitu pula diperlukan proses yang cukup lama untuk menghasilkan manusia yang berintegritas. Selain lewat waktu, kejujuran dibangun lewat masalah dan ujian.

Bagaimana jika kita sudah terlanjur terbiasa mengucapkan bohong putih? Ya kita misalnya berniat baik, tapi lidah sudah terbiasa berbohong entah karena tidak enak dengan orang atau tidak mau menyakiti orang. Kejujuran tidak selalu menyakiti. Itu hanya masalah perspektif seseorang saja.

Untuk mengganti suatu kebiasaan buruk, ada baiknya menggantinya dengan suatu kebiasaan baik. Karena kejujuran ini berkaitan dengan lidah dan mulut, maka saya mengusulkan mengganti kebiasaan berbohong putih ini dengan kebiasaan yang berkaitan dengan lidah dan mulut juga, yaitu mengucapkan firman Tuhan dan setiap janji-Nya dalam Alkitab bagi kita.

Keuntungannya banyak. Selain kita bisa menggantikan kebiasaan berbohong putih, menjadi berkata jujur, juga kita dibangun dengan pengucapan firman Tuhan dan janji-Nya bagi kita.

Roma 10:17: Jadi, iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus.

Jadi, siap berkata-kata jujur?

Amin.

Cerita Perjalanan Bagian-17 (13 Juli 2009) & Hari Istirahat (14 Juli 2009)

Hari ini merupakan hari terakhir pembahasan cerita perjalanan saya bersama keluarga, yaitu cerita perjalanan tanggal 13 Juli 2009 dan hari istirahat pada tanggal 14 Juli 2009. Sebelum saya menceritakan cerita perjalanan tanggal 13 Juli 2009 dan hari istirahat pada tanggal 14 Juli 2009, saya terlebih dahulu akan menceritakan ringkasan cerita film ketiga yang saya tonton.

Film ketiga: The Reader.

Sutradara: Stephen Daldry.

Pemeran: Ralph Fiennes, Kate Winslet, David Kross

Durasi film: 124 menit.

Film ini sebenarnya saya awalnya tidak berniat menontonnya, akan tetapi saya sering melihat iklannya terpasang di dinding stasiun metro dan saya jadi penasaran karenanya. Apalagi waktu saya membaca di petunjuk film yang ada dalam buku petunjuk bahwa film ini meraih penghargaan Academy Award.

Selain itu, pemeran-pemeran terkenal yang biasa membintangi film bermutu juga turut andil membuat saya jadi ingin tahu mengenai jalan cerita film ini. Setelah hasil search di http://www.cnn.com/2009/SHOWBIZ/Movies/02/22/oscar.nominees.full.list/index.html ternyata memang Kate Winslet menyabet penghargaan aktris terbaik berkat aktingnya di film ini. Film ini juga ternyata dinominasikan untuk gambar terbaik, sutradara terbaik, adaptasi cerita, sinematografi; akan tetapi ternyata masih kalah oleh film lain.

Film dimulai dengan setting cerita adalah di Neudstadt, Jerman Barat pada tahun 1958. Dikisahkan Michael (saat itu berumur 15 tahun) terkena penyakit demam Scarlet. Lalu ada seorang wanita bernama Hana yang menolongnya.

Karena merasa sangat berterima kasih, Michael sering mendatangi rumah Hana. Singkat cerita terjadilah affair antara Michael dan Hana. Padahal saat itu Hana berusia 36 tahun. Akibat affair ini, terjadi perubahan drastis dalam diri Michael. Dari seorang anak yang jujur dan baik, Michael berubah menjadi anak yang suka berbohong.

Hal yang menarik dalam film ini, ternyata di rumah Michael terdapat suatu peraturan bahwa semua harus berkumpul untuk makan malam. Saya perhatikan bahwa ayah Michael tipe yang diktator dan suka menuduh. Ternyata ini berperan besar dalam membuat Michael semakin terpikat pada Hana.

Hal yang sangat aneh adalah Hana sangat senang diceritakan kisah dari buku-buku. Michael sekolah di jurusan sastra dan ternyata memang pandai membacakan cerita dalam buku-buku. Hana meminta syarat kepada Michael bahwa untuk (maaf) berhubungan seksual dengan Hana, Michael harus membacakannya buku terlebih dahulu.

Sebenarnya saya agak heran awalnya. Saya berpikir mengapa film ini bisa mendapat Piala Oscar? Karena saya lihat film ini penuh dengan kebobrokan moral. Mengerikan sekali seorang wanita yang lebih tua 21 tahun dari seorang anak laki-laki ternyata merusak kepolosan dan masa muda anak itu.

Saya sudah hampir mematikan TV di pesawat tetapi kemudian saya coba untuk mempercepat cerita film dan ternyata kisah awal tadi hanya sekedar bumbu saja. Inti cerita bukan di sana. Jadi saya putuskan untuk terus menonton.

Hana lalu menghilang dan berakhirlah affair pada musim panas itu. Cerita kemudian melompat ke tahun 1966 dengan setting di Heidelberg Law School. Saat itu Michael berusia 23 tahun dan sedang kuliah di jurusan hukum.

Ketika sedang berjalan-jalan bersama teman-temannya, Michael melihat terdapat begitu banyak orang berkumpul dan banyak polisi juga berdatangan. Ternyata terdapat demonstrasi anti Nazi. Saat itu sedang ada suatu persidangan untuk mengadili pelaku kejahatan perang.

Ternyata, sangat membuat kaget Michael, salah satu tersangkanya adalah Hana yang saat itu berusia 43 tahun. Hana ternyata menyimpan rahasia di masa lalunya sebelum dia bertemu dengan Michael. Dulu ia merupakan penjaga di kamp para wanita Yahudi yang ditahan Nazi.

Hal yang tragis dikisahkan dalam persidangan bahwa terdapat 8000 orang wanita yang bekerja di Auschwitcz (kamp Nazi) dan ternyata setiap bulan setiap penjaga memilih 10 orang wanita untuk dibunuh. Hana juga termasuk di dalamnya yang memilih 10 orang wanita tersebut.

Hal ini diakui Hana dengan terus terang dengan alasan bahwa kalau tidak ada wanita yang dibunuh maka tidak akan ada tempat untuk wanita-wanita baru yang datang. Hal yang sangat ironis terjadi ketika ada seorang korban yang selamat dari tragedi perang tersebut dan bersaksi di persidangan.

Sang korban bersaksi bahwa para tahanan mengira Hana berbeda dari semua penjaga lainnya karena Hana memilih wanita-wanita lemah dan sakit untuk membaca untuknya. Mereka mengira Hana seorang penjaga yang baik, akan tetapi ternyata Hana sama saja dengan penjaga yang lain. Karena pada akhirnya, 10 wanita yang dipilihnya akan dibunuh pula.

Hana juga menunjuk rekan-rekannya yang diajukan juga di persidangan sebagai yang menyetujui hal tersebut. Hal ini ternyata membuat rekan-rekannya membenci hana dan bersekongkol untuk menjatuhkan Hana.

Ada suatu peristiwa yang diungkapkan dalam persidangan oleh sang korban yang bersaksi, yaitu pada musim dingin di tahun 1944 kamp ditutup dan harus pindah. Pada malam hari mereka tiba di suatu gereja dan semua tahanan tidur di dalam gereja sedangkan para penjaga yang berjumlah 6 orang (termasuk Hana) mengambil rumah pendeta untuk menjadi tempat beristirahat mereka.

Ternyata malam itu terjadi penyerangan dan gereja tersebut terkena bom sehingga menyebabkan terjadi kebakaran. Para tahanan panik dan berusaha keluar namun apa daya karena pintu gereja dikunci dari luar oleh para penjaga. Akhirnya 300 tahanan yang masih ada tersebut mati semuanya terbakar hidup-hidup, hanya satu korban yang tertinggal itulah yang masih hidup.

Hana mengatakan bahwa mereka tidak mengetahui hal yang terjadi dan mengunci para tahanan untuk memastikan mereka tidak melarikan diri. Ketika laporan dari kejadian tersebut diajukan sebagai bukti, semua penjaga lain menyebutkan bahwa Hanalah yang menulis laporan tersebut. Padahal sesungguhnya bukan!

Mengapa demikian? Hana ternyata buta huruf. Jangankan untuk menulis, membaca pun ia tidak mampu. Hal inilah yang diketahui Michael dalam persidangan tersebut. Hana mengakui bahwa ia yang menulis laporan itu karena ia malu untuk mengakui kenyataan kebutahurufannya.

Seharusnya Michael dapat menyelamatkan Hana, namun ternyata sejumlah pertimbangan pribadi menghalangi Michael dan akhirnya Hana dijatuhi hukuman penjara seumur hidup sedangkan para penjaga lainnya hanya dijatuhi hukuman relatif ringan.

Lalu cerita melompat ke tahun 1976. Michael telah mempunyai seorang putri dari pernikahannya dengan Gertrud. Sayangnya Michael memutuskan untuk bercerai dengan Gertrud karena ternyata sekian lama waktu berlalu Michael mencintai Hana saja.

Michael karena merasa sangat bersalah pada Hana lalu merekam suaranya pada kaset dan mengirimkannya pada Hana. Begitu banyak kaset yang telah dikirimkan Michael sampai akhirnya Hana memutuskan untuk belajar membaca dan menulis sendiri.

Singkat cerita hubungan itu terus berlanjut sampai suatu hari Hana akan bebas dari tahanan karena memperoleh pengurangan hukuman. Michael sudah berjanji akan mencarikan Hana pekerjaan. Akan tetapi betapa Michael sangat terkejut karena pada hari kebebasannya, Hana memilih gantung diri dan meninggalkan Michael dengan wasiatnya untuk memberikan semua uangnya kepada sang korban yang selamat tersebut.

Ketika Michael menemui anak sang korban (karena sang korban sudah meninggal) dan mengutarakan maksud kedatangannya, anak sang korban menanyakan hubungan Michael dan Hana. Michael terpaksa menceritakan affair-nya dengan Hana pada saat ia remaja.

Anak sang korban menolak pemberian uang tersebut dan menyerahkan pada Michael mengatur untuk diapakan saja uang tersebut. Michael memutuskan untuk mendirikan yayasan untuk memberantas buta huruf dan menggunakan nama Hana sebagai pendirinya.

Pelajaran dari film “The Reader” adalah: pertama jangan pernah menunda untuk berbuat baik, apalagi jika itu bisa menyelamatkan hidup seseorang.

Yakobus 4:17: Jadi jika seorang tahu bagaimana ia harus berbuat baik, tetapi ia tidak melakukannya, ia berdosa.

Kedua adalah rasa bersalah yang tidak diselesaikan akan berpengaruh ke masa depan. Jangan pernah terikat dengan rasa bersalah. Rasa bersalah identik dengan kesalahan dan dosa di masa lalu. Untuk mengatasinya silakan dibaca di “For the Love of Myself”.

Cerita perjalanan tanggal 13 Juli 2009 adalah sebagai berikut: saat di dalam pesawat ternyata banyak sekali guncangan yang terjadi. Hal ini dikarenakan banyaknya awan tebal. Saya sampai sudah takut dan banyak berdoa. Sewaktu ada banyak goncangan, saya sempat berpikir mungkin inilah gunanya Ride “Indiana Jones and the Temple of Peril” di Disneyland, yaitu untuk menyiapkan mental selama guncangan di pesawat hahahaha.

Hal yang menarik adalah saat naik ride tersebut ketakutan saya luar biasa besarnya padahal ride itu masih ada dalam rel (lintasannya) sedangkan pesawat terbang tidak ada lintasannya, tapi saya merasa lebih takut ketika berada dalam ride.

Sewaktu guncangan mulai begitu sering, satu hal yang membuat saya sedikit tenang adalah sejumlah orang yang berbeda dan tidak saling mengenal memberikan sejumlah nubuatan yang saling mendukung antara isi satu nubuatan dengan nubuatan lainnya kepada saya pada waktu lalu. Nubuatan-nubuatan ini belum tergenapi sehingga saya pikir berarti saya belum akan pulang ke rumah Bapa.

Hal lain juga saya berpikir bahwa kalaupun saya mati, saya akan pulang ke rumah Bapa. Bukankah malah enak ya? Wakakakka. Yah, tapi saya saat itu tidak ingin mati dulu sih. Rasa-rasanya masih banyak hal yang harus saya kerjakan di dunia ini. Saya cukup yakin waktu saya belum tiba saat itu.

Akhirnya kami sampai Bandara Changi pukul 07.00. Seudah menanyakan info, kami masuk ke Gate E5 dan check in pukul 08.00. Kali ini tidak terlalu ramai seperti waktu dari Bandara Charles de Gaulle. Pukul 08.20 sudah di pesawat dan berangkat pukul 09.00.

Sayangnya makanan di pesawat sewaktu pulang tidak begitu enak. Mulai dari Paris ke Singapura dan dari Singapura ke Jakarta. Pelayanan dari Paris ke Singapura bahkan sangat buruk, sedangkan dari Singapura ke Jakarta cukup bagus.

Saya tidak mengerti, mengapa banyak orang yang kalau menghadapi orang asing (Eropa, Amerika) itu sepertinya sangat tunduk dan hormat sekali, padahal kalau menghadapi orang Asia itu sepertinya sangat seadanya? Padahal sama-sama bayarnya, sama-sama duduk di kelas yang sama. Heran oh heran saya. Apakah ini yang namanya mental orang yang biasa dijajah?

Hal ini sangat mengesalkan saya karena penumpang Eropa dan Amerika dilayani dengan sangat baik sedangkan kami dilayani dengan seolah-olah ogah-ogahan. Saya ini menilai tidak subyektif tapi memang kenyataannya yang terjadi seperti itu. Sangat mengecewakan!

Akhirnya kami sampai Jakarta pukul 09.50. Sampai Bandara Sukarno-Hatta ternyata kami harus mengisi lembar kuning. Itu ternyata berkaitan dengan Flu Babi yang marak beredar sekarang ini. Sesudah itu, kami menunggu bagasi agak lama. Saya berdebar-debar juga, karena takut ada gangguan.

Sebenarnya kakak saya sebelumnya sudah berpesan supaya kami membayar portir saja supaya semua lancar. Saya juga tidak mengerti karena saya diam saja sewaktu akan mengambil bagasi. Kakak saya juga mengatakan hal yang sama ke ayah saya, tapi ayah saya juga ternyata diam saja, tidak meminta portir untuk mengambil bagasi.

Tapi ternyata semua berjalan mulus lus lus. Puji Tuhan. Sama sekali tidak ada hambatan sedikitpun. Koper keluar semua dan tidak ada yang hilang. Sesudah semua koper keluar, kami harus lewat security untuk pemeriksaan akhir.

Ini membuat saya saya lebih berdebar-debar lagi karena saya melihat ada yang dibongkar tasnya. Sewaktu kami akan lewat kami diminta memasukkan hand carriage kami ke conveyor (ban berjalan) untuk pemeriksaan. Ternyata… puji Tuhan, tidak ada masalah sama sekali.

Mulus sekali! Begitu keluar, kami langsung mencari tempat bis untuk mengantar kami kembali ke Bandung. Pukul 10.40 kami selesai membeli tiket bis dan langsung masuk bis buat kembali ke Bandung.

Kami sampai Bandung sekitar pukul 14.00. Di jalan kami sudah menelpon saudara kami yang menjanjikan akan meminta supirnya menjemput kami. Puji Tuhan kami diberkati oleh saudara yang baik! Begitu sampai Bandung, kami dijemput dan diantar sampai rumah.

Begitu sampai rumah, sesudah istirahat sebentar lalu kami membongkar koper supaya cepat selesai. Luar biasa capeknya, sehingga pukul 19.00 saya sudah tidur.

Pelajaran cerita perjalanan 13 Juli 2009: guncangan dalam pesawat mengajarkan saya akan guncangan dalam hidup. Mengapa Tuhan kerap mengguncang hidup Anda dan saya? Mengapa masalah dan ujian diizinkan Tuhan mengguncang hidup Anda dan saya?

Hal yang saya ingat adalah begini: saat saya berada di apartemen kakak saya, tidak ada bahaya, tidak ada guncangan, semua baik. Saya berdoa, saya bersaat teduh seperti biasa, namun saya merasakan sekali ketika saya berada dalam pesawat dan guncangan begitu keras saya lebih keras lagi berdoa dan saya merasa begitu dekat dalam Tuhan.

Apakah Anda ingat saat ketika Anda begitu dekat dengan Tuhan? Biasanya ada 2 saat kita begitu dekat dengan Tuhan, yaitu saat adanya masalah besar dalam hidup kita atau saat kita merasakan kebaikan Tuhan. Hanya saja sayangnya saat kita merasakan kebaikan Tuhan seringkali karena kita merasa aman, jauh lebih mudah kita menerima dan berterima kasih lalu sudah sampai di situ.

Bagaimana saat kita dalam masalah? Pada umumnya selain kita berdoa, kita beriman, kita mencari wajah Tuhan, mungkin kita juga berpuasa, kita lebih sungguh-sungguh dalam segala usaha kita untuk mengetahui kehendak Tuhan.

Dalam prosesnya, selain kita lebih dekat dengan Tuhan, juga kita membangun iman percaya kita kepada Tuhan, membentuk karakter kita untuk lebih tekun dan berpengharapan dalam Tuhan. Hal ini telah dibahas dalam “Hidup = Mengalami Masalah”.

Cerita liburan tanggal 14 Juli 2009: hari ini sempet lihat-lihat internet dan mengobrol sebentar dengan keponakan dan temannya yang main ke Bandung dan mengatur rumah selama saya dan orang tua saya pergi berlibur ke Eropa.

Ternyata luar biasa! Saya mengatur waktu mulai menulis lagi itu tanggal 15 Juli 2009 karena perkiraan saya saat itu pasti baru datang akan sangat lelah, sehingga butuh istirahat sehari. Ternyata tanggal 14 Juli keponakan saya dan temannya juga pulang ke Surabaya karena keponakan saya harus mengurus untuk FRS kuliahnya dan temannya juga belum sempat bertemu orang tuanya dan langsung berangkat ke Bandung waktu itu.

Mengapa bisa sangat tepat waktunya? Ya, saya yakin ini semua sudah dalam pengaturan yang sempurna dari Tuhan. Jelas saya tidak bisa berkonsentrasi menulis jika ada keponakan dan temannya karena memang jarang bertemu keponakan saya. Hal ini terjadi bukan karena keponakan saya atau temannya itu bandel, bukan, sama sekali tidak. Mereka anak yang sangat baik.

Hanya saja jelas saya pasti akan mengobrol dan menemani mereka walau mungkin tidak sepanjang hari. Sayang saya belum sempat mengobrol banyak karena bertemu mereka hanya sekitar 2 hari (1 hari sebelum pergi liburan, dan 1 hari sesudah pulang liburan).

Hari ini mereka pulang ke Surabaya. Sesudah mengantar mereka pulang, saya kembali bersiap untuk memulai kembali menulis pada 15 Juli 2009 seperti yang saya janjikan sebelum saya berangkat. Bersama dengan selesainya notes hari ini, selesai juga rangkaian cerita perjalanan saya dan keluarga ke Eropa. Liburan yang sangat berkesan, penuh dengan berkat Tuhan.

Saya pribadi banyak belajar dalam liburan ini. Ya, bukan sekedar menikmati keindahan, keunikan, kemegahan setiap tempat yang saya kunjungi, tapi saya juga belajar dan menikmati sekian buku yang saya baca, e-book yang saya dengarkan, lagu-lagu klasik, dan film serta acara demi acara yang saya tonton. Dari kesemuanya itu saya selalu mendapatkan satu atau lebih pelajaran yang berarti.

Bukan cuma itu saja, saya juga bisa menghabiskan waktu beristirahat dan bersantai bersama keluarga. Pada hari kerja, sangat sulit untuk beristirahat dan bersantai serta menghabiskan waktu bersama keluarga. Selalu saja ada hal yang harus dilakukan.

Selain itu juga saya belajar seni parenting, seni mengatur dan mengelola rumah, serta seni mengatur waktu. Hal ini penting bila saya kelak telah menjadi ibu rumah tangga. Saya memang sebelum liburan telah membeli beberapa buku mengenai mendidik anak dan juga mengenai pernikahan, selain itu juga saya sering mendengarkan acara di radio berkaitan dengan hal itu, namun belajar langsung dari kehidupan sehari-hari jelas berbeda dari belajar dari buku.

Semoga kelak jika Tuhan telah menentukan saatnya bagi saya untuk menjadi seorang istri dan ibu, saya bisa menjalankan tugas pelayanan sebagai istri dan ibu dengan sebaik-baiknya. Itu sungguh bukan tugas pelayanan yang mudah, maka saya harus bersiap dari sekarang.

Di atas semuanya, saya belajar mengenai kemurahan hati yang ditunjukkan oleh kakak dan kakak ipar saya. Mereka sungguh sangat murah hati. Bukan hanya kepada kami saja keluarganya, tetapi juga kepada teman-temannya. Sungguh suatu contoh teladan kemurahan hati yang baik.

Pelajaran dari seluruh rangkaian liburan: Tuhan adalah Allah yang luar biasa dalam kehidupan saya. Saya mengalami banyak hal dalam hidup saya, baik dalam rutinitas keseharian saya, maupun hal-hal yang di luar rutinitas yang kalau dipikirkan merupakan pengajaran langsung dari Tuhan.

Saya bersyukur sekali bisa mengalami liburan yang indah. Walau saat ini saya mengalami kesedihan dan sedang berusaha mengatasinya bersama dengan Tuhan (yah saya kan manusia biasa ya, bukan malaikat. Jadi ingat komentar teman saya di yahoo messenger tadi malam hahahaha. Teman-teman yang membaca ini juga jangan menganggap saya malaikat atau setengah malaikat ya, saya hanya manusia biasa yang serba terbatas dan lemah, yang karena anugerah Tuhan Yesus yang besar dimampukan untuk melakukan sesuatu untuk memuliakan nama-Nya), tapi saya percaya bahwa Ia selalu beserta saya.

Ada satu lirik lagu yang saya ingat saat ini, yaitu:

“Walaupun lewat lembah air mata, aku percaya.”

Kalaupun Anda mengalami lembah air mata pula, tetaplah percaya. Ia Allah yang tak pernah berubah: dulu, sekarang, sampai selama-lama-Nya. Ia adalah Allah yang luar biasa mengasihi kita.

Sedikit membuat saya terkejut ketika melihat seorang pembaca dapat menebak dengan jitu hal yang saya hadapi hahahaa. Yah, saya memang mengalami patah hati. Rasanya sakit sekali dan sangat sedih, namun herannya saya tidak pernah ada masalah dengan masalah makan dan tidur wakakkaka. Aneh ya?

Biasanya saya mendapatkan pengungkapan dari Tuhan atau saya biasanya berhasil menemukan alasan bagi patah hati saya, namun kali ini saya belum menemukan pengungkapan dari Tuhan maupun alasannya saya harus patah hati.

Tapi saya percaya apapun itu, segala sesuatunya akan indah pada waktunya. Saya walau berkali-kali mengalami jatuh cinta dan patah hati, ternyata belum kebal juga untuk patah hati hahaha. Yah, berarti Tuhan masih ingin mengajarkan sesuatu pada saya.

Satu hal yang dapat saya saksikan bagi Anda semua, saya sungguh bersyukur pada Tuhan saat saya sedang menangis, saya selalu mendapati bahwa Tuhan sedang menghibur saya lewat musik yang saya dengarkan lewat iTunes. Saya jelas tidak mengatur urutan lagunya, namun ternyata setiap kali saya sedang sedih dan menangis, saya selalu mendapati lagu-lagu yang diputar ternyata sangat sesuai untuk menghibur saya.

Ini terjadi berkali-kali. Setiap kali saya menangis, saya mendapati Tuhan menghibur saya. Ketika saya selesai menangis, lagunya berubah menjadi lagu dengan tema lain. Aneh sekali bukan?

Bila Anda mengalami hal yang sama dengan saya atau entah apalagi yang Anda hadapi yang mungkin jauh lebih berat daripada sekedar patah hati yang saya alami, jangan pernah menyerah. Terus andalkan Tuhan. Ia tahu setiap yang Anda alami. Bukan hanya sekedar tahu, Ia juga mengerti dan Ia peduli akan semua yang Anda alami.

Tetap andalkan Dia. Tetap taruh pengharapan Anda kepada-Nya, karena Ia Allah yang tidak pernah mengecewakan kita.

Dengan ini berakhir juga catatan liburan saya. Liburan yang menjelajahi 5 negara di Eropa, dengan berbagai keindahan dan keunikannya, dengan berbagai pelajaran yang dapat saya ambil dalam setiap hal yang saya alami di sama, yang menghasilkan 6 lagu baru, dan 17 hari catatan perjalanan. Semoga bermanfaat bagi Anda yang membacanya. Tuhan memberkati.

Cerita Perjalanan Bagian-16 (12 Juli 2009)

Hari ini saya akan membahas cerita perjalanan tanggal 12 – 13 Juli 2009. Cerita perjalanan tanggal 12 Juli 2009 adalah sebagai berikut: hari ini adalah hari kepulangan kami ke Indonesia. Rasa-rasanya hati masih belum ingin meninggalkan Paris, tapi memang ada waktu berlibur, ada pula waktunya untuk kembali bekerja.

Pengkotbah 3:1: Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apapun di bawah langit ada waktunya.

Pukul 08.40 kami sudah berangkat dari apartemen ke Bandara Charles de Gaulle karena perjalanan cukup jauh untuk sampai bandara. Inilah kesempatan terakhir untuk melihat-lihat Paris. Kami sampai bandara sekitar pukul 09.45. Ternyata di bandara sudah sangat ramai dengan para penumpang yang akan berangkat. Kami lalu antri untuk memasukkan bagasi.

Sesudah memasukkan bagasi, kami langsung check in. Hal ini terjadi karena petugas yang nerima bagasi menganjurkan pada kami untuk langsung check in saja mengingat begitu ramainya penumpang yang akan berangkat..

Pukul 11.15 kami sudah masuk di ruang tunggu. Sambil menunggu, kami sempet makan siang dulu: nasi goreng yang dibawa dari apartemen. Sebenarnya begitu kami masuk ruang tunggu, kakak saya sudah berpesan untuk mengirimkan sms kepadanya. Tapi ternyata ketika akan mengirim sms, berkali-kali saya coba gagal terus. Saya bingung karena sinyalnya ada. Setelah dicek ternyata habis pulsa.

Ironis juga ya, penjual pulsa kehabisan pulsa wakakakkaka. Dari Indonesia padahal pulsa handphone saya masih sekitar 40 ribu lebih. Memang selama di sana, ada beberapa orang teman maupun keluarga yang sms, tapi saya jarang sekali sms. Selain itu, provider kartu yang saya gunakan sering sekali mengirimkan pesan-pesan iklan.

Kelihatannya itu penyebabnya yang menyebabkan pulsa handphone saya cepat habis. Ketika saya mencoba handphone yang lain, ternyata nasibnya juga sama: kehabisan pulsa. Ketika mencoba handphone ayah saya, pertama-tama tidak ada sinyal. Setelah ditunggu ternyata juga gagal.

Saya pikir habis pulsa juga, ternyata masa aktifnya yang sudah habis hahahaha. Aduh aduh, bisa-bisanya pada saat penting malah habis pulsa. Akhirnya karena memang tidak bisa apa-apa lagi, saya terpaksa tidak mengabari kakak saya.

Pukul 12.10 kami sudah berada di atas pesawat. Saat kami mengantri ternyata kami bertemu beberapa orang Indonesia juga. Pukul 13.00 barulah take off pesawatnya. Selama di pesawat saya menonton 3 film, mendengarkan 1 audio book (walau hanya sedikit dan tidak sampai selesai), dan mendengarkan sejumlah musik klasik.

Pelajaran yang dapat diambil dari cerita perjalanan tanggan 12 Juli 2009: persiapan yang cukup itu sangat penting. Seperti saya yang tidak memiliki persiapan yang cukup sehingga tidak dapat mengirim kabar kepada kakak saya, seharusnya itu tidak terjadi kalau malam sebelumnya saya sudah memeriksa.

Untungnya ini baru hal yang kecil. Bagaimana kalau misalnya kecerobohan yang terjadi untuk hal-hal yang besar? Sungguh tidak terbayangkan. Perencanaan dan persiapan itu penting. Mengenai perencanaan telah dibahas dalam “Planning”.

Berikut ini saya akan tuliskan ringkasan ketiga film tersebut. Film pertama yang akan saya bahas adalah: Film-film yang saya tonton adalah:

Film pertama: Marrying the Mafia.

Sutradara: Jeong Heun Soon.

Pemeran: Jeong Joon Ho, Kim Jeong Eun.

Durasi film: 113 menit.

Marrying the Mafia merupakan film Korea. Jin-Kyung merupakan anak perempuan satu-satunya dari seorang mafia, yaitu Jang Jung-Jong (Tripple J). Ibunya sudah meninggal waktu Jin-Kyung masih kecil. Jin-Kyung memiliki tiga orang kakak laki-laki.

Diceritakan bahwa Tripple J merupakan legenda di Korea. Tripple J menjadi legenda karena ia dapat membasmi 10 orang dari Keluarga Dolsan yang sebelumnya memegang daerah kekuasaan di Korea dengan hanya seorang diri saja.

Di awal film diceritakan Jin-Kyung yang terbangun dan mendapati dirinya sedang (maaf) tidur di samping seorang laki-laki yang tidak dikenalnya, yaitu Dae-Suh. Dae-Suh juga bangun dengan kaget karena ia tidak mengenal Jin-Kyung sama sekali.

Jin-Kyung yakin bahwa ini merupakan siasat licik dari ayah beserta ketiga orang kakaknya. Jin-Kyung bekerja sebagai peneliti sedangkan Dae-Suh diceritakan merupakan lulusan dari jurusan hukum Universitas Nasional Korea yang di film diceritakan sebagai salah satu universitas paling bergengsi dan bekerja sebagai seorang konsultan hukum.

Lalu ketika Dae-Suh sampai di kantornya ternyata ia telah ditunggu oleh ketiga orang kakak laki-laki Jin-Kyung. Dae-Suh kemudian dihajar habis-habisan oleh ketiga orang kakak laki-laki Jin-Kyung, bahkan diintimidasi akan dibunuh dengan cara melemparnya dari atas gedung kantornya.

Akhirnya Dae-Suh menyerah dan bersedia untuk menikahi Jin-Kyung walaupun saat itu ia memiliki kekasih. Ketiga kakak laki-laki Jin-Kyung kemudian membayar seorang model untuk merayu kekasih Dae-Suh.

Dengan sedikit siasat ketiga kakak laki-laki Jin-Kyung mengajak Dae-Suh untuk pergi minum dan saat itu Dae-Suh melihat kekasihnya sedang bermesraan dengan model tersebut. Ternyata kekasih Dae-Suh memang tidak setia.

Hal yang menarik ketika Dae-Suh sempat marah kepada Jin-Kyung karena memiliki ayah dan tiga kakak laki-laki yang mafia. Kata-kata Jin-Kyung saat itu sangat menarik bagi saya. Kurang lebih seperti ini:

“Benar ayahku adalah mafia, benar ketiga kakak laki-lakiku adalah mafia. Tetapi sejahat-jahatnya mereka, mereka adalah ayahku dan kakakku. Mereka menyayangiku dan aku menyayangi mereka.”

Sangat mengharukan. Konflik dimulai ketika Dae-Suh pergi minum dan mabuk bersama teman-temannya. Kelompok mafia lain berusaha memeras Dae-Suh dengan menaruh begitu banyak botol bir bekas ke atas meja Dae-Suh dan dua temannya.

Pertengkaran terjadi dan Dae-Suh beserta dua temannya disiksa oleh kelompok mafia ini. Kemudian ketiga kakak Jin-Kyung beserta anggota mafia Tripple J menyelamatkan Dae-Suh beserta kedua temannya. Akan tetapi ternyata hal ini yang menjadi bibit konflik di kemudian hari.

Ketua kelompok mafia tersebut yang menganggap bahwa Tripple J mengotori daerah kekuasaannya menculik Jin-Kyung. Ketiga kakak laki-laki Jin-Kyung beserta Dae-Suh menyelamatkan Jin-Kyung.

Lalu Tripple J mendesak Dae-Suh menikahi Jin-Kyung. Hal yang menarik adalah ketika Dae-Suh dan Jin-Kyung mulai dekat, ternyata kekasih Dae-Suh mulai lagi datang dan mengganggu hubungan Dae-Suh dan Jin-Kyung, bahkan menyebabkan kesalahpahaman di antara keduanya.

Jin-Kyung yang patah hati akhirnya meninggalkan rumahnya dan pergi. Dae-Suh yang akhirnya mengetahui kejadian sesungguhnya pergi ke rumah Jin-Kyung. Ketika tahu bahwa Jin-Kyung telah pergi, Dae-Suh segera berusaha keras mencari Jin-Kyung. Akhirnya Dae-Suh bisa menemukan Jin-Kyung dan mereka memutuskan untuk menikah.

Pada hari pernikahan Dae-Suh dan Jin-Kyung ternyata ketua kelompok mafia yang merasa diganggu, datang mengacau. Ketiga kakak Jin-Kyung yang tidak mau merusak kondisi pesta, memohon kepada ketua kelompok mafia tersebut sambil berlutut, namun ternyata ketua kelompok mafia tidak bersedia pergi dan menghajar ketiganya.

Ketika akhirnya upacara pernikahan sudah selesai dan Dae-Suh serta Jin-Kyung resmi menjadi suami istri, ketiga kakak laki-lakinya kemudian akhirnya bangkit untuk bertempur. Cerita selesai sampai di situ.

Film ini dari segi cerita biasa saja, namun cukup menarik karena ada sejumlah adegan yang menyentuh perasaan. Akhir cerita sayangnya tidak mengesankan, namun karena hanya merupakan film hiburan dan masih bisa ditarik pelajaran, film ini cukup segar untuk ditonton sebagai hiburan.

Pelajaran yang dapat ditarik dari “Marrying the Mafia” adalah pertama kita tidak pernah bisa memilih orang tua dan keluarga kita. Baik atau buruk, merekalah orang tua kita, keluarga kita. Segala sesuatu yang diizinkan Tuhan terjadi dalam hidup kita, itu ada maksud Tuhan di dalamnya, yaitu untuk membawa kebaikan bagi kita.

Roma 8:28: Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.

Tidak ada seorang pun yang sempurna, kita pun tidak sempurna. Inilah proses untuk belajar menjadi dewasa: belajar menerima kenyataan dan belajar menerima bahwa tidak segala sesuatu yang kita inginkan itu dapat terwujud.

Jika orang tua dan keluarga kita merupakan orang tua dan keluarga yang baik serta mendukung, bersyukurlah. Saya sangat diberkati oleh orang tua dan keluarga yang luar biasa. Mereka tidak sempurna, saya apalagi masih jauh dari sempurna, tetapi saya merasakan bahwa mereka adalah salah satu bagian terbaik dalam hidup saya yang diberikan Tuhan pada saya.

Jika orang tua dan keluarga kita merupakan orang tua dan keluarga yang buruk serta menjatuhkan, tetap bersyukurlah. Segala sesuatu terjadi masih dalam kendali Tuhan dan tidak ada kebetulan dalam Tuhan. Jika kita berdoa agar orang tua dan keluarga kita berubah, mungkin saja Tuhan mengubah hati mereka sehingga menjadi baik.

Lebih penting lagi adalah kita berdoa agar Tuhan mengubah hati kita lebih dahulu untuk memberi kesaksian hidup yang baik bagi mereka. Berdoa saja tidak cukup, perlu diikuti dengan tindakan, yaitu kita perlu melakukan hal-hal yang baik kepada orang tua dan kelurga kita.

Matius 7:12: Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka. Itulah isi seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.

Pelajaran kedua yang dapat kita ambil dari film “Marrying the Mafia” adalah dalam mencapai tujuan kita, jangan sampai kita sampai menghalalkan segala cara, termasuk cara-cara yang tidak baik, bahkan jahat. Ini merupakan hal yang tidak berkenan di hadapan Tuhan.

Jangan beralasan bahwa:

“Orang-orang lain juga melakukan hal yang sama.”

Kita adalah kita dan orang lain adalah orang lain. Hidup adalah pilihan dan pilihan kita menentukan hidup kita. Jadi tidak ada urusannya dengan urusan orang lain mau berbuat seperti itu juga atau tidak. Itu sepenuhnya keputusan kita.

Apakah kita ingin menyenangkan hati Tuhan? Lakukan segala hal yang berkenan bagi-Nya, walaupun kadang jalan yang harus kita tempuh jadi sulit dan lebih berbatu, akan tetapi ujungnya adalah aman dan damai sejahtera.

Jika kita menempuh segala cara yang tidak baik untuk mencapai tujuan kita, mungkin jalan yang kita tempuh menjadi mudah dan mulus, tetapi ujungnya adalah malapetaka dan hilang rasa damai sejahtera karena dikejar rasa bersalah dalam hati.

Amsal 2:20: Sebab itu tempuhlah jalan orang baik, dan peliharalah jalan-jalan orang benar.

Amsal 2:21: Karena orang jujurlah akan mendiami tanah, dan orang yang tak bercelalah yang akan tetap tinggal di situ,

Amsal 2:22: tetapi orang fasik akan dipunahkan dari tanah itu, dan pengkhianat akan dibuang dari situ.

Berikutnya cerita film kedua yang saya tonton adalah sebagai berikut:

Film kedua: Elizabeth: The Golden Age.

Sutradara: Shekhar Kapur.

Pemeran: Cate Blanchett, Geoffrey Rush.

Durasi film: 115 menit.

Film ini merupakan film pemenang Academy Award 2008 (Piala Oscar, penghargaan tertinggi di dunia untuk karya seni berupa film) untuk kategori perancang kostum terbaik. Film ini diangkat dari kehidupan Ratu Elizabeth I, Ratu Inggris, tetapi dengan banyak perubahan di sana sini.

Ceritanya adalah sebagai berikut (mudah-mudahan tidak ada yang salah, karena tidak ada teks Inggrisnya di sana sehingga mengandalkan kepada pendengaran saya yang masih sangat pas-pasan): Tahun 1585 adalah tahun saat Spanyol merupakan kerajaan terkuat di dunia dan Spanyol memulai holy war (perang yang mengatasnamakan Tuhan, padahal sesungguhnya bukan dan hanya ditunggangi oleh motif-motif politis dan mengangkat masalah perbedaan antara agama Katolik dan Kristen).

Jadi yang terjadi adalah Spanyol saat itu dipimpin oleh Raja Philip II dan ia ingin menguasai Inggris dan memberikan tampuk kekuasaan Inggris kepada putrinya, yaitu Isabela yang saat itu masih kecil.

Inggris saat itu dipimpin oleh Ratu Elizabeth I, seorang Kristen Protestan, berusia 52 tahun saa itu dan belum menikah, sehingga disebut sebagai Virgin Queen. Penasihat ratu berusaha meminta Ratu Elizabeth I menikah dengan seorang bangsawan muda dari Austria, namun ditolak oleh ratu. Jika Ratu Elizabeth I meninggal, ia akan digantikan oleh sepupunya, yaitu Mary Stuart (Ratu Skotlandia).

Kemudian muncul seorang tokoh perompak (bajak laut) yang bernama William Raleigh yang baru saja berhasil memperoleh emas dari kapal Spanyol, bersama dengan sejumlah hasil bumi dari New World yang berhasil ditemukan. Raleigh menawarkan kepada ratu semua itu untuk dia bisa tinggal di Inggris sementara.

Saat itu utusan dari Spanyol juga datang sehingga menimbulkan konflik di antara perompak ini dengan utusan dari Spanyol. Ratu menolak pemberian emas dari Raleigh tapi menerima uluran persahabatan darinya.

Ternyata lama kelamaan Ratu jatuh cinta kepada Raleigh, sementara itu untuk menyampaikan pesan-pesannya Ratu meminta kepada salah satu wanita bangsawan yang biasa mengiringinya, Bess (yang juga memiliki nama Elizabeth) untuk menjadi pengantar pesan.

Ternyata sayangnya Raleigh dan Bess saling jatuh cinta. Sementara itu terjadi konspirasi antara Mary Stuart, kelompok di Inggris, dan Raja Philip untuk membunuh Ratu Elizabeth dan menggantikannya dengan Mary Stuart.

Akan tetapi ternyata konspirasi ini merupakan tipuan belaka karena ternyata sesungguhnya pembunuh yang dibayar untuk membunuh Ratu Elizabeth menembakkan peluru kosong.

Penasehat Ratu kemudian menemukan surat Mary Stuart yang berisikan keseluruhan rencana untuk membunuh Ratu. Jadi yang terjadi adalah Mary Stuart merupakan korban konspirasi antara kelompok di Inggris dan Raja Philip.

Mary Stuart kemudian dihukum mati dengan cara dipenggal dan hal ini dijadikan alasan bagi Raja Philip kepada Paus saat itu untuk memulai holy war. Karena memang saat itu dinilai bagi Paus dan para pemimpin Katolik saat itu bahwa memang Mary Stuartlah yang lebih berhak untuk menjadi ratu dan akhirnya perang disetujui.

Padahal niat sesungguhnya dari Raja Philip memang untuk menaklukkan Inggris dan yang menariknya lagi adalah ia mengatakan kepada seluruh kerajaannya bahwa ia mendapati Tuhan berkata kepadanya untuk menggulingkan Elizabeth dari tahtanya.

Mary Stuart dijadikan tumbal karena memang Mary Stuart anak dari Ratu Perancis dan dibesarkan di Perancis sehingga lebih dekat dengan Perancis daripada dengan Inggris. Padahal Perancis merupakan salah satu musuh terkuat Spanyol saat itu.

Ratu kemudian menemukan bahwa Bess dan Raleigh sudah menikah padahal Bess merupakan wanita yang harus melayani ratu dan tidak boleh menikah tanpa seizin Ratu. Apalagi saat itu Ratu menemukan Bess sudah dalam keadaan hamil.

Dalam murkanya Ratu Elizabeth memerintahkan untuk memenjarakan Raleigh dan mengusir Bess dari Istana. Sementara itu pemenggalan Mary Stuart menyebabkan terjadinya perang antara Spanyol dan Inggris dan kekuatan Spanyol lebih kuat daripada Inggris.

Ratu Elizabeth akhirnya membebaskan Raleigh dan Raleigh kemudian bergabung dengan armada laut Inggris. Walaupun jumlah armada Spanyol lebih banyak, badai yang kuat ternyata di pihak Inggris. Saat kapal-kapal Spanyol sedang menurunkan Jangkar, armada Inggris menyerbu sehingga Spanyol kalah telak.

Akhir film ditutup dengan manis ketika Ratu Elizabeth menggendong anak Bess dan Raleigh dan memberi berkat atas anak itu. Ia tetap memimpin Inggris dan tidak menikah.

Pelajaran dari film “Elizabeth: The Golden Age” adalah jangan pernah mengatasnamakan Tuhan atau agama atau apapun sebagai dasar untuk melegalitas kepentingan pribadi. Sebenarnya dalam holy war yang terjadi bukan perang antara Katolik dan Kristen Protestan, tapi justru penunggangan Tuhan dan agama untuk mengizinkan terjadinya perang yang tujuan sebenarnya adalah untuk menaklukkan Inggris dan Elizabeth sebagai ratunya saat itu.

Jadi sesungguhnya holy war terjadi karena seluruh kekejian yang dibenci Tuhan berikut ini:

Amsal 6:16: Enam perkara ini yang dibenci TUHAN, bahkan, tujuh perkara yang menjadi kekejian bagi hati-Nya:

Amsal 6:17: mata sombong, lidah dusta, tangan yang menumpahkan darah orang yang tidak bersalah,

Amsal 6:18: hati yang membuat rencana-rencana yang jahat, kaki yang segera lari menuju kejahatan,

Amsal 6:19: seorang saksi dusta yang menyembur-nyemburkan kebohongan dan yang menimbulkan pertengkaran saudara.

Jangan sampai kita mengulang kesalahan sejarah.

Untuk film ketiga dan cerita perjalanan selanjutnya akan saya bahas esok. Silakan kembali besok.

(Bersambung ke Bagian-17 – Bagian Terakhir)

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: