All for Glory of Jesus Christ

Archive for the ‘Relationship & Romance’ Category

Cerita: Pisau

Halo teman-teman! Selamat pagi! Lama ya kita tidak bertemu. Kangen sama saya? Terima kasih! Saya juga kangen sama teman-teman!

Teman-teman, saya cerita dulu ya. Beberapa hari kemarin saya kurang enak badan. Jadi selama 3 hari kemarin saya banyak tidur. Ya, badan saya belum terlalu terbiasa dengan irama kerja saya yang baru. Jadi begitu deh :D. Padahal saya sudah minum vitamin C dosis tinggi, makan banyak juga.

Untungnya Tuhan kirimkan malaikatnya menjaga saya: mami saya. Mami saya memijat badan saya dan ada satu dua otot yang sakit sekali. Kalau teman-teman tau Mami saya, Mami saya itu jenius dalam hal memasak dan pengobatan. Jadi saya sangat beruntung Tuhan lahirkan saya dan beri saya ibu dalam bentuk Mami saya.

Sesudah Mami pijat saya, mami masakkan saya yahun dengan baso urat besar kesukaan saya. Yahun itu bihun yang dimasak lalu dihidangkan dengan kecap manis tanpa kuah. Wahhh senangnya! Saya langsung makan dan sekejap habis! Lalu Mami suruh saya pakai heater (pemanas) di badan. Badan saya langsung enak.

Saya lalu tidur. Ehmm teman-teman, mau tau sesuatu? Nih saya bisikkan ya. Waktu sakit saya kirim email pada seseorang nun jauh di sana. Saya minta dia doakan saya. Lalu dia jawab “be better soon”. Huaaaahh, hati saya langsung berbunga-bunga. 😀

Maaf ya teman-teman. 😀 Seperti yang saya sudah bilang di artikel-artikel yang lalu. Saya kalau cerita hal yang saya sukai, memang sulit berhenti. :D.

Ah, lalu apa kaitannya dengan cerita hari ini? Sabar, teman-teman. Nanti teman-teman di tengah cerita bisa menyambungkan cerita saya di awal dengan inti cerita saya hari ini 😀

Tuhan itu baik! Selama-lamanya kasih setia-Nya! Ada Amin? Yes! Amin! Puji Tuhan!

Eh, bukan panggil yang namanya “Amin” lho ya :D. Bercanda, teman-teman! 😀

Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya!! Haleluya!!

Sewaktu saya mau menulis artikel ini saya berpikir apa kira-kira ilustrasi yang pas untuk artikel hari ini? Ternyata Roh Kudus ingatkan saya akan peristiwa yang begitu lama sudah berlalu. Ya, peristiwa ketika saya masih kecil.

Saya dibesarkan oleh dua orangtua yang luar biasa. Papi dan Mami adalah anugerah yang Tuhan beri bagi saya. Mereka mengajarkan saya banyak hal tentang kehidupan ini.

Suatu hari, ketika saya masih berumur entahlah saya tidak ingat, tapi masih kecil, saya membawa sebilah pisau dapur. Saya ingat saya membawa pisau dapur itu ke dapur karena Mami mau pakai pisau itu. Papi melihat cara saya membawa pisau dapur. Posisi saya waktu itu memegang gagang pisau di tangan dan badan pisau terarah ke depan (persis seperti foto di atas). Papi lalu menegur saya.

“Bawa pisaunya jangan seperti itu. Nanti kalau ada orang, bisa kena.”

Pada kesempatan lain, juga saya masih kecil waktu itu, saya belajar mengupas mangga. Cara saya mengupas mangga kurang tepat. Jadi yang saya pegang badan pisaunya sementara jari saya bergerak mengiris kulit mangga. Mami berkata:

“Kupas mangganya pegangnya begini ya (pegang bagian gagang pisau – keterangan ditambahkan). Jadi jari kamu ga teriris.”

Nah dari dua kejadian yang saya tiba-tiba ingat, saya merenung. Dalam hidup ini, bukankah saya itu adalah pisau?

Pada saat saya menggunakan kata-kata dengan tepat, entah untuk memuji, menguatkan, mendukung, membenarkan hal yang benar; saat itu saya memegang pisau dengan tepat, dengan lembut, dengan aman. Orang yang saya hadapi biasanya akan senang. Orang yang saya hadapi biasanya akan dikuatkan dan merasa didukung.

Hanya saja, saya juga ingat: pisau yang dipegang dengan lembut dan aman, tidak selamanya bisa mengupas dengan efektif. Pada saat mengupas dan membelah, katakan saja kedondong yang keras dan liat, seringkali saya perlu kekuatan dan teknik khusus untuk melakukannya. Pada saat berhadapan dengan hati yang keras dan liat, seringkali saya perlu kekuatan dan teknik khusus untuk melakukannya.

Karena tidak selamanya saat saya memegang pisau dengan lembut dan aman, saya jadi bisa menyelesaikan pengupasan itu dengan baik. Ada kalanya memang perlu saya beri tekanan tertentu pada pisau dan menggunakan teknik khusus untuk membelah kedondong itu.

Ada kalanya saya perlu menekan, menegur, menantang, mempertanyakan, atau melakukan konfrontasi. Ada kalanya saya perlu membiarkan, meluruskan, atau menyadarkan.

Namun saat yang sama, saya juga ingat. Saat mengupas dan membelah kedondong, saya perlu menjaga jari saya tidak teriris. Saat berhadapan dengan orang-orang yang menantang saya, saya perlu menjaga hati saya tidak teriris.

“Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan.” (Amsal 4:23)

Teriris oleh apa? Rasa tidak tega. Rasa bersalah yang tidak perlu (kalau memang benar, tidak perlu merasa bersalah. Kalau salah, perlu memperbaiki kesalahan). Rasa ingin diterima semua orang. Rasa takut kehilangan. Lebih lagi, pemikiran:

“Bagaimana jika? Dia nanti pikir apa?”

Wah, saya sudah mengalami lama sekali teriris begitu. Akibatnya hidup saya jadi penuh luka. Sakit. Capek. Letih.

Hidup saya jadi tidak bebas lagi. Bebas dalam arti saya dikendalikan oleh respon dan pemikiran-pemikiran yang ada dalam benak saya sendiri. Itu bukan lagi hal yang Tuhan mau.

“Di dalam kasih tidak ada ketakutan: kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan;sebab ketakutan mengandung hukuman dan barangsiapa takut, ia tidak sempurna di dalam kasih. ” (1 Yohanes 4:18)

Puji Tuhan, lewat begitu banyak orang di sekitar saya, secara langsung maupun tidak langsung saya diajar untuk memegang pisau juga dengan kekuatan dan teknik khusus, tapi pada saat yang lain juga dengan memegang pisau dengan lembut, dengan aman.

Karena bukankah seperti Papi saya katakan: membawa pisau harus pikirkan keselamatan orang lain.

Ya, KESELAMATAN! Itu sebabnya saya diingatkan untuk belajar terus dalam membawa pisau saya sehari-hari. ADA KUASA DALAM PERKATAAN.

Jadi saya perlu seksama dalam BERPIKIR dan BERKATA-KATA.

BERPIKIR? Ya, dalam berpikir bukankah saya juga BERKATA-KATA DALAM BENAK saya? Dalam pemikiran saya?

Pemikiran akan mempengaruhi perasaan.

Perasaan akan mempengaruhi tindakan.

Tindakan akan mempengaruhi kebiasaan.

Kebiasaan akan mempengaruhi hidup.

Jadi pemikiran mempengaruhi hidup.

Kata-kata mempengaruhi hidup.

Lebih lagi saya perlu menjaga hati saya sehingga apapun yang keluar dari pikiran dan mulut saya, itulah yang sesuai dengan kehendak-Nya: entah dengan cara lembut atau dengan cara kuat.

Bahkan Firman Tuhan digambarkan sebagai lebih dari pedang bermata dua. Pedang mirip dengan pisau, hanya daya potongnya lebih kuat. Firman Tuhan digambarkan sebagai lebih dari pedang bermata dua artinya daya potongnya luar biasa kuat.

“Sebab firman Allah hidup dan kuatdan lebih tajam dari pada pedangbermata dua manapun; ia menusuk amat dalam sampai memisahkan jiwa dan roh, sendi-sendi dan sumsum; ia sanggup membedakan pertimbangan dan pikiran hati kita.” (Ibrani 4:12)

Saya diingatkan bahwa bersekutu dengan Tuhan, membaca Firman Tuhan, doa, dan bersaksi itu penting sekali.

Kenapa? Karena saya yang Tuhan ciptakan begitu luar biasa ini dengan segambar dengan citra-Nya, tetap saja ada batasnya. Itu sebabnya, saya perlu terus terhubung dengan-Nya.

“Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa.” (Yohanes 15:4)

Tuhan mau terhubung dengan saya. Masalahnya, saya mau terhubung dengannya tidak? Ah, saya mau! Lalu saya tanya, caranya bagaimana? Dengan melakukan empat hal tadi: bersekutu dengan Tuhan (tinggal dalam Tuhan), baca firman Tuhan, doa,  dan bersaksi.

Bersekutu dengan Tuhan: “Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya.” (Yohanes 15:7)

Baca Firman: “Kamu memang sudah bersih karena firman yang telah Kukatakan kepadamu.” (Yohanes 15:3)

Doa: “Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya.” (Yohanes 15:7)

Bersaksi: “Tetapi kamu juga harus bersaksi, karena kamu dari semula bersama-sama dengan Aku.” (Yohanes 15:27)

Omong-omong tentang 4 hal, saya tiba-tiba diingatkan tentang 4 cinta. (Cinta Pertama: Kasih Mula-mula. Cinta Kedua: Yerusalem. Cinta Ketiga: Malaikat). Teman-teman sudah baca? Kalau belum, baca ya :D. Silakan cari di daftar isi. Anggap saja dapur sendiri, jadi cari sendiri ya.

Saya diingatkan bahwa 4 cinta inilah yang juga membuat saya akan terhubung dengan Tuhan. Maaf dulu ya teman-teman, untuk cinta keempat saya belum sempat tuliskan. Pasti menyusul secepatnya! Ingin sekali menuliskan itu, tapi banyak hal yang saya harus kerjakan jadi tertunda.

Saya jadi ingat ada dua lagi yang tertinggal. Untuk terus terhubung dengan Tuhan, kita perlu tetap tinggal dan bersekutu dengan saudara seiman dan mendengar serta menyanyikan lagu pujian dan penyembahan kepada Tuhan.

Saya mengalami sendiri bahwa dengan tinggal dan bersekutu dengan saudara seiman, saya mengalami banyak sekali penguatan. Semua doa saya terjawab. Semua karena kasih karunia Tuhan, tapi juga karena saudara seiman saya di WorldPrayr, sahabat-sahabat saya, dan keluarga saya juga mendoakan saya setiap saya meminta mereka mendukung saya dalam doa. Saat saya lelah dan butuh penguatan, ada yang menguatkan saya. Menopang saya. Membuat saya bisa terus berjalan. Maju terus. Menjadi lebih efisien. Menjadi lebih produktif. Menjadi efektif. Puji Tuhan! Segala kemuliaan bagi nama-Nya!

Selain itu juga  saya mengalami juga saat saya dengar/nyanyi lagu pujian dan penyembahan, saya menjadi sukacita, damai, dan kuat. Ada banyak peristiwa yang membuat pikiran saya mengalami 3 ET: ruwET, jelimET dan mumET 😀 Di saat saya mengalami 3 ET itu, saya diingatkan untuk dengar/nyanyi lagu pujian dan penyembahan. Perlahan-lahan 3 ET itu hilang, digantikan dengan 9 AT (semangAT, kuAT, hebAT, dahsyAT, niAT, berkAT, rahmAT, sehAT, dan mujizAT), bahkan ditambah 1 AT lagi menjadi 10 AT (Allah Tau! Ya, Dia tau bahwa sayalah ciptaan-Nya yang sungguh amat baik. ). Haleluya! Segala kemuliaan bagi-Nya yang mengubahkan dan membangun saya.

Ah, Tuhan sungguh baik! Teramat baik! Hal yang saya alami, saya percaya itu juga yang mungkin teman-teman sudah, sedang, atau akan alami. Yuk kita semua, terutama saya untuk selalu terus mau belajar untuk menjadi pisau-Nya untuk membawa jiwa-jiwa dapat diselamatkan. Diselamatkan bukan hanya untuk Surga di akhir hayat, tetapi juga diselamatkan untuk Surga di Bumi. Mengalami pembaharuan budi.

“Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.” (Roma 12:2)

Untuk mengalami pembaharuan budi, saya perlu mempersembahkan tubuh saya kepada Tuhan sebagai suatu bentuk penyerahan diri kepada-Nya:

“Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.” (Roma 12:1)

Mumpung ingat, siapa tau teman-teman ada yang tanya, apa kaitan cerita di awal artikel? Nah itulah salah satu contoh menjadi pisau yang baik: menegur , mengajar, dan mengasihi, baik dengan perkataan maupun dengan perbuatan. Amin!

Yuk kita berdoa, teman-teman:
Bapa yang baik, sungguh baik, dan teramat baik,

Terima kasih buat kasih, anugerah, kebaikan-Mu yang limpah dalam hidupku. Hari lepas hari kurasakan sungguh begitu dahsyat Allah yang kusembah, tak terukur dan tak terselami jalan pikiran-Mu. Aku terkagum, terheran, takjub dibuat-Mu. Kamu mempesonaku dan aku ikut larut di dalam segala kesempurnaan rancangan-Mu. Haleluya!

Tuhan, aku mau berdoa buat kami semua yang membaca artikel ini. Kami mau jadi anak-anak-Mu yang sungguh menjadi pisau-Mu yang efektif. Kami mau jadi pisau-Mu yang sungguh bisa mengubah hati dan hidup orang lain, seturut kebenaran Firman-Mu. Biarlah kami menjadi pisau-pisau-Mu yang hidup, sebagai alat yang Kau gunakan untuk mengiris, mengupas, membelah, dan memotong semua yang memang Kau pandang perlu.

Dengan demikian, kami sungguh bisa jadi saksi-Mu yang efektif: membawa jiwa untuk diselamatkan. Membawa kemuliaan bagi nama-Mu. Mewujudkan Surga di bumi dan di Surga. Semua demi kemuliaan nama-Mu. Semua demi terwujudnya Amanat Agung-Mu: agar “semua lidah mengaku dan semua lutut bertelut, bahwa Engkau, Yesus, adalah Tuhan!”

Terima kasih, Guru Agung, kami mau terus belajar menjadi murid-murid-Mu yang SIAP. SIAP mendengarkan ajaran-Mu dengan pikiran dan hati yang terbuka. SIAP melakukan ajaran-Mu dengan antusias dan rajin. SIAP mengerjakan tugas-tugas yang Guru Agung berikan dengan semangat. SIAP mengerjakan ujian-ujian yang Kau berikan dengan penuh keyakinan dan kesanggupan. Pada akhirnya, kami juga SIAP untuk menerima dengan penuh rasa syukur nilai yang Guru Agung berikan: nilai 10, mahkota kehidupan.

Haleluya! Segala hormat, pujian, dan kemuliaan hanya bagi nama Tuhan Yesus Kristus!

Dalam nama Bapa, dan Putera, dan Roh Kudus.

Amin!

Cerita: Perjalanan

Teman-teman, saya punya cerita lagi. Jadi kemarin saya dan orang tua saya menempuh perjalanan ke suatu kota untuk mengunjungi seorang keluarga di sana. Oh ya, sebelum saya lupa, saya ingat dulu saya pernah menulis cerita yang sejenis.

Kalau tidak salah judulnya “Menikmati Perjalanan”. Siapa tau teman-teman ada yang mau baca, silakan :D. Saya akhir-akhir ini sedang terheran-heran dan terkagum-kagum sendiri. Karena ada begitu banyak hal tak diduga yang terjadi, setelah disadari hal itu seperti potongan puzzle yang tepat!

Tadi pagi ketika saya ke belakang, saya membaca sebuah buku. Buku ini saya sudah miliki sekian lama. Judulnya “7 Rahasia Menuju Kematangan Rohani” yang ditulis oleh Paul Estabrooks. Temen-temen tau tidak, waktu saya buka ternyata yang saya buka itu judulnya “Menikmati Perjalanan”. Padahal saya tidak atur! Bukankah Tuhan Yesus itu luar biasa dahsyat?

Ok kembali ke cerita hari ini. Jadi pada malam sebelumnya, mata saya sangat mengantuk. Lelah sekali karena saya baru tidur sekitar pukul 2 dini hari. Sehari-hari memang segala yang saya lakukan banyak sekali berkutat dengan menggunakan mata: mulai dari menulis di laptop, posting di dua jenis jejaring sosial, bekerja online di salah satu website, mengurusi usaha baru saya juga, sampai ke komunikasi pun menggunakan laptop dan satu perangkat komunikasi yang memang banyak menggunakan mata dalam pengoperasiannya.

Jadi pada saat kemarin saya dan orang tua saya berangkat ke kota lain, mata saya dalam keadaan mengantuk dan sangat lelah. Tapi Tuhan memang sangat baik! Di sepanjang perjalanan saya dapat lihat hamparan pohon yang begitu hijau. Ya! Di sepanjang jalan.

Dalam salah satu mata kuliah yang dulu saya pelajari, mata lelah memang paling baik disegarkan dengan melihat yang hijau-hijau, yaitu pepohonan, dedaunan, rerumputan. Jadi saya sangat bersyukur, mata saya cukup mendapatkan kesegaran dengan melihat hamparan hijau itu.

Tapi tak urung, setelah beberapa saat menikmatinya, mata saya mengantuk juga. Jadi saya pun memejamkan mata beberapa saat. Ah nikmatnya! Saya percaya itulah surga dunia (paradise) itu :D. Yah, ini hanya mendramatisasi saja :D. Maksud saya adalah saat sudah begitu lelah dan bisa istirahat, itu sungguh suatu karunia yang luar biasa.

Jadi kalau teman-teman juga masih bisa tidur nyenyak setelah lelah beraktivitas seharian, itu karunia. Yuk kita bersyukur untuk karunia bisa tidur nyenyak. Karena ternyata ada juga orang yang sulit tidur nyenyak.

Kembali lagi ke cerita tadi, singkat cerita saya dan kedua orang tua saya sampai ke tempat keluarga yang akan kami kunjungi. Lalu kami bersama-sama pergi ke satu pusat perbelanjaan yang ada di kota itu.

Di sini yang akan menjadi pusat cerita saya. Di pusat perbelanjaan itu, kami melihat-lihat ada begitu banyak barang yang dijual. Barang-barang dengan kategori sejenis pun variannya begitu banyak.

Ada satu kejadian menarik terjadi di sana. Salah satu teman dari keluarga yang kami kunjungi membawa troli belanja. Pada saat sedang melihat-lihat barang, tiba-tiba saja seorang anak membawa troli itu! Teman dari keluarga itu lalu mengejar anak itu dan membawa kembali troli tersebut.

Setelah itu, ketika sedang mendorong troli, tiba-tiba ada satu orang yang membawa troli dengan kecepatan yang cukup tinggi. Untung saja tidak menabrak troli teman keluarga kami.

Lalu saya melihat-lihat barang yang ada di sana. Kami membeli beberapa barang yang memang dibutuhkan. Saya melihat ada satu barang yang menarik di sana: botol air minum. Botol air minum itu warnanya emas, bentuknya menarik. Saya pegang dan perhatikan botol tersebut.
Tetapi karena memang saya tidak membutuhkannya, saya kembalikan ke rak dan tidak membelinya. Ya jelas, untuk apa beli kalau tidak butuh kan?

Orang tua saya juga membeli sejumlah barang yang memang dibutuhkan. Lalu setelah selesai dari pusat perbelanjaan dan setelah berbincang-bincang dengan keluarga yang kami kunjungi, kami pun akhirnya pulang kembali ke kota asal kami. Perjalanan yang sangat menyenangkan.

Ketika sampai di rumah, saya merenung:

“Bukankah hidup ini seperti suatu perjalanan?”

Peristiwa di pusat perbelanjaan itu merupakan analogi dari hidup ini sendiri. Misalnya dalam masalah pasangan hidup. Begitu banyaknya barang yang ada di pusat perbelanjaan itu menggambarkan begitu banyaknya pilihan yang dapat dipilih menjadi pasangan hidup.

Hanya saja, dari sekian banyak itu tentu tidak semua bijak untuk dipilih. Kalau saya membeli barang yang butuh saja itu berarti saya bicara tentang saya hanya akan memilih pria yang memang sesuai dengan kebutuhan saya, bukan keinginan saya.

Sekian banyak barang yang dapat dipilih, itu juga bicara tentang memilih pasangan yang layak dipilih. Kalau memang sudah menikah jelas-jelas tidak perlu dipikirkan lagi, apalagi dipilih. Kalau memang sudah punya tunangan atau pacar, itu juga jelas-jelas tidak usah dipikirkan lagi.

Jadi, saya hanya perlu berkonsentrasi pada pria yang memang saya butuhkan. Seperti ketika saya melihat botol minuman yang menarik warna dan tampilannya tapi tidak saya butuhkan, berarti saya juga tidak perlu terlalu mengindahkan penampilan luar karena bukan itu kebutuhan saya.

Kalau buat saya, barang yang luar biasa itu adalah barang yang warnanya menarik, bentuknya juga indah, fungsinya mutakhir, tapi harganya juga bagus :D. Kalau saya analogikan dengan pria (bukan maksud saya pria = barang lho, ini hanya bentuk penganalogian saja), pria yang luar biasa itu adalah pria yang penampilan luarnya menarik, bentuk komunikasinya indah (mampu memahami), mampu berfungsi sebagai pria secara mutakhir (sebagai penyedia kebutuhan/provider, sebagai pelindung/protector, sebagai teman diskusi dan bertukar pikiran/best friend, dan sebagai kekasih/lover), tapi karakternya juga bagus (sabar, jujur, setia, bertanggung jawab, pekerja keras, sopan, tulus, dan lain-lain).

Mengenai hal ini sudah sering dibahas di artikel-artikel terdahulu. Silakan teman-teman cari saja kalau memang berminat. Maaf, saya tidak ingat letak persisnya. Jadi silakan cari di kategori relationship dan romance.

Ok, kembali lagi ke cerita tadi. Barang yang luar biasa belum tentu barang yang saya butuhkan. Pria yang luar biasa belum tentu pria yang saya butuhkan. Mengapa? Kalau barang itu hanya saya inginkan tapi tidak saya butuhkan, untuk apa saya beli? Kalau pria itu hanya saya inginkan tapi tidak saya butuhkan, untuk apa saya pilih?

Barang yang tepat adalah barang yang luar biasa dan dibutuhkan. Pria yang tepat adalah pria yang luar biasa dan dibutuhkan. Apakah kategori dibutuhkan itu? Kalau bagi saya, tidak lain dan tak bukan: pria itu memiliki hubungan yang sangat erat dengan Tuhan Yesus dan memiliki hati bagi sesama. Di luar itu, berarti pria itu bukan pria yang saya butuhkan.

Kog bisa begitu? Karena itulah yang menjadi kerinduan hati saya untuk ada dalam hidup saya. Jadi saya jelas butuh pria yang memiliki kerinduan yang sama. Saya sungguh percaya bahwa pasangan hidup itu memang memiliki jiwa yang sama, gairah (passion) yang sama.

Nah, lalu ada apa dengan kejadian dengan 2 troli itu? Troli itu menggambarkan persaingan dalam pencarian pasangan hidup. Saya pikir tidak perlu untuk berebut troli orang lain. Toh masih banyak troli yang ada di pusat perbelanjaan itu. Hanya diperlukan usaha untuk bisa kembali ke tempat troli itu diletakkan dan mengambil troli yang tersedia.

Saya juga pikir tidak perlu mengemudikan troli dengan kecepatan cukup tinggi sampai hampir menabrak troli lain. Itu namanya tidak mengendarai troli dengan cantik.

Pemilihan pasangan hidup bukanlah suatu kompetisi. Bukan juga suatu permainan. Pemilihan pasangan hidup adalah masalah iman. Dibutuhkan pergumulan dengan Tuhan untuk bisa memilih yang tepat.

Sebagaimana saya memilih barang yang saya butuhkan, begitu pula saya memilih pasangan yang saya butuhkan. Nah seperti orang tua saya yang membeli sejumlah barang yang dibutuhkan, begitulah Bapa Surgawi juga bisa memilihkan pria yang tepat untuk saya.

Saya hanya perlu untuk bertanya kepada-Nya:

”Siapakah pria yang memang tepat untuk saya?”

Kalau teman-teman ada yang menghadapi hal yang sama dengan saya, nah teman-teman bisa mulai tanya pada Tuhan:

“Siapakah pasangan yang memang tepat untuk saya?”

Pasangan yang tepat itu pasti tidak akan pernah menyalahi isi Firman-Nya. Jadi kalau si dia sudah bersuami/beristri, jelas tidak tepat. Kalau si dia itu sesama gender, jelas tidak tepat karena Tuhan memang menciptakan Hawa untuk Adam, bukan Adam untuk Adam atau Hawa untuk Hawa.

Selebihnya mengenai ciri-ciri pasangan hidup yang tepat bisa teman-teman baca di artikel “Cinta, Jatuh Cinta, dan Pasangan Hidup”. Silakan cari sendiri ya? Anggap saja rumah sendiri :D.

Pemilihan pasangan hidup ini adalah persoalan serius yang harus didoakan dan digumulkan dengan baik. Mengapa? Karena efeknya sangat panjang sampai maut memisahkan.

Jadi kalau ini yang menjadi permasalahan teman-teman dan juga saya, jelas kita perlu doakan dan pikirkan secara sungguh-sungguh, bukan? Lah kalau beli barang juga kita pikir-pikir dulu, timbang-timbang dulu, lihat-lihat dulu barang ini bagus atau tidak; masa kalau pilih pasangan hidup tidak begitu? Jelas harus lebih serius lagi bukan?

Cerita hari ini cukup sampai di sini. Yuk kita berdoa,teman-teman:

Bapa yang Maha Baik,

Terima kasih untuk perjalanan yang sangat menyenangkan yang saya sudah lewati. Terima kasih lewat perjalanan itu, Tuhan membukakan sesuatu kepada saya yang bisa saya bagikan kepada teman-teman yang membaca artikel ini.

Tuhan untuk setiap kami yang sedang menantikan pasangan hidup, yang sedang mencari pasangan hidup, biarlah kami menaruh pilihan kami pada pilihan yang bijak, yaitu dengan mengandalkan Engkau sebagai pemilihnya. Karena pengetahuan kami terbatas, kami tidak bisa melihat dan mengerti seseorang sampai ke kedalaman hatinya. Tetapi Engkau bisa, Engkau sanggup.

Tuhan untuk setiap kami yang sedang menantikan jawaban doa dari-Mu mengenai kehidupan kami mengenai studi, pekerjaan, usaha, dan lain-lain, biarlah kami menaruh harapan kami kepada Engkau. Karena Engkau adalah dasar yang teguh dan tak tergoyahkan. Kami bisa dengan yakin untuk menaruh pengharapan kami kepada Engkau dan tidak dikecewakan, karena Engkau adalah Allah yang setia. Haleluya!

Itu sebabnya biarlah kami juga memiliki hikmat dan kepekaan dari-Mu sehingga kami dapat mengerti kehendak-Mu yang baik, berkenan, dan terutama yang sempurna. Pimpinlah kami senantiasa, Tuhan, supaya dalam setiap langkah hidup kami, dalam setiap pemikiran, perkataan, perbuatan, dan kehendak kami; semuanya itu bisa menyukakan hati-Mu.

Terima kasih, Tuhan Yesus untuk semuanya. Segala hormat, pujian, dan kemuliaan hanyalah bagi nama Tuhan.

Amin.

Cerita: Jatuh

Teman-teman, ini saya kembali lagi. Bagaimana kabar teman-teman semua? Luar biasa baik pastinya kan? Kalau tidak baik, tidak apa-apa. Saya akan temani teman-teman malam ini dengan cerita saya.

Malam ini di sini hujan deras. Sepertinya memang latar belakang (background) yang pas sekali untuk saya menuliskan cerita hari ini. Sebenarnya saya sudah punya rencana untuk menulis cerita lain untuk artikel hari ini.

Tetapi hari ini terjadi sesuatu hal yang membuat saya berpikir bahwa saya hari ini harus menulis hal yang lain. Sebelum saya masuk ke cerita hari ini, saya mau tanya dulu.

Teman-teman sudah baca artikel “Cerita: Sendalku Sayang, Sendalku Malang”? Kalau belum, baca dulu ya. Mengapa? Sebab artikel itu yang menjadi latar belakang dari artikel hari ini.

Kalau teman-teman sudah baca, saya akan lanjutkan cerita saya. Sesudah kejadian di artikel “Cerita: Sendalku Sayang, Sendalku Malang” mami saya memberikan saya sendalnya. Saya senang sekali karena sendalnya ringan, empuk, tipis, dan enak sekali dipakai di rumah. Warnanya putih.
Mami saya memberi tahu saya:

“Sendal ini boleh dipakai, tapi jangan dipakai kalau ke kamar mandi. Licin soalnya.”

Karena sendal ini milik mami saya aslinya, memang sedikit terlalu besar dibandingkan kaki saya. Tapi saya senang memakai sendal ini, alasannya yang tadi itu: ringan, empuk, enak dipakai. Sebut saja sendal ini si putih.

Saya kadang-kadang masih pakai sendal lama saya yang hitam itu (sebut saja si hitam). Yah, di rumah saja tidak masalah lah pakai si hitam :D. Tapi setelah saya coba si putih, saya jadi terbiasa dengan si putih daripada si hitam. Si hitam pun saya letakkan begitu saja di lantai kamar saya.

Hari ini seperti biasa saya melakukan aktivitas saya. Pada siang hari, karena tidak hati-hati, saat turun tangga saya jatuh. Saat itu saya kira-kira ada di tangga ketiga dari bawah. Ketika jatuh, saya kaget dan juga sakit sekali.

Mami saya melihat dengan jelas kejadian itu. Beliau datang ke saya dengan kepanikan yang sangat jelas di mata dan di suaranya. Saya saat itu tidak bisa bangun karena sakit di bagian (maaf) pantat saya.

Pelan-pelan mami saya memegang tangan saya dan saya pun setelah rasa kaget dan sakit itu mereda, dengan berpegangan pada mami saya, saya pun bangun dari posisi jatuh itu. Puji Tuhan, saya tidak apa-apa!

Setelah itu, mami saya datang ke kamar saya membawa arak gosok. Saya berkata padanya kalau saya tidak apa-apa. Tapi mami saya ingin memastikan saya tidak apa-apa, jadi mami saya membalurkan arak gosok itu.

Uhm.. saya merasa sangat disayang. Pada saat papi saya pulang, mami saya cerita pada papi saya. Papi saya pun kaget. Saya baru tahu bahwa ternyata mereka sangat sayang pada saya :D.

Papi saya langsung berkata untuk membuang saja si putih. Padahal saya masih suka dengan si putih. Lalu mami saya memberikan sendal lain lagi buat saya. Sendalnya warna pink dengan dasar coklat. Cantik sekali. Jauh lebih tebal dari si hitam, apalagi si putih. Bentuknya juga jauh lebih manis.

Saya sih tidak terlalu memikirkan masalah bentuknya. Buat saya, yang penting fungsinya. Kalau bentuknya cantik tapi dipakainya tidak enak, saya juga malas memakainya. Hanya untuk situasi-situasi tertentu saja yang memang membutuhkan penampilan baru saya pakai. Selebihnya ya sendal nyaman saja hahahaha.

Kejadian tadi siang membuat saya bertanya-tanya. Apa maksud Tuhan di balik kejadian itu? Saya tau Dia luar biasa berkuasa. Ia Elshadai, Allah Maha Kuasa. Dia mencintai saya. Dia juga menjaga saya. Dia juga menuntun langkah saya. Itu saya tau dengan jelas.

Peristiwa saya jatuh itu membuat saya merenung. Bukankah kalau Dia Elshadai, seharusnya Dia sanggup mencegah saya untuk jatuh? Bukankah ada tertulis:

Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan. (Yeremia 29:11)

Saya jatuh itu bukankah itu kecelakaan? Tidak disengaja? Lalu bukankah Firman Tuhan itu berkata bahwa Ia membuat “rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepada saya hari depan yang penuh pengharapan”?

Lalu mengapa Tuhan biarkan saya mengalami jatuh? Mengapa Tuhan biarkan saya mengalami kecelakaan? Mengapa Tuhan biarkan saya begitu sakit? Mengapa Tuhan biarkan saat saya merasa begitu kaget? Mengapa Tuhan biarkan saat saya bahkan beberapa saat tidak sanggup berdiri karena begitu sakit?

Lalu saya diingatkan-Nya:

Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN. Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu. (Yesaya 55:8-9)

Saya berpikir, apakah ayat di Yeremia 29:11 dengan di Yesaya 55:8-11 itu bertolak belakang? Jawabannya: Tidak!

Saya berpikir menurut hal yang saya pikirkan, Tuhan berpikir menurut yang Dia pikirkan. Analoginya: seorang anak kecil kalau ditanya tentang balon gas menurut dirinya, mungkin ia hanya bisa mengatakan balon gas itu warnanya merah. Balon gas ada talinya. Balon gas bisa terbang. Balon gas bisa pecah. Mungkin seperti itu.

Tetapi kalau pertanyaan yang sama tentang balon gas ditanyakan pada seorang ilmuwan fisika, jawabannya jelas akan berbeda jauh. Bisa jadi ilmuwan fisika ini malah akan memberikan suatu penemuan mutakhir mengenai balon gas.

Kembali ke masalah saya jatuh dan pertanyaan saya tadi. Ketika saya dengan pikiran saya yang terbatas (walaupun Tuhan menciptakan saya sangat amat baik, tetap saja ada batasnya) mencoba untuk mengetahui pemikiran Tuhan yang luar biasa tak terbatas, jelas itu tidak terlalu mudah.

Tetapi:

“Maka rahasia itu disingkapkan kepada Daniel dalam suatu penglihatan malam. Lalu Daniel memuji Allah semesta langit” (Daniel 10:14)

Saya yakin teman-teman semua sudah tau tentang Daniel. Sekedar melengkapi cerita saja, Daniel adalah seorang yang memiliki roh yang luar biasa (Spirit of Excellence), seorang yang sangat mengasihi Tuhan dan berani mengambil resiko apapun demi tetap mengasihi Tuhan.

Daniel-daniel di zaman sekarang ini adalah kita semua. Karena Roh Kudus-Nya yang dicurahkan kepada kita, kita bisa memiliki roh yang luar biasa, mengasihi Tuhan, dan berani mengambil resiko apapun demi tetap mengasihi Tuhan. Haleluya!

Dan pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita (Roma 5:5)

Itu sebabnya, saya tidak perlu kecil hati kalau saya belum seperti Daniel karena Ia sendiri yang memberikan kasih-Nya ke dalam hati kita oleh karena Roh Kudus. Begitu juga kalau teman-teman seperti saya, tidak perlu kecil hati. Kita bisa memiliki roh yang luar biasa itu, kita bisa sangat mengasihi Tuhan, dan berani mengambil resiko apapun demi mengasihi Tuhan.

Apakah karena diri kita? Karena kehebatan kita? Kebaikan kita? Kejujuran kita? Ketulusan kita? Kesetiaan kita? Ketaatan kita? Kesucian kita? Bukan! Itu semua karena Dia yang memberikan kita kasih-Nya oleh Roh Kudus yang dikaruniakan kepada kita! Pendek kata: karena kasih karunia-Nya. Anugerah-Nya. Hadiah cuma-cuma. Gratis. Tidak pakai bayar. Haleluya!!

Nah, kalau begitu, bukankah saya bisa mendapatkan penyingkapan rahasia rencana Tuhan? Bukankah teman-teman bisa mendapatkan penyingkapan rahasia rencana Tuhan? Bukankah kita semua bisa mendapatkan penyingkapan rahasia rencana Tuhan?

Ya! Bisa! Karena kasih karunia-Nya. Puji nama Tuhan!

Kalau begitu, lantas apa alasan Bapa Surgawi membiarkan saya jatuh? Teman-teman, pada saat saya jatuh dari tangga, berbagai peristiwa di masa lalu saya terbersit dalam pikiran saya.

Saat itulah saya mengerti, alasan Tuhan membiarkan saya jatuh dari tangga. Bukan karena Ia tidak mencintai saya. Bukan! Bukan karena Ia tidak menjaga saya. Bukan! Bukan karena Ia tidak menuntun saya. Bukan!
Lalu, karena apa? Ketika saya merenungkan masa lalu saya, saya mendapati bahwa terdapat beberapa pilihan yang saya ambil secara keliru. Entah itu dalam pemilihan pasangan, dalam pemilihan proyek, dan bidang lainnya. Saya menyadari bahwa Tuhan sudah memberikan petunjuknya dengan begitu jelas di Alkitab tentang cara-cara seseorang untuk hidup sesuai kehendak-Nya. Ya, di Alkitab semua sudah tertulis jelas.

Kalau saya dengan nekatnya (katakanlah begitu) mengambil sendiri pilihan itu dengan mengabaikan petunjuk yang Tuhan berikan, apakah Tuhan yang salah? Saya jadi ingat bahwa Mami saya sudah mengingatkan saya:

“Sendal ini boleh dipakai, tapi jangan dipakai kalau ke kamar mandi. Licin soalnya.”

Mami adalah seorang wanita. Wanita memiliki fungsi sebagai penolong. Penolong adalah representasi dari Roh Kudus. Nah, Roh Kudus sudah memperingatkan saya. Sebagai contoh masalah pasangan hidup:

“Hey, di Alkitab ada tertulis begini lho. Jangan berpasangan dengan yang tidak sepadan.”

(Siapa tau teman-teman berminat untuk membaca masalah kesepadanan ini, bisa dibaca di “Cinta, Jatuh Cinta, dan Pasangan Hidup”)

Tapi saya langgar saja. Nah ketika hubungan berakhir, eh saya menyalahkan pasangan saya. Saya bertanya kepada Tuhan,

“Lho kog begini sih Tuhan?”

Ini saya bukan menyalahkan atau menghukum diri sendiri. Bukan juga karena saya mengingat-ingat masa lalu atau belum lepas dari masa lalu. Bukan, teman-teman. Tenang, jangan salah paham :D. Saya hanya bercerita supaya memberikan ilustrasi yang jelas :D.

Dulu saya sering berpikir:

“Saya sudah mengasihi dirinya semampu saya bisa mengasihi. Lalu apa salah saya?”

Dalam hubungan karena melibatkan 2 orang, jelas 2 orang ini punya andil untuk membuat hubungan itu berhasil atau gagal. Saya terlalu senang menyalahkan orang lain untuk memikul tanggung jawab bahwa ya memang saya punya andil untuk kegagalan itu.

Mengapa? Karena saya tidak mengikuti peringatan Roh Kudus dari awal… Ah, kebenaran memang seringkali tidak mengenakan bukan? Siapa sih yang suka dikatakan, “Hey kamu salah!”?

Hanya saja, itulah kebenaran! Peristiwa saya jatuh dari tangga itu membukakan pikiran saya untuk mengerti. Untungnya, Tuhan itu baik! Ia terlalu baik!

Dia tidak pernah membiarkan saya sendiri ketika sedang bersedih, ketika saya tak sanggup lagi. Seperti mami saya memegang tangan saya, mengangkat saya ketika saya jatuh, mengoleskan arak gosok kepada saya; itu juga yang Tuhan lakukan kepada saya!

Wow, bukankah Dia sungguh baik? Anak-Nya yang tidak mengindahkan kata-kata-Nya dan malah ngotot sendiri dengan kemauannya, setelah gagal menyalahkan Bapanya, tetapi Bapanya tetap tidak tinggalkan Dia sendiri.

Ketika dulu saya masih larut dalam perasaan marah, benci, sakit hati, kecewa; saya masih ingat dengan jelas papi saya dengan bijaknya berkata:

“Pasti Tuhan beri yang lebih baik.”

Papi saya bukan tipe orang yang banyak bicara. Ia lebih banyak memperhatikan saya dalam diam. Pada saat saya meminta nasihat, baru ia memberi nasihat. Tetapi papi saya suka bertanya juga, mengenai kehidupan saya, teman-teman saya, orang-orang yang dekat dengan saya. Papi saya adalah teladan bagi saya.

Papi adalah seorang pria. Pria memiliki fungsi sebagai seorang pemimpin. Pemimpin adalah representasi dari Bapa sendiri. Ya, saya bersyukur sekali bahwa Tuhan memberikan saya papi yang luar biasa hebat! Dari papi saya, saya bisa mengerti dengan mudah mengenai kasih Bapa Surgawi. Haleluya! Segala kemuliaan hanya bagi nama Tuhan!

Ketika si putih membuat saya terjatuh, papi saya dengan tegasnya mengatakan:

“Buang saja sendal itu.”

Tegas. Pendek, Tepat. Saya ingat pada saat peperangan dalam pikiran saya berkecamuk, berbagai emosi negatif muncul juga muncul pemikiran:

“Sudah, maafkan dan lupakan. Sudah berlalu.”

Tetapi, rasa ego saya memang terlalu besar. Rasa disakiti, merasa tidak layak diperlakukan tidak adil setelah mencintai, mendukung, melakukan yang terbaik untuk seseorang; itu terlalu mendominasi pikiran saya.

Ah, bukan salah Bapa Surgawi yang sudah menyatakan dengan jelas maksud hati-Nya di Alkitab kalau memang saya tetap ngotot dengan perasaan ego saya itu. Ya kan?

Tapi seperti papi saya yang tidak pernah memaksa saya, begitu juga Bapa Surgawi. Bapa Surgawi tidak pernah memaksa saya untuk mengambil suatu keputusan. Ia sabar. Perlahan-lahan, Ia membuat saya mengerti.

Bukankah begitu indah kasih Bapa Surgawi kepada saya? Saya sungguh bersyukur karena Ia membukakan hal-hal indah dari peristiwa kecil sehari-hari dalam hidup saya. Kasih-Nya terlalu besar.

Setelah saya jatuh, saya harus bangkit tentu saja. Seperti saat jatuh dari tangga, pada saat saya mengalami kegagalan dalam bidang apapun saya harus bangkit.

“Sebab tujuh kali orang benar jatuh, namun ia bangun kembali, tetapi orang fasik akan roboh dalam bencana.” (Amsal 24:16)

Ya, sebagai orang yang dibenarkan karena pengorbanan Kristus di kayu salib, saya menjadi orang benar. Teman-teman juga demikian. Jadi, kalau saya jatuh, saya harus bangun kembali. Kalau teman-teman jatuh, teman-teman harus bangun kembali. Kalau kita jatuh, kita harus bangun kembali.

Mengapa?

Tetapi dalam semuanya itu kita lebih dari pada orang-orang yang menang,oleh Dia yang telah mengasihikita. (Roma 8:37)

Kita adalah lebih daripada orang-orang yang menang! Karena siapa? Karena kita berkemauan keras? Karena kita bertekad kuat? Karena kita tegar? Karena kita tidak cengeng? Bukan! Tetapi karena Tuhan yang telah mengasihi kita! Wow! Puji Tuhan!

Sesudah kejadian itu, mami saya datang ke kamar saya. Kami ngobrol-ngobrol tentang kejadian saya jatuh dari tangga. Lalu mami saya mengeluarkan satu pernyataan yang membuat saya tertawa terpingkal-pingkal:

“Untung, (maaf) pantat kamu besar.”

Sampai sekarang saya masih tersenyum-senyum saat mengingat itu. Tempat saat saya jatuh, di situlah tempat saya bangkit. Di situlah Tuhan beri satu kekuatan.

Apakah cerita saya suatu hal yang familiar bagi teman-teman? 😀 Kalau ya berarti saya pikir kita punya banyak kesamaan. Itu juga yang membuat Tuhan mendorong dan menggerakkan teman-teman untuk bisa membaca artikel ini sampai selesai :D.

Teman-teman, Tuhan terlalu mencintai kita semua. Kasih-Nya terlampau besar! Begitu dalam cinta-Nya Ia pada kita! Sampai-sampai kalaupun kita nakal, bandel, dan tidak mengikuti kehendak-Nya, Ia tetap mencintai kita. Ia tidak tinggalkan kita!

Pada saat kita jatuh, Ia tidak memandang kita dengan kesal. Ia memandang kita dengan penuh kasih. Kasih-Nya tidak berubah.

Kalau ada di antara kita yang saat membaca ini merasa bahwa kita sudah bangkit dan menjadi lebih dari menang, saya bersyukur! Puji Tuhan! Haleluya! Yuk kita sebarkan berita kebaikan Kristus, bagi teman-teman lain yang belum bangkit, yang masih jatuh, yang masih kalah.

Kalau ada di antara kita yang saat membaca ini merasa ada sesuatu yang memang membuat kita tidak bisa maju ke masa depan, terikat kegagalan dan kejatuhan di masa lalu, yuk kita terima kebenaran bahwa kita adalah orang-orang yang benar, dibenarkan karena Kristus yang membenarkan kita, dan kita lebih dari pemenang. Yuk kita semua bangkit!

Nah, akhirnya saya sudah sampai di ujung artikel hari ini. Maaf teman-teman, saking bersemangatnya saya jadi lupa kalau sudah cukup panjang artikel ini :D. Yuk kita berdoa.

Doa saya hari ini:
Bapa yang Maha Baik yang kami kenal dalam nama Tuhan Yesus,
Terima kasih buat kebaikan-Mu dalam hidup kami. Terima kasih buat kasih-Mu yang terlalu besar. Terima kasih karena Engkau selalu beserta kami. Terima kasih karena Engkau menerima kami apa adanya. Terima kasih karena Engkau begitu mencintai kami.

Bapa, bagi kami yang telah menang, biarlah roh kami terus bernyala-nyala sehingga kami dapat melayani-Mu dengan lebih lagi. Lebih setia. Lebih sungguh. Lebih baik. Lebih dan lebih lagi. Bukan demi kami, tapi demi-Mu. Bukan demi kemuliaan kami, tapi demi kemuliaan-Mu.

Ya Roh Kudus, bangkitkanlah dan sebarkanlah Spirit of Excellent di tengah-tengah kami. Dengan demikian, kami bisa terus melakukan yang terbaik, mengasihi-Mu lebih lagi, dan rela membayar harga untuk bisa mengasihi-Mu. Ini semua bukan karena kami hebat, baik, jujur, setia, penuh dedikasi, dan penuh ketulusan, tetapi karena Engkau yang terlebih dahulu mengasihi kami. Semua yang kami miliki itu adalah kasih karunia-Mu. Kami bersyukur, Tuhan. Haleluya.

Bapa, bagi kami yang masih jatuh, yang masih terpuruk, biarlah kami menyadari posisi kami. Biarlah kami mengerti kebenaran. Dengan demikian kami bisa bangkit dan menjadi terang. Berilah kami hati yang MAU, HAUS, dan LAPAR akan kebenaran-Mu.

Ya Roh Kudus, gantikanlah hati kami dengan hati yang baru. Hati yang lembut. Hati yang mau senantiasa diajar kebenaran-Mu. Hati yang taat. Hati seorang hamba. Dengan demikian, kami bisa terus melakukan yang terbaik, mengasihi-Mu lebih lagi, dan rela membayar harga untuk bisa mengasihi-Mu.

Roh Kudus, ini doaku. Biarlah Engkau bekerja lebih lagi dan lagi, untuk menyentuh hidup dan hati setiap teman yang membaca artikel ini. Teruslah bekerja dengan sebebas-bebasnya untuk mengubahkan hati dan hidup setiap teman yang membaca artikel ini. Biarlah kasih, kuasa, dan karunia-Mu tercurah bagi kami semua.

Segala pujian, hormat, dan kemuliaan, hanyalah bagi nama-Mu, Yesus. Sebab Kau layak terima segala pujian, penyembahan, dan kemuliaan dari dulu, sekarang, sampai selama-lamanya.

Amin

Cerita: Segelas Teh Melati

Selamat pagi, teman-teman! Bagaimana kabarnya? Hari ini saya mau bercerita tentang segelas teh.

Mengapa teh? Karena saya suka sekali minum teh :D, terutama teh melati. Saya pernah menyeduh teh melati saat teh melatinya dalam bentuk kemasan teh celup. Biasanya saya menyeduh teh melati dalam bentuk daun tehnya yang langsung dicelup. Jadi tidak pakai kemasan celup.

Setiap kali menyeduh teh melati, saya pasti sempatkan untuk mendekatkan gelas berisi teh melati itu ke hidup saya. Saya hirup. Aroma teh melati yang harum masuk ke dalam rongga hidung saya. Pelan-pelan hirup. Ah, nikmattt!

Teman-teman, ternyata saat saya mencelup teh melati dalam bentuk kemasan teh celup dan dalam bentuk daun teh begitu saja, hasil aroma melatinya berbeda jauh!

Dari yang sudah saya lakukan, pada saat saya menggunakan teh melati dalam bentuk kemasan teh celup, aromanya tidak terlalu keluar. Padahal, pada saat saya menghirup aroma dari teh melati itu sebelum diseduh, aromanya kuat sekali.

Berbeda saat menghirup aroma dari teh melati yang bukan dalam bentuk kemasan. Memang saat pertama sebelum diseduh, aromanya juga kuat tapi saat diseduh aroma kuatnya itu lebih terlepas lagi.

Ketika saya meminum secangkir teh melati nikmat, hangat, dan lezat, tiba-tiba saya teringat akan sebuah film: “Forrest Gump” yang dibintangi oleh Tom Hanks. Di sana ada 1 adegan yang mengatakan

“Life is like a box of of chocolate”

Nah saya akan mengganti coklat itu dengan teh melati.

“Life is like a cup of warm jasmine tea”.

(“Hidup itu seperti segelas teh melati hangat)

Ketika saya renungkan, saat saya ingin mendapatkan segelas teh melati yang nikmat, hangat, dan lezat, saya memiliki dua pilihan. Pilihan pertama: saya bisa menggunakan kemasan teh melati dalam kemasan celup. Pilihan kedua: saya bisa menggunakan teh melati dalam bentuk daun tehnya.

Pilihan pertama (gunakan teh melati kemasan celup) tentu saja sangat praktis. Saya tidak perlu lagi menyaring daun tehnya. Tinggal seduh. Celup. Tunggu sebentar. Jadi. Instan. Cepat. Praktis. Mudah.

Pilihan kedua (gunakan teh melati dalam bentuk daun tehnya) tentu saja sangat tidak praktis. Saya harus menyaring daun tehnya atau kalaupun tidak, saat meminumnya saya harus hirup perlahan-lahan. Maksudnya supaya teh melati itu tidak termakan tentunya :D. Tidak instan. Repot. Perlu usaha lebih.

Kalau hanya melihat dari usahanya, untuk mendapatkan segelas teh melati hangat tentu saja saya bisa memilih pilihan pertama atau kedua. Toh akhirnya saya sama-sama dapat teh melati hangat juga.

Hanya saja, kalau saya ingin teh melati yang hangat, nikmat, dan lezat seperti yang saya inginkan, pilihan saya tidak lain dan tidak bukan adalah pilihan kedua.

Karena hidup ini seperti segelas teh melati yang hangat, saya juga memiliki pilihan dalam hidup. Apakah saya ingin memilih jalan yang instan? Mudah? Cepat? Praktis? Ataukah saya ingin memilih jalan kedua: tidak instan, repot, perlu usaha lebih.

Kalau hanya segelas teh melati hangat saja, saya ingin teh melati yang hangat, nikmat, dan lezat; apalagi dengan hidup saya.

Saya berpikir bahwa ketika saya ingin sebuah hidup yang memang sungguh diperkenan oleh Tuhan, saya harus mengalami proses peningkatan (improvement) dan pengembangan (development). Dalam prosesnya juga ada 2 jalan: Jalan pertama adalah jalan yang mudah, cepat, praktis. Jalan kedua adalah jalan yang tidak instan, repot, perlu usaha lebih.

Dalam menghadapi kedua pilihan ini, mana yang harus saya pilih? Pada saat dihadapkan pada pilihan mudah, instan, dan cepat tapi hasilnya tidak optimal dengan pilihan tidak instan, repot, dan perlu usaha lebih tapi hasilnya optimal, mana pilihan yang harus saya ambil? Kalau saya ingin teh hangat, nikmat, dan lezat saya harus ambil pilihan kedua. Begitu juga dalam hidup, saya harus ambil pilihan kedua.

Saya yakin hal ini adalah hal yang bisa jadi dialami oleh teman-teman semua. Jadi bukan hanya saya saja. Saya percaya bahwa dalam hidup kita mendapatkan kedua pilihan ini.

Kalau ada dari teman-teman yang sedang mengalami seperti yang sedang saya alami, kira-kira apa pilihan teman-teman semuanya? Saya yakin teman-teman bisa memilih sendiri pilihan yang terbaik bagi teman-teman.

Doa saya hari ini:

Terima kasih, Tuhan, untuk segelas teh melati hangat, lezat, dan nikmat yang Tuhan berikan. Seperti saya suka teh semacam itu, saya juga suka hidup yang semacam itu. Biarlah saya bertekun dalam pilihan kedua ya, Tuhan, karena saya tau ini yang Tuhan mau saya kerjakan.

Bagi teman-temanku yang membaca artikel ini, Tuhan Engkau juga yang tau hal yang terbaik bagi mereka. Kiranya kalau ada dari mereka yang saat ini juga mengalami hal yang sama seperti yang saya alami, biarlah Tuhan yang tuntun mereka sendiri untuk memilih hal yang paling tepat.

Terima kasih, Yesus, buat kasih-Mu yang tak berkesudahan, selalu baru setiap hari. Kasih-Mu yang tak pernah gagal. Kasih-Mu itu memampukan kami untuk terus berjalan hari lepas hari dan tidak menjadi letih. Tidak menjadi kendor. Tidak menjadi lesu. Tetap kuat! Tetap segar! Tetap semangat!

“Tetapi orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN mendapat kekuatan baru: mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya; mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah.” (Yesaya 40:31)

Apapun yang terjadi dalam hidup kami, biar kami tetap teguh berjalan sesuai kehendak-Mu. Karena kami tau, kehendak-Mu itu adalah yang terbaik bagi kami.

Terima kasih, Tuhan Yesus. Ya, Roh Kudus, berbicaralah terus bagi kami, ubahkan hati kami, dan buat kami menjadi baru. Biarlah lewat hidup kami, nama-Mu akan dipermuliaan.

Segala hormat, pujian, kemuliaan, hanyalah bagi nama Tuhan. Sebab Engkau yang layak, sangat layak, untuk dapatkan semuanya itu.

Amin.

Cinta Kedua: Yerusalem

Hari ini lagi-lagi terjadi sesuatu yang di luar dugaan saya. Tuhan sungguh luar biasa. Ia mengubah rencana saya, mempersiapkan yang lebih baik dari yang saya sudah rencanakan. Haleluya! Puji nama Tuhan!

Jadi saya memang sudah merencanakan topik ini, tapi dengan ilustrasi yang berbeda. Seperti artikel kemarin, lagi-lagi Ia membelokkan rencana saya dan memberikan ilustrasi yang lebih baik. Terima kasih, Tuhan Yesus.

Jadi ceritanya begini. Hari ini saya mengirimkan satu brain teaser yang saya dapatkan dari teman saya. Brain teaser itu adalah sejenis permainan untuk mengasah otak. Ini dia brain teaser yang saya kirimkan:

“Ada test IQ kecil-kecilan nih :

5+3+2=151022

9+2+4=183652

8+6+3=482466

5+4+5=202541

jika logika anda jalan..,.

Jawablh pertnyaan ini….

(7+7+7=…………)

jika benar IQ anda d atas 120”

Saya mengirimkannya karena memang menurut saya menarik. Ternyata di luar dugaan saya, banyak respon yang masuk. Membuat saya tidak menyangka dan terkejut juga :D. Terima kasih banyak bagi teman-teman yang sudah berpartisipasi dalam membuat saya terkejut karena senang hari ini :D.

Setelah beberapa orang menjawab, umumnya saya memberikan respon sama untuk setiap jawaban benar:

“Pinterrrr.”

Satu kata saja, tapi ternyata respon yang saya dapatkan berbeda-beda. Setelah beberapa respon berbeda saya dapatkan, sadarlah saya! Tuhan memberikan saya suatu bahan bagi suatu penelitian informal mengenai perilaku manusia!

Wow, luar biasa Tuhan kita! Ia memang pemikir yang sangat brilian! Sungguh segala yang tak terpikirkan dan tak direncanakan, itulah yang Dia berikan! Saya terpana dan berdecak kagum dengan sendirinya.

Cukup banyak hal menarik yang saya dapatkan dari suatu permainan Brain Teaser ini. Dari sana saya akan mengaitkannya dengan tema artikel hari ini. Satu hal yang saya angkat adalah respon setiap orang yang berbeda-beda ketika mereka berhasil menjawab atapun gagal menjawab. Juga respon ketika saya mengatakan:

“Pinterrrr.”

Bagi saya, respon setiap orang menunjukkan keunikan setiap orang. Itulah yang membuat satu Brain Teaser ini menjadi sangat menarik. Mengapa? Karena ia menjadi satu jembatan untuk mengungkap sisi yang tidak mudah untuk dimengerti: keunikan manusia.

Tidak ada yang salah dengan respon setiap orang yang ikut serta berpartisipasi dalam hal yang saya kirimkan tersebut. Semua respon adalah baik adanya dan itu sungguh memberikan saya pembelajaran mendasar mengenai manusia.

Hal yang saya baru sadari adalah dalam Brain Teaser ini ada unsur pembentukan citra diri. Bahwa jika berhasil maka “logika Anda jalan”, “memiliki IQ di atas 120”. Dengan kata lain, “Pinterrr” tadi.

Sebaliknya jika tidak berhasil, tentu ada yang langsung mengartikan sebaliknya. Secara tidak langsung juga ada yang mengartikan bahwa kalau tidak berhasil maka “logika Anda tidak jalan”, “memiliki IQ di bawah 120”.

Padahal sebenarnya kalau mau dibedah, Brain Teaser ini adalah satu alat bantu untuk mengukur suatu hasil pembelajaran terhadap pemahaman pola hitung dan operasi matematika yang sudah pernah (sering) dilakukan seseorang. Semakin sering seseorang berlatih memahami dan mencari pola tersebut, akan semakin mudah.

Jadi yang disebut “Pinterrrr” atau “logika jalan” atau “IQ di atas 120” itu sebenarnya merupakan perwakilan dari sudah berhasilnya orang yang menjawab tersebut untuk melatih dirinya memahami dan mencari pola tersebut.

Kecerdasan itu sendiri tidak dapat diukur hanya dari segi matematis semata. Karena bukan hanya pemahaman mengenai pola matematis saja yang menjadikan seorang itu “Pinterr” tapi seluruh aspek dari diri seseorang lah yang menjadikan ia “Pinterrr”.

Jadi sesungguhnya “Pinterrrr” itu luas sekali. Bagi yang berhasil menjawab, berarti sekurang-kurangnya mereka memiliki kecerdasan matematis. Sementara bagi yang tidak berhasil menjawab, saya yakin sekurang-kurangnya mereka memiliki kecerdasan interpersonal. Mengapa? Karena mereka mau meresponi pada hal yang masuk.

Bagaimana dengan yang sama sekali tidak menjawab? Saya juga yakin mereka juga “Pinterrr”. Saya juga yakin, ada sesuatu hal yang menghalangi mereka untuk bisa berpartisipasi dalam Brain Teaser ini.

Jadi semua orang itu pintar sesungguhnya. Hanya saja mereka kuat di bidang-bidang tertentu. Itulah salah satu hal yang membentuk keunikan manusia.

Saya tidak cermat memperhatikan Brain Teaser ini. Tapi ternyata ketidakcermatan saya ini pun bisa dipakai Tuhan untuk mengungkapkan keunikan manusia ciptaan-Nya. Puji Tuhan!

Setiap orang diciptakan unik, indah, berharga, mulia, dan segambar dengan Tuhan. Sayangnya, dalam perjalanan hidup manusia, sejak dosa asal lalu seterusnya, manusia kehilangan (melupakan?) citra dirinya itu.

Proses pembentukan citra yang awalnya indah itu perlahan-lahan bisa menjadi berubah, mengalami pengeroposan sedikit demi sedikit. Di mana berlangsungnya? Pertama kali adalah di Yerusalem.

Yerusalem? Mungkin Anda bertanya-tanya. Apa hubungan Yerusalem dengan pengeroposan citra manusia?  Kata “Yerusalem” yang saya gunakan ini terilhami dari ayat:

“Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan KAMU AKAN MENJADI SAKSIKU di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi.” (Kisah Para Rasul 1: 8)

“Yerusalem” berbicara mengenai lingkungan sekitar, lingkungan terdekat, keluarga. Ah, keluarga! Ada apa dengan keluarga?

Inilah tempat pertama kali seorang anak bertumbuh, belajar, dan… membentuk CITRA DIRI. Perkataan orang tua terutama menjadi suatu yang sangat mempengaruhi perkembangan citra diri anak.

Kalau orang tua memberikan perkataan yang membangun, anak akan tumbuh menjadi seorang yang percaya diri. Sebaliknya jika orang tua memberikan perkataan yang melemahkan, anak akan tumbuh menjadi seorang yang rendah diri. Pendeknya, pemberian LABEL bagi anak.

Contoh label membangun: ketika anak melakukan sesuatu yang baik, orang tua memuji “Hebat”, “Bagus”, “Pintar”, dst. Anak akan belajar dari proses berulang-ulang bahwa itulah jati dirinya.

Contoh label melemahkan: ketika anak melakukan sesuatu yang kurang baik, orang tua mengatakan “Nakal”, “Bodoh”, “Bandel”, dst. Anak juga akan belajar dari proses berulang-ulang bahwa itulah jati dirinya.

Pemberian LABEL yang melemahkan inilah yang berperan besar dalam membentuk citra diri anak. Mungkin orang tua tidak sadar bahwa ini yang mereka lakukan. Sebenarnya saya merasa juga tidak pada tempatnya untuk menjelaskan ini karena saya belum menjadi orang tua tapi inilah yang saya rasakan Tuhan taruh dalam hati saya hari ini.

Seringkali bahkan orang tua berniat baik, namun dengan cara yang kurang pas. Pembanding-bandingan anak yang satu dengan anak yang lain dengan tujuan memacu sang anak, bukanlah suatu cara yang pas untuk membentuk citra diri positif seorang anak.

Saya akan menceritakan pengalaman seorang teman saya. Karena sudah mendapat izinnya untuk membagikan hal ini, akan saya bagikan. Saya berharap ini akan memberkati teman-teman yang membaca. Teman saya juga mengizinkan saya membagikan ini karena ia berharap hal ini dapat memberkati teman-teman semua.

Teman saya ini bisa dibilang sangat beruntung. Ia memiliki orang tua yang luar biasa mencintai dirinya. Teman saya bercerita bahwa ia memiliki 3 orang kakak. Jadi keluarga mereka adalah 4 bersaudara.

Menurut dirinya, kakak pertamanya adalah seorang yang Sanguin. Ceria, aktif, penuh energi, dan perhatian pada orang lain. Kakak keduanya adalah seorang Kolerik dan Melankolik. Berkemauan keras untuk maju, mandiri, dan penuh pemikiran bagi orang lain. Kakak ketiganya adalah seorang Sanguin dan Kolerik. Menarik, pandai meyakinkan orang lain, dan seorang dengan Visi yang besar. Sementara teman saya berkata, ia sendiri bisa jadi merupakan perpaduan Plegmatis Melankolik. Tenang, pembawa damai, penuh pemikiran bagi orang lain.

Ia bercerita bahwa ia tahu kalau orang tuanya sangat menyayangi dirinya dan ketiga kakaknya. Namun saat yang sama, ia juga mengatakan bahwa menurutnya orang tuanya tidak pernah memuji dirinya. Selalu ketiga kakaknya yang dipuji. Hatinya merasa luka.

Ia berpikir bahwa ia tidak istimewa. Sering ia berpikir seandainya ia bisa menjadi seperti kakak pertamanya yang populer dan disukai banyak teman. Kali lain ia berpikir seandainya ia bisa menjadi seperti kakak keduanya yang cerdas dan penuh kemauan keras untuk maju. Di lain pihak ia juga brepikir seandainya ia bisa seperti kakak ketiganya yang penuh visi dan pandai meyakinkan orang lain.

Mengapa hal ini terjadi? Teman saya bercerita kepada saya bahwa sedari kecil memang orang tuanya selalu membandingkan dirinya dengan kakak-kakaknya. Karena orang tuanya sering sekali membandingkannya dengan kakak keduanya, teman saya ini lalu berpikiran bahwa kalau ia bisa menjadi seperti kakak keduanya maka orang tuanya akan menerima dirinya.

Jadi teman saya ini berusaha mati-matian di sekolah. Ia selalu berpikir harus menjadi nomor 1. Harus menjadi yang paling hebat. Ia berpikir dengan begitu, ia bisa mendapatkan penerimaan orang tuanya.

Apa yang terjadi? Dia berhasil menjadi nomor 1. Dengan usaha keras, dia menjadi nomor 1. Orang tuanya memujinya dan ia merasa senang. Sayangnya itu tidak berlangsung lama.

Ada saja hal yang membuat dirinya akhirnya berpikir bahwa ia tidak akan pernah bisa memuaskan orang tuanya. Orang tuanya tidak pernah puas!

Ia merasa sendiri. Terkucil. Terkekang. Lelah. Segala hal sudah ia lakukan, tapi itu pun tak pernah cukup. Ia merasa marah. Juga tak berdaya. Pasrah.

Teman saya merasa telah menjadi anak yang baik. Ia tidak pernah macam-macam. Bintang sekolah. Tidak pernah main ke sembarang tempat. Rajin belajar dan belajar. Tidak pernah meminta macam-macam pada orang tua.

Teman saya bercerita lagi pada saya. Ia sampai pada satu titik mempertanyakan:

“Mengapa saya harus dilahirkan? Kalau memang orang tua saya sendiri pun tidak bisa menerima diri saya apa adanya? Apa yang SALAH dengan diri saya? APA? APA?”

Ia lalu berpikir kalau saja ia bisa mengubah diri menjadi seperti kakak pertamanya yang ceria, setidaknya ia akan bahagia. Tapi ia sudah terbentuk sedemikian rupa mengikuti harapan orang tuanya: menjadi juara, nomor 1, pintar!

Teman-teman masih banyak yang teman saya ceritakan, tapi saya potong saja sampai di situ. Saya mengenal juga seorang kakak dari teman saya tadi. Dari kakaknya itu saya mendapatkan gambaran yang lain lagi tentang keluarga mereka.

Ternyata, gambaran yang saya dapatkan mengenai teman saya ini dari kakaknya sungguh berbeda daripada hal yang saya dapatkan dari teman saya. Saya jadi bingung sendiri. Kog bisa ya, dua orang dalam satu keluarga yang sama, orang tua yang sama, ternyata menceritakan 2 hal yang berbeda?

Ternyata yang terjadi adalah orang tua dari teman saya memang masih menganut pemikiran lama. Bahwa memacu anak itu penting tapi memuji tidak terlalu penting. Itu sebabnya teman saya itu bisa berpikir bahwa ia tidak istimewa.

Padahal kalau saya menilai diri teman saya ini, saya lihat dia memiliki keunggulannya tersendiri. Memang ia juga memiliki kelemahannya, tapi saya melihat banyak hal yang sungguh indah di dalam dirinya.

Hal yang sangat menarik diungkapkan oleh kakak teman saya ini. Ia berkata bahwa ketika ia belum menjadi orang tua, ia berpikir juga bahwa orang tuanya tidak menyayangi dirinya. Tetapi ketika ia menjadi orang tua, barulah ia mengerti.

Apa yang ia mengerti? Bahwa orang tuanya sebenarnya sangat menyayangi semua anak-anaknya hanya saja cara mereka yang tidak menunjukkannya membuat anak-anaknya tidak bisa menangkap dengan jelas hal itu.

Saya belajar dari sharing teman saya itu bahwa menjadi orang tua bukanlah hal yang mudah. Menjadi orang tua adalah tugas dan tanggung jawab berat dan mulia yang Tuhan beri.

Seorang anak adalah seperti kertas putih. Ketika orang tua mulai membentuk anak, ketika itulah citra anak terbentuk. Saya merasa sangat terberkati dengan sharing dari teman saya dan kakaknya teman saya ini.

Saya pun belajar dari orang tua saya sendiri. Bahwa orang tua saya mencintai saya dengan cara mereka masing-masing. Terkadang saya juga seperti teman saya, merasa tidak memahami orang tua saya.

Ketika mendapati mami saya mengingatkan saya untuk makan pada waktunya dan tidur tidak terlalu malam, cukup sering saya merasa mami saya terlalu cerewet. Ketika mendapati papi saya bertanya tentang teman-teman saya, cukup sering saya merasa papi saya terlalu ingin ikut campur urusan saya.

Padahal mami saya lah yang setiap hari rajin membuatkan saya makanan dan minuman ini dan itu supaya saya tetap sehat. Papi saya lah yang selalu memperhatikan saya dalam diam dan berharap yang terbaik untuk saya.

Mereka selalu mendoakan saya. Mereka juga mengingatkan saya untuk selalu menjaga kesehatan saya. Tidak tidur terlalu larut. Mengistirahatkan mata kalau sudah lelah. Mendengarkan saya. Perhatian dengan cerita saya. Bahkan walaupun saya sering kali malas, cuek, dan terlalu asyik dengan dunia saya sendiri, mereka bisa menerima hal itu.

Hum… mengingat itu, rasanya saya menjadi anak yang sangat tidak tau berterima kasih. Bisa dibilang orang tua seperti mereka itu langka. Dari mereka saya banyak sekali mempelajari prinsip-prinsip kehidupan.

Kalau saya ditawarkan Tuhan untuk bisa memilih orang tua saya sendiri, saya tidak akan menukar mereka dengan orang tua manapun. Di tengah segala kekurangan mereka, merekalah orang tua terbaik di mata saya.

Teman-teman, mungkin ada di antara teman-teman yang mengalami seperti pengalaman teman saya atau pengalaman saya. Saya sungguh percaya bahwa teman-teman bisa membaca artikel ini adalah bukan kebetulan. Ada suatu rencana Tuhan yang indah bagi teman-teman semua.

Saya percaya bahwa semua orang tua memiliki niat terbaik dalam hatinya bagi anak-anaknya. Hanya saja cara mereka dalam mengungkapkannya tidak terlalu dapat ditangkap dengan baik oleh anak-anaknya. Tetapi, bukankah tidak ada seorangpun yang sempurna? Termasuk orang tua kita?

Kalau ada teman-teman yang memiliki orang tua yang tidak memiliki niat terbaik dalam hatinya bagi teman-teman, saya yakin bahwa ada rencana Tuhan yang indah bagi teman-teman semua.

“Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada padaKu mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.“ (Yeremia 29:11).

Inilah isi hati Tuhan. Bahwa ia hanya merancangkan:

–         Hal yang penuh damai sejahtera.

–         Bukan rancangan kecelakaan.

–         Untuk hari depan penuh harapan.

Mungkin teman-teman ada yang berpikir:

“Rancangan damai sejahtera? Setiap hari orang tua saya tidak saling menyapa.”

“Bukan rancangan kecelakaan? Setiap hari orang tua saya ribut terus.”

“Hari depan penuh harapan? Mana mungkin? Kondisinya begitu buruk! Mungkinkah masih ada harapan?”

Selalu ada harapan di dalam Tuhan! Selalu ada HARAPAN di dalam TUHAN! Jangan menyerah, Ia punya rencana yang luar biasa bagi setiap kita.

Bagaimana mengatasi pemikiran bahwa orang tua tidak mencintai dan seterusnya? Seorang teman saya berbagi pengalaman serupa dan ia memberikan suatu masukan yang luar biasa:

“Ketika saya masih kecil, saya berbicara seperti anak kecil, saya berpikir seperti anak kecil, saya beralasan seperti anak kecil. Ketika aku menjadi dewasa, saya menempatkan cara kekanak-kanakan di belakang saya.” (1 Korintus 13:11)

Dari contoh kasus teman saya tadi: Sebagai seorang anak, ia akan berpikir orang tuanya tidak mencintai dirinya karena membanding-bandingkannya dengan orang lain. Tetapi sebagai seorang dewasa, ia akan berpikir dengan cara lain, yaitu bahwa orang tuanya ingin memacu dirinya menjadi lebih baik.

Ayat ini sangat memberkati saya karena saya juga sedang dalam tahap belajar untuk bisa menjadi dewasa. Pemikiran saya masih banyak yang kekanak-kanakan. Saya masih banyak beralasan seperti anak kecil.

Untungnya Tuhan itu memang luar biasa baik. Saya dianugerahi banyak orang yang sangat istimewa di hidup saya. Mereka siap menolong saya. Memberikan saya masukan. Dengan resiko saya akan dapat membenci mereka.

Untuk itu, kepada orang-orang yang sangat istimewa di hidup saya ini, khususnya untuk satu orang secara spesifik (kalau kamu membacanya, ya ini untuk kamu. Saya yakin kalau kamu membaca ini, kamu akan mengerti bahwa saya berbicara kepada kamu.). Saya mengucapkan banyak terima kasih karena kamu telah berani mengambil resiko untuk menjadikan saya seorang yang lebih baik, seorang yang dewasa, dan seorang yang jadi berkenan di mata Tuhan dan manusia.

Maafkan saya yang tidak menangkap ketulusan hatimu. Maafkan saya yang malah menjadi marah dan tidak terima dengan niat baikmu. Maafkan saya yang berharap kamu memberi saya masukan dengan cara yang saya inginkan.

Selain itu, saya juga mau berterima kasih untuk setiap orang yang sudah memberikan kontribusi untuk artikel ini bisa dibuat, baik yang menyadarinya ataupun tidak. Terutama untuk 2 orang istimewa, yaitu yang telah membagikan Brain Teaser itu kepada saya dan yang telah memberikan share berkaitan dengan pengalamannya. Kalau kalian membaca artikel ini, saya yakin kalian tahu ini untuk kalian. Terima kasih banyak!

Teman-teman artikel ini menjadi begitu panjang tanpa saya sadari. Saya hanya bisa berdoa dan berharap bahwa artikel ini sungguh bisa memberkati teman-teman yang membacanya.

Doa saya hari ini:

Tuhan,

Saya berdoa bagi semua teman yang sudah membaca artikel ini. Biar Roh-Mu yang akan bekerja lebih lagi untuk mengubah, memperbaharui, dan menyempurnakan penulisan ini supaya sungguh menjadi rhema di hidup setiap teman yang membacanya.

Saya bersyukur untuk setiap hal dan setiap orang yang Tuhan izinkan di hidup saya. Setiap hal yang Tuhan berikan, itu sungguh amat baik. Bantu saya untuk bisa mengerti dan menghargai hal itu, Tuhan.

Pimpinlah kami semua, Tuhan. Supaya kami bisa selalu belajar dan belajar terus, untuk mengerti bahwa keunikan dan perbedaan karakter dan kepribadian adalah suatu hal yang indah, bukan suatu hal yang salah. Bantu kami, Tuhan, supaya kami semakin memahami bahwa justru di dalam keunikan dan perbedaan karakter dan kepribadian itulah, kami akan bertumbuh semakin menyerupai Engkau.

Terima kasih, Tuhan. Segala hormat, pujian, dan kemuliaan hanyalah bagi nama-Mu.

Amin.

Cinta Pertama: Kasih Mula-mula

Jauh sebelum saya menulis ini, saya sudah punya rencana untuk menuliskan tema yang sama. Rencana saya adalah membuat suatu latar belakang (ilustrasi) yang berbeda.

Masalahnya, kemarin terjadi sesuatu yang membuat saya harus membuang rencana ilustrasi saya. Mengapa begitu? Karena Tuhan ternyata memberikan ide yang lebih luar biasa yang tidak terpikirkan sebelumnya. Penasaran? Memang itu maksud saya :D.

Saya akan ceritakan kronologis ceritanya. (Peringatan dulu: ceritanya akan cukup/sangat panjang.)  Hari Minggu sore menjelang malam, saya mendapatkan satu proyek dari seorang klien baru. Proyek ini memiliki tengat waktu (deadline) ketat 24 jam. Jadi saya harus selesaikan pada Senin sore. Minggu malam saya hanya tidur selama kurang lebih 3 jam (dari jam 12 malam sampai jam 3 pagi). Saya bangun pukul 3 pagi, saat teduh dan lain-lain, langsung kerjakan lagi proyek tersebut.

Cerita mengenai proyek ini juga bisa menjadi satu cerita tersendiri. Karena akan terlalu panjang dan tidak fokus, saya batasi sampai di sini saja cerita tentang proyek tersebut. Singkat kata akhirnya dengan pertolongan Tuhan saya berhasil menyelesaikannya tepat waktu pada Senin sore menjelang malam.

Senin malam, badan saya terasa capek luar biasa. Sendi-sendi di tangan terasa agak sakit karena kurang tidur. Seharian saya terus berkutat dengan pekerjaan. Jadi Minggu malam sampai Senin malam, benar-benar rasanya semua tenaga terkuras habis.

Jadi setelah selesai mengirimkan hasil proyek kepada klien, saya bermaksud bersantai. Setelah selesai mandi dan makan malam, saya menghubungi beberapa orang teman untuk melepas lelah dan juga ketegangan sepanjang hari.

Seingat saya, saya mengirimkan pesan kepada setidaknya 4 orang teman. Lalu saya menunggu supaya pesan saya tertandai telah dibaca. Tunggu punya tunggu, pesan saya tidak tertandai juga. Saya lalu mengecek sinyal alat komunikasi yang saya gunakan.

Sinyalnya ada. Tandanya EDGE. Akan tetapi saya tunggu-tunggu terus pun, tanda “D” yang saya harapkan tidak muncul-muncul. Saya jadi sangat heran!

Kejadian gangguan komunikasi karena sinyal ini memang bukan barang baru. Kejadian lag (tertundanya penyampaian pesan) karena lemah sinyal sudah bukan hal aneh. Tapi malam kemarin, itu benar-benar suatu hal yang di luar dugaan sama sekali. Mengapa begitu? Karena belum pernah terjadi demikian!

Karena tidak kunjung terkirimnya pesan saya itu, saya lalu membuka salah satu jejaring sosial yang saya ikuti. Tiba-tiba saya terdorong untuk mengetikkan satu lirik lagu. Sambil menuliskan lirik lagu, saya juga menyanyikannya.

Sekejap rasa lelah, capai, pegal, dan sakit di sendi dan badan semua hilang! Hal yang terasa hanya sukacita, damai, dan benar-benar indah! Setelah mengetikkan satu lirik lagu, saya tidak bisa berhenti. Jari saya terus dan terus mengetik.

Sambil mengetik, saya terus menyanyi. Sekali saya dengar ada bunyi alat komunikasi saya berbunyi. Saya pun berenti untuk membacanya dan membalas. Aneh! Ketika saya balas, tetap tidak terkirim. Padahal sinyal ada, EDGE!

Jadi saya kembali mengetik dan menyanyi. Setelah selesai satu lagu, saya bertanya dalam hati, “Tuhan, kira-kira Kau mau lagu apa?” Lalu tiba-tiba ada satu lagu yang terbersit di pikiran. Jadi begitu seterusnya saya lakukan.

Ada sejumlah lagu yang saya tidak hafal liriknya. Jadi saya cari saja di google dan melakukan copy-paste untuk lagu-lagu tersebut. Setelah berhasil copy-paste, saya nyanyikan. Baru saya beralih ke lagu berikutnya.

Begitu terus saya lakukan. Selama saya mengetik dan menyanyikan lagu-lagu tersebut ada sejumlah teman di jejaring sosial tersebut yang memberi komentar atau mengklik “like” di salah satu lagu yang saya ketik. Tetapi, rasa-rasanya saya tidak ingin menghiraukan itu semua, saya sungguh tenggelam dalam sukacita, damai, dan keindahan-Nya.

Air mata mengalir. Hati sukacita. Beban ketegangan yang masih tersisa dari proyek yang sudah diselesaikan semua lenyap. Saya tenggelam! Sungguh tenggelam.

Lalu saya berkata dalam hati, “Kalau Tuhan ingin saya berhenti, tolong beri tanda.” Cukup lama saya mengetik dan menyanyi. Sampai akhirnya pintu kamar saya diketuk mami saya. Mami saya menyuruh saya tidur.

Ketika saya hendak mematikan laptop saya, saya tiba-tiba menyadari sesuatu. Tuhanlah yang mematikan sinyal alat komunikasi saya! Saya baru sadar bahwa Ia menginginkan waktu berdua saja dengan saya, tanpa perhatian yang terbagi untuk siapapun dan apapun!

Ya, kencan di malam hari kasih sayang dengan Tuhan Yesus! Kencan semalam sungguh luar biasa tak terlupakan. Inilah kado Valentine’s day yang sangat berharga bagi saya!
Itu sebabnya, ketika saya menyadari hal itu lalu menuliskan hal berikut ini dalam jejaring sosial yang saya ikuti:

“Thank You, Lord, for asking me to go out for dating today. What an unforgettable Valentine’s day night! You even halted all my black berry signal, just to go out dating with me. It’s such a very great joy, peace, and love in this Valentine’s day night. Thank You, Jesus, for choosing me as Your valentine’s date. Amen!”

(Terjemahan: “Terima kasih, Tuhan, untuk mengajak saya keluar untuk berkencan hari ini. Sungguh malam hari kasih sayang yang tidak akan terlupakan! Kau bahkan menghalangi semua sinyal black berry saya, hanya untuk pergi keluar berkencan dengan saya. Itu adalah suatu suka cita, damai, dan kasih yang sangat besar pada malam hari kasih sayang ini. Terima kasih, Yesus, untuk memilih saya sebagai pasangan kencan-Mu di Valentine ini. Amin!”)

Ternyata Tuhan menginginkan waktu dan perhatian penuh dari saya. Ia menginginkan cinta pertama, kasih yang mula-mula dari saya.

Apa sih cinta pertama itu? Apa sih kasih mula-mula itu? Saya akan mencoba menjelaskannya dengan contoh. Pernahkah teman-teman mengalami jatuh cinta? Bagaimana rasanya jatuh cinta pertama kali kepada saat fase awal?

Apakah rasanya begitu bergairah? Bersemangat? Ingat terus kepada si dia? Rasanya ingin terus membicarakan dirinya? Ingin sekali ngobrol dengan dia? Rasanya mau melakukan apapun demi dirinya?

Nah seperti kepada manusia, kepada Tuhan juga begitu. Ingatkah teman-teman ketika pertama kali teman-teman mengenal Tuhan Yesus? Ketika hati terasa begitu berkobar-kobar? Bersemangat? Ingin terus membicarakan diri-Nya? Ingin terus berada di hadirat-Nya? Ingin terus bersama-Nya? Rasanya ingin melakukan apapun demi diri-Nya? Ya! Itulah cinta pertama! Kasih mula-mula itu!

Dalam hidup saya sampai saat ini, saya mengalami pasang surut kehidupan. Saya mencatat setidaknya ada 2 kali saya mengalami masa tergelap dalam hidup saya. Saya berdoa bahwa saya tidak akan memasuki lagi masa itu.

Pada saat tergelap itu, saya bahkan tidak bisa merasakan diri-Nya! Sedikitpun tidak! Ketika itu, doa-doa saya terasa tidak didengar. Saya merasa sendiri. Merasa lelah. Kalah. Tidak berdaya. Hancur.

Saya bertanya,

“Di manakah, Engkau, Tuhan? Mengapa Engkau meninggalkan aku?”

Tapi sebenarnya yang saya rasakan itu tidak benar. Ia tidak pernah tinggalkan saya. Ia tetap dengar doa saya. Saya tidak sendiri. Ia selalu bersama saya.

Dalam kondisi itu, perlahan-lahan Ia membantu saya untuk bangkit. Begitu panjang ceritanya dan saya sudah menceritakan salah satunya dalam artikel yang lampau. Jika ada teman-teman yang tertarik silakan saja mencarinya.

Bukan hanya pada 2 titik tergelap di hidup saya, saya juga mengalami 1 kali saat saya berada katakanlah di titik tengah di hidup saya. Jadi, tidak dalam keadaan terpuruk, tapi tidak juga sangat bersemangat. Yah, biasa saja. Baik-baik saja. Tidak merasa ada yang kurang.

Persamaan dari 3 titik waktu tersebut adalah saya meminta Tuhan supaya saya bisa lebih dekat dengan-Nya. Di 1 titik tengah itu, saya secara spesifik meminta kepada Tuhan untuk bisa kembali ke kasih mula-mula itu, cinta pertama itu. Tetapi sesungguhnya inisiatif awal bukan datang dari saya, Ia sendiri yang datang dengan kasih-Nya!

Teman-teman, Tuhan itu baik! Ia sangat baik! Dia bukan hanya tidak tinggalkan saya. Dia juga dengarkan doa saya. Lebih dari itu, Dia jawab doa saya.

Melalui berbagai proses yang berbeda namun 1 kesamaan. Ketika saya merenungkan kesemuanya itu, saya menemukan 1 kesimpulan:

“Ternyata saya kembali ke cinta pertama, kasih mula-mula saya pada Tuhan, ketika saya kembali pada Firman-Nya, terhubung dengan kasih-Nya.”

Ya! Sesederhana itu! Tidak perlu rumus macam-macam. Tidak perlu pemahaman yang sulit. Cukup kembali ke Ia yang mengasihi kita! Bukan karena perbuatan baik saya, bukan karena keinginan saya untuk kembali ke kasih mula-mula juga. Tetapi semua diawali dari Firman, Kristus sendiri yang mau mengulurkan tangan-Nya bagi saya. Jadi bukan saya, tapi Dia!

Kali pertama saya berada dalam titik terendah di hidup saya, kakak saya membantu saya bangkit dengan membagikan kaset-kaset kotbah dan menyuruh saya membaca Alkitab setiap hari. Setiap hari saya dengarkan, baca, renungkan.

Ya! Setiap hari saya dengarkan, baca, renungkan. Firman-Nya mengubah hidup saya! Sungguh-sungguh mengubah diri saya! Inisatif dari siapa? Yesus, melalui kakak saya!

Saya menyadari benar, itu bukan sepenuhnya usaha saya! Saya bisa kembali ke kasih mula-mula itu bukan karena saya hebat! Bukan karena saya gigih! Bukan karena saya pintar! Bukan karena saya disiplin! Bukan! Usaha saya hanya sebagian kecil saja dari satu bagian besar yang penuh misteri. Misteri itu bernama kebaikan Tuhan! Sang Firman yang Hidup!

Ya, kalau bukan Tuhan yang begitu baik mengubah saya, walaupun saya mendengarkan Firman-Nya setiap hari, membaca dan merenungkan Firman-Nya, tetap saja tidak akan ada perubahan! Tidak percaya? Lanjutkan membaca di bawah ini.

Di titik tengah di hidup saya, saya tetap saat teduh, tetap berdoa, dan tetap melayani. Saya tetap membaca Firman Tuhan, merenungkan Firman Tuhan, melakukan Firman-Nya, berdoa, membagikan Firman, melayani. Saya merasa baik-baik saja. Semua baik. Tapi gelora dan semangat itu tidak sehebat ketika saya berada pada cinta pertama itu.

Dalam kondisi itu, saya tiba-tiba merasa rindu. Kangen. Ingin sekali untuk kembali ke kasih mula-mula itu! Saya meminta Tuhan saat itu untuk cinta pertama itu! Teman-teman tahu? Ia luar biasa baik! Ia menjawab doa saya.

Saat itu saya dipertemukan dengan dua orang teman. Satu menganjurkan saya banyak membaca Alkitab dalam Bahasa Inggris. Satu lagi menganjurkan saya untuk mempelajari Alkitab dalam Bahasa Inggris. Saya lalu membeli Alkitab NIV. Ketika saya mulai membacanya, perlahan-lahan Tuhan membawa saya kembali ke cinta pertama itu. Ya! Ke kasih mula-mula itu!

Apakah Alkitab dalam Bahasa Inggris lebih baik dari Alkitab dalam Bahasa Indonesia? Tentu tidak! Bukan itu maksud saya. Tetapi ketika saya mulai membaca Firman-Nya dengan keingintahuan dan antusiasme baru, Ia membuka hati saya terhadap hal-hal baru yang belum saya temukan sebelumnya. Terhubung dengan-Nya!

Jadi selalu ada 2 sisi. Ada bagian dari diri saya dalam skala kecil yang memiliki keinginan untuk mengalami kasih mula-mula dan ada bagian Tuhan yang begitu besar untuk menjawab keinginan saya itu! Dan bagian Tuhan itulah yang mengawali semuanya! Tidak mungkin saya memiliki keinginan untuk mengalami kasih mula-mula tanpa Dia lebih dahulu memiliki inisiatif untuk menanamkannya dalam diri saya. Puji nama Tuhan!

Di titik terendah kedua di hidup saya, saya tetap saat teduh, tetap berdoa, dan tetap berusaha melayani dengan susah payah. Tapi Ia sungguh baik! Bukan karena kuat dan hebat saya, kalau saya bisa bertahan sampai hari ini!
Itu semua adalah karena anugerah-Nya! Sungguh! Saya masih ingat ketika saya melewati hari dengan tertatih-tatih. Setiap kali saya menjerit dalam hati. Tidak ada tanggapan yang terdengar! Saya membaca Firman-Nya, merenungkannya, menyimpannya dalam hati, berdoa, melayani, tapi tetap semua itu sia-sia.

Lalu apakah yang membuat saya kembali ke cinta pertama dalam titik terendah kedua di hidup saya? Firman-Nya yang hidup! Ya! Yesus, sang Firman yang hidup, yang membantu saya mengambil keputusan untuk melangkah. Dari situ, Firman-Nya di Alkitab yang berangsur-angsur menyembuhkan saya dan membawa saya perlahan-lahan kembali ke kasih mula-mula itu. Cinta pertama itu!

Jadi kesimpulan saya, cinta pertama, kasih mula-mula itu dimulai dari 2 hal: peranan Tuhan Yesus dan juga respon hati kita. Ia berfirman bahwa:

Carilah dahulu Kerajaan Allah serta kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.” (Matius 6:33)

Saat kita sungguh-sungguh rindu ingin mengenal Dia, ingin dekat dengan-Nya, ingin masuk ke hadirat-Nya lebih lagi, ingin kembali ke cinta pertama, ke kasih mula-mula itu, Ia menjawab keinginan hati kita! Itulah yang dimaksud dengan Kerajaan Allah.

Bagaimana bisa haus dan rindu ingin mengenal Dia? Itu Dia yang pertama-tama menanamkan dalam hati kita. Inisiatif mulai dari Dia! Jadi kalau timbul keinginan untuk lebih dekat dengan-Nya, bersyukurlah! Dialah yang menumbuhkan itu dalam hati kita!

Bagaimana bisa mengenal kebenarannya? Lewat Firman-Nya! ALKITAB! Lewat penyingkapan yang diberikan oleh Roh Kudus! Ya! Terkoneksi dengan-Nya!

Bagaimana kita bisa memperoleh itu? Carilah! Carilah berarti berusaha. Ada upaya. Ada tindakan. Bukan hanya duduk diam. Bukan duduk manis saja. CARI!

Ketika semua itu sudah dipenuhi, Tuhan memberikan keinginan hati kita untuk kembali ke cinta pertama, ke kasih mula-mula itu, karena memang itu kehendak-Nya dari awal! Lebih dari itu, semua hal yang kita butuhkan ditambahkan kepada kita. Puji nama Tuhan!

Terlalu banyak kalau saya harus menyaksikan kebesaran Tuhan. Tapi kalau saya harus membagikan satu hal pada teman-teman saat ini, saya hanya akan mengatakan bahwa Ia sungguh baik! Firman-Nya itu ya dan Amin! Tidak pernah ada Firman-Nya yang tidak ditepatinya! Ia sungguh setia! Haleluya!

Seperti saya pada malam kemarin diminta memberikan sepenuh waktu dan perhatian saya bagi Dia, Sang Raja di atas segala raja, untuk menikmati waktu bersama-Nya, itu juga yang Ia minta dari teman-teman semua. Yuk kita semua berikan waktu dan perhatian penuh kita setiap hari pada Firman-Nya, pada Yesus sang Firman yang hidup! Terkoneksi dengan-Nya!

Saat itu kita lakukan, pastilah cinta pertama itu akan kembali! Kasih mula-mula itu akan datang. Jadi, rindu akan cinta pertama? Terhubunglah dengan Dia! Cari Dia setiap hari dan lakukan Firman-Nya. Ia akan menjawab kerinduan kita semua!

Selamat hari kasih sayang! Selamat terhubung dengan Yesus! Selamat menemukan cinta Pertama, kasih mula-mula itu!

Amin.

Minum Teh, Yuk?

Sejumput teh melati. Air mineral. Dispenser. Gelas. Semua bahan sudah tersedia? Yuk, kita buat tehnya. Panaskan air di dispenser. Sudah panas? Seduh teh melatinya. Sudah? Pegang gelas dengan dua tangan.

Rasakan hangatnya air teh yang menjalar dari jari ke tangan. Lho, tunggu! Kenapa kog gelasnya tidak panas ya? Ya ampunnnn! Ternyata salah tekan tombol dispenser! Tombol yang ditekan… tombol air dingin!

Jadi? Bagaimana nih? Mau buang tehnya? Minum saja? Ah sudahlah minum saja. Rasanya jadi aneh. Dingin… Aroma teh melatinya juga tidak sekuat biasa. Tapi mau bagaimana lagi? Minum!

Sudah habis? Sekarang apa? Seduh lagi atau stop sampai di situ?

Teman-teman, kejadian di atas adalah kejadian yang saya alami beberapa waktu lalu. Jadi bukan fiktif, lho. Waktu itu malam hari. Saya punya kebiasaan minum teh malam dan pagi. Kenapa? Karena saya memang penggemar berat teh melati.

Beberapa waktu lalu, ritual itu terganggu. Karena mengantuk, juga pikiran melayang-layang, tidak sadar jari menekan tombol air dingin pada dispenser. Akhirnya seperti yang teman-teman baca, itulah yang terjadi.

Saya memiliki beberapa pilihan. Pertama: saya bisa memilih membuang teh tersebut.  Tidak jadi deh minum teh! Kedua: saya bisa memilih membuang teh tersebut. Ambil teh baru. Menyeduhnya. Tetap bisa minum teh! Ketiga: saya bisa memilih minum teh tersebut. Seduh lagi. Tetap bisa minum teh! Apa sih tujuan saya? Minum teh panas yang nikmat.

Jadi kalau begitu supaya saya bisa memenuhi tujuan, saya tidak bisa pilih yang pertama. Pilihan saya hanya kedua dan ketiga. Sebaiknya pilih yang mana? Di kejadian tadi saya pilih yang ketiga. Teman-teman bebas mau pilih yang manapun. Ini kan masalah minum teh saja toh?

Sesudah kejadian itu, tiba-tiba ada satu pemikiran yang terbersit. Bukankah hidup itu seperti minum secangkir teh melati? Saat semua proses berjalan baik, kita bisa menikmati secangkir teh melati. Hangat. Harum. Nikmat. Saat hidup berjalan dengan baik, kita bisa menikmatinya. Berkemenangan. Damai. Sukacita.

Bagaimana saat prosesnya ada gangguan? Bisakah kita tetap menikmati secangkir teh melati yang kita inginkan? Bagaimana saat hidup kita ada gangguan? Bisakah kita tetap menikmati hidup kita? Tetap berkemenangan? Damai? Sukacita?

Dengan teh melati, kita bisa membuangnya kalau memang kita tidak mau. Dengan teh melati kita bisa stop tidak meminumnya. Itu kan cuma teh saja. Bagaimana dengan hidup kita? Hidup kita harus terus berjalan. Kita tidak bisa stop begitu saja. Bunuh diri jelas bukan jawaban. Pilihan pertama, dicoret!

Bagaimana dengan pilihan kedua? Dengan teh melati kita bisa buang teh dingin, ambil teh baru, menyeduhnya. Bagaimana dengan hidup kita? Dalam hidup, kita selalu punya pilihan. Di situasi-situasi tertentu, bisa saja kita mengambil pilihan ini. Berhenti dari karir lama. Berhenti dari usaha lama. Berhenti berteman dengan teman lama. Putus dengan kekasih. Masih banyak lagi contoh yang bisa ditulis di sini. Itu pilihan kedua.

Apakah itu keputusan yang salah atau benar? Tergantung kasusnya. Tapi pilihan kedua memiliki konsekuensi yang harus dipikul. Membuang teh dingin untuk ambil teh baru, berarti ada harga yang harus dibayar. Kita tidak pernah bisa keluar dari konsekuensi ini.

Benar bahwa setelah teh dibuang dan diseduh, kita bisa mengambil teh baru dan menyeduhnya. Kasih dan kuasa Tuhan dapat memberikan kita hidup baru.

“Lihat, Aku hendak membuat sesuatu yang baru, yang sekarang sudah tumbuh, belumkah kamu mengetahuinya? Ya, Aku hendak membuat jalan di padang gurundan sungai-sungai di padang belantara.” (Yesaya 43:19)

Tapi tetap selalu ada harga yang harus dibayar untuk itu. Kalau memang ini yang kita hadapi, bergumul sungguh-sungguh dengan Tuhan. Benarkah pilihan kedua ini pilihan yang paling pantas dipilih?

Bagaimana pilihan ketiga? Dalam kasus di atas pilihannya pilihan ketiga: minum teh dingin, seduh lagi, baru bisa minum teh panas. Kalau ini pilihan kita, dalam hidup, pilihan kita adalah: menghadapi kehidupan ini, refresh lagi, baru bisa menjalani hidup yang kita nikmati, berkemenangan. Tetap dengan segala yang kita hadapi, refresh lagi, baru bisa menjalani hidup yang berkemenangan.

Tuhan menginginkan kita hidup dalam kemenangan itu. Di tengah segala masalah, Ia berikan kekuatan bagi kita untuk memikulnya.

“Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.” (Matius 11:28)

Bagaimana caranya bisa refresh lagi? Datang pada Tuhan. Terkoneksi dengan-Nya. Saat kita terkoneksi dengan Dia, Ia akan membuat kita segar kembali.

“Barangsiapa tidak tinggal di dalam Aku, ia dibuang ke luar seperti ranting dan menjadi kering” (Yohanes 15:6)

Sebaliknya kalau kita tinggal dalam Dia, kita akan tetap segar dan tidak kering. Refresh. Bisa menjalani hidup lagi. Berkemenangan.

Bagaimana bisa terkoneksi dengan dia?

“Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu” (Yohanes 15:4)

Bagaimana caranya bisa tinggal dalam Dia dan Dia dalam kita?

“Sebab jika kamu mengaku  dengan mulutmu, bahwa Yesus adalah Tuhan ,  dan percaya  dalam hatimu, bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka kamu akan diselamatkan.(Roma 10:9)

“Eh, saya sudah melakukan itu kog, tapi kog hidup saya tetap sama saja?”

Kalau itu yang terjadi:

“Jadi, iman timbul dari pendengaran,  dan pendengaran oleh firman Kristus.” (Roma 10:17)

Refresh dengan firman Tuhan. Saat teduh. Komunikasi dengan Dia. Lakukan firman-Nya. Terkoneksi.

Jadi apa pilihan teman-teman? Apapun pilihannya, minum teh, yuk?

Amin

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: