All for Glory of Jesus Christ

Teman-teman, ini saya kembali lagi :D. Sudah baca artikel sebelumnya? Artikel ini berkaitan dengan artikel sebelumnya. Baca dulu ya artikel sebelumnya kalau belum dibaca.

Jadi seperti teman-teman tau, jepit kesayangan saya daunnya hilang. Jepit itu jadi jelek kelihatannya. Saya hanya bisa pakai di rumah saja. Foto dari jepit itu sudah lama saya buat.

Beberapa hari lalu saya mencari jepit itu, tapi tidak ketemu. Saya sudah cari di tempat biasa saya simpan jepit itu, tidak ada! Meja dekat lampu duduk, meja tulis, meja rias, meja dekat radio, semuanya tidak ada!

Saya bingung, kemana ya jepit ini? Sebab saya tipe orang yang terbiasa menyimpan barang pada tempat yang sama. Jadi kalau mencari barang itu mudah. Itu sebabnya saya jadi kebingungan sendiri ketika jepit kesayangan saya hilang.

Waktu saya mencari-cari dan tidak ketemu juga sampai detik ini, akhirnya saya terpaksa memakai jepit lain. Jepit lain ini dari segi penampilan lebih cantik. Warnanya kuning keemasan dengan 5 mata hiasan yang bersinar cemerlang.

Seingat saya, jepit 5 mata ini masih lebih baru daripada jepit daun itu. Warnanya masih lebih bersinar daripada jepit daun yang sudah lama itu. Tetapi saya tetap merasa sangat kehilangan jepit daun itu, walaupun sudah jelek karena daunnya hilang satu, karena itu jepit kesayangan saya.

Saya memiliki beberapa jepit. Jelas tidak masalah kalau jepit daun yang sudah jelek itu hilang. Masih ada gantinya jepit yang lain, termasuk jepit 5 mata itu. Tapi ternyata tak urung saya juga kehilangan dan mencari-cari jepit daun itu.

Saat memakai jepit 5 mata ini, saya tiba-tiba jadi teringat perumpamaan mengenai domba yang hilang.

“Bagaimana pendapatmu? Jika seorang mempunyai seratus ekor domba, dan seekor di antaranya sesat, tidakkah ia akan meninggalkan yang sembilan puluh sembilan ekor di pegunungan dan pergi mencari yang sesat itu? Dan Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya jika ia berhasil menemukannya, lebih besar kegembiraannya atas yang seekor itu dari pada atas yang kesembilan puluh sembilan ekor yang tidak sesat. Demikian juga Bapamu yang di sorga tidak menghendaki supaya seorangpun dari anak-anak ini hilang.” (Matius 18:12-14)

Domba yang hilang itu menggambarkan orang yang meninggalkan Tuhan. Walaupun ada 99 domba lain yang tidak hilang, tapi justru penjaga domba malah pergi meninggalkan 99 yang lain dan mencari 1 domba yang hilang itu.

Saya jadi lebih mengerti mengenai ayat di Matius 18:12-14 itu. Kalau satu jepit daun jelek saja menjadi kesayangan saya dan saya cari-cari ketika hilang, terlebih lagi Bapa di Surga yang begitu mencintai kita!

Jepit daun hilang, tinggal beli yang baru. Domba yang hilang, masih ada 99 yang lain. 1 orang hilang, masih ada milyaran orang lainnya.

Lalu pertanyaannya untuk apa Bapa bersusah payah mencari orang yang hilang ini? Bukankah masih banyak milyaran orang di dunia ini? Hilang satu, ah tak masalah bukan?

“Yesus mendengarnya dan berkata kepada mereka: “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit; Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa” (Markus 2:17)

“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah menga­runiakan Anak-Nya yang tunggal, su­paya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” (Yohanes 3:16)

Betapa besar kasih-Nya! Demi satu orang terhilang, Ia cari. Ia rangkul kembali. Ia bawa pulang!

Setiap kita yang dulunya adalah orang yang terhilang, dipilih-Nya. Dicarinya. Dirangkulnya. Dibawa-Nya pulang. Menjadi anak-anak-Nya.

Itu Dia lakukan dengan memberikan Anak-Nya yang tunggal, yang adalah Tuhan sendiri, untuk menderita sengsara sampai mati di kayu salib untuk menebus dosa kita semua.

Karena kasih-Nya, Ia tidak rela para pendosa ini terhilang. Karena keadilan-Nya, Ia tidak bisa menoleransi dosa sekecil apapun. Dosa adalah dosa.

Itu sebabnya harus ada korban. Korban penebusan. Yesus Kristus, Sang Anak Domba, harus disembelih sebagai korban tebusan. Harus mati di kayu salib untuk tebus dosa kita semua.

Padahal Ia datang pada saat kita dalam kondisi jelek. Berdosa. Tidak layak! Tapi Dia justru datang untuk membebaskan dan memerdekakan kita dari belenggu dosa. Puji Tuhan!

Kalau saya saja merasa sayang pada jepit daun jelek itu walaupun ada jepit 5 mata yang cantik, apalagi Bapa di Surga yang begitu mengasihi kita? Dengan kuasa-Nya, karena Ia adalah Allah, setelah tebus kita dari kematian akibat dosa, Kristus bangkit dan membuat kita dapat hidup berkemenangan. Puji nama Tuhan!

Teman-teman, tidak ada orang yang benar. Sesungguhnya kita adalah orang-orang yang dibenarkan oleh Tuhan. Bukan karena kebaikan kita, kita dapat diselamatkan. Bukan juga karena kekuatan kita. Bukan karena kepintaran kita. Bukan karena elok rupa kita. Bukan! Bukan! Bukan!

Hanya karena besar kasih anugerah-Nya semata, kita dicari-Nya, dibawa-Nya kembali ke dalam rangkulan kasih-Nya. Yuk teman-teman, kita bersyukur buat kasih-Nya. Jangan lagi kita sepelekan kebaikan-Nya. Yuk kita hargai betapa besar pengorbanan-Nya bagi kita. Karena memang Ia sungguh layak, terima segala penghargaan, hormat, syukur, kemuliaan, dan pengagungan kita, sampai selama-lamanya.

Doa saya hari ini:

Tuhan,

Terima kasih karena Tuhan begitu baik. Kau tebus kami semua dengan darah-Mu. Darah yang tak ternilai harganya. Tercurah karena dosa dan pelanggaran kami.

Betapa besar kasih-Mu, ya Yesus, sehingga Kau yang adalah Tuhan sendiri, rela mengambil rupa seorang manusia, mengosongkan diri, menjadi sama seperti manusia kecuali dalam hal dosa. Tapi justru Kau harus menanggung segala kehinaan dan menerima segala dosa dunia, untuk penebusan kami.

Tidak akan pernah cukup hal yang dapat kami lakukan untuk membalas kebaikan-Mu, Tuhan Yesus. Pengorbanan-Mu terlampau besar bagi kami. Tapi kalau kami melakukan segala yang baik, yang benar, yang memuliakan nama-Mu, itu semua adalah semata-mata bentuk syukur kami atas anugerah-Mu. Sebagai kesaksian kami akan betapa dahsyatnya Engkau, ya Yesus.

Biarlah kami semua sungguh menjadi orang-orang yang meneladani Engkau, bahkan menyerupai Engkau. Dengan demikian, saat orang bertemu dengan kami, mereka juga dapat berjumpa dengan Engkau yang ada dalam kami.

Haleluya, terima kasih, Yesus. Segala hormat, pujian, syukur, dan kemuliaan hanyalah bagi-Mu.
Amin.

Halo teman-teman, masih ingat cerita sendal jepit saya? Kalau lupa atau belum baca, coba baca lagi ya :D. Kali ini saya mau cerita tentang jepit rambut.

Ada satu jepit rambut yang biasa sehari-hari saya pakai. Jepitnya sederhana. Hiasannya bentuk daun warna coklat 2 buah. Jepit ini enak dipakai karena agak longgar. Jadi gampang menjepit poni (rambut depan) saya yang mulai panjang.

Satu hari, waktu saya mau pakai jepit itu, saya kaget. Lho, kog jepit saya daunnya hilang 1! Kog bisa? Padahal saya pakai di rumah saja. Saya juga tidak menemukan daun yang hilang itu.

Akhirnya jepit itu hiasannya tinggal satu daun saja. Untuk di rumah, saya bisa pakai. Kalau ke luar rumah jelas sudah tidak bisa dipakai. Sayang sekali. Padahal itu jepit kesayangan saya.

Tiba-tiba saat saya sedang memakai jepit itu, ada satu ayat terlintas:

“Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang.” (Matius 5:13)

Ya, jepit saya itu sebenarnya kalau mau, bisa dianalogikan seperti garam itu. Saya bisa saja membuang jepit tersebut karena saya tidak bisa pakai lagi ke luar rumah. Tapi saya tidak buang, sebab masih bisa saya pakai di rumah.

Saya merenung saat saya dalam kondisi seperti jepit itu. Saat saya seperti garam tawar itu. Saat kondisi saya kalah, saya persis seperti jepit itu, seperti garam tawar itu. Ketika saya tidak bisa berfungsi sebagaimana mestinya, saya tidak berguna lagi.

Lalu bagaimana supaya garam bisa asin lagi? Bagaimana jepit bisa bagus kembali? Bagaimana saya bisa kembali berfungsi?

Garam bisa asin kalau dia dikembalikan ke sumbernya atau kalau ia dicampur dengan garam lain. Jepit bisa bagus kembali kalau daun yang hilang ditempel lagi. Lalu bagaimana saya bisa kembali berfungsi?

Seperti garam yang bisa asin kalau dikembalikan ke sumbernya, saya butuh sumber itu. Seperti jepit yang bisa bagus kembali kalau ditempel daunnya, saya butuh menemukan kembali hal yang membuat saya utuh kembali.

Tuhan Yesuslah sumber yang saya butuhkan. Tanpa dia, saya seperti garam yang tawar. Tuhan Yesuslah hal yang saya perlu temukan kembali untuk membuat saya utuh kembali. Tanpa dia, saya seperti jepit yang kehilangan daunnya.

Selain dikembalikan ke sumbernya, garam tawar juga perlu dicampur dengan garam lain. Saya menemukan saat saya mendapatkan dukungan dari teman-teman seiman, saat itu saya dikuatkan.

Seperti daun yang lepas dari jepitnya, saya perlu menemukan hal yang membuat saya tidak berfungsi. Kalau itu sudah ditemukan, saya perlu menyelesaikan masalah itu.

Teman-teman, apakah ada di antara teman-teman yang mengalami seperti jepit saya yang kehilangan daunnya? Apakah ada di antara teman-teman yang mengalami seperti garam yang menjadi tawar?

Yuk datang pada Tuhan Yesus. Ia sendiri yang telah membuka diri-Nya, mengundang kita untuk datang pada-Nya:

“Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.” (Matius 11:28)

Biasanya kita menjadi tidak berfungsi karena merasa begitu beratnya beban yang dipikul. Itulah sebabnya kita butuh Tuhan untuk menguatkan kita. Itulah sebabnya kita butuh saudara seiman untuk menguatkan kita.

Kita diciptakan-Nya untuk hidup bersama orang lain, bukan hidup sendiri. Itu sebabnya kita butuh orang lain. Tuhan menempatkan banyak orang di sekitar kita yang dapat menjadi tempat kita berbagi. Mintalah hikmat pada Tuhan supaya kita bisa mendapatkan orang yang tepat untuk berbagi, saling mendoakan, dan saling menguatkan.

Saya beruntung memiliki sejumlah saudara seiman yang bisa saya hubungi. Saya bisa bercerita tanpa takut, tanpa segan. Saya yakin mereka mendengarkan dan mendukung saya. Itu adalah suatu anugerah dari Tuhan bagi saya.

Bahkan kalaupun mereka semua sedang sibuk, tetap ada Roh Kudus yang selalu mendampingi saya. Ia menuntun saya. Membuat hati saya lega kembali. Membuat saya dapat bertahan dan tetap melangkah.

“Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong  yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya, yaitu Roh Kebenaran.Dunia tidak dapat menerima Dia,sebab dunia tidak melihat Dia dan tidak mengenal Dia. Tetapi kamu mengenal Dia, sebab Ia menyertai kamu dan akan diam di dalam kamu” (Yohanes 14:16-17)

Hal yang sama juga saya yakin dimiliki teman-teman. Roh Kudus ada dalam diri teman-teman. Dengarkan Ia. Ikuti tuntunan-Nya. Bagaimana kalau ternyata ada yang tidak punya saudara seiman di dekat teman-teman?

Berdoa. Minta Tuhan untuk dapat mengirimkan saudara seiman yang dapat menguatkan teman-teman. Ia terlalu hebat untuk dapat dibatasi oleh jarak dan waktu. Ia adalah Elshadai, Allah yang Maha Kuasa. Jadi tidak ada yang dapat menghalangi-Nya untuk menolong kita semua.

“Sesungguhnya, tangan TUHAN tidak kurang panjang untuk menyelamatkan, dan pendengaran-Nya tidak kurang tajam untuk mendengar” (Yesaya 59:1)

Ia mendengar doa kita. Ia menolong kita. Pertolongan-Nya tidak pernah terlambat. Panggil nama-Nya. YESUS. Dialah sahabat kita. Dia tak pernah tinggalkan kita. Dia tersedia 24 jam bagi kita.

Yuk kita semua tetap bersemangat! Jadilah garam yang baru! Jadilah jepit yang baru! Jadilah diri kita yang baru yang telah dipulihkan! Itu semua karena Tuhan beserta kita.

Doa saya hari ini:

Tuhan,

Saya berdoa untuk semua yang membaca artikel ini. Apapun keadaan mereka, Kau yang paling mengetahui. Kalau ada yang merasa menjadi seperti jepit yang kehilangan daunnya, seperti garam yang tawar, bantulah mereka, Tuhan.

Kami percaya bahwa pertolongan-Mu tidak terbatas. Hal yang mustahil itu biasa saja bagi-Mu. Kami yakin bahwa tidak ada yang terlalu sulit bagi-Mu.

Itu sebabnya kami masih bisa berpengharapan, karena pengharapan dalam-Mu tidak pernah mengecewakan oleh karena Roh Kudus-Mu yang dicurahkan ke dalam hati kami.

Segala hormat, pujian, dan kemuliaan hanya bagi nama-Mu, Yesus.

Amin.

Cinta Ketiga: Malaikat

Ah, saya benar-benar bingung mau menuliskan kata-kata untuk menggambarkan betapa Tuhan itu luar biasa! Dua kejadian pada artikel sebelumnya terulang lagi! Saya memang sudah merencanakan topik ini dan saya sedang berpikir-pikir mengenai ilustrasinya.

Saya lalu teringat mengenai kata-kata “malaikat tanpa sayap”. Ternyata seorang pemimpin saya dari Worldprayr mengirimkan saya satu video clip dengan judul “Angel” tepat pukul 00:38 tadi malam.

Video clip ini dinyanyikan oleh Sarah McLachlan. Suaranya benar-benar indah. Seperti suara malaikat itu sendiri. Bening dengan jangkauan oktaf yang luar biasa. Wow! Indah!

Jika teman-teman belum membaca artikel sebelumnya, ada baiknya membacanya dahulu karena artikel-artikel ini adalah satu rangkaian yang tak terpisah. Malaikat, ada apa dengan malaikat?

Dari suatu kata-kata yang pernah saya baca, “malaikat tanpa sayap” mewakili setiap orang yang ada di sekeliling yang berperan sebagai sahabat. Ya, malaikat di sini sebagai representasi sahabat.

“Ada teman yang mendatangkan kecelakaan, tetapi ada juga sahabat yang lebih karib dari pada seorang saudara.” (Amsal 18:24)

Ya, seorang sahabat baik adalah malaikat tanpa sayap yang Tuhan kirimkan untuk menjaga setiap kita. Saya termasuk seseorang yang sangat beruntung karena mendapatkan orang-orang yang peduli pada saya, dengan cara mereka masing-masing.

Seorang sahabat mungkin tidak selalu bertemu setiap hari. Mungkin juga lama tidak berhubungan, tetapi seorang sahabat adalah orang yang mau peduli. Sahabat karib bisa saja bertengkar. Tetapi sahabat sejati, tidak akan dengan mudah membuang begitu saja sahabatnya.

Mengingat kata malaikat tanpa sayap, ada sejumlah orang spesifik yang saya ingat secara khusus. Pertama-tama, malaikat yang menemani saya dari sejak saya lahir. Ya, merekalah malaikat-malaikat yang Tuhan utus ke dunia untuk menjaga saya: keluarga saya. Para malaikatku, jika kalian membaca ini, terima kasih untuk selalu menjagaku!

Bukan karena saya baik, bukan karena saya hebat, maka Tuhan memberikan saya keluarga yang luar biasa. Tapi ini adalah suatu anugerah yang besar, yang mungkin tidak semua orang mendapatkannya. Segala kemuliaan hanya bagi nama-Mu, Tuhan! Karena Engkau baik, sungguh amat baik.

Setelah itu, saya teringat satu orang yang sangat istimewa. Ia telah menjadi malaikat saya dari sekitar 10 tahun lalu bahkan lebih. Ia adalah orang yang sungguh peduli pada saya.

Ketika saya mengalami masa sukar, luka, masalah, ialah orang yang selalu ada di sisi saya. Ia yang bahkan lebih marah dari saya kalau saya disakiti. Saya belajar darinya mengenai ketulusan dan arti suatu persahabatan. Malaikatku, jika kamu membaca ini, terima kasih ya!

Lalu ada seorang malaikat kreatif yang menjaga saya sekitar mungkin 8 tahun yang lalu. Malaikat kreatif ini dulu sering berbagi dengan saya mengenai berbagai hal. Beberapa bulan lalu, malaikat kreatif ini yang membantu saya dengan memberikan info suatu website yang bonafid. Terima kasih, malaikatku untuk bantuanmu!

Berikutnya adalah seorang malaikat luar biasa. Saya mengenalnya pertama kali sekitar 14 tahun yang lalu namun malaikat ini mulai menjaga saya sekitar 3 atau 4 tahun lalu. Bersama dengan pasangan malaikatnya, mereka adalah orang-orang yang peduli dan penuh kasih. Malaikat-malaikatku, terima kasih! Aku berdoa kalian baik-baik saja di sana dengan malaikat kecil kalian!

Selanjutnya adalah ada satu orang malaikat yang secara khusus hadir di hidup saya 6 tahun lalu. Ia menjaga saya dalam satu kondisi spesifik. Bahkan dalam beberapa tahun yang lalu, malaikat istimewa inilah yang membantu saya dalam penyebaran renungan yang saya lakukan. Malaikatku, teruslah berkarya dan terima kasih untuk membantuku mewujudkan visiku dengan cara yang bahkan tak terpikirkan olehku!

Lalu ada 2 orang malaikat yang menjaga saya dengan cara memberikan ide usaha kepada saya dari beberapa tahun yang lalu. Dua orang malaikat ini, walau tidak pernah bertemu dengan saya, ternyata bisa begitu mempercayai saya. Malaikat-malaikatku, terima kasih atas kepercayaan dan persahabatan kalian!

Lalu ada 1 malaikat yang selalu mendukung setiap pelayanan saya. Kadang bahkan tanpa kata, tapi saya bisa merasakan dukungannya. Bahkan saat saya mengalami masa kegelapan kedua di hidup saya, dukungannyalah yang membuat saya tetap bisa melayani. Terima kasih, malaikatku!

Lalu ada sekelompok malaikat yang bersama-sama menjaga saya. Mulai dari 3 tahun lalu, seorang malaikat mulai menjaga saya. Dari satu malaikat ini, saya mengenal 3 malaikat lainnya. Empat malaikat ini menjaga saya dengan membuat saya bertumbuh. Terima kasih para malaikatku!

Berikutnya ada sekelompok malaikat yang hadir dalam organisasi WorldPrayr, yang saya sangat yakin, bukan kebetulan Tuhan tempatkan saya di sana. Malaikat-malaikat ini memang sungguh menjaga saya dengan doa-doa, kata-kata, dan bantuan mereka yang sungguh menguatkan dan membantu saya. Terima kasih para malaikatku!

Terakhir ada sejumlah malaikat yang baru saya kenal dekat dalam hitungan bulan tapi malaikat-malaikat inilah yang menjadi penjaga saya dan berdoa bagi saya. Bersama mereka, saya yakin bisa bersama-sama terbang mewujudkan visi dan misi yang Tuhan berikan bagi kami masing-masing.

Ah, sungguh Ia terlalu baik bagi saya. Saya bersyukur buat karunianya yang begitu besar dalam bentuk malaikat-malaikat ini.

Teman-teman, mohon maaf kalau saya menjadi terlalu sentimental. Tetapi mengingat jasa-jasa dan kebaikan-kebaikan dari para malaikat ini memang sulit membuat saya tidak sentimental.

Saya yakin teman-teman juga memiliki malaikat-malaikat di hidup teman-teman semua. Jagalah mereka baik-baik. Mereka adalah orang-orang yang memang sengaja Tuhan taruh di hidup kita. Tidak pernah ada kebetulan di dalam Tuhan bahwa kita bisa bertemu dengan para malaikat itu.

Jika ada dari teman-teman yang merasa belum menemukan malaikat-malaikat tersebut, jangan kecil hati. Bisa jadi, sebenarnya malaikat-malaikat istimewa itu sudah ada, tetapi teman-teman tidak menyadarinya. Jadilah malaikat itu terlebih dahulu. Saat itulah, teman-teman akan menyadari bahwa engkau tidak sendiri. Ada malaikat-malaikat yang di sisimu dan menjagamu.

Kalaupun sungguh tidak ada seorangpun yang menjadi malaikatmu, ketahuilah bahwa Tuhan mengasihimu. Ia mengirimkan malaikat-malaikat dalam arti sesungguhnya yang tak kelihatan mata untuk menjagamu.

“Sebab malaikat-malaikat-Nya akan diperintahkan-Nya kepadamu untuk menjaga engkau di segala jalanmu. Mereka akan menatang engkau di atas tangannya, supaya kakimu jangan terantuk kepada batu.” (Mazmur 91:11-12)

Bahkan satu Penjaga istimewa selalu ada di dalam diri setiap orang percaya, Penjaga yang bahkan melebihi para malaikat dalam arti sesungguhnya: Roh Kudus, Tuhan sendiri. Tidak pernah Ia biarkan kita seorang diri.

“Aku akan mengutus kepadamu Penolong yang berasal dari Bapa. Dialah Roh yang akan menyatakan kebenaran tentang Allah. Apabila Ia datang, Ia akan memberi kesaksian tentang Aku.” (Yohanes 15:26)

Karena begitu besar kasih-Nya bagi kita, Tuhan Yesus mengirimkan Roh Kudus sebagai penjaga kita, penolong kita. Betapa besar kasih-Nya. Sungguh amat besar. Tak dapat terukur. Terlalu dalam.

Bersyukurlah bagi kasih-Nya untuk setiap kita. Bersyukurlah untuk setiap penjaga, para malaikat yang Tuhan berikan di hidup kita. Hargailah setiap malaikat itu.

Doa saya hari ini:

Terima kasih, Tuhan, buat kasih-Mu yang begitu besar. Terima kasih telah memberikan para malaikat di hidup saya. Bantu saya untuk bisa menjadi malaikat juga bagi mreka.

Berdoa bagi teman-teman yang membaca artikel ini. Kiranya Tuhan bekerja terus dalam diri mereka. Menyingkapkan hal yang ingin Tuhan singkapkan. Saya berdoa artikel ini dapat menjadi surat cinta-Mu untuk mengubah hidup setiap teman yang membaca artikel ini.

Segala pujian, syukur, hormat, dan kemuliaan hanyalah bagi nama-Mu, Yesus. Sebab hanya Engkaulah yang layak, untuk terima segala pengagungan.

Amin.

Cinta Kedua: Yerusalem

Hari ini lagi-lagi terjadi sesuatu yang di luar dugaan saya. Tuhan sungguh luar biasa. Ia mengubah rencana saya, mempersiapkan yang lebih baik dari yang saya sudah rencanakan. Haleluya! Puji nama Tuhan!

Jadi saya memang sudah merencanakan topik ini, tapi dengan ilustrasi yang berbeda. Seperti artikel kemarin, lagi-lagi Ia membelokkan rencana saya dan memberikan ilustrasi yang lebih baik. Terima kasih, Tuhan Yesus.

Jadi ceritanya begini. Hari ini saya mengirimkan satu brain teaser yang saya dapatkan dari teman saya. Brain teaser itu adalah sejenis permainan untuk mengasah otak. Ini dia brain teaser yang saya kirimkan:

“Ada test IQ kecil-kecilan nih :

5+3+2=151022

9+2+4=183652

8+6+3=482466

5+4+5=202541

jika logika anda jalan..,.

Jawablh pertnyaan ini….

(7+7+7=…………)

jika benar IQ anda d atas 120”

Saya mengirimkannya karena memang menurut saya menarik. Ternyata di luar dugaan saya, banyak respon yang masuk. Membuat saya tidak menyangka dan terkejut juga :D. Terima kasih banyak bagi teman-teman yang sudah berpartisipasi dalam membuat saya terkejut karena senang hari ini :D.

Setelah beberapa orang menjawab, umumnya saya memberikan respon sama untuk setiap jawaban benar:

“Pinterrrr.”

Satu kata saja, tapi ternyata respon yang saya dapatkan berbeda-beda. Setelah beberapa respon berbeda saya dapatkan, sadarlah saya! Tuhan memberikan saya suatu bahan bagi suatu penelitian informal mengenai perilaku manusia!

Wow, luar biasa Tuhan kita! Ia memang pemikir yang sangat brilian! Sungguh segala yang tak terpikirkan dan tak direncanakan, itulah yang Dia berikan! Saya terpana dan berdecak kagum dengan sendirinya.

Cukup banyak hal menarik yang saya dapatkan dari suatu permainan Brain Teaser ini. Dari sana saya akan mengaitkannya dengan tema artikel hari ini. Satu hal yang saya angkat adalah respon setiap orang yang berbeda-beda ketika mereka berhasil menjawab atapun gagal menjawab. Juga respon ketika saya mengatakan:

“Pinterrrr.”

Bagi saya, respon setiap orang menunjukkan keunikan setiap orang. Itulah yang membuat satu Brain Teaser ini menjadi sangat menarik. Mengapa? Karena ia menjadi satu jembatan untuk mengungkap sisi yang tidak mudah untuk dimengerti: keunikan manusia.

Tidak ada yang salah dengan respon setiap orang yang ikut serta berpartisipasi dalam hal yang saya kirimkan tersebut. Semua respon adalah baik adanya dan itu sungguh memberikan saya pembelajaran mendasar mengenai manusia.

Hal yang saya baru sadari adalah dalam Brain Teaser ini ada unsur pembentukan citra diri. Bahwa jika berhasil maka “logika Anda jalan”, “memiliki IQ di atas 120”. Dengan kata lain, “Pinterrr” tadi.

Sebaliknya jika tidak berhasil, tentu ada yang langsung mengartikan sebaliknya. Secara tidak langsung juga ada yang mengartikan bahwa kalau tidak berhasil maka “logika Anda tidak jalan”, “memiliki IQ di bawah 120”.

Padahal sebenarnya kalau mau dibedah, Brain Teaser ini adalah satu alat bantu untuk mengukur suatu hasil pembelajaran terhadap pemahaman pola hitung dan operasi matematika yang sudah pernah (sering) dilakukan seseorang. Semakin sering seseorang berlatih memahami dan mencari pola tersebut, akan semakin mudah.

Jadi yang disebut “Pinterrrr” atau “logika jalan” atau “IQ di atas 120” itu sebenarnya merupakan perwakilan dari sudah berhasilnya orang yang menjawab tersebut untuk melatih dirinya memahami dan mencari pola tersebut.

Kecerdasan itu sendiri tidak dapat diukur hanya dari segi matematis semata. Karena bukan hanya pemahaman mengenai pola matematis saja yang menjadikan seorang itu “Pinterr” tapi seluruh aspek dari diri seseorang lah yang menjadikan ia “Pinterrr”.

Jadi sesungguhnya “Pinterrrr” itu luas sekali. Bagi yang berhasil menjawab, berarti sekurang-kurangnya mereka memiliki kecerdasan matematis. Sementara bagi yang tidak berhasil menjawab, saya yakin sekurang-kurangnya mereka memiliki kecerdasan interpersonal. Mengapa? Karena mereka mau meresponi pada hal yang masuk.

Bagaimana dengan yang sama sekali tidak menjawab? Saya juga yakin mereka juga “Pinterrr”. Saya juga yakin, ada sesuatu hal yang menghalangi mereka untuk bisa berpartisipasi dalam Brain Teaser ini.

Jadi semua orang itu pintar sesungguhnya. Hanya saja mereka kuat di bidang-bidang tertentu. Itulah salah satu hal yang membentuk keunikan manusia.

Saya tidak cermat memperhatikan Brain Teaser ini. Tapi ternyata ketidakcermatan saya ini pun bisa dipakai Tuhan untuk mengungkapkan keunikan manusia ciptaan-Nya. Puji Tuhan!

Setiap orang diciptakan unik, indah, berharga, mulia, dan segambar dengan Tuhan. Sayangnya, dalam perjalanan hidup manusia, sejak dosa asal lalu seterusnya, manusia kehilangan (melupakan?) citra dirinya itu.

Proses pembentukan citra yang awalnya indah itu perlahan-lahan bisa menjadi berubah, mengalami pengeroposan sedikit demi sedikit. Di mana berlangsungnya? Pertama kali adalah di Yerusalem.

Yerusalem? Mungkin Anda bertanya-tanya. Apa hubungan Yerusalem dengan pengeroposan citra manusia?  Kata “Yerusalem” yang saya gunakan ini terilhami dari ayat:

“Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan KAMU AKAN MENJADI SAKSIKU di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi.” (Kisah Para Rasul 1: 8)

“Yerusalem” berbicara mengenai lingkungan sekitar, lingkungan terdekat, keluarga. Ah, keluarga! Ada apa dengan keluarga?

Inilah tempat pertama kali seorang anak bertumbuh, belajar, dan… membentuk CITRA DIRI. Perkataan orang tua terutama menjadi suatu yang sangat mempengaruhi perkembangan citra diri anak.

Kalau orang tua memberikan perkataan yang membangun, anak akan tumbuh menjadi seorang yang percaya diri. Sebaliknya jika orang tua memberikan perkataan yang melemahkan, anak akan tumbuh menjadi seorang yang rendah diri. Pendeknya, pemberian LABEL bagi anak.

Contoh label membangun: ketika anak melakukan sesuatu yang baik, orang tua memuji “Hebat”, “Bagus”, “Pintar”, dst. Anak akan belajar dari proses berulang-ulang bahwa itulah jati dirinya.

Contoh label melemahkan: ketika anak melakukan sesuatu yang kurang baik, orang tua mengatakan “Nakal”, “Bodoh”, “Bandel”, dst. Anak juga akan belajar dari proses berulang-ulang bahwa itulah jati dirinya.

Pemberian LABEL yang melemahkan inilah yang berperan besar dalam membentuk citra diri anak. Mungkin orang tua tidak sadar bahwa ini yang mereka lakukan. Sebenarnya saya merasa juga tidak pada tempatnya untuk menjelaskan ini karena saya belum menjadi orang tua tapi inilah yang saya rasakan Tuhan taruh dalam hati saya hari ini.

Seringkali bahkan orang tua berniat baik, namun dengan cara yang kurang pas. Pembanding-bandingan anak yang satu dengan anak yang lain dengan tujuan memacu sang anak, bukanlah suatu cara yang pas untuk membentuk citra diri positif seorang anak.

Saya akan menceritakan pengalaman seorang teman saya. Karena sudah mendapat izinnya untuk membagikan hal ini, akan saya bagikan. Saya berharap ini akan memberkati teman-teman yang membaca. Teman saya juga mengizinkan saya membagikan ini karena ia berharap hal ini dapat memberkati teman-teman semua.

Teman saya ini bisa dibilang sangat beruntung. Ia memiliki orang tua yang luar biasa mencintai dirinya. Teman saya bercerita bahwa ia memiliki 3 orang kakak. Jadi keluarga mereka adalah 4 bersaudara.

Menurut dirinya, kakak pertamanya adalah seorang yang Sanguin. Ceria, aktif, penuh energi, dan perhatian pada orang lain. Kakak keduanya adalah seorang Kolerik dan Melankolik. Berkemauan keras untuk maju, mandiri, dan penuh pemikiran bagi orang lain. Kakak ketiganya adalah seorang Sanguin dan Kolerik. Menarik, pandai meyakinkan orang lain, dan seorang dengan Visi yang besar. Sementara teman saya berkata, ia sendiri bisa jadi merupakan perpaduan Plegmatis Melankolik. Tenang, pembawa damai, penuh pemikiran bagi orang lain.

Ia bercerita bahwa ia tahu kalau orang tuanya sangat menyayangi dirinya dan ketiga kakaknya. Namun saat yang sama, ia juga mengatakan bahwa menurutnya orang tuanya tidak pernah memuji dirinya. Selalu ketiga kakaknya yang dipuji. Hatinya merasa luka.

Ia berpikir bahwa ia tidak istimewa. Sering ia berpikir seandainya ia bisa menjadi seperti kakak pertamanya yang populer dan disukai banyak teman. Kali lain ia berpikir seandainya ia bisa menjadi seperti kakak keduanya yang cerdas dan penuh kemauan keras untuk maju. Di lain pihak ia juga brepikir seandainya ia bisa seperti kakak ketiganya yang penuh visi dan pandai meyakinkan orang lain.

Mengapa hal ini terjadi? Teman saya bercerita kepada saya bahwa sedari kecil memang orang tuanya selalu membandingkan dirinya dengan kakak-kakaknya. Karena orang tuanya sering sekali membandingkannya dengan kakak keduanya, teman saya ini lalu berpikiran bahwa kalau ia bisa menjadi seperti kakak keduanya maka orang tuanya akan menerima dirinya.

Jadi teman saya ini berusaha mati-matian di sekolah. Ia selalu berpikir harus menjadi nomor 1. Harus menjadi yang paling hebat. Ia berpikir dengan begitu, ia bisa mendapatkan penerimaan orang tuanya.

Apa yang terjadi? Dia berhasil menjadi nomor 1. Dengan usaha keras, dia menjadi nomor 1. Orang tuanya memujinya dan ia merasa senang. Sayangnya itu tidak berlangsung lama.

Ada saja hal yang membuat dirinya akhirnya berpikir bahwa ia tidak akan pernah bisa memuaskan orang tuanya. Orang tuanya tidak pernah puas!

Ia merasa sendiri. Terkucil. Terkekang. Lelah. Segala hal sudah ia lakukan, tapi itu pun tak pernah cukup. Ia merasa marah. Juga tak berdaya. Pasrah.

Teman saya merasa telah menjadi anak yang baik. Ia tidak pernah macam-macam. Bintang sekolah. Tidak pernah main ke sembarang tempat. Rajin belajar dan belajar. Tidak pernah meminta macam-macam pada orang tua.

Teman saya bercerita lagi pada saya. Ia sampai pada satu titik mempertanyakan:

“Mengapa saya harus dilahirkan? Kalau memang orang tua saya sendiri pun tidak bisa menerima diri saya apa adanya? Apa yang SALAH dengan diri saya? APA? APA?”

Ia lalu berpikir kalau saja ia bisa mengubah diri menjadi seperti kakak pertamanya yang ceria, setidaknya ia akan bahagia. Tapi ia sudah terbentuk sedemikian rupa mengikuti harapan orang tuanya: menjadi juara, nomor 1, pintar!

Teman-teman masih banyak yang teman saya ceritakan, tapi saya potong saja sampai di situ. Saya mengenal juga seorang kakak dari teman saya tadi. Dari kakaknya itu saya mendapatkan gambaran yang lain lagi tentang keluarga mereka.

Ternyata, gambaran yang saya dapatkan mengenai teman saya ini dari kakaknya sungguh berbeda daripada hal yang saya dapatkan dari teman saya. Saya jadi bingung sendiri. Kog bisa ya, dua orang dalam satu keluarga yang sama, orang tua yang sama, ternyata menceritakan 2 hal yang berbeda?

Ternyata yang terjadi adalah orang tua dari teman saya memang masih menganut pemikiran lama. Bahwa memacu anak itu penting tapi memuji tidak terlalu penting. Itu sebabnya teman saya itu bisa berpikir bahwa ia tidak istimewa.

Padahal kalau saya menilai diri teman saya ini, saya lihat dia memiliki keunggulannya tersendiri. Memang ia juga memiliki kelemahannya, tapi saya melihat banyak hal yang sungguh indah di dalam dirinya.

Hal yang sangat menarik diungkapkan oleh kakak teman saya ini. Ia berkata bahwa ketika ia belum menjadi orang tua, ia berpikir juga bahwa orang tuanya tidak menyayangi dirinya. Tetapi ketika ia menjadi orang tua, barulah ia mengerti.

Apa yang ia mengerti? Bahwa orang tuanya sebenarnya sangat menyayangi semua anak-anaknya hanya saja cara mereka yang tidak menunjukkannya membuat anak-anaknya tidak bisa menangkap dengan jelas hal itu.

Saya belajar dari sharing teman saya itu bahwa menjadi orang tua bukanlah hal yang mudah. Menjadi orang tua adalah tugas dan tanggung jawab berat dan mulia yang Tuhan beri.

Seorang anak adalah seperti kertas putih. Ketika orang tua mulai membentuk anak, ketika itulah citra anak terbentuk. Saya merasa sangat terberkati dengan sharing dari teman saya dan kakaknya teman saya ini.

Saya pun belajar dari orang tua saya sendiri. Bahwa orang tua saya mencintai saya dengan cara mereka masing-masing. Terkadang saya juga seperti teman saya, merasa tidak memahami orang tua saya.

Ketika mendapati mami saya mengingatkan saya untuk makan pada waktunya dan tidur tidak terlalu malam, cukup sering saya merasa mami saya terlalu cerewet. Ketika mendapati papi saya bertanya tentang teman-teman saya, cukup sering saya merasa papi saya terlalu ingin ikut campur urusan saya.

Padahal mami saya lah yang setiap hari rajin membuatkan saya makanan dan minuman ini dan itu supaya saya tetap sehat. Papi saya lah yang selalu memperhatikan saya dalam diam dan berharap yang terbaik untuk saya.

Mereka selalu mendoakan saya. Mereka juga mengingatkan saya untuk selalu menjaga kesehatan saya. Tidak tidur terlalu larut. Mengistirahatkan mata kalau sudah lelah. Mendengarkan saya. Perhatian dengan cerita saya. Bahkan walaupun saya sering kali malas, cuek, dan terlalu asyik dengan dunia saya sendiri, mereka bisa menerima hal itu.

Hum… mengingat itu, rasanya saya menjadi anak yang sangat tidak tau berterima kasih. Bisa dibilang orang tua seperti mereka itu langka. Dari mereka saya banyak sekali mempelajari prinsip-prinsip kehidupan.

Kalau saya ditawarkan Tuhan untuk bisa memilih orang tua saya sendiri, saya tidak akan menukar mereka dengan orang tua manapun. Di tengah segala kekurangan mereka, merekalah orang tua terbaik di mata saya.

Teman-teman, mungkin ada di antara teman-teman yang mengalami seperti pengalaman teman saya atau pengalaman saya. Saya sungguh percaya bahwa teman-teman bisa membaca artikel ini adalah bukan kebetulan. Ada suatu rencana Tuhan yang indah bagi teman-teman semua.

Saya percaya bahwa semua orang tua memiliki niat terbaik dalam hatinya bagi anak-anaknya. Hanya saja cara mereka dalam mengungkapkannya tidak terlalu dapat ditangkap dengan baik oleh anak-anaknya. Tetapi, bukankah tidak ada seorangpun yang sempurna? Termasuk orang tua kita?

Kalau ada teman-teman yang memiliki orang tua yang tidak memiliki niat terbaik dalam hatinya bagi teman-teman, saya yakin bahwa ada rencana Tuhan yang indah bagi teman-teman semua.

“Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada padaKu mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.“ (Yeremia 29:11).

Inilah isi hati Tuhan. Bahwa ia hanya merancangkan:

–         Hal yang penuh damai sejahtera.

–         Bukan rancangan kecelakaan.

–         Untuk hari depan penuh harapan.

Mungkin teman-teman ada yang berpikir:

“Rancangan damai sejahtera? Setiap hari orang tua saya tidak saling menyapa.”

“Bukan rancangan kecelakaan? Setiap hari orang tua saya ribut terus.”

“Hari depan penuh harapan? Mana mungkin? Kondisinya begitu buruk! Mungkinkah masih ada harapan?”

Selalu ada harapan di dalam Tuhan! Selalu ada HARAPAN di dalam TUHAN! Jangan menyerah, Ia punya rencana yang luar biasa bagi setiap kita.

Bagaimana mengatasi pemikiran bahwa orang tua tidak mencintai dan seterusnya? Seorang teman saya berbagi pengalaman serupa dan ia memberikan suatu masukan yang luar biasa:

“Ketika saya masih kecil, saya berbicara seperti anak kecil, saya berpikir seperti anak kecil, saya beralasan seperti anak kecil. Ketika aku menjadi dewasa, saya menempatkan cara kekanak-kanakan di belakang saya.” (1 Korintus 13:11)

Dari contoh kasus teman saya tadi: Sebagai seorang anak, ia akan berpikir orang tuanya tidak mencintai dirinya karena membanding-bandingkannya dengan orang lain. Tetapi sebagai seorang dewasa, ia akan berpikir dengan cara lain, yaitu bahwa orang tuanya ingin memacu dirinya menjadi lebih baik.

Ayat ini sangat memberkati saya karena saya juga sedang dalam tahap belajar untuk bisa menjadi dewasa. Pemikiran saya masih banyak yang kekanak-kanakan. Saya masih banyak beralasan seperti anak kecil.

Untungnya Tuhan itu memang luar biasa baik. Saya dianugerahi banyak orang yang sangat istimewa di hidup saya. Mereka siap menolong saya. Memberikan saya masukan. Dengan resiko saya akan dapat membenci mereka.

Untuk itu, kepada orang-orang yang sangat istimewa di hidup saya ini, khususnya untuk satu orang secara spesifik (kalau kamu membacanya, ya ini untuk kamu. Saya yakin kalau kamu membaca ini, kamu akan mengerti bahwa saya berbicara kepada kamu.). Saya mengucapkan banyak terima kasih karena kamu telah berani mengambil resiko untuk menjadikan saya seorang yang lebih baik, seorang yang dewasa, dan seorang yang jadi berkenan di mata Tuhan dan manusia.

Maafkan saya yang tidak menangkap ketulusan hatimu. Maafkan saya yang malah menjadi marah dan tidak terima dengan niat baikmu. Maafkan saya yang berharap kamu memberi saya masukan dengan cara yang saya inginkan.

Selain itu, saya juga mau berterima kasih untuk setiap orang yang sudah memberikan kontribusi untuk artikel ini bisa dibuat, baik yang menyadarinya ataupun tidak. Terutama untuk 2 orang istimewa, yaitu yang telah membagikan Brain Teaser itu kepada saya dan yang telah memberikan share berkaitan dengan pengalamannya. Kalau kalian membaca artikel ini, saya yakin kalian tahu ini untuk kalian. Terima kasih banyak!

Teman-teman artikel ini menjadi begitu panjang tanpa saya sadari. Saya hanya bisa berdoa dan berharap bahwa artikel ini sungguh bisa memberkati teman-teman yang membacanya.

Doa saya hari ini:

Tuhan,

Saya berdoa bagi semua teman yang sudah membaca artikel ini. Biar Roh-Mu yang akan bekerja lebih lagi untuk mengubah, memperbaharui, dan menyempurnakan penulisan ini supaya sungguh menjadi rhema di hidup setiap teman yang membacanya.

Saya bersyukur untuk setiap hal dan setiap orang yang Tuhan izinkan di hidup saya. Setiap hal yang Tuhan berikan, itu sungguh amat baik. Bantu saya untuk bisa mengerti dan menghargai hal itu, Tuhan.

Pimpinlah kami semua, Tuhan. Supaya kami bisa selalu belajar dan belajar terus, untuk mengerti bahwa keunikan dan perbedaan karakter dan kepribadian adalah suatu hal yang indah, bukan suatu hal yang salah. Bantu kami, Tuhan, supaya kami semakin memahami bahwa justru di dalam keunikan dan perbedaan karakter dan kepribadian itulah, kami akan bertumbuh semakin menyerupai Engkau.

Terima kasih, Tuhan. Segala hormat, pujian, dan kemuliaan hanyalah bagi nama-Mu.

Amin.

Jauh sebelum saya menulis ini, saya sudah punya rencana untuk menuliskan tema yang sama. Rencana saya adalah membuat suatu latar belakang (ilustrasi) yang berbeda.

Masalahnya, kemarin terjadi sesuatu yang membuat saya harus membuang rencana ilustrasi saya. Mengapa begitu? Karena Tuhan ternyata memberikan ide yang lebih luar biasa yang tidak terpikirkan sebelumnya. Penasaran? Memang itu maksud saya :D.

Saya akan ceritakan kronologis ceritanya. (Peringatan dulu: ceritanya akan cukup/sangat panjang.)  Hari Minggu sore menjelang malam, saya mendapatkan satu proyek dari seorang klien baru. Proyek ini memiliki tengat waktu (deadline) ketat 24 jam. Jadi saya harus selesaikan pada Senin sore. Minggu malam saya hanya tidur selama kurang lebih 3 jam (dari jam 12 malam sampai jam 3 pagi). Saya bangun pukul 3 pagi, saat teduh dan lain-lain, langsung kerjakan lagi proyek tersebut.

Cerita mengenai proyek ini juga bisa menjadi satu cerita tersendiri. Karena akan terlalu panjang dan tidak fokus, saya batasi sampai di sini saja cerita tentang proyek tersebut. Singkat kata akhirnya dengan pertolongan Tuhan saya berhasil menyelesaikannya tepat waktu pada Senin sore menjelang malam.

Senin malam, badan saya terasa capek luar biasa. Sendi-sendi di tangan terasa agak sakit karena kurang tidur. Seharian saya terus berkutat dengan pekerjaan. Jadi Minggu malam sampai Senin malam, benar-benar rasanya semua tenaga terkuras habis.

Jadi setelah selesai mengirimkan hasil proyek kepada klien, saya bermaksud bersantai. Setelah selesai mandi dan makan malam, saya menghubungi beberapa orang teman untuk melepas lelah dan juga ketegangan sepanjang hari.

Seingat saya, saya mengirimkan pesan kepada setidaknya 4 orang teman. Lalu saya menunggu supaya pesan saya tertandai telah dibaca. Tunggu punya tunggu, pesan saya tidak tertandai juga. Saya lalu mengecek sinyal alat komunikasi yang saya gunakan.

Sinyalnya ada. Tandanya EDGE. Akan tetapi saya tunggu-tunggu terus pun, tanda “D” yang saya harapkan tidak muncul-muncul. Saya jadi sangat heran!

Kejadian gangguan komunikasi karena sinyal ini memang bukan barang baru. Kejadian lag (tertundanya penyampaian pesan) karena lemah sinyal sudah bukan hal aneh. Tapi malam kemarin, itu benar-benar suatu hal yang di luar dugaan sama sekali. Mengapa begitu? Karena belum pernah terjadi demikian!

Karena tidak kunjung terkirimnya pesan saya itu, saya lalu membuka salah satu jejaring sosial yang saya ikuti. Tiba-tiba saya terdorong untuk mengetikkan satu lirik lagu. Sambil menuliskan lirik lagu, saya juga menyanyikannya.

Sekejap rasa lelah, capai, pegal, dan sakit di sendi dan badan semua hilang! Hal yang terasa hanya sukacita, damai, dan benar-benar indah! Setelah mengetikkan satu lirik lagu, saya tidak bisa berhenti. Jari saya terus dan terus mengetik.

Sambil mengetik, saya terus menyanyi. Sekali saya dengar ada bunyi alat komunikasi saya berbunyi. Saya pun berenti untuk membacanya dan membalas. Aneh! Ketika saya balas, tetap tidak terkirim. Padahal sinyal ada, EDGE!

Jadi saya kembali mengetik dan menyanyi. Setelah selesai satu lagu, saya bertanya dalam hati, “Tuhan, kira-kira Kau mau lagu apa?” Lalu tiba-tiba ada satu lagu yang terbersit di pikiran. Jadi begitu seterusnya saya lakukan.

Ada sejumlah lagu yang saya tidak hafal liriknya. Jadi saya cari saja di google dan melakukan copy-paste untuk lagu-lagu tersebut. Setelah berhasil copy-paste, saya nyanyikan. Baru saya beralih ke lagu berikutnya.

Begitu terus saya lakukan. Selama saya mengetik dan menyanyikan lagu-lagu tersebut ada sejumlah teman di jejaring sosial tersebut yang memberi komentar atau mengklik “like” di salah satu lagu yang saya ketik. Tetapi, rasa-rasanya saya tidak ingin menghiraukan itu semua, saya sungguh tenggelam dalam sukacita, damai, dan keindahan-Nya.

Air mata mengalir. Hati sukacita. Beban ketegangan yang masih tersisa dari proyek yang sudah diselesaikan semua lenyap. Saya tenggelam! Sungguh tenggelam.

Lalu saya berkata dalam hati, “Kalau Tuhan ingin saya berhenti, tolong beri tanda.” Cukup lama saya mengetik dan menyanyi. Sampai akhirnya pintu kamar saya diketuk mami saya. Mami saya menyuruh saya tidur.

Ketika saya hendak mematikan laptop saya, saya tiba-tiba menyadari sesuatu. Tuhanlah yang mematikan sinyal alat komunikasi saya! Saya baru sadar bahwa Ia menginginkan waktu berdua saja dengan saya, tanpa perhatian yang terbagi untuk siapapun dan apapun!

Ya, kencan di malam hari kasih sayang dengan Tuhan Yesus! Kencan semalam sungguh luar biasa tak terlupakan. Inilah kado Valentine’s day yang sangat berharga bagi saya!
Itu sebabnya, ketika saya menyadari hal itu lalu menuliskan hal berikut ini dalam jejaring sosial yang saya ikuti:

“Thank You, Lord, for asking me to go out for dating today. What an unforgettable Valentine’s day night! You even halted all my black berry signal, just to go out dating with me. It’s such a very great joy, peace, and love in this Valentine’s day night. Thank You, Jesus, for choosing me as Your valentine’s date. Amen!”

(Terjemahan: “Terima kasih, Tuhan, untuk mengajak saya keluar untuk berkencan hari ini. Sungguh malam hari kasih sayang yang tidak akan terlupakan! Kau bahkan menghalangi semua sinyal black berry saya, hanya untuk pergi keluar berkencan dengan saya. Itu adalah suatu suka cita, damai, dan kasih yang sangat besar pada malam hari kasih sayang ini. Terima kasih, Yesus, untuk memilih saya sebagai pasangan kencan-Mu di Valentine ini. Amin!”)

Ternyata Tuhan menginginkan waktu dan perhatian penuh dari saya. Ia menginginkan cinta pertama, kasih yang mula-mula dari saya.

Apa sih cinta pertama itu? Apa sih kasih mula-mula itu? Saya akan mencoba menjelaskannya dengan contoh. Pernahkah teman-teman mengalami jatuh cinta? Bagaimana rasanya jatuh cinta pertama kali kepada saat fase awal?

Apakah rasanya begitu bergairah? Bersemangat? Ingat terus kepada si dia? Rasanya ingin terus membicarakan dirinya? Ingin sekali ngobrol dengan dia? Rasanya mau melakukan apapun demi dirinya?

Nah seperti kepada manusia, kepada Tuhan juga begitu. Ingatkah teman-teman ketika pertama kali teman-teman mengenal Tuhan Yesus? Ketika hati terasa begitu berkobar-kobar? Bersemangat? Ingin terus membicarakan diri-Nya? Ingin terus berada di hadirat-Nya? Ingin terus bersama-Nya? Rasanya ingin melakukan apapun demi diri-Nya? Ya! Itulah cinta pertama! Kasih mula-mula itu!

Dalam hidup saya sampai saat ini, saya mengalami pasang surut kehidupan. Saya mencatat setidaknya ada 2 kali saya mengalami masa tergelap dalam hidup saya. Saya berdoa bahwa saya tidak akan memasuki lagi masa itu.

Pada saat tergelap itu, saya bahkan tidak bisa merasakan diri-Nya! Sedikitpun tidak! Ketika itu, doa-doa saya terasa tidak didengar. Saya merasa sendiri. Merasa lelah. Kalah. Tidak berdaya. Hancur.

Saya bertanya,

“Di manakah, Engkau, Tuhan? Mengapa Engkau meninggalkan aku?”

Tapi sebenarnya yang saya rasakan itu tidak benar. Ia tidak pernah tinggalkan saya. Ia tetap dengar doa saya. Saya tidak sendiri. Ia selalu bersama saya.

Dalam kondisi itu, perlahan-lahan Ia membantu saya untuk bangkit. Begitu panjang ceritanya dan saya sudah menceritakan salah satunya dalam artikel yang lampau. Jika ada teman-teman yang tertarik silakan saja mencarinya.

Bukan hanya pada 2 titik tergelap di hidup saya, saya juga mengalami 1 kali saat saya berada katakanlah di titik tengah di hidup saya. Jadi, tidak dalam keadaan terpuruk, tapi tidak juga sangat bersemangat. Yah, biasa saja. Baik-baik saja. Tidak merasa ada yang kurang.

Persamaan dari 3 titik waktu tersebut adalah saya meminta Tuhan supaya saya bisa lebih dekat dengan-Nya. Di 1 titik tengah itu, saya secara spesifik meminta kepada Tuhan untuk bisa kembali ke kasih mula-mula itu, cinta pertama itu. Tetapi sesungguhnya inisiatif awal bukan datang dari saya, Ia sendiri yang datang dengan kasih-Nya!

Teman-teman, Tuhan itu baik! Ia sangat baik! Dia bukan hanya tidak tinggalkan saya. Dia juga dengarkan doa saya. Lebih dari itu, Dia jawab doa saya.

Melalui berbagai proses yang berbeda namun 1 kesamaan. Ketika saya merenungkan kesemuanya itu, saya menemukan 1 kesimpulan:

“Ternyata saya kembali ke cinta pertama, kasih mula-mula saya pada Tuhan, ketika saya kembali pada Firman-Nya, terhubung dengan kasih-Nya.”

Ya! Sesederhana itu! Tidak perlu rumus macam-macam. Tidak perlu pemahaman yang sulit. Cukup kembali ke Ia yang mengasihi kita! Bukan karena perbuatan baik saya, bukan karena keinginan saya untuk kembali ke kasih mula-mula juga. Tetapi semua diawali dari Firman, Kristus sendiri yang mau mengulurkan tangan-Nya bagi saya. Jadi bukan saya, tapi Dia!

Kali pertama saya berada dalam titik terendah di hidup saya, kakak saya membantu saya bangkit dengan membagikan kaset-kaset kotbah dan menyuruh saya membaca Alkitab setiap hari. Setiap hari saya dengarkan, baca, renungkan.

Ya! Setiap hari saya dengarkan, baca, renungkan. Firman-Nya mengubah hidup saya! Sungguh-sungguh mengubah diri saya! Inisatif dari siapa? Yesus, melalui kakak saya!

Saya menyadari benar, itu bukan sepenuhnya usaha saya! Saya bisa kembali ke kasih mula-mula itu bukan karena saya hebat! Bukan karena saya gigih! Bukan karena saya pintar! Bukan karena saya disiplin! Bukan! Usaha saya hanya sebagian kecil saja dari satu bagian besar yang penuh misteri. Misteri itu bernama kebaikan Tuhan! Sang Firman yang Hidup!

Ya, kalau bukan Tuhan yang begitu baik mengubah saya, walaupun saya mendengarkan Firman-Nya setiap hari, membaca dan merenungkan Firman-Nya, tetap saja tidak akan ada perubahan! Tidak percaya? Lanjutkan membaca di bawah ini.

Di titik tengah di hidup saya, saya tetap saat teduh, tetap berdoa, dan tetap melayani. Saya tetap membaca Firman Tuhan, merenungkan Firman Tuhan, melakukan Firman-Nya, berdoa, membagikan Firman, melayani. Saya merasa baik-baik saja. Semua baik. Tapi gelora dan semangat itu tidak sehebat ketika saya berada pada cinta pertama itu.

Dalam kondisi itu, saya tiba-tiba merasa rindu. Kangen. Ingin sekali untuk kembali ke kasih mula-mula itu! Saya meminta Tuhan saat itu untuk cinta pertama itu! Teman-teman tahu? Ia luar biasa baik! Ia menjawab doa saya.

Saat itu saya dipertemukan dengan dua orang teman. Satu menganjurkan saya banyak membaca Alkitab dalam Bahasa Inggris. Satu lagi menganjurkan saya untuk mempelajari Alkitab dalam Bahasa Inggris. Saya lalu membeli Alkitab NIV. Ketika saya mulai membacanya, perlahan-lahan Tuhan membawa saya kembali ke cinta pertama itu. Ya! Ke kasih mula-mula itu!

Apakah Alkitab dalam Bahasa Inggris lebih baik dari Alkitab dalam Bahasa Indonesia? Tentu tidak! Bukan itu maksud saya. Tetapi ketika saya mulai membaca Firman-Nya dengan keingintahuan dan antusiasme baru, Ia membuka hati saya terhadap hal-hal baru yang belum saya temukan sebelumnya. Terhubung dengan-Nya!

Jadi selalu ada 2 sisi. Ada bagian dari diri saya dalam skala kecil yang memiliki keinginan untuk mengalami kasih mula-mula dan ada bagian Tuhan yang begitu besar untuk menjawab keinginan saya itu! Dan bagian Tuhan itulah yang mengawali semuanya! Tidak mungkin saya memiliki keinginan untuk mengalami kasih mula-mula tanpa Dia lebih dahulu memiliki inisiatif untuk menanamkannya dalam diri saya. Puji nama Tuhan!

Di titik terendah kedua di hidup saya, saya tetap saat teduh, tetap berdoa, dan tetap berusaha melayani dengan susah payah. Tapi Ia sungguh baik! Bukan karena kuat dan hebat saya, kalau saya bisa bertahan sampai hari ini!
Itu semua adalah karena anugerah-Nya! Sungguh! Saya masih ingat ketika saya melewati hari dengan tertatih-tatih. Setiap kali saya menjerit dalam hati. Tidak ada tanggapan yang terdengar! Saya membaca Firman-Nya, merenungkannya, menyimpannya dalam hati, berdoa, melayani, tapi tetap semua itu sia-sia.

Lalu apakah yang membuat saya kembali ke cinta pertama dalam titik terendah kedua di hidup saya? Firman-Nya yang hidup! Ya! Yesus, sang Firman yang hidup, yang membantu saya mengambil keputusan untuk melangkah. Dari situ, Firman-Nya di Alkitab yang berangsur-angsur menyembuhkan saya dan membawa saya perlahan-lahan kembali ke kasih mula-mula itu. Cinta pertama itu!

Jadi kesimpulan saya, cinta pertama, kasih mula-mula itu dimulai dari 2 hal: peranan Tuhan Yesus dan juga respon hati kita. Ia berfirman bahwa:

Carilah dahulu Kerajaan Allah serta kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.” (Matius 6:33)

Saat kita sungguh-sungguh rindu ingin mengenal Dia, ingin dekat dengan-Nya, ingin masuk ke hadirat-Nya lebih lagi, ingin kembali ke cinta pertama, ke kasih mula-mula itu, Ia menjawab keinginan hati kita! Itulah yang dimaksud dengan Kerajaan Allah.

Bagaimana bisa haus dan rindu ingin mengenal Dia? Itu Dia yang pertama-tama menanamkan dalam hati kita. Inisiatif mulai dari Dia! Jadi kalau timbul keinginan untuk lebih dekat dengan-Nya, bersyukurlah! Dialah yang menumbuhkan itu dalam hati kita!

Bagaimana bisa mengenal kebenarannya? Lewat Firman-Nya! ALKITAB! Lewat penyingkapan yang diberikan oleh Roh Kudus! Ya! Terkoneksi dengan-Nya!

Bagaimana kita bisa memperoleh itu? Carilah! Carilah berarti berusaha. Ada upaya. Ada tindakan. Bukan hanya duduk diam. Bukan duduk manis saja. CARI!

Ketika semua itu sudah dipenuhi, Tuhan memberikan keinginan hati kita untuk kembali ke cinta pertama, ke kasih mula-mula itu, karena memang itu kehendak-Nya dari awal! Lebih dari itu, semua hal yang kita butuhkan ditambahkan kepada kita. Puji nama Tuhan!

Terlalu banyak kalau saya harus menyaksikan kebesaran Tuhan. Tapi kalau saya harus membagikan satu hal pada teman-teman saat ini, saya hanya akan mengatakan bahwa Ia sungguh baik! Firman-Nya itu ya dan Amin! Tidak pernah ada Firman-Nya yang tidak ditepatinya! Ia sungguh setia! Haleluya!

Seperti saya pada malam kemarin diminta memberikan sepenuh waktu dan perhatian saya bagi Dia, Sang Raja di atas segala raja, untuk menikmati waktu bersama-Nya, itu juga yang Ia minta dari teman-teman semua. Yuk kita semua berikan waktu dan perhatian penuh kita setiap hari pada Firman-Nya, pada Yesus sang Firman yang hidup! Terkoneksi dengan-Nya!

Saat itu kita lakukan, pastilah cinta pertama itu akan kembali! Kasih mula-mula itu akan datang. Jadi, rindu akan cinta pertama? Terhubunglah dengan Dia! Cari Dia setiap hari dan lakukan Firman-Nya. Ia akan menjawab kerinduan kita semua!

Selamat hari kasih sayang! Selamat terhubung dengan Yesus! Selamat menemukan cinta Pertama, kasih mula-mula itu!

Amin.

Berkaitan dengan kasus kemanusiaan untuk A, seorang teman saya yang mengalami stroke medium (info lengkap dapat dibaca di SINI, berikut akan saya laporkan hasil terakhir dukungan doa, daya, dan dana yang masuk per 14 Februari 2012 pukul 14.30 WIB:

Dukungan doa: ada 4 orang yang sudah menghubungi saya dan menyatakan mendukung dalam doa. Saya yakin banyak dari teman-teman yang mendoakan tapi tidak mengabari saya. Tidak masalah! Puji Tuhan! Saya percaya doa yang dinaikkan akan sangat membantu teman saya ini!

Dukungan daya: ada 4 orang yang sudah menghubungi saya dan memberikan dukungan daya berupa:

–         Informasi no telpon dan nama tukang pijit yang bisa melancarkan peredaran darah. (1 orang).

–         Membantu menyebarkan info ini kepada yang lain (2 orang).

– Mau membantu menanyakan ke teman-temannya yang butuh orang untuk mengerjakan web (1 orang). Saya sudah memberikan info kontak dari A kepada teman saya ini.

Puji Tuhan! Informasi, pemikiran, tenaga, dan usaha yang diberikan merupakan perpanjangan Tuhan bagi A!

Dukungan dana: ada 4 orang yang sudah menghubungi saya dan memberikan transfer dana. Berikut ini adalah perincian dana yang sudah masuk:

6 Februari 2012
1. N.N Rp 200.000,00
9 Februari 2012
2. N.N Rp 300.000,00
10 Februari 2012
3. http://www.facebook.com/silabu Rp 50.000,00
14 Februari 2012
4. N.N Rp 100.000,00
Jumlah uang per 14 Februari 2012                          Rp 650.000,00

Puji Tuhan! Dana yang diberikan merupakan perpanjangan Tuhan bagi A!

Puji Tuhan! Semua bantuan yang teman-teman berikan, pasti tidak akan sia-sia dan dapat membantu meringankan beban teman saya ini. Saya mengucapkan syukur kepada Tuhan. Saya juga mewakili A, teman saya, mengucapkan terima kasih kepada teman-teman yang telah terketuk hatinya untuk membantu A. Saya sungguh percaya bahwa doa teman-teman mengubah segala sesuatu. Daya dan dana yang teman-teman berikan itu menjadi jawaban doa A secara langsung.

Catatan: Bukti screen-shot untuk transfer dana sampai 14 Februari 2012 pukul 14:30 WIB dapat dilihat dalam link berikut: Klik di SINI.

Keterangan bukti screen-shot:

* Untuk informasi nama pemberi bantuan ditutup karena yang bersangkutan meminta saya untuk tidak mempublikasikan namanya.

* Untuk nomor rekening saya juga saya tutup supaya tidak disalahgunakan oleh pihak yang tidak berkepentingan.

a) http://www.facebook.com/silabu

Adapun bukti transfer saya kepada A, teman saya, dapat dilihat di SINI.

Dengan demikian berakhirlah kegiatan pengumpulan bantuan berupa doa, daya, dan dana bagi A. Untuk bantuan berupa doa dan daya, silakan teman-teman lakukan dan akan terus saya informasikan kepada A. Untuk pengumpulan dana sudah selesai pada hari ini pukul 12.00.

Bukan bentuk, besar atau kecil bantuan yang menjadi ukuran suatu pemberian, tapi ketulusan hati yang menjadi dasar dari pemberian ini. Saya yakin inilah ungkapan ketulusan dari teman-teman semua dalam membantu sesama yang membutuhkan. Kiranya Tuhan sendiri yang akan membalas ketulusan hati teman-teman semua.

Satu orang yang tergerak untuk bertindak akan dapat membuat perbedaan besar, tetapi bersama-sama kita bisa membuat dunia ini menjadi lebih baik demi kemuliaan Tuhan. Biarlah segala kemuliaan kembali kepada Dia karena Dia yang memungkinkan semua ini terjadi.

Tuhan memberkati.

NB: Berikut petikan percakapan saya dengan A hari ini. Id messenger saya, saya ganti menjadi S (saya) dan Id messenger A, saya ganti menjadi A.

S (14/02/2012 20:39:29): A, dah transfer ya tadi jam 2

S (14/02/2012 20:39:34): smoga bisa mmberkati kamu

A (14/02/2012 20:40:32): oo ok

A (14/02/2012 20:40:37): thx ya san

A (14/02/2012 20:40:44): aku mo cari kerja

S (14/02/2012 20:40:41): thx nya sama Tuhan dan temen2 yang lain

S (14/02/2012 20:40:42): sip2

S (14/02/2012 20:40:46): bagus itu

A (14/02/2012 20:41:00): tmn km yg td mo minta bikin web gmn ??

S (14/02/2012 20:41:09): tadi dia bilang mau add

S (14/02/2012 20:41:15): tapi karena aku bilang kamu lagi mau pergi

S (14/02/2012 20:41:17): ga tau jadinya

S (14/02/2012 20:41:24): dan belum tentu sekarang bikin webnya

S (14/02/2012 20:41:34): ya ga apa2 lah ya

S (14/02/2012 20:41:38): bikin jaringan

S (14/02/2012 20:41:46): kalau dia ga sekarang bikin pun, dia mau tanyain temen2nya

S (14/02/2012 20:41:50): siapa tau ada yang butuh bikin web

A (14/02/2012 20:43:51): okok

A (14/02/2012 20:44:00): aku bantu siapapun

S (14/02/2012 20:44:04): sip!

A (14/02/2012 20:44:10): konsultasi sistem boleh

A (14/02/2012 20:44:30): ada yg mo kembangin sistem komputer juga boleh

S (14/02/2012 20:44:49): ya nanti coba aja kalau dia kontak dijalin hubungan baik

S (14/02/2012 20:44:52): dia orangnya baik

S (14/02/2012 20:44:56): banyak relasinya

S (14/02/2012 20:45:12): jadi kalaupun ga ada kerja sama apapun, jadi temen pun menurutku ga ada ruginya

S (14/02/2012 20:49:13): ok deh, A, semoga lekas pulih ya

S (14/02/2012 20:49:21): Sukses untuk kamu

S (14/02/2012 20:49:27): Tetap semangat! God bless you!

A (14/02/2012 20:50:19): iya

A (14/02/2012 20:50:29): thx titip buat teman teman

A (14/02/2012 20:50:45): kl mrk butuh bantuan aku blg ajsa

S (14/02/2012 20:50:49): yup, sudah kog , mereka bener2 luar biasa. Ga kenal tapi mau bantu

A (14/02/2012 20:50:49): kl mrk butuh bantuan aku blg aja

S (14/02/2012 20:50:53): Sip!

A (14/02/2012 20:50:59): iya

S (14/02/2012 20:51:01): Puji Tuhan!

A (14/02/2012 20:51:08): god is good

S (14/02/2012 20:51:16): di zaman saat kasih menjadi dingin, masih ada orang yang mau mengulurkan bantuan

S (14/02/2012 20:51:27): Amen!

S (14/02/2012 20:51:34): and all the time God is good!

S (14/02/2012 20:51:41): Ok, keep the faith!

S (14/02/2012 20:51:49): Gbu, A!

A (14/02/2012 20:52:48): u too san

S (14/02/2012 20:52:59): Sip, A. Amin!

Kasus Kemanusiaan

Teman-teman, ada satu orang teman (sebut saja A) yang membutuhkan uluran tangan kita. A terkena stroke medium sehingga lumpuh separuh badan. A sebelumnya adalah programmer dan juga adalah seorang pengajar di salah satu perguruan tinggi swasta di Jakarta.

Akibat dari terkena stroke ini, A tidak bisa bekerja (tidak mendapat jatah mengajar). Padahal ia membutuhkan biaya untuk membeli obat dokter dan juga terapi setiap bulannya kurang lebih sebesar 3 juta rupiah.

Hasil dari minum obat dokter dan terapi sebelumnya menunjukkan tanda-tanda menggembirakan. A sudah bisa berjalan walau masih belum bisa seperti sebelumnya (masih perlahan). Akibat dari stroke yang masih tertinggal adalah tangan kirinya yang tidak bergerak walaupun tangan kanannya tidak mengalami masalah.

Jika ada teman-teman yang terketuk hatinya, dapat membantu dengan tiga cara, yaitu: 3D (Doa, Daya, Dana)

  1. Doa: saya yakin kita semua bisa mendoakan untuk pemulihan total kondisi A. Jadi kita semua bisa menolong A dalam doa.
  2. Daya: untuk daya ini ada 3 hal yang bisa teman-teman bantu, yaitu:
    • Bantuan dalam bentuk informasi lowongan pekerjaan programmer, sebisa mungkin di daerah yang dekat tempat tinggal A di daerah Palmerah, Jakarta Selatan. Bahkan lebih baik lagi kalau teman-teman bisa langsung memberikan pekerjaan kepada A, entah itu dalam bentuk program yang harus dibuatkan atau konsultasi mengenai hal-hal yang berkaitan dengan pemrograman. Mengingat kondisi A saat ini memang bisa bekerja, namun tidak bisa cepat karena keterbatasan pada tangan kirinya.
    • Kalau memang ada informasi medis/terapi yang lebih terjangkau namun tetap efektif, silakan saja diinformasikan.
    • Menyebarkan informasi ini kepada teman-teman lain yang mau membantu.
  3. Dana: bagi yang terketuk hatinya untuk memberikan bantuan dalam bentuk Dana, dapat menghubungi saya untuk mendapatkan nomor rekening pengumpulan dana. Semua dana yang masuk akan saya catat dan saya laporkan. Rencananya bantuan dalam bentuk pengumpulan dana ini akan dilakukan sampai tanggal 14 Februari 2012 pukul 12.00. Saya akan mentransfer dana yang terkumpul kepada A pada tanggal 14 Februari 2012 pukul 14.00. Bukti transfer akan saya laporkan (tampilkan juga) sebagai bentuk laporan kepada teman-teman semua.

Kepedulian teman-teman akan memberikan harapan besar bagi pemulihan A, teman saya ini. Dengan Doa, Daya, dan Dana; kita akan dapat membantu A. Besar atau kecil, itu sifatnya relatif. Ketulusan teman-teman saya yakin akan memberikan pengaruh yang besar. Apapun dan berapapun jumlahnya, saya yakin itu akan dapat membantu A.

Satu orang yang tergerak untuk bertindak akan dapat membuat perbedaan besar, tetapi bersama-sama kita bisa membuat dunia ini menjadi lebih baik demi kemuliaan Tuhan.

Tuhan memberkati

Catatan:
Laporan pertanggungjawaban pengumpulan bantuan dapat dilihat di link berikut ini: klik di SINI

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: